
Not Edited!
Di tengah kota[lebia]. Tepatnya di dekat perpustakaan kota, yang menjadi salah satu destinasi ikonik ibu kota[lebia].
Mereka menyebutya dengan nama, Perpustakaan[Hubert]. Perpustakaan yang dibangun oleh Alexander Dombart Hubert pertama, dan menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan di negeri[eXandia]ini.
Kala itu, dentuman demi dentuman terdengar begitu pekat dari arah Selatan ibu kota. Perlahan suara ledakan itu semakin mendekat dan mengarah ke tempat perpustakaan[Hubert].
Tampak seorang kakek tua dengan tubuh cebol, dan seorang pria dengan rambut pirang. Tengah bertarung, dan mengadu senjata mereka demi memilih siapa yang paling terkuat.
Sang kakek tak segan-segan membanting godam raksasanya, menuju ke arah sang remaja berambut pirang. Akan tetapi, dengan lincahnya sang remaja mengelak dan menghindar dari serangan lamban sang kakek tua.
Walaupun terlihat lamban, daya serangan sang kakek mampu membuat gempa bumi, dan meruntuhkan rumah di sekitar lokasi peperangan yang tengah terjadi.
Demikian hal itu membuat sang pria berambut pirang agak kewalahan untuk menanggulangi pergerakan si kakek tua.
Selepas beberapa kali dentuman senjata, sang kakek menghentikan ayunan godamnya akibat bosan dengan kondisi yang tercipta.
“Wahai darah muda, apa tujuanmu membawaku kemari? Apakah kau terlalu yakin dengan kekuatanmu sampai-sampai engkau berani memisahkan diri dengan rekan-rekanmu yang lain?!” ujar sang kakek bertubuh tidak kurang dari seratus centi meter itu.
Seketika itu juga, sang pria berambut emas, yang kita kenal dengan panggilan Eadwig. Berhenti bergerak dengan membelakangi sang kakek berjanggut panjang dan dililitkan pada lehernya.
Meliriklah Eadwig ke pada sang kakek, lalu ia mulai memutarkan badannya secara perlahan. Tampak dirinya membawa tiga pedang dengan ukuran yang berbeda. Satu berukuran sangat besar, dan ia sematkan di punggung belakang. Sedangkan dua lainnya ia genggam menggunakan kedua tangannya.
“Ketahuan ya ~ Hahaha, tapi tujuanku sudah terpenuhi wahai kakek sepuh,” jawab Eawdig dengan ringan.
Lantas, Eadwig memainkan sebilah pedangnya dengan cara mengetuknya pada baju besi yang ia kenakan—pedang itu dirinya ketuk pada punggung sebelah kanan seperti orang yang tengah kelelahan.
Tersenyumlah sang kakek sembari ia tertawa terbahak-bahak layaknya orang yang tengah puas akan suatu hal.
“Lucu sekali! Aku suka padamu wahai jiwa muda!” Puji sang kakek kepada Eawdig. “Perkenalkan wahai jiwa muda. Namaku adalah, Yari! Raja dari klan Dwarf tertua di muka bumi[soros!].” Kala itu, sang kakek memperkenalkan dirinya kepada Eawdig.
Eawdig yang saat itu menghargai jiwa sportifitas sang kakek, langsung membalas senyumannya dan perkenalannya dengan hal yang serupa. Membungkuklah sang Pangeran negeri[SImbad], sembari memberikan penghargaan tertinggi pada lawan bertarungnya.
“Terimakasih atas perkenalan anda, wahai Raja Yari. Perkenalkan, diriku adalah Eadwig. Eadwig of Simbad The Lion Hearts, semoga pertarungan kita meninggalkan bekas pada ingatan seumur hidup.” Ujar Eawdig sembari memberikan pernyataan duel kuno, yang sudah mendarah daging bagi siapa saja yang hidup di negeri[Simbad].
Sang kakek bernama Yari tampak semakin senang dengan kepribadian agung sang pria berambut kuning. Seketika itu juga si kakek membungkuk dan membalas salam duel dari Eadwig.
“mari kita tak perpanjang waktu lebih lama lagi!” ujar Yari sembari dirinya melompat kencang menuju sang pangeran negeri[Simbad].
Melihat serangan langsung dari sang kakek berambut putih nan cebol. Eawdig langsung melompat tinggi ke udara. Lalu dirinya menebaskan kedua pedangnya untuk membuat sabetan angin—merambat kepada tubuh sang kakek berbadan kekar.
Menyadari serangan cepat dari sang remaja, kakek Yari kemudian mengarahkan Godamnya menuju gelombang tebasan angin tersebut. Menghantamlah tebasan angin tersebut mengenai pentungan raksasa si kakek. Seketika itu juga sabetan pedang yang Eadwig lontarkan kepada sang kakek binasah tanpa bekas.
Eadwig juga menyadari serangannya yang tadi tak akan efektif untuk melukai tubuh sang kakek. Demikian ia hanya berlari dan menjauh dari serangan balik si kakek Yari, kepada dirinya.
“Kau mau lari kemana lagi wahai jiwa muda!? Bukankah dirimu akan bertarung secara sportif dengan daku?!” panggil kakek Yari terhadap Eadwig. Tanpa sengaja, sang kakek berbicara dengan Eadwig menggunakan bahasa yang cukup lawas.
Kejar-kejaran terus terjadi, sapai akhirnya Eawdig tertahan oleh tembok perpusatakaan, yang umurnya sudah puluhan ribu tahun lamanya.
“Eiii! Berhenti di sana!” ucap sang kakek sembari ia melemparkan Godam raksasanya ke arah Eawdig.
Kala itu, Eadwig telah mati langkah. Dirinya tak dapat menghindari serangan cepat sang kakek. Tertimpahlah Eadwig dengan Godam raksasa sang kakek.
Tubuhnya tepukul keras dengan Pentungan berukuran lima meter tersebut, dan menabrak dinding pintu masuk Gereja, sampai menjebol dinding bangunan itu.
Hancur tak beraturan. Isi di dalam perpustakaan nasional itu sudah tak berbentuk lagi. Lembaran kertas berhamburan, lemari buku hancur menjadi debu kayu, demikian meja tempat baca dan ruang tunggu perpustakaan, kala itu sudah berubah menjadi kayu bakar.
Eawdig yang tertanam dalam gundukan buku, mencoba bangkit dari tidurnya. Kepalanya tampak terluka sebab serangan terakhir sang kakek Yari. Perlahan Eawdig bangkit dari tidurnya sembari ia mengelus luka pada kepalanya.
Tubuhnya di penuhi dengan energi aneh, sebab batu sihir yang tertempel pada gagang pedang itu.
Tiba-tiba, muncul tubuh Kakek Yari dari luar lubang yang ia ciptakan pada tembok perpustakaan.
“Oho ~ lihat apa yang darah muda ini lakukan sekarang!?” secara cepat, kakek Yari melirik konstruksi pedang yang Eawdig genggam. “Menarik, sangat menarik! Dari maka kau dapatkan pedang sehebat itu!? tak pernah aku lihat tekhknik menempah seperti ini!?” tanya si kakek kepada Eawdig.
Meliriklah Eawdig memandang bilah pedang yang ia genggam. Dirinya tak paham apa yang kakek Yari maksudkan, tapi ia menyadari jika pedang itu adalah pedang yang sangat bagus.
“Jika kau ingin tahu siapa yang menempa pedang ini! Maka kau bisa tanyakan langsung pada empunya!” ujar Eadwig sembari memasang kuda-kuda tempur.
“Aku bisa bertanya langsung dengan pembuatnya!? Mustahil! benarkah itu wahai jiwa muda!?” seperti anak yang baru saja menemukan mainan baru, Kakek Yari tampak tertarik dengan tawaran Eawdig.
“Ohh! tentu saja wahai Kakek Yari!” balas Eadwig dengan alis sebelah kirinya naik tinggi ke atas dahi. “Kau bisa menemuinya langsung di dalam Neraka!” ucapnya lantang dengan senyuman kejam dan sedikit keringat pada dahinya.
Seketika itu juga sang kakek membalas senyuman Eadwig dengan tatapan yang menantang.
“Jawaban yang bagus Jiwa muda, mari kita lanjutkan pertarungan ini agar aku bisa tertemu langsung dengan sang penempa!” Menjulurlah tangan sang kakek untuk memanggil Godamnya, seketika itu juga, godam raksasanya itu bergerak dan melayang terbang, langsung menuju genggaman tangan sang kakek. “Itu pun kalau kau bisa menamatkan riwayat umur kakek renta ini, wahai jiwa muda!” wajah sang kakek berubah menjadi seram.
Tampak urat kesal mengembang pada wajahnya. Dan seketika itu juga, Aura hitam menguap dari dalam tubuh sang kakek, seperti Komandan Pasukan Raja Iblis lainnya. Namun, untuk kakek Yari, ada sedikit perubahan bentuk dari wujud tubuh sebelum dirinya melepaskan aura hitam tersebut.
Tubuhnya membesar dan mengambang menjadi cukup tinggi. Otot-otot pada tubuhnya memekar layaknya balon yang di tiup secara instan. Lantas, secara mendadak, tubuh sang kakek berhasil mencapai 175 CM, atau bisa dibilang, setara dengan tubuh orang dewasa.
Dengan angkuhnya sang kakek melangkah mendekat ke arah Eadwig. Tampak Asap mengepul keluar dari setiap sisi otot yang menonjol dari tubuh sang kakek. Demikian tangan kirinya menggenggam erat Godam berukuran lima meter dan berat 50 ton tersebut.
“Baiklah … mana lelaki yang tadi ingin mengirimku langsung ke api neraka!?” ujar si kakek Yari, dengan ekspresi begitu maskulin.
Menelan ludah, Adrenalin Eawdig tampak terpacu selepas melihat penampilan baru sang kakek. “Sial … sepertinya aku baru saja membuka kandang singa ….” Dengan sekujur tubuhnya yang merinding. Eawdig mencoba mempertahankan rasa beraninya demi menyelamatkan benua[Horus].
Apakah yang akan terjadi dengan Eadwig!?
Bersambung!~
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!
Author akan merasa sangat berterima kasih!
dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!