The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 27 : Pisau yang tajam



Membara. para Algojo yang di berikan perintah oleh Pilak memberikan response yang sangat berlebihan, sepertinya mereka menyimpan dendam kepada diriku karena sudah membuat mereka terhempas ke udara sebelumnya.


“BAIK BOSS!!” ucap mereka serempak serempak


***


Mengetahui pertarungan akan terjadi disini, akan sangat merugikan jika ada yang menggangu ku pada saat pertarungan ini pecah.


Untuk mempermudah ini semua, aku memerintahkan para budak untuk menjauh dari lokasi ini agar tidak tercampur dalam pertarungan ini.


"... Hey bocah pirang!! Cepat bawa teman-teman mu menjauh dari sini!! Ingat, Pergi sejauh mungkin!!"


"... !! Eh! B-Baik kak!!!"


Dengan sepenuhnya dia mempercayai perkataan ku, anak berambut pirang tadi pun berlari meninggalkan lokasi pertempuran, ia membawa teman-temannya menjauh seperti yang aku perintahkan.


"(Cih.. Mereka berusaha melarikan diri ... haah ... Tenanglah Pilak ... Setelah aku menghabisi anak ini, aku bisa merebut mereka lagi.. )" Pilak bergumam dalam hatinya.


"Hey!! Cepat abisi anak curut itu!!"


Pilak memerintah para algojonya sambil merengut. dengan sadis mereka semua menyerbu ku tanpa ampun.


"Heeeyyaaaaa!!!"


Penyerbuan berlangsung, berbondong-bondong mereka berlari dengan brutalnya, di saat itu juga mereka mengeluarkan senjata-senjata mereka dari sarungnya.


Ada pedang yang tergeret di tanah, ada juga rantai yang teruntai-runtai, kemudian ada pentungan godam yang di putar di langit. berbagai macam senjata mereka tampilkan di hadapan ku.


"(Kita tidak bisa meremehkan Bocah ingusan ini...!!)"


Keringat dingin bercucuran dari pori-pori mereka. sambil berlari menyerangku, mereka berbisik satu dengan yang lainnya memikirkan apa yang sebelumnya telah terjadi.


"(Kau benar! Dia bukanlah anak kecil biasa, dengan Sihir yang ia keluarkan tadi, ia menghempas dua puluh orang lebih di sini, aku tidak bisa membayangkan anak sekecil ini memiliki kapasitas [Mana] yang mengerikan!)"


Walaupun demikian, suara mereka jelas bisa terdengar sampai tempat ku. Mereka ini sebenarnya niat tidak sih untuk berisik ....?


Tanpa aba-aba, seorang pria mengayunkan pentungan godam berdurinya kepada ku, Pentungannya itu terhempas memecah angin, tetapi untung saja hal itu tidak mengenai tubuh ku.


"Berisik!! ini waktunya membunuh dia terlebih dahulu atau kita yang terbunuh duluan!!"


Bertubi-tubi ia mengayunkan pentungan berdurinya, tetapi tidak ada satupun yang mengenai ku.


Aku menghindar dengan brilian, pergerakan ku seperti angin. Beberapa pukulan kembali di hantamkan dari sebelah kiri lalu berpindah ke sebelah kanan. Lagi-lagi aku menghindari pukulan itu seperti sedang menari bersama angin.


“Sialan!! Bocah ini lincah sekali!!”


Nafasnya mulai berat, pria ini mulai kehabisan percaya dirinya, ia meletakkan Pentungannya di tanah. tangannya sudah tidak sanggup untuk mengangkat pentungan yang berat nan besar itu.


Kali ini pedang di sabetkan dengan kencang, besi nya tanpa hambatan memotong Angin dengan luhai, dan lagi-lagi Aku hampir terkena senjata yang mematikan itu.


“Serahkan dia kepada ku!!” utas pria yang memainkan pedang tersebut, lagi, di kibas ke kiri dan kekanan, lalu di ayunkan tepat ke arah kepala ku, Skakmat, pedang itu tepat berada di atas kepala ini.


Namun bagaikan tubuh ini memiliki memori sendiri, ia bergerak sendiri, aku dapat menghindar, Refleks ini menggerakkan tubuhku untuk melangkah mundur, alhasil pedang itu meleset mengenai kepala ku.


"(-!!?!)"


Kebingungan, pria itu kembali menyabet dari sebelah kiri mengincar rusuk ku. Tetapi Aku lagi-lagi dengan lincah melompat ke udara menyebabkan pedang itu hanya berhasil memotong udara.


Menahan malu, dia, sang pria di permalukan oleh bocah ingusan.


"!!?! Apaa .... !?!" Shock, kejernian berfikirnya mulai menghilang, pria itu dengan brutal mengayunkan pedangnya secara liar.


Pedang terus di ayunkan, tetapi tetap tidak ada satu pun yang mengenai tubuh ku.


"Ngh… hah!! Hah!! Dasar bocah begadul!!! Hiyaaaa!!" Sang pria menyabet ku dengan menggunakan seluruh kekuatannya.


“…….” Tak ada komentar yang keluar, lagi-lagi Aku hanya mengelak dari serangan musuh.


Seperti bisa membaca pergerakan nya lalu aku menendang sang Algojo dengan sekuat tenaga, Aku menendang bagian tangan sang algojo yang memegang pedang.


Seketika pedang yang di pegang Algojo terlepas dari genggamannya. “…!...” sang Algojo sangat terkejut.


Dengan sekali kejapan mata, Aku kemudian menendang muka sang algojo sampai ia terpental jauh.


Terhempas, Pedang yang ia genggam terjatuh ke tanah, kemudian tubuhnya terhempas lima meter dari posisi berdirinya. tepat dari hidung sang Algojo, keluar darah segar berwarna merah. ia lalu bangkit dan menutupi hidung nya yang mimisan akibat sepakan kuat yang aku berikan kepadanya.


Aku kemudian kembali memijak tanah. Hal ini menjadi tontonan banyak orang, mereka semua terkejut dengan kemampuan  bertarung yang aku miliki. bukan hanya mereka, bahkan Aku sendiri terkejut mengapa aku bisa melakukan hal ini.


Dengan intens Aku menatap tangan ku sendiri yang bergetar akibat ter-stimulus situasi peperangan.


“(… Apa yang terjadi dengan diriku … kenapa aku bisa sekuat ini … Mungkinkah karena hal itu ….?) ”


Sejenak Aku mengingat kejadian pada waktu malam hari itu, di mana tubuh ini menghabisi seluruh kawanan bandit gunung. lalu aku menggenggam tangan ini dengan semangat.


kalian merasa hal ini aneh? jangan kan kalian, aku sendiri merasa hal ini cukup aneh, bagaimana mungkin aku menyukai hawa pertarungan seperti ini.


“(…. Semua Itu … apakah benar aku yang melakukannya ….?) "


Tiba-tiba ketika Aku sedang terfokus pada diri ku sendiri, sebuah cambuk menyabet dan terikat di pergelangan tangan ini.


Rantai itu mengikat simpul di pergelangan ku, Seorang pria jangkung berbadan kurus menyeringai  bahagia sambil menarik-narik tangan ku seperti seseorang yang berhasil menangkap ikan pada kail pancing nya.


“Gyahaha!! Tertangkap juga kau akhirnya Bocah!! menyerahlah sebelum kami semakin kesal dengan mu!!”


“Ugh!?” Aku mencoba membuka lilitan rantai yang ada di pergelangan tanganku, namun pria jangkung itu terus menarik lengan tanganku dengan kencang, kesulitan, aku tidak bisa melepaskan ikatan rantainya.


Menyadari bahwa aku tidak bisa melakukan apa-apa. lagi-lagi mereka menyerbu ku secara bersamaan, jarak mereka yang sebelumnya menjulang sepuluh meter, sekarang mereka merapatkan barisan mereka dengan cepat.


“AYO SERBU DIAAA!!!” Pria berkepala botak yang memprovokasi ku tadi memberikan komando kepada para Algojo yang lainnya “HHHOOOOOO!!!!!!!!” dengan semangat yang terbakar, mereka mencoba menghabisiku saat itu juga.


beberapa dari mereka melemparkan senjatanya ke arahku, namun aku berusaha menghindar, aku melompat beberapa kali untuk menghindari senjata tajam yang mengarah jatuh ke tubuh ku, tetapi lilitan rantai di tanganku membuat manuver-manuver yang aku lakukan tidak efektif.


Tanpa di sadari, sebuah pisau dapur menancap tepat di paha kanan ku.


"-HA!!!!!?!"


Mataku teralihkan melihat ke pisau yang menancap di paha kakiku, pada awalnya tidak terasa apa-apa, hanya kebas seperti benda asing menancap di daging, tetapi beberapa saat kemudian, rasa perih itu langsung menjarah ke seluruh tubuh ku.


"AAAAAAAA!!!!!!!"


Suara ku terpekik ke segala penjuru.


***