
not edited!
Beberapa orang pun telah menyelesaikan antrian mereka, sebagian masuk ke daerah kesatira, dan sebagian masuk ke bagian penyihir.
Kemudian pada saat ini, yang tersisa tinggal 5 orang, salahsatu diantaranya adalah Arley, Eadwig, dan rubius. Sedangkan kedua yang lainnya adalah Paroki, dan Perry.
Teriaklah Michale memanggil peserta selanjutnya yang akan di test.
“Perry Karlin!” menggema suara Michale di arena pertandingan.
Kala itu, majulah Perry kedepan [apparisla orb]. Sesampainya Perry di sana, ia menyentuhnya dengan lembut, lalu muncul cahaya yang sama terangnya dengan kebanyakan orang.
Pada awalnya tak ada reaksi yang berlebihan, Namun, tampak sedikit berbeda pada status skill yang di paparkan Perry. Kali ini, Status yang Perry tunjukkan, terbilang cukup lebih tinggi dibandingkan pesereta lainnya.
“Waaw!” teriak para peserta juga para penonton yang berdecak kagum seusai melihat status Perry.
---
Status
Nama : Perry Karlin
HP : 320/320
MP : 500/500
Str : 70
Vit : 50
Int : 95
Luk : 60
Skill : Water Break, Rock Build, Water Splash, etc.
S.Skill : Human Decoy.
Job : Princess Personal Mage.
---
Meriahlah kondisi saat itu, hujan tepuk tangan langsung menggelegar layaknya petir yang menyambar-nyambar. Lantas Michale tiba-tiba mengumumkan suatu hal yang cukup berbeda dari biasanya.
“Ehmm karena peserta Perry bukanlah kandidat dari negeri [Exandia], maka ia tidak akan masuk kedalam dua bagian ini,” tunjuk Michale keantrian penyihir dan kesatria, ”Namun statusnya tercatat sebagai kompetitor di pertandingan tahap ketiga,” terang Michalem lalu ia mempersilahkan Perry beranjak menuju ke belakangnya. “Peserta Perry, siahkan ….”
“Baik pak!”
Jawab Perry dengan tegas, lalu ia langsung pergi menuju ke belakang Michale. Kemudian Michale kembali mengumumkan peserta selanjutnya.
“Peserta Rubius Zu Vemithrax! Slahkan,” Michale mempersihalkan Rubius untuk maju ke depan [apparasial orb].
Beranjaklah RUbius mendekati batu kristal raksasa tersebut.
Dengan sangat perlahan ia menyentuhkan kulit tangannya, lantas, ketika kulitnya tersebtuh menyentuh bola kristal yang ada dihadapannya itu. Saat itu juga cahaya yang begitu luar biasa menerangi seisi arena.
Bahkan cahaya itu bisa di lihat dari luar arena. Orang-orang yang berada di alun-alun arena, langsung terkejut dan saling bertanya-tanya mengenai cahaya yang tampak meledak tersebut.
Rubius sendiri cukup terkejut. Namun beberapa saat kemudian, cahaya tersebut mulai meredup dan mengecil.
Michale awalnya tak dapat berata-kata, ia hanya terbengong melihat Rubius seperti tidak percaya.
Keheningan terjadi untuk beberapa saat, seketika itu juga, wajah Rubius berubah menjadi pucat, juga ekspresi diwajahnya menunjukkan ketakutan akibat cahaya yang muncul dari bola keristal tersebut terasa begitu panas dan silau.
Perlahan ia melihat ke arah Arley, lalu ia berbicara dengan suara yang cukup samar.
“Kaya terbakar,” utasnya dengan isyarat mulut.
Arley pun hanya mengeluiarkan keritang dingin sambil mengangguk dua kali, setelah itu Rubius menolehkan kepalanya kearah Michale sembari menyadarkan Michale dari shock yang ia terima.
“E-ehm, pak Michale …,” tegurnya dengan pelan.
Dengan sedikit sentuhan dari Rubius, Michale pun tersadar dan ia langung terperanjat dari tempat ia berdiri.
“-Aduh! eh?!” teriaknya terkejut,” E-ehm?! s-sudah ya? l-luar biasa, aku baru pertama kali ini melihat bola kaca ini bisa memancarkan cahaya sedahsat itu,” di tepuklah punggung RUbius dengan tangan kanan Michale.
Lalu, ia kembali terdiam setelah melihat Status yang terpampang pada bola kaca tersebut. Matanya melotot dan mulutnya mengaga
---
Status
Nama : Rubius Zu Vermithrax
HP : 2989/3000
MP : 824.049/100.000
Str : 5800
Vit : 400
Int : 3989
Luk : 378
Skill : Water Ripper, Aero Shock, Total Destruction, Immolation, etc.
S.Skill : Thunder of Oz.
Job : Wand Maker.
---
“WAAAaaaa!” Seketika itu juga, seluruh penonton berteriak selepas melihat status yang terpampang di layar bola tersebut.
Karena urusannya telah selesai, Rubius pun bergabung dengan Perry. Namun, ketika RUbius berdiri di seblah perry, saat itu juga perry mengeluarkan keringat dinginnya, ia berpikir apakah ia harus melawan Rubius yang berstatus seperti monster ini?
“Ini! aku beru pertamakalinya melihat status orang yang sangat tinggi seperti ini! hey kau!” tunjuk Michale dengan begitu semangat, “Kau pasti orang yang akan sangat berpengaruh di dunia kita ini!” puji Michale kepada RUbius, wajahnya berseri-seri seperti orang yang abru saja menemukan emas satu kilo.
Lalu, untuk mempercepat proses seleksi, Michale langsung memanggil kandidat selanjutnya. Namun kali ini tampak terdengan suara Michale agak sedikit bergetar.
“P-peserta Eadwig! L-langsung saja! Silahkan!” ucap michale terbata-bata, ia terlihat begitu bersemangat. Juga kali ini ia mempunyai ambisi lain, yaitu MIchale ingin melihat status yang lebih gila lagi daripada yang ditampilkan Rubius
Berangkat lah Eadwig tanpa ragu menuju bola raksasa tersebut, saat itu juga ia menyentuhnya tanpa ragu. Dan kejadian itu terulang lagi.
Meledaklah binar cahaya yang begitu dahsyat, bahkan mereka yang berada diluar stadion kembali bisa melihatnya. Teriakan orang-orang langsung menggelegar tak karuan, suara mereka hampir habis karena selama tiga har iini mereka terus-terusan berteriak semangat.
“Apa lagi ini!” teriak Michale degan begitu meriahnya, “Waahh! Ini sama dengan yang tadi!” ucapnya bagaikan anak kecil yang barusan saja menemukan favoritnya yang telah lama hilang.
Perlahan cahaya yang menggelegar tadi pun redup, perlahan orang-orang bisa kembali melihat apa yang terjadi di atas lapangan.
“Bagaimana statusnya?!” ucap para penonton yang ada di tribun penonton, “I-ini! Waaaaa!” Kembali terpekik suara yang begitu menggelegar dari arah tribun penonton, sedangkan para peserta lainnya hanya bisa terdiam dan tercengang melihat status yang begitu absurd.
---
Status
Nama : Eadwig of Simbad “The Lion Hearth”
HP : 8000/8000
MP : 1000/1000
Str : 7000
Vit : 5000
Int : 978
Luk : 397
Skill : Wind Slash, Grand Cross, Impact Explosion, Deadly Slash, etc.
S.Skill : Seven Heavens
Job :Crown Prince
---
“Ini gila! Kalian makan apa sampai bisa menjadi kuat seperti ini!” guyon Michale sembari menunjukkan Eadward tempat dimana ia harus berdiri.
Kala itu Eadwig hanya cekikikan sendiri sembari ia berjalan menuju kearah Rubius. Sesampainya ia di samping RUbius, kemudian Eadwig menyalami Rubius dengan gestur tangan yang mengepal pada daging jempol. Hal tersebut seperti melambangkan bahwa mereka adalah kawan yang sudah sangat dekat.
Ini semua berkat Arley, tanpa adanya keberadaan Arley, mereka berdua tidak akan mungkin bisa sedekat ini dalam waktu tiga hari.
Tiba lah waktunya untuk peserta selanjutnya mengecek status yang ia miliki.
“Peserta Paroki! Silahkan,” Michale memanggil peserta selanjutnya sembari mempersilahkannya berdiri di depan bola kristal tersebut.
Lantas, kejadian yang sama terualng kembali untuk yang ketiga kalinya. Cahaya besar dan menggelegar muncul dan membuat mata seluruh penonton serta para peserta lainnya menjadi silau bahkan tak dapat melihat.
Teriakan meriah menggema kembali, tada bahwa para penonton menikmati festival hari perdamaian dunia, di hari yang paling terakhir ini.
Namun, tiba-tiba mereka semua terdiam, mereka terkejut, juga di rundung takut. status yang muncul adalah status yang begitu mengerikan, bahkan mampu membuat bulu kuduk orang yang melihatnya akan berdiri dengan sendirinya.
“A-apa ini …?” saat itu juga, Michale tercengang seusai melihat [Apparasial Orb] yang ada di dipannya berubah warna menjadi hitam. Seketika itu juga, papan nama yang ada di tangannya terjatuh, begitu juga dengan mulutnya yang terbuka lebar sembari menatap kaku ke arah status bar tersebut.
“P-Peserta paroki … sebenarnya kau ini siapa ...?” gumam Michale dengan penuh kecurigaan.
“M-misa!? Mengapa bisa jadi begini!?” hal yang sama juga terjadi dengan Arley.
Arley sangatlah terkejut dengan status bar yang Paroki, alias Misa Albertus tampilkan di depan seluruh masyarakat.
Dengan tatapan sinis penuh dendam, Misa lalu membuka tudung hitamnya,seketika itu juga tampaklah rambut birunya yang begitu elok menjuntai sampai pinggang.
Senyuman lebarnya terlihat begitu mengerikan, bulu kuduk Arley langsung berkedik setelah ia meliha ekspresi yang sangat abrud tersebut.
Perpalinglah wajah Misa menuju kearah Arley, dengan tatapan anehnya itu, Misa mengeluarkan suara tertawa kakunya seperti suara gagak hitam yang tengah kesakitan.
Sejenak, warna mata Misa yang berwarna hitam pekat, tampak berganti warna menjadi kuning emas.
Termundurlah Arley seusai melihat perawakan aneh tersebut. Keringat dingin mengucur jelas dari wajah arley yang pucat.
Menyadari bahwa Arley tidak nyaman dengan hal itu, Misa lalu menghentikan senyuman dan tertawaannya yang terdengar begitu Absurd tersebut.
Tapi bukan itu yang seharusnya di permasalahkan, apa yang tertulis di status bar tersebutlah yang harus di perdebat, bagaimana bisa Misa mendapatkan status semengerikan ini.
Kala itu, Arley hanya bisa menatap tajam kearah bola kristal yang menunjukkan kegelapan yang begitu pekat.
***
----------------------------------------------
Hai semua sahabat pembaca dimanapun kamu berada! Jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, comment, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan memberikan sedikit pointnya, Author akan sangat senang sekali dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter demi chapternya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah! Demikian salam penutup dari Atuhor untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia! dan selalu berpikiran positif!
Always be Happy
And Happy Reading Guys!