The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 199 : Masuk Secara Paksa (Part 2).



Not Edited !


Keributan hebat tampak terjadi di depan pintu masuk, kota [Dorstom]. Puluhan prajurid tampak tumbang terlihat tak mampu melumpuhkan seorang pria yang ingin masuk kedalam kota, sebab kondisi darurat.


Kompi pertama telah terkalahkan di luar pintu gerbang. Saat ini, Arley tampak begitu liar menghabisi kompi kedua, yang sebentar lagi akan di bantu oleh kompi ketiga.


“Cuma seginikah kemampuan kalian?! Ayo mana lagi orang-orang yang berani melawanku!” teriak Arley mengundang keributan, demi meloloskan Paman Radits dan Emaly, agar mereka bisa langsung pergi mencari rumah sakit.


Arus penyerangan tak kunjung berhenti … akhirya, kompi tiga pun datang. Akan tetapi, kondisi penyerangan terhadap Arley, masih terlihat sama saja seperti sebelumnya, saat tiga orang masuk menyerang Arley, seketika itu juga pedang Arley menebas badan mereka, sebelum akhirnya baju besi para prajurit itu langsung pecah dan mereka terpingsan.


Lantas, Peralihan yang Arley lakukan tampak berjalan baik. Saat ini, Paman Radits dan Emaly sudah tak terlihat lagi di sekitar mereka. Sepertinya mereka berhasil melarikan diri, masuk kedalam kota [Dorstom] seperti yang mereka rencanakan.


Menyadari jika pertahanan yang ia lakukan malah akan menimbulkan permasalahan yang semakin rumit. Saat itu juga, Arley memilih menyerah dan mempersilahkan dirinya untuk di tahan.


Seketika itu juga, seluruh prajurid yang berada di lokasi pertempuran, langsung menimpa tubuh Arley dengan tubuh merka yang berat dan besar, demi mencegah pergerakan yang tak diinginkan oleh sang remaja berambut merah itu.


.


.


.


***


.


.


.


Enam jam telah berlalu ….


Di dalam jeruji besi yang dingin, tampak Arley yang tertidur pulas, pada sebuah kasur jerami yang dihamburkan secara tidak merata di atas lantai rutan.


Saat dirinya tengah menikmati tidur, tiba-tiba terdengar suara seorang pria, tengah berteriak saat dirinya ingin di masukkan kedalam jeruji besi.


“Lepaskan aku! Hey! Genggamanmu membuat tanganku sakit!” teriak Paman Radits, yang ketika itu, di masukkan kedalam sel yang sama dengan Arley.


Menyadari jika sang pemilik suara adalah paman Radits, Arley langsung terbangun dari tidurnya, dem membangunkan tubuhnya untuk melihat kondisi dari sang paman.


Saat dirinya tiba di depan pintu sel, seketika itu juga Paman Radits mengenal orang yang berada di dalamnya.


“Arley!?” terik sang paman, yang ketika itu langsung di dorong masuk kedalam ruangan sel.


“Paman?! bagaimana kondisi Emaly?!” ucap Arley yang ingin mendengar kondisi kesehatan sang Adik.


Tersenyumlah sang paman, sembari ia memberikan tanja jempol dan langsung menunjukkan gigi putihnya.


“Syukurlah …,” gumam Arle yang ketika itu, ikut tersenyum bersama sang paman. “Lalu … bagaimana bisa kau bertemu dengan orang yang bisa menyembuhkan Emaly?”


Lantas, untuk waktu yang sejenak, sang paman malah terdiam demi memikirkan kalimat yang pas.


“Erm … sebenarnya aku tidak membawa Emaly ke rumah sakit …”


“Eee?! Jadi paman bawa kemana Emaly?!”


“Saat kami berlari menuju rumah sakit … tiba-tiba ada seorang wanita yang menarikku, dan segera membawaku masuk ke dalam rumahnya. Ia adalah seorang Alchemys, dan aku rasa, dia adalah orang yang bisa di percaya.”


Arley melihat raut wajah paman Radits, lantas, ia menyadari jika apa yang baru saja sang paman jelaskan, bukanlah suatu rutinitas humor yang biasa mereka lakukan.


“Jika kau berkata demikian … aku mempercayainya.”


Selepas pembicaraan itu usai, keheningan terjadi untuk sesaat. Namun, tiba-tiba datang seorang wanita muda, dengan rambut abu-abu yang diikat bagai ekor kuda, berkunjung ke sel tahanan Arley mengenakan pakaian seorang kesatria.


“Selamat siang …,” panggilnya kepada Arley. Sejenak, terlihat tatapan mata sang wanita yang terlihat begitu tajam … wajahnya yang tampak kecil, serta, bekas sobekan pada bagian mulutnya. Membuat penampilan sang wanita, sedikit mengintimidasi bagi Paman Radits.


“Selamat siang,” balas Arley.


Tak ada rasa takut dari tatapan mata Arley. Sang wanita menyadari jika Arley bukanlah orang biasa.


“Berikan aku lembar dakwaan kedua orang ini,” pinta si wanita, kepada asistennya yang bertubuh besat.


“Pria berambut merah, terdakwa: menerobos masuk pintu gerbang Selatan, dan menganiaya 133 prajurit, seorang diri …,” ucap si wanita, yang kemudian memberikan lembar catatannya tersebut, kembali kepada sang asisten. “Ada yang ingin kau sangkal?”


Ketika itu, Arley hanya memandang wajah sang wanita dengan matanya yang tajam, demikian pula mata sang wanita menatap wajah Arley dengan penuh intimidasi.


“A-apa yang kau lihat …? Apakah kau mendengar ucapanku tadi?” ujar sang wanita sekali lagi.


Lantas … berbicaralah Arley setelah ia terbebas dari pemikirannya sendiri.


“Bibirmu …,” ucapnya dengan wajah serius, “tampak begitu seksi.”


Setelah Arley mengucapkan kalimatnya itu, Paman Radits dan asisten sang wanita, langsung menatap Arley dengan wajah terheran-heran.


“A-Apa yang anak ini katakan …?!” gumam Paman Radits, dan si assisten kesatria wanita, secara bersanaan.


Sontak, si wanita langsung terdiam, wajahnya memerah dan ia seperti tidak percaya atas apa yang dirinya dengarkan. “E-Eh?!” ucapnya seperti tidak percaya.


“Bibirmu … terlihat sangat manis,” Kali ini, Arley mengatakan hal itu, sambil ia menunjuk langsung bibir sang wanita.


“Aaapaa yang anak ini kataa kaaan?!” Teriak Paman Radits dan Assisten si kesatria wanita, secara bersamaan.


Sontak, wajah sang kesatria wanita, langsung bertambah merah. Dan seketika itu juga, tampak asap mengepul dari ubun-ubunnya.


Seketika itu juga, sang kesatria wanita langsung terpingsan, untuk pertamakali sepanjang usianya.


“K-Kaappteeen!” teriak si assisten, yang kala itu langsung menggendong sang kapten dan membawanya pergi dari penjara tersebut.


Semenjak saat itu. tersebar rumor yang aneh … bahwasanya, seorang remaja berambut merah, berhasil mengalahkan si Kapten Gorila, dengan hanya tatapan dan ucapan sarkasnya.


“A-Arley … aku tak menyagka jika kau memiliki jiwa playboy seperti ini …,” ucap Paman Radits, sembari ia menepuk punggung Arley dengan penuh rasa hormat.


“He …? Tapi … aku mengatakan hal yang sejujurnya loh,” jawab Arley dengan wajah polosnya.


“Mengatakan hal itu dengan jujur, malah membuat segalanya menjadi semakin rumit, wahai anak muda. Sepertinya perjalananmu untuk menjadi seorang pria sejati, masihlah sangat panjang ….” Sambil ia menepuk punggung Arley, sang Paman mulai merasa gagal mendidik Arley dengan benar.


Lantas, Arley hanya memiringkan kepalanya dengan rasa bingung yang mungkin tak akan pernah terjawab. Sebab, rasa peka Arley yang sangat tipis, bahkan lebih tipis daripada kertas yang di setrika … sejauh ini selalu menghambat kehidupan cintanya walaupun sudah banyak jejak yang di berikan.


Apakah Arley bisa menghilangkan kebiasaan buruknya ini? dan bagaimana dengan kehidupan cintanya di masa depan?!


Bersambuuung! ~


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter !


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -