The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 273 : Kembalinya Melliana.



Pada pagi hari itu … Melliana kembali tersadar setelah dirinya koma selama satu minggu.


Namun, yang pertama kali Melliana lakukan saat dirinya sadar … adalah berteriak histeris layaknya orang kesurupan.


“TTIiidaaaaakkk!” teriak Melliana, semberi ia melmpar segala yang dirinya bisa raih, mengarah ke dinding kamar.


Saat ini, Keluarga Polka tidak tinggal di kebun peternakan mereka, melainkan, mereka tinggal di rumah Walikota Wales secara Cuma-Cuma.


Sebab utamanya, karena rumah keluarga Polka, masih belum selesai dibenahi, sehabis kebakaran yang terjadi saat satu minggu yang lalu.


“Mell?! Kamu sudah sadar!” Dalam kondisi yang terharu, Jasmine pun langsung memasuki ruang tidur Melliana, tetapi, ketika sang ibu ingin memasuki ruangan anaknya, Jasmine malah di lempar bantal oleh Melliana.


“Jangan mendekat! Pergi! Menjauh dariku!” dengan lantangnya, Melliana terus mengulangi kalimatnya itu sambil menangis sejadi-jadinya.


Arley dan paman Radits pun datang dan berkumpul bersama Jasmine, di susul oleh Varra yang berada di bagian belakang mereka. Sedangkan Emaly dan Joshua, mereka berdiri di belakang Varra sebab ketakutan dengan suara Melliana yang melengking.


“Mell?! Ada apa?! Kamu kenapa?!” Tak kuasa melihat anaknya berteriak seperti orang gila, Jasmine pun mendekati anaknya dan memeluknya dengan dekap.


Keriuhan ini bahkan terdengar sampai keluar ruangan. Beberapa wanita yang tinggal di rumah ini, akhirnya berkumpul di depan pintu kamar Melliana, untuk mengetahui apa sebabnya teriakan ini terjadi.


Namun, paman Radits sengaja memasang badannya untuk memberikan penjelasan kepada mereka semua.


“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya beberapa orang wanita yang melihat kejadian ini.


“Tidak apa~ Melliana baru saja bangun, mungkin dirinya masih Sock,” imbuh paman Radits, yang kemudian menutup pintu ruangan Melliana.


Kemudian, tampak sang wanita berambut Pirang. Wanita yang berbicara pada Arley, saat dirinya mengambil Melliana kembali dari Kasino Verko.


“Melliana … anak itu, jiwanya sudah di kotori oleh Verko,” ucap sang wanita dengan wajah yang sangat serius.


“Kamu …,” paman Radits pun menoleh ke arah wanita tersebut. “apakah kamu tidak meminum obat penghilang ingatan?”


Lantas, wanita itu menggelengkan kepalanya.


“Tidak, aku hanya meminum obat penyembuh tubuh saja. Aku sengaja tidak meminum obat penghilang ingatan … sebab, pria itu sudah berbuat banyak untukku …,” jelas sang wanita, sambil mengamati pundak kirinya.


“Siapa dirimu ini?” Sang paman pun penasaran dengan identitas wanita yang satu ini. Ia tampak lebih elegan di bandingan wanita lainnya.


“Aku? Haha~ Aku biasa di kenal sebagai adik tiri Verko. Tapi … bagiku pria itu lebih dari seorang saudara tiri.”


Paman radits pun menatap serius wanita ini, ia tak ingin ada Verko lain yang masih hidup dan membuat kenaran di kota ini lagi.


“Tenanglah~ jangan pasang wajah seperti itu kepadaku. Lagipula, aku sangat bersyukur Verko bisa dikalahkan oleh kalian.” Ketia sang wanita itu berkata demikian, air matanya mulai mengalir. Ia sepertinya tak rela namun harus di relakan, jika Verko sudah tiada.


Lalu, seorang wanita lainnya datang. Seorang wanita dengan rambut hitam bagaikan malam penuh bintang.


Kedua wanita itu pun saling bertatapan dan juga saling melempar senyuman. Dan ketika wanita berambut itu tiba di hadapan paman Radits, wanita yang mengaku sebagai adik tiri Verko, dirinya pergi dari tempat tersebut.


“Dia, adalah istri pertama Verko,” jelas wantia berambut hitam itu kepada paman Radits.


“EH?! Verko menikahi adik tirinya sendiri?” Betapa terkejutnya sang paman saat wanita berambut hitam itu membuka pembicaraan ini. “T-tunggu … kau juga tidak meminum ramuan penghilang ngatan itu?”


Tersenyumlah wanita berambut hitam panjang itu kepada sang paman.


“Terlalu banyak ingatan suka maupun duka yang aku miliki. Aku ingin menyimpan ingatan ini sampai mati,” jelas sang wanita, yang kemudian melirik ingin masuk kedalam kamar tersebut. “apakah aku bisa bertemu dengan pemuda bernama, Arley?” tanya wanita tersebut.


Lalu, Paman Radits memegangi pintu kamar itu dan menjaganya dengan baik.


“Tunggu saja di sini, sebentar lagi anak itu juga akan keluar,” jawab sang paman, yang tak mau urusan di dalam ruangan itu, merambat sampai keluar.


***


Kembali ke dalam kamar Melliana.


Saat itu … seluruh barang-barang yang ada di dekat Melliana, tampak sudah berhamburan di atas lantai kamarnya.


Jasmine terlihat di pegangi oleh Varra, sebab dirinya ingin mendekat ke arah Melliana untuk memeluknya, namun, Melliana terus memberontak ingin menyakiti dirinya sendiri.


Tak ada yang mereka bisa lakukan, hanya memandangi Melliana yang memeluk dan mencakar-cakar dirinya sajalah yang ketiga orang itu bisa lakukan.


“Varra … bawa Jasmine keluar dari ruangan ini,” perintah Arley, yang ketika itu, tampaknya ingin melakukan sesuatu kepada Melliana.


Mengangguklah Varra sembari ia membawa Jasmine keluar dari ruangan tersebut. Ketika ini terjadi, Joshua dan Emaly telah di bawa keluar bersama paman Radits.


“Jadi … ini yang wanita itu maksud. Tubuhnya belum sempat di kotori, tapi hatinya telah rusak.” Arley berguma sendiri dalam hatinya.


Lalu, mendekatlah Arley, dan kemudian ia duduk di samping kasur Melliana. Sang gadis pun melihat ke arah Arley, tapi, anehnya ia tak banyak berbuat dan hanya memeluk kedua kakinya saja. “Ia terus menangis dan berusaha menahan isaknya.


“Apa yang terjadi padamu, Kak Mell?” tanya Arley, yang kala itu hanya meratapi lantai kayu di dalam kamar tersebut.


Melliana tidak berontak. Tampaknya, tindakan Arley kali ini sangat efektif. Dan tentu saja demikian, sebab utamanya adalah, Melliana tidak mau jika Arley membenci dirinya.


“A … Aku … Aku telah kotor …,” gumam Melliana, dan setelah dirinya mengatakan kalimat itu, dirinya kembali menangis sejadi jadinya, tapi ia menahan suarany untuk tidak keluar secara lantang.


“Kenapa kau bisa berkata seperti itu?” Arley mencoba mencari sebab mengapa Melliana beranggapan demikian.


“Aku melihat … pria tua itu dengan ganasnya memuaskan dirinya bersama belasan wanita. Dan pada saat seluruh wanita itu tumbang … aku ….” Lagi-lagi Melliana terdiam.


Mendengar penjelasan Melliana, Arley berpikir keras mengenai hal ini. Jika yang di katakan wanita berambut pirang itu benar, berarti, ada yang salah dengan ingatan Melliana.


“Kak Mell … aku rasa dirimu masih suci.”


“TIDAK MUNGKIN! Pria itu, d-dia menjilatiku seperti hewan liar. Aku … AKU!” Lantas, Melliana kembali mencakar pundaknya dengan jari-jari kukunya.


“Jadi seperti  itu ….” Arley kembali bergumam dengan suara yang amat pelan. “Aku paham sekarang, kak Mell memang belum di kotori pada bagian sensitifnya namun, ingatannya telah di rusak oleh Verko.”


“Arley … Arley … aku sudah tidak bisa menikah lagi ….” Tiba-tiba, Melliana bergumam sendiri sambil memandangi kedua telapak tangannya.


“Tubuhku sudah kotor … Saat ini, sudah tidak ada pria manapun yang mau denga diriku ini.”


Arley langsung memutarkan wajahnya, dan ia menatap ke arah Melliana dengan intens.


“Janga berkata bodoh, Kak Melliana! Di dunia ini ada banyak pria yang tidak hanya melihat fisik seorang wanita!” Lalu, Arley memegangi pundak Melliana untuk memberikannya sebuah kenyataan.


Namun, Melliana malah mencengkram kuat kedua tangan Arley.


“BOHONG! Tidak ada pria yang mau dengan wantita kotor! Hanya pria kotorlah yang mau dengan wanita Kotor!”


Setelah kalimat itu Melliana lontarkan. Entah mengapa, Arley seperti tertampar tepat di wajahnya.


“PEMIKIRANMU SALAH!” Teriak Arley dengan lantang.


Kalimatnya itu pun membuat Melliana sangat terkejut, dan saat itu juga, Melliana sedikit tersadar atas keseriusan Arley.


“Hanya pria bodoh yang berpikiran seperti itu, Kak! Dan jika seandainya semua yang kakak ucapkan atau pikirkan itu menjadi kenyataan!—” Sontak, Arley berdiri dan menarik tangan kanan Melliana, lalu ia menaruh tangan kanan Melliana itu, tepat di jantung kirinya. “AKU SENDIRI YANG AKAN MENIKAHI KAKAK!”


Meledaklah perasaa Melliana seketika itu juga. Wajahnya memerah layaknya di siram satu baskom tepung cabai.


Wajahnya memanas, badannya terasa lemas … dan kala itu, dirinya termenung mendengar ucapan Arley.


“Jika sampai nanti kau masih belum mendapatkan satu pria pun! Aku seniri yang  akan menikahimu!” ucap Arley dengan begitu tegasnya.


Bibir Melliana pun bergetar, air matanyapun kembali mengalir, namun … kali ini air mata itu adalah air mata kebahagiaan.


Menengadahlah Melliana untuk melihat ke wajah Arley.


“Apakah kamu serius …?” tanya Melliana dengan kedua alisnya yang menukik ke atas.


Arley pun lagsung terkejut, ketika dirinya mendapati wajah Melliana yang amat cantik juga menggemaskan. Tiba-tiba, jantung Arley berdebar kencang.


“Eh?! A-aku …?! Kenapa aku merasakan hal ini?” gumam Arley dalam hatinya. Lantas, Arley langsung memegangi jantungnya sendiri.


“A-Arley …?” sekali lagi Melliana bertanya dengan Arley menggunakan wajah kasmarannya.


“Aku berjanji kepadamu …,” jawab Arley dengan malu-malu.


Dan setelah ini … Melliana bisa kembali tenang, mereka berdua pun tampak malu-malu. Wajah merah Arley, memandang keluar jendela yang berada di samping kasur Melliana, sedangkan Melliana sendiri menatap ke lantai untuk meredakan rasa malunya.


Akan tetapi … ada hal yang kedua orang ini tidak sadari. Ketika hal ini terjadi … Varra saat itu berada tepat di depan pintu yang terbuka sedikit.


Ekspresi wajah Varra tampak begitu shock, ia tak menyangka jika dirinya akan mendengarkan kalimat itu, tepat di depan dirinya sendiri.


Apa yang akan terjadi di antara mereka bertiga?