The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 137 : Perasaan Kala Itu, Yang Kembali Pulang.



Gumpalan asap membumbung tinggi ke atas langit. Tercium aroma gosong merebak ke dalam hidung sang remaja. Tepat di bawah kakinya, sebuah kawah raksasa tercipta hasil mantra sihir yang ia rapalkan.


Jauh dari tempat Arley berdiri, terlihat tubuh si『Incubus』, terkapar tak berdaya, dengan kondisi penuh luka pada sekujur tubuhnya.


Kala itu, sebelas iblis lainnya hanya menatap kosong terhadap kondisi tubuh sang『Incubus』. Tak terlihat rasa prihatin kepadanya. Seperti mereka tak menganggap keberadaan sang iblis berwarna biru itu.


“Ahh … sepertinya Zorman telah mati,” cetus seorang wanita, yang tampak menutup wajahnya dengan tudung hitam.


Sekilas rambut berwarna kuning susu, menjuntai keluar menutupi kedua belah pundaknya. Rambutnya menggulung sprial—persis seperti roti, Croissant.


Bukan cuma sang wanita saja yang menutup kepalanya dengan tudung jubah hitam. Seluruh iblis yang mengambang di hadapan Arley, menutup wajah mereka dengan tudung tersebut. Hanya Ifrit seorang yang tak menutup wajahnya.


“Heeh ~ kalian cukup kejam, padahal teman kalian baru saja aku kalahkan.” Tunjuk Arley dengan tongkat sihirnya, ke arah mereka bersebelas.


Sontak, Ifrit tersenyum lebar sembari ia melambaikan tangan. “Kalian semua, biar aku saja yang meladeni manusia satu ini! Pergilah kalian berpencar! Cari wanita itu sampai dapat!” ujar sang ibis merah, sembari ia turun ke dataran bumi.


Tak menjawab perkataan Ifrit, mereka semua hanya menaruh telapak tangan kanan, pada jantung sebelah kiri—seperti melambangkan sebuah hormat kepada sang atasan. Lalu para iblis itu terbang bebas ke udara—berpencar tak tentu arah.


“Hey, apa yang kalian inginkan sebenarnya?” tanya Arley, yang ketika itu dirinya merasa ada yang tak beres dengan geliat para iblis. Arley menaruh curiga pada apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Menolehlah sang iblis merah—menatap rendah sang remaja bermata hijau itu. Ia sesekali memainkan janggutnya, seperti dirinya tengah berpikir akan suatu hal.


Keringat dingin keluar dari pori-pori wajah Arley. Namun, bibirnya menyeringai lebar sebab Adrenalin berguncang liar.


“Kau anak yang cukup aneh. Kulitmu terlihat pucat, matamu berwarna hijau. Terlebih, rambutmu berwarna merah. Aku tak pernah melihat manusia sepertimu sebelumya.” Ifrit berkomentar mengenai hal yang Arley sangat benci.


Sontak—Arley terlihat kesal dengan ucapan Ifrit barusan. “Hooh. Jadi kau sekarang malah mencemooh bentuk fisikku dibandingkan menjawab pertanyaanku barusan?” geram Arley, sembari ia berjalan maju menuju sang iblis merah.


Melihat pergerakan dari Arley, Ifrit merubah posisi tubuhnya dari yang sebelumnya miring ke bagian Barat, kali ini ia menghadap ke posisi Utara, untuk berhadapan langsung dengan Arley.


“Ahh, aku tidak mendengar ucapanmu tadi. Maafkan aku—” celetuk sang Iblis yang memang tak berminat berbicara dengan Arley. Dirinya terlalu meremehkan kemampuan sang remaja.


Lantas, tiba-tiba Arley menghilang dari pandanganannya.


Terkejut setengah mati. Sang iblis dengan mata yang berputar liar, mencari keberadaan Arley yang tak kunjung ia dapatkan. “Menghilang!? Kemana perginya anak itu!?” gumam si Ifrit, dalam benaknya.


Muncullah Arley dari arah belakang Ifrit. Sepakan kakinya melesat kencang menuju tempurung kepala sang iblis merah. Tepat sasaran, Ifrit kalah cepat untuk merubah posisinya menjadi bertahan. Terhempaslah Ifrit ke sudut timur kawah raksasa tersebut. Tubuhnya terpental-pental menghantam bebatuan yang berserakan di dataran kawah.


Pada hentakan terakhir, tubuh kekar ifrit harus tertanam pada tumpukan batu, sebab kuatnya tendangan yang Arley hempaskan terhadap sang komandan pasukan raja iblis..


“Apa yang terjadi pada diriku?!” gumam Arley dalam hati. Dirinya sendiri bahkan juga tak tahu apa yang ia lakukan. Sejenak Arley membuka-tutup telapak tangannya, untuk mengetahui batasan kekuatan fisiknya saat ini. “Apakah aku bertambah kuat?” ucapnya di dalam benak.


Dengan kondisi: setengah badannya tertanam di dalam tumpukan batu. Ifrit kemudian melompat keluar dari bongkahan cadas tersebut—dengan begitu menggelegar. Terhempaslah bebatuan yang menutupi tubuh Ifrit—berpencar ke segala arah.


Kemudian, Ifrit berjalan kesal menuju ke tempat Arley berdiri saat ini.


“Beraninya kau membuat tubuh perkasaku menjadi seperti ini …!” ucap Ifrit dengan kondisi tak berpakaian. Jubahnya sempat robek sebab gesekan yang terjadi sebelumnya. Tampaklah masa otot kekar pada tubuh sang iblis merah.


Dengan otot tubuh yang menggeram, tumbuh urat-urat nadi pada otot tangan—menjalar sampai ke kepala sang iblis merah.


Tatapannya menajam ke arah tubuh mungil Arley. Sontak, dirinya menghempas tanah sampai menimbulkan retakan pada lantai yang ia jejaki.


Sang iblis langsung melompat kilat—menyerang Arley dengan pukulan lurus menuju wajah sang remaja.


Arley mampu melihat lesatan terbang si Ifrit, bahkan ketika jaraknya tinggal bersisa tiga centi, tepat di depan hidungnya.


Menghindarlah Arley dari serangan Ifrit. Ia melihat lesatan tubuh sang iblis merah, menghempas di depan pandangannya.


Karena Ifrit tak berhasil menyerang Arley, dirinya malah tersungkur jauh, melesat ke Tenggara. Dan lagi-lagi, tangan kanannya harus tertanam pada tumpukan batu, yang memendam sang iblis sampai batas punggung.


“Sialaan! Bagaimana kau bisa menghindari serangan super cepatku!” bentak si iblis yang tak mengerti kejadian apa yang sedang ia alami.


Ini baru pertama kali terjadi selama dirinya hidup di dunia. Ada seorang manusia yang mampu menghindari serangannya, bahkan bisa menyerang dirinya sampai membuat jantungnya berdebar begitu kencang.


“Mustahil! Apakah benar anak ini hanya seorang manusia biasa!?” cakap Ifrit dalam hatinya, “ini tidak mungkin terjadi! aku tak pernah tahu jika ada manusia, yang segila dirinya!?” Mengalirlah air keringat dari sekujur tubuh Ifrit. Ini pertama kalinya ia mengalami kesulitan seperti ini.


Di lain pihak. Arley meratap bingung, mengenai kondisi tubuhnya sendiri. “Sungguh!? Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku?” gumamnya dalam hati, “Tapi ... tunggu dulu. Aku pernah merasakan hal ini sebelumnya. Jika tidak salah. Tepat saat delapan tahun yang lalu. Ketika aku masih memiliki tongkat sihir, yang aku dapat dari dalam buku dongeng itu.”


Sejenak Arley terdiam hening. Dirinya memikirkan segala kemungkinan, mengapa dirinya bisa menjadi seperti sekarang. Sampai pada Akhirnya, ia menyadari suatu hal.


“TONGKAT SIHIR!?” pekiknya kencang, “benar juga! Aku tak pernah merasakan hal seperti ini lagi semenjak tongkat itu hancur.”


Arley termenung fokus, menatap tongkat sihir yang ia pinjam dari Rubius. Lalu, dirinya kembali mengenang pada masa delapan tahun yang lampau ….


Bersambung~


***


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!