
***
"Slurp~" Berdecik bibir ini menenggak sup dari mangkuk yang bundar nan kecil.
"Hmm ... dari mana aku akan memulai kisahnya...?"
Ucap sang kakek sambil mengusap-usap jenggotnya.
"... Baiklah aku akan memulai kisah ini dari awal ketika desa ini di bangun. Hahaha, sudah lama aku tidak bertemu dengan orang yang bisa aku ajak bicara, aku akan memulainya dari sana! "
"... Baiklah ..." Ucap ku sambil lanjut memakan sup.
"Ekhem! ... Kisah ini bermula pada 70 tahun yang lalu ..."
"Puuurfttt!!! " Kuah sup muncrat dari mulut ku, lalu menghujani wajah sang kakek.
"Aaaa!! Kau ini jorok sekali!!!!" Sang kakek mengelap wajahnya dengan kain pembersih yang ada di meja makan.
"M-maaf kek aku tersedak tadi ...."
"(Kelamaan!! Mau sampai kapan kisah ini akan berakhir jika kau memulai kisah sejak 70 tahun yang lalu!!?!)"
Aku merasa bahwa aku memulai hal yang seharusnya tidak ku mainkan.
"Ekhem!! Baiklah kita mulai kisahnya!!"
Lalu sesaat keheningan terjadi.
***
"....."
Sekitar 70 tahun yang lalu ... Ada sekelompok pengembara yang hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Tujuan mereka adalah untuk mencari lahan yang cocok untuk mereka tempati selama-lamanya.
Kekurangan sumber pangan mewajibkan mereka pindah ke tempat yang cukup subur untuk bisa di tinggali.
Mereka menerpa padang pasir, melewati rerumputan, dan mengarungi lautan.
Yang pada akhirnya mereka memilih tempat ini lah (desa kecil ini) sebagai tempat peristirahatan mereka yang terakhir, tempat tinggal mereka dan bernaungnya keluarga besar mereka.
Kehidupan di desa ini tidak lah buruk, tidak juga baik, masyarakat desa hidup dengan berkecukupan.
Walaupun ekonomi di desa ini tidak berjalan dengan baik, keharmonisan masyarakat desa ini lah yang menjadi tiang utama terbentuknya desa ini.
Kasih sayang dan perhatian antar masyarakat desa, membuat dan membentuk desa ini menjadi sejahtera.
Waktu demi waktu terus berjalan, generasi-generasi baru mulai terlahir.
Anak-anak ini di didik dan di bina agar bisa melestarikan budaya dan nilai juang para pendahulu desa.
Mereka hidup senang, juga mereka bahagia, atas apa yang orang tua mereka ajarkan dan nilai luhur yang mereka terima.
Suatu hari, ada seorang pria yang tersesat di dalam hutan. pria itu mencari cara agar dapat keluar dari hutan yang menyesatkan itu.
Berhari-hari ia terjerat di dalam hutan yang di penuhi oleh berbagai monster, sampai pada akhirnya, ia berhasil keluar dari hutan tersebut dan menemukan desa ini.
Sesampainya ia di desa, ia langsung terpingsan karena dehidrasi akibat kekurangan cairan selama perjalanannya.
Masyarakat desa sangatlah dermawan, mereka merawat sang pria, sampai ia sembuh. Lalu sang pria memutuskan untuk tinggal di desa ini sampai ia benar-benar pulih total.
Selama ia berada di desa ini, ia membantu warga desa dari segala giat dan usaha yang mereka kembangkan.
Tanpa di sadari sang pria jatuh cinta pada desa ini.
Sang Pria akhirnya memilih untuk menikah dengan seorang gadis dari desa ini.
Mereka hidup bahagia sampai kurun waktu yang sangat lama, ya, mereka hidup dengan sangat bahagia.
Sampai-sampai sang pria bersumpah pada sang wanita bahwa ia akan tinggal di desa ini dan di makamkan di desa ini.
Sambil meneteskan air mata, sang wanita sangat berbahagia mendengan kabar baik itu.
***
"Gulp-gulp~" sang kakek meneguk sup nya untuk merendahkan haus di tenggorokan nya yang mulai kering.
"Akhh!! Haha maaf tenggorokan ku kering."
“Ekhem!! Baiklah ayo kita kembali lanjutkan kisahnya. "
***
Kemudian waktu berjalan dengan pesat.
40 tahun telah berlalu semenjak desa ini di bangun, dalam kurun waktu yang lama tersebut, warga desa menjadi semakin banyak.
Sedangkan sumberdaya alam yang terbatas di desa itu membuat kehidupan di desa ini semakin sulit.
Sampai pada akhirnya. Suatu hari, Ada beberapa remaja desa memilih untuk pergi ke ibukota atau desa tetangga untuk mencari kehidupan di sana.
Pada awalnya hanya beberapa orang yang pergi meninggalkan desa.
Tetapi dengan larutnya waktu, hal ini menjadi trend di masyarakat desa ini.
Terus dan terus berlanjut, hal ini terus berulang sampai puncaknya dua tahun yang lalu,Ya, tepat dua tahun yang lalu.
Dimana di desa ini, hanya tersisa orang tua dan anak-anak perempuan mereka yang telah menjadi janda.
Sang kakek terdiam sejenak.
Suatu hari, datang rombongan warga yang dahulu meninggalkan desa, mereka datang kembali ke sini. jumlah mereka sangat banyak.
Bahkan mereka membawa perbekalan yang sangat banyak.
Pada saat itu, kami warga desa, sangat gembira dengan kabar indah ini, termasuk pria yang dahulu menjadi imigran di desa ini.
Ya, pria itu masih tinggal di desa ini, walaupun istrinya telah tiada, dia di tinggalkan di desa ini seorang diri tanpa keturunan.
Pria itupun sangat berbahagia, sangking girangnya ia, beliau berlari mengelilingi desa dan berteriak (Mereka datang!! Mereka datang!! Para penyelamat desa kita telah datang!! ), dan akhirnya kabar itu menyebar dengan cepat bagai kobaran api.
Tetapi harapan yang di bayangkan sang pria hanyalah imajinasinya saja.
Anak-anak desa yang dahulu pergi ke kota sekarang telah sukses.
Mereka kembali ke desa bukan untuk membangun desa bersama-sama.
Tetapi mereka ingin membawa orangtua mereka dan para janda yang tersisa, untuk di bawa pergi dari desa ini, ya, pergi ke kota bersama mereka.
***
Menetes perlahan, matanya bergetar dan berkaca-kaca. tiba-tiba sang kakek meneteskan air mata.
“-E-ehm… k-kek?”
kemudian sang kakek melanjutkan ceritanya.
“… Sang pria, yang dahulu sangat mencintai desa ini … hatinya telah hancur dan remuk, bagaikan debu di gurun pasir, ia menolak untuk ikut pergi ke kota, karena ia bersumpah untuk mencintai desa ini sampai akhir khayatnya.”
“… Sang pria ... sang pria yang sekarang telah menjadi seorang kakek tua ... saat ini … Ia merasa telah di khianati, tetapi karena ia selalu teringat mendiang istrinya yang telah tiada, maka sang kakek memantapkan diri untuk tinggal di desa ini sampai akhir khayatnya ...."
Sang kakek, yang wajahnya di basahi air mata, kemudian ia mengelapnya beberapa kali sambil tersedak akan emosinya.
"... La ... L-lalu ... Sampai saat ini, Sang kakek masih menunggu malaikat pencabut nyawa, untuk segera memanggil namanya yang tertulis di buku kematian ...."
"... Entah apa yang di fikiran malaikat pencabut nyawa ... Mengapa ia tidak mencabut nyawa kakek itu secepatnya ...."
"Snort!!" decikan lendir di hidung nya mencebirkan bunyi, Sang kakek menghisap ingusnya.
Hening, kondisi sangat hening, tangisan sang kakek membuat hati ini ikut meringis.
Kisah yang di sampaikan kakek sangat ringkas dan padat, tidak membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mendengarkan kisah ini, Aku telah berburuk sangka.
“... Ah! Maafkan aku, tidak seharusnya aku menangis. Ada apa dengan diri ku, Aku benar-benar telah memasuki usia tua ....”
“Tidak apa-apa kek … aku tahu perasaan kakek, aku juga dalam kondisi yang sama ...."
“Snort!!” lagi, sang kakek mengelap hidungnya.
“Hmm? Tadi kamu bilang apa?"
“Ah! T-tidak kek … hiraukan saja kalimatku tadi ...."
Hal ini harus di sembunyikan, ya, hanya diri ku sendiri yang boleh tahu akan semua hal itu.
“… Hmm ….” sang kakek menatap Aku, seperti ia tahu bahwa sebenarnya aku menyembunyikan sesatu.
***
Makan malah telah usai, sup di mangkuk kami telah habis.
Tampak dari perawakannya ia merasa lelah, kemudian mata nya mulai terasa berat, dengan kata lain, sang kakek sudah sangat mengantuk.
"Hoaamm~" terbuka mulutnya bagaikan harimau yang mengaum, si kakek menguap lebar.
“Hey cu, kau boleh tidur di rumah ku, ambil saja selimut dan rebahanlah sesukamu.”
“... Terimakasih banyak kek ... Aku akan menerima tawaran itu ....”
“Kalau begitu pergilah tidur, aku sudah sangat mengantuk!”
“Baik kek ....”
Pada malam itu, Aku berusaha untuk tidur, tetapi tubuh ini tidak dapat memejamkan matanya.
Bayang-banyang ketika diri ini menghabisi komplotan Bandit gunung masih terlihat jelas di benak ku.
Terkadang juga, aku teringat ibunda, dan mayat-mayat yang bergelimpangan.
Hal ini terus berulang. sampai detik ini, sudah dua hari Aku tak dapat tertidur sedikitpun.
***
“Cwit-cwit” Burung-burung saling bersautan. Menjadikan Alaram alami bagi mereka yang harus bangun pagi.
Mata ku terbuka lebar, lingkaran hitam mulai terlihat di bawah kelopak mata ini.
“(… ini tidak baik ….) ”
Seketika aku bangun dari posisi tidur, lalu aku bersiap-siap untuk pergi dari desa ini menuju ke ibukota.
Pada saat ini Mood ku sangatlah buruk, bahkan lebih buruk dari keadaan sebelum bertemu dengan sang kakek.
Tidak berlama-lama, Aku langsung mempersiap kan barang bawaan yang sering aku tenteng belakangan ini.
Surat yang biasa ku pegang, ku masukkan kedalam buku kitab [PROTOCOL] .
Tak lama kemudian sang kakek ikut terbangung.
“…ngh… kau sudah bangun cu?”
Sang kakek memperthatikan gerak-gerik ku yang sedang merapihkan barang bawaan.
“... Kau terlihat lebih buruk dari kemarin … apa kau tidak bisa tidur ….?”
“…..”
Aku tak dapat menjawab pertanyaan sang kakek, ketika itu, aku hanya terdiam memandang buku yang ku pegang.
Sang kakek bangun dari tidurnya, lalu ia menuju rak pakaian, ia keluarkan serbet yang lumayan panjang, serbet itu ia berikan kepada ku tanpa pamrih.
“ini, gunakanlah, kau akan kerepotan jika menenteng buku itu kemana-mana, setidaknya pakailah kain ini untuk di jadikan tas atau apalah yang kau suka.”
Aku mengambil kain serbet terebut, lalu aku mulai membungkus buku kitab yang biasa aku bawa kemana-mana.
“… T-Terima kasih ….”
Ucap ku tanpa emosi.
Dari kain serbet itu, Aku membungkus buku ini dengan rapih, lalu aku menentang kain ini di punggung ku yang kecil, beberapa kali aku melompat untuk memastikan ikatan kainnya telah kencang.
“… Haah ….”
Sang kakek menghela nafas dalam-dalam, mungkin ia tidak paham dengan apa yang ada di dalam fikiran ku, juga mungkin ia merasa kasihan dengan kondisi ku saat ini.
Selepas Aku beres bersiap-siap, aku langsung pergi keluar dari rumah sang kakek.
“… aku pamit kek … maafkan aku sudah merepotkan mu ….”
“…….”
Sang kakek hanya memandang dari luar rumahnya. Aku pun pergi dari tempat itu, perlahan aku mulai memasuki hutan yang ada di seberang rumah sang kakek, tetapi ketika aku baru mau masuk kedalam hutan, sang kakek menegur ku dari depan rumahnya.
“Kembali lah lain waktu!!”
Langkah kaki ini terhenti. Aku terdiam di tempat, lalu perlahan aku melirik ke arah sang kakek.
“Kembalilah…. Aku akan membuatkan mu sup seperti kemarin, mulai hari ini, rumah ku ini juga rumah mu…cu…”
Sang kakek tersenyum, wajahnya yang hangat mulai melunturkan gunung es yang ada di dalam hati ini, lalu dari kejauhan Aku pun membalas sapaan sang kakek degan senyuman yang tulus dan sedikit tetesan air mata yang mengalir.
“… Ah … iya ... terimakasih kek ....!”
Lalu Aku memulai kembali perjalanan ku menuju ibukota.
***
Waktu berjalan tanpa hambatan.
Aku telah berjalan cukup jauh, mungkin aku telah berjalan sekitar 4-5 jam, kondisi tubuh ini yang sudah tidak tidur selama dua hari membuat tubuh ku sangat kelelahan.
Nafas terasa berat, keringat bercucuran lebat. Aku yang tidak terbiasa dengan perjalanan jauh menghabiskan sisa stamina ini di jalan setapak yang tidak jelas membawa tubu mungil ku kemana.
Ludah tertelan dengan susah. saat ini aku merasa sangat kehausan, terelebih dari pagi sampai saat ini aku belum sarapan.
“Gruuu~” perut ku mulai menderu meminta jatahnya. untuk anak seumur ku ini, Aku tidak banyak mengeluh.
“(…aah… aku lapar….. daging…..daging….) ”
Ucap ku dalam hati dengan liur yang mulai membanjiri mulut.
Bergerak, dari belakang semak-semak yang tinggi itu, terlihat ada pergerakan makhluk hidup yang cukup liar.
“(HM!? DAGING!?) "
Aku dengan cekatan menodongkan tongkat sihir ke arah semak-semak tersebut.
“DAGING!!!!!” teriak ku lantang, namun ....
“Srek!” terbuka semak-semak yang ada di hadapan ku dengan sendirinya.
“eh..?!”
“he..?”
Keluar seorang anak laki-laki dari semak-semak itu, rambutnya pirang dan matanya berwarna biru.
Mungkin ia seumuran dengan ku. Saat itu kami saling bertatap mata seperti sedang kebingungan
“heee…….~” Berbarengan kami ucapkan kalimat itu dengan lesu.
Pertemuan ku dengan bocah ini adalah awal dari petualangan ku yang sangat luas di kemudian hari, ini lah takdir yang harus Aku hadapi.
***
Arc 1 : Akhir dari kehidupan, adalah awal hidup yang baru.
Done~
---------------------------------------------------
Tambahan : Curhatan Author 💐
Okayy sahabat reader!!! Akhirnya Arc pertama telah usai.😍
Hmm, kenapa gk di selesaikan pada saat Arley keluar dari desa?🤔
Yaa Author rasa ... Pertemuan dengan sang kakek adalah awal mula yang baru, dimana Arley untuk pertama kalinya bisa bertemu dengan orang baik yang berasal dari luar desanya.😏
Okayy selanjutnya adalah Arc yang menyenangkan hati!! Ikuti terus yaa kisah-kisah seru dan menegangkan lainnya yaa!!🤣👍
See you next time, bye byeee!!! 😎😘🤗👌👋