
Tampaknya rencanaku berjalan dengan baik, sang budak wanita sudah bersama suaminya, sekarang tinggal melancarkan rencana selanjutnya.
Dari kejauhan anak berambut pirang datang dan menatap ke wajah ku. sang anak memberikan aba-aba. ia memicing kan matanya dua kali. seperti ia memberikan suatu isyarat, Aku pun paham apa maksud anak itu.
Para rombongan Pengepul tadi akhirnya bangkit dari pingsan nya, lalu mereka berlari menuju ke arah ku.
"Kurang ajar!! Kau rupanya yang melakukan hal tadi hah!!?!" Sang pengepul dengan emosi mengacukan jari ke pada ku.
Aku hanya menatap pria ber pita tikus itu dengan wajah kosong, kemudian aku memasukkan jari kelingkingku ke hidung sebelah kanan sambil mencari harta karun Gol D Roger. Hahaha, if you know what I mean.
"...He? Aku melakukan apa? Tuan siapa ya?"
Ucap ku dengan wajah bodoh, beberapa saat kemudian aku menemukan harta karun legendaris itu, ku tarik keluar dan ku lihat seberapa besar bola naga yang aku dapat. Again, if you know what I mean. Hahaha!
"Ah! dapat! huwa ... besar sekali bola naganya."
Aku menyentil bola naga itu dengan ibu jariku. terlepas sudah rasa gelisah di hidung, kemudian aku kembali menatap bodoh ke wajah sang boss pengepul budak.
Pria Arogan itu melempar pisau nya ke tanah. mata pisau tertancap sempurna ke dalam tanah. kemudian ia mengomel tak genah, sikapnya semakin ke kanak-kanakan.
“Apa nya yang bola naga!!! Bocah tengik!! kau meremehkan ku ya!?!”
Sang pengepul budak itu mengambil kembali pisau perak yang tertancap di tanah, kemudian ia kembali menodongku dengan pisau di tangannya. Walaupun sepertinya ia tidak berani mendekat ke arahku, dasar penakut ....
“… tch, hei cungkring, kau belum menjawab pertanyaanku tadi."
Tunjukku ke arah cecunguj cungkring itu dengan kelingking yang aku gunakan untuk menggali hidung ku barusan.
"Ha!?! A-a-apa ... !?! C-C-CUNGKRING!!!!?!"
Dari kepalanya yang nyaris botak, dan juga tubuhnya yang kurus kering, tampak urat-urat biru keluar dari seluruh tubuhnya, kemudian tampak seperti asap keluar dari kupingnya, menjijikkan, pria ini sperti terkena penyakit yang mengerikan.
Ku sodorkan tongkat sihir ke arahnya, ku rasa sudah tidak ada arti untuk memperpanjang ini semua.
Hening, tiba-tiba sang pengepul budak terpelongon melihat ke arahku, matanya melebar saat memperhatikan tangan kananku yang memegang sebatang kayu berwarna hitam (tongkat sihir).
"-Pfft!!? Ha!? Apa itu!? Kau menodongku dengan sebatang kayu .... !??”
Arogan, tipe pria seperti inilah yang aku sangat benci, mau dari ujung planet manapun, jika aku melihat ada pria yang tipenya seperti dia, aku tidak segan-segan mengeluarkan seluruh kemampuanku.
“… Kita lihat tongkat kecil ini bisa berlaku apa pada mu ….”
Geram, ku sodorkan lagi tongkat sihir ini untuk yang ke sekian kalinya, mataku meliriknya dengan tajam. aku tidak main-main, saat ku lepaskan amarahku, mereka semua pasti tidak akan bernyawa lagi, aku bersumpah di hati ini pada diriku sendiri.
Keheningan terjadi, lalu keheningan itu pecah dengan gelak tawa. “Gyahahaha!!! lihat dia hey!! LIHAT DIA!!! GYHAHAHAHA!” Pria arogan itu tertawa puas. tak ada rasa kasihan lagi dalam jiwa ini untuknya, diam adalah pilihan yang aku ambil.
Kemudian datang dari belakang sang Boss, seorang pria berbadan tegap dan berkepala botak, dia mengenakan sarung tangan berlapis besi, dari nada bicaranya ia sangat meremehkan ku.
“Hey bocah, kau tidak lihat kami ada berapa banyak? kau tahu, seharusnya kau tetap diam di rumah dan meminum susu ibumu sampai kau tumbuh dewasa, nasib mu sangat buruk sampai bisa bertemu kami di sini."
Tampaknya Algojo itu mengancam ku. kemudian Algojo lainnya mulai bergerak mengikuti tindakan sang Algojo botak barusan.
Tenang, aku hanya diam. yang mengejutkan adalah, aku tidak takut dengan ancaman mereka.
“… kepala tikus, Kau belum menjawab pertanyaanku tadi ….” lagi, aku mencoba memprovokasi mereka.
“-S-siapa yang kau sebut kepala tikus!!!!!”
kembali pria arogan itu membanting pisaunya dan menancap di tanah.
“... Cih!! baiklah jika kau begitu penasaran dengan diriku … aku akan memperkenalkan diri, Ekhem!! Aku adalah Pilak, pemilik dari Karavan Budak ini-“
Belum selesai ia berbicara, Aku memotong pembicaraannya dengan melihat ke arah lain, sepertinya waktu untuk menghabisi mereka semua telah tiba. isyarat itu telah tampak.
Dari kejauhan, aku melihat bocah pirang itu melambaikan tangannya. ia naik ke salah satu atap kereta kuda dengan di gendong oleh salah seorang budak pria. terkumpul, semua budak yang tertahan di sini sudah berhasil di bebaskan.
"Kaakaaaak!!" Teriak nya memekik.
“-Hey bocah pirang!! kau sudah membebaskan mereka semua!?” Ucap ku kepada si bocah pirang.
“Sudah kak!! aku sudah membebaskan teman-temanku semua! Misi kita Berhasil ....!!!” Balas sang anak dengan wajah yang sangat gembira.
Sepertinya rencanaku berjalan dengan baik, dan aku yakin mereka (Pengepul budak dan teman-temannya) akhirnya menyadari bahwa aku hanya memperlambat pergerakan mereka semua. ya, aku dan anak berambut pirang itu sudah merencanakan ini semua sejak awal.
Rencananya simple. dimana aku akan meladeni mereka (Si Boss dan para algojonya), dan si bocah pirang mengkondisikan diri untuk membebaskan teman-temannya semua.
Menggeramkan tangannya dengan sangat keras, si Pengepul budak tampak sangat marah besar.
Mendengar dan menyadari rencana ku, pria bernama Pilak terlihat sangat kesal, kekesalannya pun tersulut sampai ke ujung tanduk.
Lagi-lagi ia membanting pisau yang ia pegang dan tentu saja menancap ke tanah.
“-DENGARKAN ORANG TUA KALAU MEREKA SEDANG BERBICARA BOCAH TENGIK!!!!"
Badan Pilak gemetar, lalu kemudian giginya menggerutu, matanya memerah dan membesar, seperti balon yang di tiup berlebihan dan akan meledak seketika.
Perlahan pilak mengambil nafasnya, lalu ia kembali menetralkan amarahnya. akhirnya ia dapat berfikir jerni kembali.
"Sudah lah … tidak ada habisanya berbicara dengan anak kecil, kenapa juga aku meladeni anak kecil, mereka tahu apa memangnya ...."
Pilak membalikkan badannya, ia mengambil secarik kain kecil dari kantong bajunya dan mengelap keringat yang bercucuran dari wajah sampai lehernya.
"Hey kalian semua, bereskan bocah ini”
Perintah di ucapkan, Pilak duduk di sebuah batu yang bisa di pakai sebagai kursi, kemudian ia menatap ku dengan sinisnya.
Membara, para Algojo yang di berikan perintah oleh Pilak memberikan response yang sangat berlebihan, sepertinya mereka menyimpan dendam kepada diri ku karena sudah membuat mereka terhempas ke udara sebelumnya.
“BAIK BOSS!!” ucap mereka secara serempak
***