
~PoV Arley ~
Sebuah percakapan terdengar cukup samar dari sisi kiriku, aku tak tahu apa yang telah terjadi, namun yang terakhir kali aku ingat adalah, aku melihat Eadwig sedang berlari ke arahku dengan ekspresi wajahnya yang cukup cemas.
"—Tidak bisa! aku ingin Arley dibawa kerumah sakit sekarang juga!"
Terdengar suara seorang wanita yang aku rasa, aku sangat mengenalinya.
"Tapi nyonya, semua ini ada prosesnya, kami tidak bisa serta merta membawa Arley pergi keluar dari arena ini. Jika Arley dibawa keluar sekarang juga, maka ia akan didiskualifikasi,"
Terdengar suara yang sangat mirip dengan suara Eadwig.
Lalu dengan sangat perlahan, aku membuka kedua kelopak mataku ini sembari mencoba mencari tahu, sebenarnya apa yang sedang terjadi.
Setelah aku membuka kedua kelopak mataku, yang pertama aku lihat adalah, terdapat dua orang lelaki yang mengenakan baju medis.
Mereka tengah memandangku dengan sangat serius.
"-Ah!? peserta Arley telah sadarkan diri!" teriak salah seorang tim medis yang berada di samping kiriku.
Perlahan aku menggerakkan kepalaku untuk melihat ke sebalah kiri, demi mencari tahu, dari mana sumber suara yang tadi tengah berseteru.
"-Kak Sofie ...?" ucapku setelah menyadari bahwa Sofie sedang berdiri di luar sisi barat arena bersama Eadwig.
"Arley!?" sontak, Sofie langsung berlari ke arahku tanpa memperhatikan sekitarnya.
Saat itu, Sofie langsung memanjat lapangan arena, yang tingginya mencapai setengah meter. Kemudian, setelah ia memanjatnya, Sofie kembali berlari menuju arahku, yang saat ini tengah terkapar dan tak bisa bergerak sama sekali.
"Aku ... kenapa tubuhku tidak bisa bergerak?" tanyaku kepada salah seorang tim medis yang duduk di selebah kananku.
"Tampaknya anda hanya sedikit kelelahan Tuan muda Arley, anda hanya butuh sedikit istirahat dan minum banyak air," jelas salah seorang tim medis tersebut.
"Tuan muda? haha, sejak kapan aku menjadi orang yang penting seperti itu?" tanyaku kepada mereka. Sebenarnya pertanyaan ini hanya guyonan belaka, namun tampaknya mereka menganggap serius pertanyaanku itu.
Kedua orang tim medis tersebut saling bertatap-tatapan, lalu mereka kembali melihatku dengan senyuman yang hangat.
"Aku rasa, seluruh tim medis yang ada di stadion ini mengenali anda, Yang Mulia Arley," ucapnya dengan ragu. "-Ah maafkan aku, sepertinya bukan hanya kami para tim medis yang mengenali anda. Namun seluruh dokter di negeri ini mengakui keberadaan anda," cakap orang yang berada di samping kiriku dengan penuh keyakinan.
"-He?" aku cukup bingung dengan apa yang mereka katakan, sungguh aku tidak tahu menahu tentang apa yang mereka maksud.
Lalu tak berapa lama kemudian, Sofie datang dan ia langsung menolak tim medis yang ada di samping kiriku.
"Arley! kau baik-baik saja!? kita ke rumah sakit saja ya!" dengan cemasnya Sofie menghampiriku.
Seketika itu juga ia menggenggam tangan kiriku dengan erat.
"Kak Sofie ... aku tak apa-apa, hanya butuh sedikit istirahat dan banyak minum air putih," jelasku kepada Sofie.
Namun wajahnya malah semakin cemas, sontak mengucurlah air mata pada kedua matanya.
"-Aduh ... aku sudah tak tahan dengan semua ini, kenapa harus selalu kamu yang tersakiti seperti ini Arley ...," wajah Sofie lalu merunduk, kemudian ia menaruh tangan kiriku di pipi sebelah kanannya. "Ini sebabnya aku tak setuju kamu mengikuti seleksi ini," terucap sudah perasaan Sofie yang sesungguhnya.
Setelah kehadiran Sofie di atas arena, saat itu juga aku bisa menggerakkan tubuhku yang masih terasa cukup lemas ini. Secara perlahan-lahan, kemudian aku bangkit dari tidurku, dan mulai berganti posisi menjadi duduk.
Kemudian aku memeluk kepala Sofie, yang kala itu, sekujur tubuhnya tengah bergetar hebat. Aku tempelkan kepalanya di dekapan dadaku, sembari mengelus rambutnya yang telah tumbuh begitu panjang dan indah.
"Sudah-sudah ... ini semua adalah jalan hidup yang aku pilih, dan lihat, aku tidak kenapa-kenapa kan, kak Sofie?" ujarku kepada Sofie demi menenangkan hatinya yang sedang galau.
Lambat laun tubuh Sofie mulai tak bergetar kembali. Lalu aku melepaskan dekapanku terhadapnya, sambil memegang wajahnya yang terasa begitu dingin nan sejuk.
Aku angkat wajahnya yang tengah bersimbah air mata itu, lalu aku sapu air mata yang membasahi wajahnya tersebut, dengan jubah yang aku kenakan.
"Jadi kau tidak akan ke rumah sakit?" tanya Sofie yang tampaknya masih belum menyerah untuk mengeluarkan aku dari dalam Arena ini.
"Hahaha ... aku masih harus terus berjuang kak, jadi aku mohon doa dan bantuanmu," sambil menatap wajah Sofie yang masih terlihat cemberut, perlahan aku kembali membasuh matanya yang kembali berlinang air mata, dengan jari jempolku, yang pada saat itu, sangat dekat jaraknya dengan kelopak mata Sofie.
Tiba-tiba saja dari kejauhan aku mendengar suara yang memecah suasana lembut kami berdua.
Fwit-fwit~!
Suara siulan bibir itu berasal dari arah Eadwig. Saat itu, Edwig sedang menopang Amy yang tampaknya Amy sudah terlebih dahulu sadar, dibandingkan aku.
"Hey-hey! kalau mau pacaran jangan di dalam arena! nanti saja setelah acara hari ini usai!" teriak Eadwig sambil menggoda kami berdua.
"Apa yang katakan Eadwi-" belum selesai aku mengucapkan kalimatku, tiba-tiba Sofie mendekapku dengan erat.
"Bwee! jangan ganggu moment kami berdua!" balas Sofie dengan wajah mengejeknya.
"-E-ehh? kalian masih mau melanjutkan moment memalukan itu di tempat seperti ini?!"
Sontak aku memandang sekitarku. Tampak seluruh penonton sedang menyoraki kami dengan meriahnya, bahkan beberapa diantaranya, tampak wajah mereka memerah, yang sepertinya hal tersebut karena ulah kami bedua.
"Ya ampun, anak muda jaman sekarang sangat terang-terangan ya dalam menebar kasih."
"Hohoho, aku jadi teringat masa mudaku dahulu."
Sejenak aku mendengar percakapan yang cukup absurd dari sisi atas tribun penonton. Karena aku merasa sangat malu, seketika itu juga aku bangkit dari posisi dudukku dan menarik tudung kepala ini demi menutupi wajahku yang sudah berubah menjadi merah padam.
Ternyata wajahnya juga ikut memerah setelah apa yang ia lakukan terhadapku.
Melihat ini, aku langsung menjulurkan tangan demi mengalihkan perhatian Sofie yang sedang kalut.
"Ayo kak, kita berpindah tempat," demikian Sofie mengambil tanganku, dan saat itu juga aku menarik tangan Sofie yang terasa begitu dingin, lalu menariknya berdiri.
Selepas kejadian yang sedikit panas tersebut, aku langsung mengantarkan Sofie kembali ke atas tribun penonton, dan selepas itu pula, aku langsung kembali ke atas kaca monitor, untuk melanjutkan pertandingan yang telah aku selesaikan.
***
Kondisi lapangan telah kembali normal, kerusakan properti yang tadinya berhamburan, saat ini telah kembali normal seperti semula.
Semuanya ini berkat bantuan para panitia.
"Peserta selanjutnya, mari bersiap-siap!" Michale memberikan aba-aba kepada para peserta yang akan bertanding selanjutnya.
Muncullah seseorang yang mengenakan jubah hijau, dari sudut Utara layar kaca ini. Ya, jubah hijau yang sangat mirip dengan yang dikenakan oleh Rubius.
Orang tersebut membuka tudungnya dan ia berjalan menuju tangga kaca yang berada di tengah layar kaca.
Lalu tak lama kemudian, dari arah belakangku, muncullah Rubius. Ia juga berjalan menuju arah tengah layar kaca. Sejenak ia berhenti di belakangku dan ia menepuk punggungku dengan santun.
"Arley, doakan aku ...," ucap Rubius dengan wajahnya yang bercucuran keringat dingin.
"-Eh? tentu saja aku akan mendoakanmu untuk menang, tapi ... apakah kau baik-baik saja, Rubius? lawan tandingmu adalah rekanmu sendiri, bukan?" ujarku kepada Rubius.
"-Rekan ya? hahaha ...," sejenak aku melihat wajah Rubius terkesan seperti memaksakan diri untuk tersenyum.
Apakah benar ia akan baik-baik saja? -ah, apa yang aku pikirkan ... Rubius pasti akan memenangkan pertandingan ini dengan sangat mudah.
Bagaimana bisa demikian? Yah wajar saja, selama aku hidup di dunia ini. Aku tidak pernah melihat ada orang yang bisa menguasai 3 jenis『Elementum』sekaligus seperti Rubius.
Rubius adalah orang yang tangguh. Yap, aku yakin akan hal itu.
.
.
.
***
.
.
.
~PoV 3rd~
Kedua peserta telah berdiri diatas Arena. Namun suasana diatas arena tampak sedikit berbeda dari biasanya.
Rubius dengan intensnya mengeluarkan keringat dingin yang mengucur sangat deras. Perlahan wajahnya memcuat ketika ia melihat lawan tandingnya.
"Hey anak budak, betapa sialnya aku saat ini ... mengapa juga aku bisa melawanmu di saat krusial seperti ini?" cetus lawan tanding Rubius dengan kalimatnya yang terbilang keji.
"Jangan salahkan aku, Rahul. aku sendiri tak mau bertemu denganmu di saat seperti ini."
Bibirnya gemeteran ketika Rubius mengutarakan isi hatinya kepada lawannya itu. Tampak jelas, jika ia tak terbiasa berkomunikasi, dengan rekan satu timnya yang bernama, Rahul Xonson tersebut.
Priiit!
Lalu, peluit pertandingan ditiupkan. Sorakan dari para penonton langsung memenuhi seisi arena dengan hebohnya.
Lantas, secara mendadak, muncul gelombang api dari arah Rahul yang kala itu tengah mencuri start.
"—Burn Born!"
Rahul meneriakkan mantra sihirnya dengan tiba-tiba. Sontak Rubius yang saat itu belum siap menahan serangan dari Rahul, ia langsung terpental secara frontal, ke sisi timur lapangan pertandingan.
Badannya terseret di lantai arena, sampai-sampai, sempat beberapa kali tubuh Rubius berguling akibat daya serangan sihir Rahul yang begitu bengis.
Namun, dengan sangat beruntung, tubuh Rubius terhenti di sudut bibir pertandingan.
Sempat bagian kepala Rubius tampak keluar dari sudut pinggir arena, namun ia masih dalam keadaan aman, karena tubuhnya tidak menyentuh tanah bagian luar.
"-Huh! berani-beraninya kau menyebut namaku yang agung ini denga mulutmu yang kotor itu. Dirimu itu tak pantas menyebut nama besarku ini di depan khalayak umum seperti ini! wahai darah lumpur!" tampak sedikit keringat dari wajah Rahul yang kala itu tengah menyodorkan lagi tongkat sihirnya pada Rubius, untuk melontarkan serangan lanjutan.
Namun tiba-tiba, Rubius bangkit dari tidurnya, dan seketika itu juga, terbuka lebarlah bibir Rubius yang pada saat ini tampak begitu liar.
"Barahahahaha! kau yang memulainya Rahul! sekarang! nikmatilah penderitaanmu ...," cetus Rubius dengan tertawaan yang sangat seram.
Ya, seperti tombol sadis Rubius yang baru saja terputar, dengan tampangnya yang berubah 160 derajat. Saat itu juga Rubius siap membalaskan dendamnya.
***