
Saat itu … sirine berbunyi dengan kencang. Seluruh masyarakat berlari sekencang-kencangnya demi menyelamatkan diri merka masing-masing.
Selain sirine, ada suara seseorang juga yang bercampur di dalam gelombang campuran suara tersebut.
“Pengumuman! Ini adalah Walikota Walse. Saya menginformasikan untuk seluruh warga kota, agar segera mengungusikan diri, menuju keluar kota! Karena, sebentar lagi akan ada penyerangan yang akan dilakukan oleh pemberontak kota! Sekali lagi …—” Suara itu terus berdengung, dan dengan bergemanya suara ini, warga kota pun bertindak mengikuti perintah dari otoriter negara.
Suasana kota memang menjadi chaos, tetapi, setidaknya ada banyak nyawa yang terselamatkan berkat pengumuman ini.
Kotak pengeras suara pun ditutup. Walikota Walse, kemudian menghadapkan dirinya ke arah Arley, Paman Radits, juga Alan, untuk memberikan rasa terima kasihnya kepada mereka.
Merunduklah ia dengan tulusnya.
“Terima kasih, atas bantuan kalian semua,” ucap sang wali kota, yang kemudian, hal itu pun di balas juga oleh kegita orang tadi.
“Kami juga berterima kasih … tanpa bantuan anda, akan ada banyak korban yang berserakan di kota ini,” jawab paman Radits, sembari kembali mengangkan kepalanya.
***
Setelah itu, mereka bertiga kembali pindah menuju ruangan Loby dari rumah mewah ini.
Sesampainya di sana, Arley beserta paman Radits, juga Alan. Memilih untuk menunggu di pintu kota [Rapysta] agar penyerangan yang Verko ingin lakukan bisa di tahan oleh mereka.
“Apakah kalian akan pergi sekarang …?” tanya sang wali kota, yang wajahnya memelas.
Mengangguklah Arley, lalu, ia memesankan sesuatu kepada sang walikota.
“Pak Walse, aku titipkan Kak Melliana dan Cipi kepada Anda,” ujar Arley.
“Tenang saja, mereka akan aman disini. Aku akan melindungi mereka, walaupun nyawaku taruhannya.”
Selepas jawaban itu di lontarkan oleh Walikta Walse. Arley dan paman Radits pun keluar terlebih dahulu. Sedangkan Alan kembali ke ruangan Cipi beserta Melliana, untuk berbicara sesuatu kepada Cipi.
Ruangan mereka berada di lantai dua, tak butuh waktu yang lama untuk bisa segera sampai di sana.
“Cipi, bolehkan aku masuk?” tanya Alan sambil mengetuk pintu kamar.
“Tunggu sebentar! Aku masih membereskan wanita ini!” saut Cipi, yang ketika itu tengah memasangkan baju yang sopan kepada Mellaian.
Beberapa menit Alan menunggu Cipi di depan pintu. Dan selepas Cipi siap membereskan Melliana, dibukanya lah pintu kamar itu utuk mempersiapkan Alan masuk.
“Silahkan masuk, Kak Alan,” ucap Cipi untuk mempersikahkan kelaurga satu-satunya masuk kedalam kamar istirahatnya.
Namun, Alan menolak, sebab ia ingin cepat bergerak menjalankan misi terakhirnya.
“Tidak, di sini saja. Lagi pula, aku hanya ingin berbicara sesuatu denganmu.” Merunduklah Alan untuk menyelaraskan tinggi badannya dengan Cipi. “Cipi, jika semua ini semua sudah selesai … datanglah ke kota [Azurat Zlanat], dan temui Guild Master di sana.”
Saat itu, Alan tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari dalam kerah bajunya. Ia menarik sebuah liontin yang dirinya sudah kenakan cukup lama.
“Berikan Liontin ini kepada Guild Master kota [Azurat Zlanat], dan katakan, jika kau adalah, Moona Cladea.” Setelah Liontin itu Alan berikan tepat di atas telapak tangan Cipi, kedua tangan Alan pun menutup paksa tangan cipi, untuk mengepal benda berharga tersebut, dan menyimpannya secara berharga.
“Kenapa kita tidak pergi bersama-sama kesana?” tanya Cipi, dengan sebuah konsepsi yang tak ia pahami.
“Kita akan pergi bersama-sama ke tempat itu, jika aku kembali kepadamu dalam kondisi hidup.” Lantas, Alan langsung berdiri, dan seketika itu juga, ia langsung berlari, pergi meninggalkan Cipi, tanpa ia mendengarkan kalimat terakhir yang Cipi ingin sampaikan kepadanya.
“Aku tidak butuh liontin ini … aku hanya butuh dirimu,” gumam Cipi, yang mulai bersedih saat dirinya di tinggal pergi Alan.
.
.
.
***
.
.
.
Dari kejauhan, Alan bisa melihat Arley dan paman Radits sudah berdiri di depan pintu gerbang masuk kota [Rapysta].
Berlarilah Alan untuk segera bisa menghampiri kedua orang hebat ini. dan sesampainya ia di depan pintu gerbang masuk kota [Rapysta], langkah Alan langsung terhenti, tepat di samping kanan paman Radits.
a apa yang ia lihat saat ini, tampak seperti sebuah mimpi.
“M-mungkinkah … ini semua bala tentara Verko …?!” ucap Alan, yang tak menyangka, jika pasukan yang Verko bawa, akan lebih banyak dua puluh kali lipat dari apa yang pernah dia kirimkan untuk menghancurkan desa [Tiyome].
“Apakah kau merasa takut sekarang? Haha! Kalau kau ingin berlari, sekarang masih ada waktunya!” ejek paman Radits, sambil menggoda keberanian Alan.
“Aku tidak akan berlari. Hari ini, adalah akhir dari segelanya, kalau Verko tidak mati … maka akulah yang akan mati.” Dengan mental yang penuh keberanian, Alan mengucapkan kalimat itu tanpa rasa cemas.
“Hahah! Tentu saja! Lihat anak rambut merah ini, dari saat ia tiba di lokasi ini, dirinya tidak berkedip sedikitpun! Keuhh!! Gimana rasanya kalau aku colok saja mata tajammu itu, Arley!?” canda sang paman, untuk menetralkan kondisi mental kedua rekan perangnya kali ini.
“Jika kau ingin mencolok mataku, maka sebagai balasannya, aku ingin salah satu bagian dari ginjalmu, paman.” Namun, Arley menjawab candan sang paman dengan joke yang cukup gelap.
Paman Radits dan Alan pun tak mampu menjawab kalimat Arley, yang meraka lakukan hanya menatap Arley dengan pandangan aneh.
“Anak ini … bisa-bisa ia tumbuh menjadi psychopath,” gumam paman Radits dan Alan, secara serempak, di dalam hatinya.
***
Lima belas menit telah terlewati. Kobaran api yang menjalar di hadapan mereka, adalah sebuah tanda, jika posisi bala tentara lawan sudah sangat dekat dengan kota ini.
Suara-suara teriakan pun juga tengah bergeming, mengisi seninya malam dan gulitanya bayangan.
Namun, tak ada rasa takut yang menghampiri Alry, paman Radits, juga Alan. Untuk menghadapi jutaan orang yang ada di hadapan mereka kala itu.
“Aku memiliki rencana yang mudah, untuk membereskan ini semua.” Dan ketika keheningan tengan terjadi di antara mereka bertiga, tiba-tiba, Arley mengusulkan sesuatu untuk cepat mengatasi pertempurannya kali ini.
“Hm? Kau punya rencana ARley?” tanya paman Radits, yang kemudian menoleh kan wajahnya menuju wajah Arley.
“Ya~ pertarungan ini akan sangat mudah, jika kita bisa menemukan orang yang paling kuat di antara mereka, dan mengalahkannya secara sebelah mata. Bagaimana jika kita bagi tiga tim untuk menghancurkan jutaan orang itu?” Arley mulai membuka diskusi persoalan peperangan merka kali ini.
“Tiga melawan jutaan … aku tak pernah mendengar peperangan segila ini sebelumnya. Dan pergi kemedan perang tanpa sebuah rencana, aku rasa itu sama saja dengan bunuh diri. Baiklah, beritahu kami, apa yang sudah kau rencanakan, Arley!” balas paman Radits dengan antusiasmenya.
Arleyu pun mulai menjelaskan rencana mereka secara rinci.
“Baiklah … karena kita ada tiga orang, makanya kita hanya bisa membagi tiga pekerjaan. Tugas yang pertama, seperti yang sudah aku jelaskan tadi, kita akan mencari orang yang paling kuat di atara mereka semua, dan meghancurkannya secara mutlak. Siapa yang mau menjalankan misi ini?” ujar Arley.
“Okay! Aku yang akan melaksanakan misi ini!” ucap paman Radits yang ketika itu memilih pekerjaan yang ia sukai.
“Baiklah, yang tersisa ada dua pekerjaan lagi. Yang kali ini, akan sedikit ribet. Karena kita harus mencari tahu keberadaan orang yang satu ini.” jelas Arley.
“Kalau soal mencari orang, ini adalah keahlianku. Memangnya, siapa yang ingin kau cari?” imbuh Alan, di saat Arley tengah menernagkan renacananya.
“Bagus, aku juga sependapat denganmu. Orang yang kita cari adalah, Verko.” Demikian, kalimat Arley langsung merubah Mood di antara mereka bertiga. “Aku yakin … Verko tidak akan mungkin berada di dlini depat pertempuran. Dia kan besembunyi di bagian paling belakang dan mengandalkan uang juga jabatannya sebagai tameng.”
Alan pun tersenyum ketika ia mendengarkan kabar baik ini.
“Aku tidak bisa lebih senang lagi dengan pekerjaan terakhiku ini. Baiklah, akan aku laksanakan. Aku akan menemukan dirinya, dan membunuhnya saat itu juga.” Pandangan Alan pun berubah menjadi tajam, dan ia menatap fokus menuju barisan paling belakang dari pasukan perang tersebut.
“Tidak begitu, Alan. Aku tidak memintamu untuk membunuhnya.” Namun, tiba-tiba Arley malah memberikan sebuah pernyataan yang mengejutkan.
“Eh?! Kenapa! Jika aku menemukannya, aku bisa langsung membunuhnya! Apakah kau meragukan kekuatanku?!” Alan tampak marah, ketika dirinya dilarang membunuh Verko.
“Bukan begitu, Alan. Ingat, Verko akan berada di barisan paling belakang dari pasukan tempur ini. Barisan belakang, biasany diisi oleh orang-orang penting seperti, ahli strategi, atau pun raja. Bukankah begitu, paman Radits?” tanya Arley kepada pamannya.
“Kau benar Arley. Aku pun paham apa tujuan dari rencana ini. Haha, rencana yang menarik.” Lantas, sang paman kembali tersenyum saat ia memahami keseluruhan dari rencana ini, sebelum Arleyu menjelaskannya secara rinci.
Dan yang tak begitu mengerti dari rencana ini, hanyalah Alan seorang.
“Tolong jelaskan kepadaku, menggunakan bahasa yang lebih rinci,” ujar Alan, sambil memohon kepada Arley.
“Alan, orang yang berada di barisan paling belakang, adalah orang-orang yang paling kuat, dibandingkan mereka yang berada di sudut depan. Dan walaupun kau berhasil membunuh Verko, tapi nyawamu masih belum tentu bisa lolos dari tempat itu.” Kali ini, Arley menjelaskan role dari Alan secara detail dan dapat di pahami.
Terdiamlah Alan, lalu, ia pun baru menyadari, jika di dalam rencana ini, memiliki sebuah makna yang amat penting bagi mereka bertiga.
“Ohh, begitu ternyata~” karena ia sudah mengetahui makna di balik rencana ini, saat itu juga, Alan tersenyum lebar, sama seperti apa yang paman Radits lakukan tadi.
Dan pada sisi Arley, tiba-tiba, Arley pun menampilkan senyumnya, namun, senyuman yang ARley tampakkan, adalah senyuman jahat yang ingin menyiksa orang yang menjadi buronannya.
Di dalam kalutnya malam … Arley bersumpah dalam hatinya, jika ia akan menghukum Verko dan menjadikannya contoh bagi mereka yang berkeinginan serupa dengannya.