
Not Edited !
Terdengar teriakan beberapa orang pria yang tampaknya sedang mengejar seorang anak wanita yang mencuri sesuatu dari mereka.
“Hey! Berhenti! Dasar Pencuri!” ucap sang peria yang mengenakan celemek dan topi pâtissier. “tolong hentikan anak itu! Dia selalu mencuri roti dari kedaiku!”
Sebab teriakan sang pria pembuat roti yang cukup kencang, ketika itu sampai mengundang seluruh warga yang melihat kejadian tersebut, tampak saling bergotong royong demi menangkap sang pencuri roti.
“Tangkap dia! Bawa dia ke pusat kota!” ucap halayak warga yang mencoba mengejar sang anak tersebut.
***
Arley baru saja keluar dari Toko Jahit. Dirinya tampak memegang koper yang ia barusan saja beli, dan berjalan leluasa sembari berniat ingin membeli makan siangnya.
Lantas, saat dirinya berjalan menyusuri jalan, tiba-tiba lewat di samping kanan Arley, seorang wanita muda yang tampak menggigit roti, dan berlari sangat kencang bagaikan nyawanyalah yang menjadi taruhan.
Arley menoleh ke anak tersebut, tetapi dirinya tak teralalu mempedulikan hal itu. Kembalilah ia berjalan menyusuri jalan, tetapi lagi-lagi dirinya menemui orang-orang yang tampak kelelahan mencari sesuatu.
“Diamana anak itu?! Apakau kalian melihatnya?” tanya sang pria pembuat roti, sembari yang lainnya menggelengkan kepala. “sial … lagi-lagi kita kehilangan dirinya …,” gumam sang pâtissier yang ketiak itu melepas topi putihnya.
Keriuhan yang terjadi dalam waktu sinkat itu pun kembali netral, hanyut dalam keramaian pasar yang tak kunjung reda sebelum malam tiba.
***
Siang telah berganti menjadi sore … matahari menunjukkan cahaya kuningnya pada lagit lepas.
Kali ini, kedua tangan Arley telah penuh dengan makanan yang belum ia santap dari siang hari. Berjalanlah ia menyusuri jalanan yang sempat ia lewati tadi siang. Dengan sangat berhati-hati ia melangkahkan hatinya agar dirinya tidak tersandung dan menumpahkan seluruh makanan yang ia beli.
Toko roti ia lewati … begitu juga toko jahit yang sempat ia kunjungi tadi, akhirnya ia lewati … dirinya berlajan menuju sisi barat, tempat dimana Arley melihat arah lari si anak kecil yang di buru oleh warga.
Perlahan ia telusuri gorong-gorong yang dirinya tak kenal, jalan-jalan sempit ia lalui … sapai pada akhirnya, Arley berhenti pada sebuah bangunan tua, yang tampaknya menjadi bekas sebuah perpustakaan.
Masuklah Arley kedalam perpustakaan itu tanpa menyebutkan satu patah katapun.
Saat dirinya mempersilahkan diri untuk memilih tempat duduk, seketika itu juga terdengar suara keroncongan perut dari arah tangga atas.
Arley menoleh ke anak tangga yang tersusun kusut di sebelah kanan bagian belakangnya. Di sana terdapat seorang wanita muda, yang mungkin berusia delapan sampai selupuh tahun, tengah menatap Arley dengan tatapan iri.
Menyadari dirinya di awasi, Arley dengan sengaja membuka sebuah bungkus makanan, yang terdapat roti daging Wild Boar didalamnya. Aroma renyah mengembang di udara, sampai akhirnya, aroma itu tercium langsung ke hidung sang anak.
Terdengar kembali keroncongan perut dari arah tangga, dimana sang anak menyembunyikan diri.
Seperti tak mempedulikan suara tersebut, dengan lahapnya Arley memakan roti tersebut. Gigitan demi gigitan ia lahap bagai tak ada hari kecuali hari ini.
Liur anak itu pun mengucur deras. Ketika Arley menghabiskan roti pertamanya, dirinya langsung tersenyum, sembari ia mengambil sebungkus roti lagi dari dalam kantung kertas yang ia bawa.
Terdapat lima kantung kertas yang Arley bawa sore hari ini, dua di antaranya berisi roti daging, dan tiga lainnya berisi makanan pokok, berua Steak Wild Boar, Fried Fish Cake, dan Squid Panfry.
Akan tetapi, kali ini Arley tidak memakan roti yang ia ambil tersebut. Dirinya bangkit dari duduk, dan saat itu Arley berjalan menuju ke tempat sang anak wanita bersembunyi.
Terkejut saat Arley mendekat ke arah dirinya, sang anak wanita tersebut langsung bergerak ingin melarikan diri. Namun, saat dirinya melihat tangan kanan Arley yang membawa sebungkus roti, niatnya itu pun langsung runtuh, dan ingin sekali ia mencuri roti tersebut.
Tetapi apa yang Arley lakukan sangatlah membuat terkejut hati sang anak wanita tersebut.
“Mau makan bersama?” ucap Arley yang menjulurkan Rotinya tersebut ke arah sela-sela bawah tangga.
Kala itu, tanpa malu malu, anak wanita itu langsung mengambil roti yang arley berikan. Dalamw hitungan detik roti tersebut langsung habis di terkamnya. Lantas, saat itu suara keroncongan perut kembali bergema. Sumbernya berasal dari perut si anak wanita.
Wajahnya langsung memerah, dirinya memeluk erat perutnya itu untuk mengecilkan suara yang dirinya tak ingin orang lain dengar.
Tetapi, lagi-lagi Arley membuat hati sang anak mencair. Ia julurkan tangannya kepada sang anak, lalu ia tawarkan suatu hal yang sangat sang anak inginkan.
“Ayo makan bersama …,” ajak Arley sembari ia tersenyum hangat.
Melihat senyuan dari wajah Arley, sang anak secara pelan-pelan, keluar dari tempat persembunyiannya. Saat dirinya sudah tampil di hadapan Arley, seketika itu juga menaikkan pertahanannya.
Ia melirik ke kiri dan kekanan demi mengetahui, apakah Arley berniat menjebaknya, atau memang si pria berambut merah ini adalah orang yang tulus untuk memberikannya makanan.
Setelah puas melirik ke sana dan kemari, sang anak wanita akhirnya terlihat puas dan meyakini jika apa yang Arley tawarkan bukanlah jebakan.
Dengan malu-malu ia meraih tangan sang remaja berambut merah, akan tetapi, mengetahui jika si anak wanita terlihat cukup malu menghadapi dirinya, Arley langsung menarik tangan anak itu dan menggiringnya ke meja yang berada di samping kasih perpustakaan.
Setelah Arley mendudukkan sang anak di atas kursi meja baca yang panjang, saat itu juga arley merobek semua kantung kertas yang ia bawa ke lokasi tersebut.
Ia keluarkan semua makanan dari kantung tersebut, dan seketika itu juga, air liur sang anak, langsung mengucur deras layaknya air terjun.
“Ayo kita santap bersama,” ujar Arley, yang seketika itu juga langsung mengabil daging steak yang tersemat di hadapannya, dan melahapnya dengan puas.
Demikian pula dengan sang anak! Ia tanpa sungkan-sungkan mengambil apapun yang menurutnya ingin di makan, Yang pertama ia makan adalah Steak Wild boar, lantas setelah habis ia menelan menu utama, lalu sang anak melanjutkannya ke Squid Frypan … setelah itu ia memakan beberapa potong roti, dan kemudian dalam waktu yang singkat, seluruh makanan di atas meja tersebut sudah habis dan yang hanya tersisa tinggal kertas dan sampah.
Puas dengan santapannya pada hari ini, sang anak langsung menatap wajah Arley dengan tatapan bertanya-tanya.
“Kakak … tampaknya kakak berbeda dari orang-orang yang lain …,” gumam sang anak, sembari ia menaruh dagunya di atas meja.
“Benarkah demikian …?” Namun, Arley hanya tersenyum lembut sembari ia menatap langit sore, yang tampat masuk dari sela-sela kayu yang mulai lapuk. “Hey … apakah kau mencuri karena lapar …?” tanya Arley yang kala itu tak melihat ke wajah sang anak.
Lantas, sang anak hanya terdiam sembari ia menatap meja di hadapannya.
“Kalau boleh tahu, siapa namamu? Dan berapa umurmu?” ujar Arley kepada sang anak.
Ketika itu, sang anak malah menatap tajam Arley dengan tatapan kesal. “Hey … menanyakan umur seorang wanita, itu adalah perkataan yang tabo tahu …,” omelnya sambil melipat kedua tangan. “Tapi … karena kau telah memberiku makan … aku akan memberi tahumu!” ucapnya sambil tersenyum lebar.
“Namaku adalah Varra, Hannya Varra, dan umurku lima belas tahun,” jawabnya malu-malu.
Sontak, saat Arley mendengar penjelasan si gadis bernama Varra, matanya langsung terbuka lebar, tubuhnya terdiam kaku, tampak seperti kejutan sesaat ....
Demikian pertemuan pertama Varra dan Arley … apakah yang akan terjadi di antara keduanya?
Bersambung ! ~
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter !
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -