The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 259 : Rencana, Telah Dilaksanakan!



Fajhar telah tiba …


Paman Radits beserta Arley, sudah menyiapkan segala rencana mereka dengan sangat matang. Mulai dari rencana A, sampai rencana Z, segala kemungkinannya sudah dipikirkan oleh sang paman.


“Arley, ingat ucapanku yang satu ini. Jika aku tidak menyuruhmu untuk berbicara, maka jangan pernah ucapakan satu patah kata pun!” ucap sang paman, yang ketiak itu sedang menyiapkan kuda mereka.


Ketika itu, Arley dan sang paman sedang membereskan barang bawaan mereka. Dan tanggapan Arley mengenai printah sang paman … dirinya hanya menganggukkan kepala, tanpa ada respon yang berlebihan.


Hari ini, adalah hari dimana mereka akan menghapiri Verko. Kala itu, Arley tidak ingin meledakkan perasaannya seketika itu juga, dirinya berusaha memendam segala perasaan yang sia-sia, agar emosinya tidak goyang dan membuat dirinya menjadi gila.


Rencana utama merka saat ini, adalah untuk bernegosiasi dengan Verko, kemudian menghapalkan seluruh isi Kasinonya, agar mereka bisa mengendap-ngendap masuk kedalam kasino tersebut, untuk menghabisi verko.


Tak berlama-lama, saat seluruh peralatan telah di angkat, seketika itu juga, Arley beserta paman Radits langsung meninggalkan rumah ke kediaman Polka, tanpa berpamitan dengan Jasmine, atapun Varra.


Namun, di kondisi yang masih berembun tersebut, Varra tampak telah menyadari, atas kepergian mereka berdua menuju kota [Rapysta].


“Ya, Tuhan … lindungilah mereka berdua,” gumam Varra, dengan perasaan cemasnya.


Sembari ia menunggu di bibir pintu masuk … bayangan kuda yang di naiki paman Radits dan Arley pun menghilang dengan cepat.


.


.


.


***


.


.


.


Suasana malam masih tersisa di dini hari ini, kondisi pintu kota tampaklah sangat sepi … namun, bagian Kasino yang Verko miliki, tapak berbeda dengan kondisi keseluruhan kota.


Terdengan suara teriakan yang meriah, layaknya, seluruh orang yang berad di dalam kasino tersebut, sangatlah menikmati masa hidup mereka.


Di luar kota ….


Kuda telah diparkirkan, demikian, Arley beserta paman Radits telah berada di dalam kota [Rapysta]. Kala itu, tak ada satu pun, prajurit penjaga perbatasan yang masih sadarkan diri. Hampir keseluruhannya sudah dalam kondisi mabuk.


Bahkan, ada salau satu di antara mereka, yang tertidur sembari memeluk seorang wanita. Benar-benar pemerintahan yang korup.


Seiring berjalannya waktu … tak membutuhkan jarak yang lama, semenjak kedatangan Arley ke kota tersebut.


Akhirnya, mereka berdua telah tiba di kasino terbesar yang ada di benua Horus. Yaitu, Kasino Verko Jianno.


Di dalam kondisi sepi dan sunyi, kedua orang pria ini berjalan mendekati Kasino rakasasa itu tanpa mengenal takut.


Tampak jelas, jika koper hitam tengah digandeng oleh Arley, sedangkan paman Radits, dirnya dengan begitu santai, langsung saja memasuki kasino tersebut tanpa berpikir panjang.


“Tunggu!” Namun, tentu saja usaha mereka langsung dicegat oleh penjaga Kasino. Seorang pria tegap berbaju hitam, dan tak memiliki sehelai rambut.


Dirinya tak sendirian, tepat di dalam Kasino tersebut, juga ada sebuah pintu lagi, yang terbentang lebar membatasi para peserta yang akan mendatangi lokasi tersebut


“Kenapa aku tidak boleh masuk? Jika uang, maka aku punya banayak.” Tiba-tiba, sang paman menunjuk ke arah Arley, yang ketika itu tengah memegangi tas kopernya.


Seketika itu juga, si pria berkepala botak itu langsung terdiam. Dan ia memberikan kode kepada keempat orang lainnya yang berada di dalam pintu penjagaan dalam.


Tersenyumlah paman Radits, sedangkan Arley, ia hanya mengikuti sang paman memasuki Kasino tersebut.


Pintu di bukakan oleh salah satu pria penjaga gerbang dalam, dan saat pintu itu terbuka lebar … dentuman Music langsung memasuki gendang telinga paman Radits beserta Arley.


Musik ini berasal dari sebuah Alat, yang ditenagai menggunakan energi listrik, dari [Orb] yang telah diisi dengan sihir listrik.


Memang cukup aneh, untuk melihat benda-benda plastik, juga beberapa alat elektronik di dunia [Soros] tetapi hal ini sangatlah langka untuk di temukan. Selain bahannya sagat terbatas, juga, untuk bisa mendapatkannya, mereka harus melalui pasar gelap agar bisa memiliki benda-benda seperti ini.


Jika tidak, maka, benda-benda ini tidak akan mungkin bisa di nikmati oleh orang biasa, pastinya, pihak dari para bangsawanlah yang bisa menikmati benda-benda unik seperti ini.


Ketika itu, Arley menatap sekelilingnya dengan sangat intens. Ini baru pertama kalinya ia melihat isi sebuah Kasino.


Semua perabotan tampak begitu mahal, dan canda tawa beserta minuman keras, bertebaran di mana-mana.


Benar-benar esensi surga dunia …


Lantas, pandangan paman Radits berbanding terbalik dengan ARley. tatapan matanya hanya fokus mencari orang yang tampak paling penting di ruangan tersebut. Dan dalam waktu beberapa menit, sang paman menemukan orang yang ia cari.


Seorang pria, dengan menggunakan jas berwarna putih, juga berambut klimis. Tengah berdiri di sudut ruangan yang memiliki lebar tiga ratus meter ini, dan berdiam diri sambil duduk di kursi penjagaannya.


Tampak di belakang punggung sang pria, terdapat dua orang algojo yang siap menjaganya.


“Arley … ikuti aku,” ucap paman Radits, yang ketika itu mulai berjalan kembali, menembus ribuan orang yang berada di dalam Kasino ini.


Demikian, Arley langsung mengikuti printah sang paman. Dirinya juga tak kesusahan, saat orang-orang itu memadat dan menutupi jalan Arley. Dengan gampangnya, Arley menghindar dan menyusup ke sela-sela sempit, agar ia bisa mengejar paman Radits sampai tujuan.


Lima belas menit kemudian, mereka pun sampai di lokasi tujuan. Saat itu, Paman Radits hanya berdiri diam di depan meja kerja sang Manager lantai tersebut.


Ada sebuah sekat, di antara ruangan sang Manager, dengan lantai ruangan para penikmat kasino. Namun, tidak ada tembok yang membatasi ruangan mereka, hanya beberapa perabotan yang tersusun unik saja, yang membentuk ruangan itu menjadi sebuah ruangan.


“Ada yang bisa saya bantu …?” ucap sang Manager berwajah ular tersebut. Tubuhnya kurus, dan dagunya cukup panjang, dengan mata tajam layaknya ular.


Paman Radits pun tak berbicara langsung, ia hanya terdiam, sambil menatap sang Manager dengan begitu intens.


“Apakah kau yang berkuasa di lantai ini …?” balas paman Radits, sambil dirinya memandang rendah orang tersebut.


Lantas, dengan gengsinya sang pria menjawab pertanyaan sang paman.


“Ya, aku adalah orang yang memiliki otoritas tertinggi di lantasi ini … maka dari itu, ada yang bisa saya bantu, Tuan yang mulia?” jelas pria itu, yang kemudian berdiri dari kursi berputarnya.


Dan lagi-lagi, sang paman tidak lekas menjawab perkataan sang manager lantai tersebut. Ia mengundur waktu, sambil melihat sekelilingnya.


“Kalau begitu … panggilkan aku Verko. Urusanku bukan bersamamu.” Dengan tegas sang paman tampak begitu menyinggung perasaan sang manager ruangan.


Arley pun menatap bingung ke arah paman Radits. Ia tak pernah tahu cara bernegosiasi sebelumnya, maka dari itu, negosiasi yang kali ini, sangatlah menegangkan bagi dirinya.


Keringat dingin pun keluar dari pori-pori Arley, sebelum pada akhirnya, kedua algojo yang menemani si pria berwajah ular itu, datang dan mendekat ke arah ARley beserta paman Radits.


“Mohon maaf, tuan yang terhormat … tapi, aku rasa, saat ini tuan Verko sedang tidak ingin bertemu anda ….” Demikian, sang Manager berwajah ular itu, juga merespon ucapan paman Radits secara setengah hati.


Lantas, wajahnya berubah menjadi marah dan kesal, sedangkan kedua algojonya sudah mempersiapkan diri untuk mengusir paman Radits beserta Arley.


Apakah mereka bisa menghindari segala rintangan ini!?