
Not Edited !
Terngiang atas kesalahan yang telah dirinya lakukan, Kale yang sudah kembali atas kesadaran normalnya, langsung memeluk Emaly selepas sang suami menenangkan dirinya, dengan perasaan yang benar-benar luput.
Ia benar-benar khilaf atas perbuatannya tadi. Disebabkan hawa nafsunya, ingin mengetahui identitas Arley, hapir saja ia menyakiti dan membuat Emaly hampir mengalami trauma.
Jika saja Emaly hanyalah anak kota biasa, dan tidak pernah berpetualang bersama ayahnya, untuk melihat pertarungan Arley melawan hewan-hewan buas. Mungkin saat ini Emaly akan trauma atas perbuatan Kale.
“Maafkan aku, ya, Emaly … maafkan aku …,” gumamnya, sambil memeluk hangat Emaly. Saat itu, Emaly sedikit takut untuk kembali memeluk Kale. Namun, karena tubuh Emaly yang terasa begitu hangat, dan Emaly sangat mengidolakan sosok seorang ibu, saat itu, hati Emaly berubah mencair dan kembalui menerima Kale seperti sedia kala.
Menggangguklah Emaly ketika Kale meminta maaf kepadanya.
Paman Radits dan Foss pun menghelakan napas panjangnya, bibir mereka mengembangkan senyum tipis saat melihat kejadian ini.
Sedangkan Arley dan Varra, kondisinya cukup berbanding terbalik dengan apa yang ada di pihak Emaly dan Kale.
Arley terduduk menyender di meja kasir, tubuhnya bergetar dan matanya melotot menatap mata. Sedangkan Varra masih memeluk Arley untuk menenangkan kondisi sang remaja pria.
“A-aku … apa yang barusan aku perbuat …, apakah aku benar-benar melakukan hal itu …?” gumam Arley, yang ketika itu menyadari apa yang dirinya perbuat kepada Kale. Ia masih mengingat, bahwasanya, untuk sejenak ia mengeluarkan kekuatan aneh dari dalam tubuhnya. Dan entah mengapa, dari bagian dada selangka sebelah kirinya, terasa seperti ada sebuah benda yang bergerak liar saat amaranya memuncak.
“Tidak ada, kau tidak melakukan apa pun, Arley!” ucap Varra, berusaha menutupi kejadian tadi.
Dari kejauhan, paman Radits menatap Arley dengan intens, ia tak menyangka jika recoilnya akan seperti ini. Terlebih, pedang hitam itu masih tergenggam di telapak tangan sebelah kiri Arley.
“Foss, apakah tidak ada cara untuk melepaskan pedang itu dari Arley?” Tiba-tiba, Paman Radits langsung melontarkan pertanyaannya kepada sang sahabat.
Namun, sang sahabat malah menjawab dengan suara ketus. “Tidak ada. Jika kau mau, potonglah tagan kirinya!” jawab sang pria berwajah gorila itu.
Menolehlah paman Radits menghadap ke aras Foss. “Apakah kau yakin hal itu bisa memisahkan Arley dengan pedang itu?” Dengan tatapan sangat serius, paman Radits tampak tak sedang bercanda.
Tentu Foss tertegun saat dirinya melihat sikap Paman Radits yang berubah 180 derajat. “Aku tidak yakin, dan aku setengah bercanda. Jangan lakukan, maafkan aku.” ujar sang sahabat, yang ketika itu langsung menepuk punggung paman Radits. Foss tidak menyangka jika paman Radits akan begitu peduli dengan anak angkatnya yang satu ini.
Merunduklah kepala sang paman, dia menggeramkan giginya sambil bergumam lesu. “Mengapa harus Arley yang menerima cobaan ini …,” tuturnya dengan tangan yang mengeram kencang.
Saat itu, keheningan terjadi sesaat, sebelum pada akhirnya kondisi kembali normal.
***
Setengah jam telah beralalu.
Saat ini, Kale dan Eamly, sudah berpindah lokasi ke kamar tidurnya Kale dan Foss. Paman Radits menyadari jika apa yang akan dirinya bicarakan kali ini, akan sangat tidak cocok untuk di dengar oleh seorang balita.
Ketika itu, duduklah di meja makan, empat orang dengan posisi saling berhadapan. Kondisi masih pekat dan kelam, selama setengah jam ini, tidak ada yang berbicara dan masing-masing dari mereka hanya menatap meja kayu, dengan perasaan yang bimbang.
Namun, tiba-tiba paman Radits membuka omongan untuk memecah kesunyian.
“Arley, dengarkan.” Dengan nada yang rendah dan sedikit pelan, paman Radits langsung membuka omongan sembari ia menatap wajah Arley dengan tajam. Tentu saja Arley menatap kembali ke wajah paman Radits, namun ia sedikit terkejut dengan ekspresi baru, yang dirinya temui dari pribadi sang paman.
“A-apa itu, paman?” jawab sang remaja dengan suara parau.
Sejenak sang paman terdiam, lalu ia melanjutkan perkataannya. “Pedang yang kau genggam itu … memiliki sejarah gelap, yang bahkan aku ingin kau menyentuh senjata terkutuk itu. Tetapi, karena kau telah menyentuhnya, dan malah terikat pada pedang itu, maka, ini adalah kewajibanku untuk mejelaskan sejarah di balik senjata terkutuk itu.” ujar sang paman, sambil ia melipat tangan di atas meja.
Sontak, wajah Foss langsung terkejut saat paman Radits menjelaskan hal itu. “O-oi, Tom!? Kau akan menceritakan tentang tragedi itu!?” tegur sang pria berwajah gorila itu, kepada sang paman.
Si paman hanya mengangguk, dan langsung melanjutkan kisahnya. “Dengarkan baik-baik, dan pilih jalur hidupnya dengan benar,” tergur sang paman kepada Arley. “baiklah, aku mulai kisahnya.”
Lantas, Ketiga orang yang duduk di dekat paman Radits kala itu, entah mengapa, secara tak di sengaja, mereka merasakan perasaan mencekam, dan debaran dada yang tak terkendali.
“Kisah ini, dimulai sekitar dua puluh lima tahun yang lalu. Saat itu, aku berasama Foss dan seorang rekan, yang aku anggap sebagai pemimpin kami. Tegah mengejar cita-cita seluruh Adventurer yang hidup di dunia ini,” sebut sang paman. “Kisah ini sudah menjadi legenda bagi para, Adventurer. Judulnya adalah, Enam Buku, Enam Kunci, dan Enam Harta terpendam, atau yang di singkat sebagai [The 6 Trinity of God Treasure]. Sebuah legenda yang menjadi impian para petualang, pada seluruh dataran bumi [Soros].”
***
The 6 Trinity of God Treasure.
Kisah ini adalah sebuah Kisah yang melegenda di kalangan para pengundi nasib, dan para penjelasah dunia. Sebuah kisah yang akan tetap membakar api semangat, untuk menjelasah bumi [Soros], bahkan sampai ke akar-akarnya.
Dahulu kala, Tuhan menurunkan enam kitab kepada enam rasul titisannya. Buku itu di ketahui memiliki enam nama yang memiliki artian serupa dengan isinya.
Buku pertama : [The Virgin.]
Buku kedua : [Peccancy.]
Buku ketiga : [Rue.]
Buku keempat : [Liberation.]
Buku Kelima : [Recuperation.]
Buku Keenam : [Protocol.]
Enam buku yang memiliki kisah panjang, peruntukannya masing-masing, maknanya masing-masing, juga memiliki kewajibannya masing-masing.
Takdir yang di peruntukan untuk setiap buku pun berbeda-beda. Takdir atas pendahulu, takdir atas dosa yang di perbuat, takdir atas penyesalan, takdir atas pembebasan atas dosa, takdir atas penyembuhan dari dampak pembebasan dosa, dan takdir yang mengontrol seluruh hawa nafsu manusia, agar tidak melakukan dosa kembali.
Dan saat ini, takdir itu seluruhnya telah di tunaikan. Demikian tugas dari keenam buku itu telah usai. Maka dari itu, buku ini tersimpan pada tempat yang aman juga tak dapat di jangkau oleh manusia sembarangan.
Mengapa demikian? Bukankah keenam buku ini hanya buku biasa? Sebuah buku untuk memandu umat manusia ke jalan yang benar?
Tetapi, kenyataannya tidak begitu. Ada sebuah kisah lain yang menjadikan buku ini di cari oleh seluruh petualang di muka bumi [Soros].
Kisah itu adalah ….
Bersambung~
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------