The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 156 : Si Succubus vs Amylia, Aurum dan Helena!



Not Edited!


 


 


Berhembus kabut hitam nan gelam menyelimuti tubuh dua orang manusia dan seorang pixie. Kabut itu keluar dari dalam tubuh seorang iblis, yang tengah mengintimidasi ketiga wanita yang berada di hadapannya kala itu.


 


 


Akan tetapi, berdiri tegap seorang wanita dengan pakaian yang sudah robek akibat pertarungan terakhirnya. Walaupun bajunya tampak kusam, tak tampak satu bekas luka pun dari tubuh sang wanita.


 


 


“Waw, mengesankan. Kau pasti cukup kuat sampai bisa menahan intimidasiku,” cakap sang iblis yang hanya tampak siluetnya saja.


 


 


Walaupun Amylia berdiri dengan tegap menghadapi sang iblis, ia tampak sedikit cemas karena dirinya tak mengetahui siapa lawannya kali ini.


 


 


Sejenak, tangan kanan Amylia terasa seperti gatal dan sedikit panas. Terkejutlah dirinya ketika menyadari jika tatonya bereaksi terhadap musuh yang berada di depannya.


 


 


“Ada apa dengan tubuhku … mengapa aku merasa bahwa lawanku kali ini adalah musuh yang sangat kuat,” ucap Amylia dalam hati, “sejak kapan aku bisa menilai orang lain seperti ini?” Tampak jika ia terlihat bingung dengan apa yang dirinya sendiri sedang lakukan.


 


 


Dari dalam kabut hitam nan pekat tersebut, lalu keluar sang iblis dengan jalan lenggak-lenggoknya bagaikan seorang model yang tengah melakukan cat walk.


 


 


Wajahnya tersenyum genit, layak sekali dengan ras yang di junjung tinggi oleh sang pemilik senyuman. Pakaiannya terlihat jelas seperti kurang bahan, hanya bagian dadanya saja yang tertutupi oleh sebuah lateks berwarna hitam, dan tampak tertempel di bagian privatnya saja.


 


 


Sedangkan bagian pinggul kebawah hanya tertutup di bagian pentingnya saja. Mulai dari bagian paha sampai telapak kaki sang wanita, cuma menggunakan lateks hitam bercorak batang bunga mawar yang berduri dan menggoda.


 


 


Rambut panjang sampai menutupi pinggul, serta lurus berwarna hitam pekat. Membuat lelaki manapun akan mengejar si iblis walaupun harus mati.


 


 


Sesekali buntut sapinya bergerak menyapu tanah, juga sesekali bergerak sesuai mood si iblis wanita.


 


 


Ya, iblis ini berasal dari ras Succubus.


 


 


Succubus dan incubus adalah ras yang berbeda. Succubus memperbanyak kaum mereka dengan meminta bantuan pada ras lain, begitu juga dengan incubus.


 


 


Seperti ada benteng yang memisahkan dua ras yang terlihat mirip tapi tak sama ini. Mereka tak bisa saling memperbanyak ras mereka satu dengan yang lainnya, demikianlah kedua ras ini mengkategorikan diri mereka sebagai ras yang berbeda.


 


 


Demikian rangking sang Succubus hampir merajai peringkat tertinggi dari kedua belas Komandan Utama Pasukan raja Iblis, karena kemampuannya yang lebih heba dibandingkan ras incubus.


 


 


“Helena! Aku bertanya padamu sekali lagi, mengapa kau bersekutu dengan manusia! Tidakkah engkau menaruh dendam kepada merek?!” tanya si Succubus kepada sang Pixie.


 


 


Helena tak berani menjawab, dirinya hanya bersembunyi di punggung Aurum sambil menutupi tubuhnya dengan rambut Aurum yang berwarna cokelat tersebut.


 


 


Kala itu, tak sengaja Helena melihat wajah risau Aurum yang tampak begitu ketakutan. Helena pun memberanikan diri untuk keluar dari tempat persembunyiannya.


 


 


Ia terbang dan kali ini berhenti tepat di tengah-tengah antara Amylia dan si Succubus.


 


 


“Helena!?” menyadari jika sang Pixie mencoba untuk mendekati sang iblis, Aurum merasa semakin ketakutan.


 


 


Amylia yang tak sengaja melihat wajah Aurum, berusaha untuk meyakinkan diri bahwa dia mampu mengalahkan iblis yang ada di hadapannya.


 


 


“Helena tidak akan berpihak dengan Raja iblis lagi nanon!” terang sang Pixie dengan perasaan takut dan tubuh bergetar. “Helena sudah memutuskan untuk tidak membantu Raja iblis lagi nanon! Setelah apa yang nenek tua itu lakukan kepada seluruh ras Pixie nanon! Aku memilih untuk bersekutu dengan manusia nanon!”


 


 


Wajah sang Succubus langsung  berubah menjadi datar. Tak ada ekspresi lanjutan dari si iblis wanita.


 


 


Menyikapi ekspresi dadakan dari sang Iblis wanita, Aurum langsung lompat dari tempat ia terduduk, dan menangkan Helena dengan kedua telapak tanganya.


 


 


Terkejut, Amylia dan Helena tak menyadari jika Aurum akan bertindak ceroboh seperti itu.


 


 


“Aurum!” pekik Amylia sembari ia berlari dan memasang kuda-kuda tempur tepat di hadapan sang wanita berambut cokelat tersebut.


 


 


“M-maafkan aku! Tapi aku tak bisa meninggalkan Helena sendirian …,” gumamnya sambil merasa bersalah. Tampak keringat dingin keluar dari pori-pori wajahnya.


 


 


Amylia tak menjawab perkataan Aurum, ia terlihat fokus untuk menghadapi iblis yang satu ini.


 


 


“Hee~ Tampaknya kau menyadari, betapa hebatnya diriku ini, Wahai anak manusia.” Langkah sang iblis mulai berjalan lagi mendekati Amylia.


 


 


Lantas, tiba-tiba sang Iblis mengeluarkan tongkat sihirnya secara ajaib. Tonkat itu muncul di tangannya, bagaikan partikel cahaya yang berkumpul lalu membentuk partrikel kayu yang padat. Diucapkannyalah mantra sihir yang Amylia dan Aurum tak pernah dengar sebelumnya.


 


 


“Obriguerunt”


 


 


Sontak, rubuh Amylia dan Aurum membatu tak bisa bergerak. Betapa terkejutnya mereka berdua ketika menyadari seluruh sendi pada tubuhnya tak mampu menggerakkan sebiji sendi pun. Mata mereka masih bisa melirik liar, tapi otot-otot pada tubuhnya tak bisa bereaksi sesuai perintah otak.


 


 


“A-amylia! Kenapa ini!?” ungkap Aurum yang mulai merasa semakin takut.


 


 


“Kau apakan kami berdua!?” menyadari jika dalang dari ini semua adalah mantra sihir sang Succubus, Amylia langsung menentang perbuatan sang Iblis wanita.


 


 


Kembali wajah sang succubus menyeringai senang, seketika itu juga dirinya mempercepat langkah sampai berdiam diri di hadapan Amylia.


 


 


Di dongakkannya lah dagu Amylia dengan jari telunjuknya, lalu wajah sang Iblis wanita perlahan mendekat dan hanya tinggal berjalar dua centi meter saja dari ujung hidung masing-masing mereka berdua.


 


 


 


 


“Kau mau apakan aku …?!” sedikit terkejut dengan prilaku si succubus, Amylia berusaha berontak ketika wajahnya di elus-elus secara bebas oleh si iblis berambut hitam.


 


 


Lalu, sang succubus mulai meraba rambut Amylia dengan sesuka hatinya. Rambut biru gelapnya itu di sapu menggunakan jari-jari si iblis yang tapak kuku runcing dari setiap jarinya. Dengan begitu mudahnya rambut Amylia terhelai bagaikan kain sutra.


 


 


Terdiamlah sang iblis selesai memperhatikan setiap sisi wajah sang putri[atargatis]. Melangkahlah kaki sang iblis menuju ke depan wajah Amylia, sembari ia memegang kedua belah pipinya, si iblis mulai merasa tertarik dengan kecantikan si putri duyung.


 


 


“Aku suka denganmu,” ujarnya dengan begitu simpel, “bagaimana jika kau menjadi selir, di kastilku kelak?”


 


 


Terdiam seribu kata. Lalu suara lantang keluar dari tenggorokan AMylia dan Aurum.


 


 


“HAAaa!?” begitu nyarin sampai membuat kepala sang iblis berdengung.


 


 


“Amylia tidak boleh kau miliki! Dia adalah selirnya Eadwig!” secara mendadak, Aurum membocorkan perasaannya tanpa pandang bulu.


 


 


Mendengar ucapan Aurum, wajah Amylia malah berubah menjadi merah padam. “Apa yang kau katakan bodoh! Aku bukan selirnya!” pekik Amylia dengan perasaan begitu malu.


 


 


“Hee? Tapi bukankah kau akan menjadi selir pertama dari pangeran bodoh itu?!” Aurum seperti kehilangan mur di otaknya, bibir sang wanita dengan cerobihnya berucap kalimat yang tak sesuai dengan logika Amylia.


 


 


“Aku tak akan membiarkannya membuatku menjadi selir! Aku akan menjadi istri sahnya! Tapi aku tak akan membiarkan dia menikahi wanita lain!” jelas Amylia terhadap Aurum. “Dan juga! Jangan panggil dia bodoh! Cuma aku yang boleh memanggilnya bodoh!”


 


 


Menatap malu ke sudut samping wajah Amylia, Aurum merasa tertarik untuk menjahili dirinya lebih lanjut. “Hee ~ beigitu ternyata, kau sangan mencintai Eadwig ya ternyata,” celetuknya dengan begitu enteng.


 


 


“Aaaaa! Berissiiikk!” Amylia berteriak untuk menghentikan Aurum dari ucapan pemecah hatinya itu.


 


 


Merasa terusik dengan pembicaraan kedua wanita ini, si succubus langsung mengarahkan tongkat sihirnya ke hadapan wajah Amylia. Seketika itu juga, si iblis langsung merapalkan mantra sihirnya.


 


 


“Flante Tenebris.”


 


 


Tiba-tiba, ledakan dahsyat terjadi di depan wajah Amylia dengan begitu mengerikannya. Ledakan dengan api berwarna hitam itu, mementalkan tubuh Amylia sampai menghantam bebatuan yang tersusun  di belakang si tuan putri.


 


 


Wajah Aurum yang tadinya tersenyum, langsung berubah menjadi depresi dan ketakutan kembali.


 


 


“AMMYYyyy!” pekiknya sampai suara Aurum serak.


 


 


“Ternyata kau sudah punya kekasih, huh menjijikkan.” Dengan wajah kesalnya, si succubus mulai beralih haluan mendekat ke hadapan Aurum.


 


 


Bergetar hebat, Aurum tak menyangka jika dirinya akan mati secepat ini.


 


 


Namun, secara mendadak muncul suara batu bergeser dari tempat di mana Amylia terpental tadi.


 


 


“Oh! Kau masih hidup ternyata—” tak sempat menghabisi kalimatnya, si Succubus langsung menunjukkan ekspresi terkejut selepas dirinya melihat perangai Amylia.


 


 


Aurum tak mengetahui apa yang terjadi di belakangnya sebab mantra pembekuan yang si iblis succubus lontarkan kepada dirinya. Akan tetapi ia tahu jika ada suatu hal yang tak beres dari raut wajah si succubus.


 


 


“K-kau ini …,” sejenak sang iblis wanita melangkah mundur. “Apa-apaan kau ini …!?” gumamnya sambil melototkan mata kebingungan.


 


 


Apa yang terjad idengan amylia? Dan apakan mereka berdua bisa mengalahkan si iblis picik ini?


 


 


Bersambung!


 


----------------------------------------------


 


 


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


 


 


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


 


 


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


 


 


Baiklah!


 


 


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


 


 


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


 


 


Have a nice day, and Always be Happy!


 


 


See you on the next chapter!