The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 51 : New Page



Cuaca semakin terlihat mendung, padahal hari sudah menjelang malam, untuk mengatasi kondisi alam yang tidak dapat di prediksi sebaiknya aku membuat tenda penginapan untuk malam hari ini.


“Tera Informibus~”


Ucap ku sembari mengayunkan tongkat sihir, kali ini desainnya simple saja karena hanya aku seorang yang akan tinggal di tenda darurat ini, aku hanya membuat rumah dengan bentuk segitiga, ya, segitiga seperti dua buah kartu remi yang saling bertumpu satu dengan yang lainnya.


Tempat istirahat sudah jadi, sekarang tinggal membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh pada malam hari ini. Rintik-rintik hujan sudah mulai berjatuhan dari langit, ditambah angin kencang mulai menerjang lokasi tempat aku menginap.


Ranting-ranting pohon sudah aku kumpulkan, waktunya sangat pas sekali, matahari baru saja terbenam dari ufuknya kemudian hujan turun dengan lebat.


“Ardentes” lafaz ku untuk memuncul percikan api dari ujung tongkat sihir yang aku pegang, kemudian hidup lah api unggun yang tersusun dari ranting-ranting pepohonan yang telah mengering.


Didalam kesunyian malam, hanya rintikan hujan yang bersiteru terdengar di telinga ini.


Sudah enam hari semenjak aku pergi meninggalkan Sofie di gua cahaya bersama Lily, semoga mereka bisa akur dan benar-benar berlatih secara serius.


Aneh rasanya jika di pikir-pikir lagi, bagaiamana bisa aku bertahan selama ini hanya dengan sebatang tongkat kayu, jika aku membandingkannya dengan dunia yang terdahulu, sudah pasti aku tidak akan bertahan selama ini.


Haah, tertahan di tubuh sekecil ini bukanlah hal yang bisa di nikmati, walaupun ada kelebihannya juga, namun menjadi orang dewasa adalah hal yang lebih menguntungkan.


Tapi mau bagaimana lagi, aku hanya seorang manusia, pertumbuhan tubuhku tidak mungkin berkembang secara ajaib seperti pohon kecambah yang tumbuh secara tiba-tiba di depan rumah Sofie pada saat itu.


Yap, itu mustahil.


***


Didalam deruan hujan yang amat deras ini, tiba-tiba aku dikejutkan oleh kehadirannya seorang kakek tua yang tiba-tiba mendekat ke-arah tendaku.


Saat itu aku masih berkecamuk dengan pikiran ku sendiri, jadi aku tidak tahu mengapa sang kakek bisa berada di depan tenda daruratku secara tiba-tiba, apa sangking fokusnya aku dengan fikiranku sendiri membuat aku melupakan segala yang ada di sekitar ku? Hmm itu bisa jadi sih.


“Permisi….” Ucap sang kakek dengan nada suara yang serak juga bergetar, yap, layaknya seorang kakek yang umurnya sudah mencapai rentah 70 atau 80 tahun.


“A-Ah…?!? A-ada yang bisa saya bantu kek…? Silahkan masuk kek jangan di luar, nanti kakek kehujanan!”


“Ohh…! Terima kasih cu… saya padahal ingin meminta ijin untuk bisa bernaung di tempat ini… sekali lagi terimakasih banyak cu….”


Kemudian sang kakek duduk di ujung ruangan yang aku buat ini, namun karena sempitnya ruangan ini, sang kakek harus menunduk untuk masuk ke dalam rumah dadakan yang aku rancang ini.


“erhm… maaf kek, ruangannya sempit ya….? “


“Hohoho… tidak apa-apa cu segini saja sudah cukup, setidaknya kita tidak terkena hujan….”


Aku yang merasa tidak enak dengan terganggunya kenyamanan sang kakek, akhirnya aku berinisiatif untuk merombak sedikit desain bangunan ini.


“Maaf kek aku izin untuk keluar sebentar.” Kata ku sambil perlahan keluar dari bangunan segitiga yang aku rancang ini. Ku keluarkan tongkat sihir dan sekali lagi aku ucapkan mantra pengendali tanah.


Baju yang aku kenakan berubah warna dan saat itu juga aku membesarkan bangunan yang rakitannya sangat simple ini.


“Tera Informibus” rapal ku sambil mengayunkan tongkat sihir yang aku genggam erat.


Sontak sang kakek terkejut dari duduk nya, ia langsung berdiri ketika dataran di sekitarnya bergetar dan melonjak naik sedikit dari tanah.


“A-Apa yang kamu lakukan cu…!? “


Sang kakek terlihat heran, namun kali ini bangunan yang tadinya hanya memiliki tinggi sekitar 60cm dan lebar 1 meter, beranjak berubah menjadi lebar 3 meter dan tinggi 3 meter, yap, cukup nyaman untuk beristirahat di dalamnya.


“Nah, sekarang kita bisa beristirahat di dalam bangunan ini kek, semoga kakek bisa nyaman tinggal di dalamnya.”


Sang kakek diam seribu kata, mulutnya terbuka lebar dan tubuhnya terbujur kaku.


“D-Demi janggut Marlin…!! Apa yang telah kamu lakukan cu!?! Mengapa bebatuan ini bisa bergerak sedemikian rupa?”


Spontan aku terkejut setengah mati, sial! Aku lupa jika aku seharusnya tidak menggunakan sihir di depan orang asing!


“Erm… i-ini sihir yang aku pelajari kek… sihirnya dapat menggerakkan segala sesuatu yang ber-unsur dari bumi.”


Ucap ku sambil menunjukkan tongkat sihir yang aku genggam. Namun sang kakek sepertinya masih tidak puas dengan penjelasanku barusan.


“Tidak-tidak-tidak!! Bukan itu maksudnya… aku sudah hidup cukup lama di dunia ini, tapi aku tidak pernah melihat ada anak sekecil kamu bisa melakukan sihir se-menakjubkan ini!”


Sang kakek lalu berlari ke arahku dan ia mengeram erat kedua pundakku, “E-eh!?! K-kakek?? T-tenang kek!” lalu aku refleks ingin melepaskan geramannya, namun ternyata kekuatan kakek ini cukup kuat juga.


“Siapa!! Siapa yang mengajarkan mu sihir….!?! Ibumu?! Ayah?! Oh iya, dimana pengawas mu!? Aku ingin bertemu dengannya….!”


“Aw...! T-Tidak ada kek, k-kakek, tolong lepaskan sebentar cengkramannya, pundak ku terasa nyeri!” rintihku yang mulai merasa kesakitan.


“J-jadi kamu berada di tengah hutan ini sendirian…?! Mustahil….!?! Bagaimana mungkin... "


Lalu sang kakek tampak lemas, cengkramannya mulai melemah dan ia akhirnya melepaskan kedua tangannya pada kedua pundakku, perlahan ia berjalan ke dalam bangunan segitiga yang baru saja aku renovasi.


Bentuknya tak berbeda, sama seperti yang tadi, segitiga seperti kartu remi yang bertumpu, namun ukurannya saja yang agak lebih lebar.


“Mustahil… bagaimana mungkin…. ”


Gumam sang kakek yang tampak masih tak percaya akan hal yang terjadi di hadapannya barusan.


Perlahan kemudian aku berjalan memasuki bangunan segitiga yang ukurannya sekarang sudah luas ini, aku memasuki bangunan tersebut dari arah seberang sang kakek, sejujurnya aku juga sedikit takut kepada sang kakek sehabis kelakuannya yang tidak aku sangka itu.


“Kamu… sekarang berapa umur mu….?”


Seketika langkah ku terhenti, posisiku saat ini berdiri tepat di hadapan sang kakek. Mata tajam sang kakek membuat bulu kudukku merinding


“Lima- emm…. T-Tujuh tahun kek….!” Aku berbohong demi kebaikan, setidak nya kebaikan yang aku maksud adalah untuk keselamatan diriku sendiri, aku merasa kakek ini bukanlah orang biasa.


“Hm… di usia yang se-belia ini kamu sidah bisa menggunakan sihir tingkat Advance… kalau boleh tahu, siapa yang mengajarkan mu sihir….?”


Tiba-tiba sang kakek berubah menjadi lembut seperti sedia kala, sebenarnya apa yang sedang kakek ini fikir kan, aku merasa dia seperti memiliki kepribadian ganda, cukup unik.


Tapi aku juga memasuki jalan buntu, aku tidak bisa bilang ke sang kakek jika aku belajar sihir hanya dari buku yang aku baca di perpustakaan gereja kan? Jadi sekali lagi, mohon maafkan aku tuhan untuk berbohong, hahaha berbohong untuk kebaikan.


“e-erm… guruku namanya… O-Ordley kek… Ordley Verna… dia paman ku dari kampung halaman…. “


“…Nama yang tidak aku kenal, aku ingin sekali bertemu dengannya….”


“Ah… dia sudah tiada kek... beberapa minggu yang lalu… erm… ibu dan paman ku telah wafat akibat kebakaran rumah, maka dari itu… aku harus merantau ke ibu kota untuk mencari pekerjaan di sana…”


Huwaa, untuk hari ini aku banyak sekali berbohong, ya tuhan! Ampuni aku ya tuhan!!


“Hmm… maafkan aku kalau begitu… aku turut berduka atas kehilangan mereka berdua….”


Sang kakek kemudian tampak murung, lalu ia mulai kelihatan mengurungkan niatnya untuk bertanya kepadaku lebih lanjut, Yes! Strategy ku berhasil.


“Ngomong-ngomong kakek mau kemana? Apakah kakek merantau sendirian….?”


“Aku ingin pergi ke [Lebia], hahaha jangan khawatir walaupun aku sudah setua ini dulunya aku adalah seorang prajurit yang tangguh!”


Sang kakek tersenyum lebar sambil menunjukkan otot? Err lebih tepatnya lengannya yang sudah kering.


“…Ahh …hehehe baiklah, kalau begitu kenapa kita tidak berangkat bersama saja ke kota kek?”


“Ohhh!! Ide yang bagus, hmm kalau besok kita berangkat pada saat fajar tiba, aku rasa lusa siang kita bisa sampai di Ibukota [Lebia]”


Ucap sang kakek sambil memainkan janggutnya.


“Ucapan kakek sangat menenagkan hati…! Terimakasih kek atas informasinya, aku belum pernah sekali pun kesana jadi aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa sampai ke [Lebia]”


“Hahaha, kau anak yang Dermawan… Hmm.. aku belum menanyakan namamu, kalau boleh tahu siapa namamu cucu perjalanan ku?”


Hahaha cucu perjalanan? Aku baru pertama kali mendengarkan panggilan itu, tapi ku rasa kakek ini bukanlah orang yang jahat, aku yakin bisa berteman dengannya di kemudian hari.


“Arley kek! Arley Gormik!!”


Setelah aku menyebutkan nama ku, tampak wajah sang kakek sangat terperanjat, namun ia seperti menyembunyikan sesuatu hal lagi, ia mulai kembali memainkan janggutnya.


“Begitu rupanya…! Aku paham sekarang, hahaha… begitu rupanya…!!”


Sang kakek bergumam sendiri, aku di buat semakin bingung dengannya.


“Hey Arley, untuk saat ini kamu boleh panggil aku dengan sebutan Kakek, nanti ketika sampai di kota aku akan memberi tahu mu nama asli ku.”


“Ha!?! Curang!! Aaa!! Kakek menipu ku yaa!!?!”


Aku langsung berdiri karena merasa di curangi oleh sang kakek.


“Hahaha!! Aku punya alasan untuk itu, sudah-sudah… saat ini mari kita memakan santapan yang akan aku buat sebentar lagi.”


Sang kakek mengeluarkan kantung yang aku rasa kantung itu adalah kantung dimensi, ia mengeluarkan banyak sekali bahan-bahan makanan seperti daging, sayur-sayuran dan banyak minyak-minyak yang aku tidak ketahui, kemudian ia juga mengeluarkan alat masak seperti belanga, juga ada sendok dan berbagai macam alat lainnya.


“AAaaaa!! Kakek mengalihkan pembicaraan kita!! Sebutkan nama kakek!!!”


“Hahahaha kau anak yang sangat bersemangat Arley, sini kakek ajarkan cara memasak~”


“Aaaaa lagi-lagi kakek mengalihkan pembicaraan….!! ”


Lalu malam itu terlewatkan dengan canda tawa, walau hujan badai menghantam sekitar kami, namun kondisi di dalam ruangan ini sama sekali tidak terusik dengan kegaduhan yang ada di luar sana.


Malam ini Aku bisa kembali tidur seperti enam malam sebelumnya, dan dinding es yang ada di dalam hati ini sudah tidak menyisakan bekas sebutir pun, ya, ini adalah lembaran baru untuk ku.


Mulai dari sini, segalanya adalah New Page....


***