The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 44 : Jalan Darat



Suara ledakan masih menggema di lumbung rumput yang telah berubah bentuknya.


 


 


Beberapa saat kemudian Arley terbangun dari tidur singkatnya, mungkin sekitar dua sampai lima menit ketika ia kehilangan kesadaran.


 


 


Ketika ia membuka matanya, yang pertama ia lihat adalah wanita yang baru ia kenal sehari yang lalu, ya, Sofie.


 


 


Arley tertidur di paha Sofie sedangkan Sofie memandang sedih ke arah rumahnya yang telah berubah menjadi lembah api.


 


 


Arley langsung terbangun dari posisi tidur nya


 


 


Ia melihat sekeliling nya sambil memantau keadaan, apakah masih ada serigala yang tersisa dan sigap menerkan mereka.


 


 


"A-Arley..!?! Kau sudah terbangun?! Syukurlah!"


 


 


Seketika itu, Sofie langsung memeluk Arley dengan hangat. Airmatanya langsung bercucuran tanpa henti.


 


 


Tak berkutik, aku hanya tertegun diam tanpa tahu harus berbuat apa.


 


 


"K.. Kak Sofie..?!"


 


 


"Aku tidak tahu harus berbuat apa jika terjadi sesuatu kepadamu Arley!! Mulai saat ini, jangan kau lakukan hal itu lagi!! Kalau aku tahu kau akan menjadi seperti ini, mungkin aku tidak akan memaksakanmu melakukannya!"


 


 


Ucap Sofie memelukku sambil terduduk lemas. Airmatanya masih belum berhenti.


 


 


"M.. Maafkan aku kak..."


 


 


Kemudian Sofie mengelap air matanya, kemudian ia tiba-tiba menjitak kepalaku dengan keras.


 


 


Suara ketakan tangan nya ke tengkorak kepalaku terdengar nyaring sampai aku rasa tulang tempurungku hampir retak.


 


 


"A-Aaa!! Aduh!! Retak, kayaknya Retak!!"


 


 


"A-aaa!!?! Yang serius?! Aduh! Maaf kan aku, A-Arley!?!"


 


 


Dari matanya mulai menggumpal airmata sedih, ia menyesali perbuatannya barusan.


 


 


"... Pfftt!! Hahahaha!! Benar-benar menakjubkan! Ekspresi kakak tidak pernah membuat ku bosan!! Haaahh.... Aku tidak apa-apa kok kak, aku hanya bercanda....."


 


 


".....!!? "


 


 


Sofie tidak menjawab candaan Arley, malah ia mulai menangis lagi dengan hebat, hatinya merasa tersakiti.


 


 


" Huwaaa!!!! Arley memang anak yang jahat!!! Aku kira kau akan benar-benar mati akibat pukulan ku tadi!!!! "


 


 


"A-aduh..!!?! Eeee m-maaf kan aku kak!! A-aduh, gimana ini ya!!?!"


 


 


Lalu refleks aku memeluknya, ku elus rambutnya seperti apa yang ibunda Terra lakukan kepadaku jika aku sedang bersedih.


 


 


"yap-yap, jangan bersedih, aku selalu di sini mendengarkan tangisan mu"


 


 


Ucap ku dengan nada yang pelan, persis seperti apa yang bunda Terra katakan kepadaku ketika aku sedang bersedih.


 


 


Syukurnya Sofie sudah kembali tenang, lalu ia mendorong ku sebagai ungkapan tanda bahwa ia sudah baik-baik saja.


 


 


"... Aku sudah mendingan...."


 


 


Ucap Sofie dengan nada jengkel. Aku kemudian mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


 


 


"Hahaha... Iya maaf itu tadi salah ku, lagi pula mengapa kakak memukul kepalaku, padahal aku tidak melakukan kesalahan.


 


 


"Heeh..!! Itu pukulan karena kau memanggil namaku tanpa menggunakan panggilan kehormatan (Kakak)."


 


 


"(-Ah.. Ternyata karena hal se-sepele itu... Haha.. Mengejutkan..)"


 


 


Lalu konteks berbicara kami benar benar berubah setelah keheningan terjadi sejenak.


 


 


***


 


 


Lahan yang tadi penuh dengan rerumputan, saat ini berubah menjadi tanah tandus yang ber-aroma asap.


 


 


Rumah yang beberapa menit lalu kami singgahi, sekarang sudah hangus terbakar rata dengan tanah.


 


 


Yang tegak berdiri hanya dua buah batu nisan di samping reruntuhan.


 


 


 


 


Perlahan pohon itu tumbang, memberikan deruan suara angin terpotong akibat masa pohon itu yang pasti sangat berat.


 


 


Lalu di mana para serigala Perak itu? mayat mereka sudah tidak berbekas, mungkin telah menjadi asap debu atau benda hangus lainnya.


 


 


Walau pun dari atas sini, kami bisa melihat beberapa organ binatang yang berserakan di pinggir lembah tersebut, tetapi aku rasa itu bukan lah organ serigala Perak.


 


 


***


 


 


Aku dan Sofie hanya bisa melihat pemandangan yang cukup ekstrim ini, mengerikan, aku sedikit takut dengan kekuatan yang aku miliki ini.


 


 


"... Kak Sofie... Aku ingin, apapun yang terjadi pada hari ini, agar menjadi rahasia kita berdua saja... Jangan sampai ada yang mengetahui seluruh kejadian ini..."


 


 


"...."


 


 


Diam seribu kata, Sofie hanya melihat ku dengan pandangan bingung. Aku sedikit takut, bagaimana jika dia tidak setuju dengan ideku barusan, bisa-bisa aku menjadi incaranorang-orang yang tak bertanggung jawab.


 


 


Kemudian ia memberikan tanggapannya.


 


 


"Baiklah... Tapi kalaupun aku membeberkan rahasia ini, tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang akan mempercayai ku, hahahah!!!"


 


 


Ucap Sofie sambil tertawa senang. Sedangkan aku hanya mengeluarkan keringat dingin akibat mendengar ucapannya barusan.


 


 


Semoga saja dia tidak serius tentang memberi tahukan hal ini kepada orang lain.


 


 


***


 


 


Angin berhembus lumayan kencang di lahan yang kosong ini, api telah padam dan pohon kecambah raksasa telah tumbang.


 


 


"Baiklah, saatnya kita pergi"


 


 


Aku mulai bangkit dari duduk ku sambil mengeluarkan tongkat sihir dari kantung celana.


 


 


Tetapi tiba-tiba keseimbangan kedua kaki ini terasa seakan lumpuh, seperti tidak ada energi untuk menggerak kan otot di kaki.


 


 


"Arley!!"


 


 


Dengan sigap, Sofie memeluk ku agar tidak kembali terjatuh.


 


 


"Ah.. Terimakasih kak... Aku tidak tahu.. Kaki ku terasa kebas..."


 


 


Kemudian aku baru menyadari, bahwa aku sedang kehabisan [Mana].


 


 


"Jangan di paksaan, sepertinya kau kehabisan energi sihirmu ya... Wajar saja, setelah apa yang kau perbuat, tentu saja tubuh mu tidak dapat menahan segala tekanan itu Arley..."


 


 


"M...maafkan aku kak Sofie..."


 


 


"Haah, tidak ada jalan lain, kita akan pergi lewat jalur darat."


 


 


Ucap Sofie dengan penuh percaya diri.


 


 


"he..? K-kakak yakin..?"


 


 


Kemudian Aku di gendong di punggung belakang Sofie, kedua tanganku memegang tas kopernya yang ringan, ku belit kan kedua tangan ini di lehernya dengan Koper milk Sofie yang Terjuntai-juntai, sedangkan tangan kak Sofie menopang ku agar aku tidak merosot jatuh.


 


 


"Okay!! Kau sudah siap Arley? Pegangan yang erat yaa!!"


 


 


"O-oke..."


 


 


Ucap ku dengan perasaan tidak enak hati.


 


 


Kami lalu melakukan perjalanan dan akan berhenti di pinggir sungai. Kami berencana untuk tinggal di sana sampai [Mana] ku kembali pulih, kemudian melanjutkan perjalanan lewat jalur udara.


 


 


"Sipp!! Mari kita berangkat!!"


 


 


Sofie dengan lincahnya berlari Memasuki hutan yang rimbun tersebut tanpa rasa gentar.


 


 


Akhirnya perjalanan kami berlanjut menuju ibu kota yang menjadi tujuan bersama.


 


 


***