
Not edited!
Terdengar suara besi yang berdenging. Suara itu tercipta akibat pedang yang Eadwig biasa bawa telah berubah bentuk menjadi bilah pedang yang tak bermata tajam, melainkan berubah menjadi rongsokan yang remuk akibat gigitan sang iblis naga hitam.
Matanya terbelalak lebar, wajahnya berubah menjadi putih pasih, mulutnya sedikit terbuka ketika kejadian ini berlangsung. Eawdig benar-benar terkejut saat bilah pedangnya patah oleh hal sekonyol itu.
Sedangkan Korfe hanya tersenyum lebar sembari matanya melirik kejam tepat pada wajah Eadwig yang tengah dalam kondisi terpuruk.
Menyadari jika dirinya akan terbunuh jika ia hanya berdia diri saja, Eawdig langsung melompat mundur, bahkan lebih jauh dari tempat ia meluncur sebelumnya.
Rubius yang menyaksikan hal itu ikut terkejut. Namun tentu saja Eawdig sang pemilik pedanglah yang lebih terkejut dibandingkan siapapun.
Berdiri tegaplah Eawdig pada kedua kakinya. Napasnya tersengal-sengal menahan degupan jantung yang tak terkontrol. Keringat mengucur deras dari sekujur tubuhnya. Sedangkan matanya masih terbuka lebar seperti tak percaya jika apa yang telah terjadi tadi adalah sebuah kenyataan.
Ia melirik ke arah Rubius, kemudian ia kembali melihat ke arah Korfe dengan tatapan bingung. Lantas saat ia melihat ke tangan kirinya, ia mendapatkan bilah pedangnya sudah patah setengah bagian.
Menggerat gigi sang pangeran negeri [simbad]. Kali ini dirinya benar-benar kesal sebab apa yang Korfe lakukan.
“SIALAN …!” pekik Eawdig demi menghujat lawannya. Tubuh Eadwig bergetar kesal menahan amarah yang tak bisa ia ungkapkan secara langusung. Namun, urat pada lehernya kembali merambah menjalar ke wajah sang pangeran.
Raut wajahnya memerah akibat kekesalan yang ia tahan. Eawdig benar-benar kesal saat pedang kesayangannya itu berubah menjadi rongsokan.
Rubius yang melihat Eadwig dalam kondisi kesusahan, hanya bisa terdiam mengamati kondisi yang tengah terjadi. Walaupun demikian, saat ini kondisi mental Rubius sudah kembali menjadi normal.
Hal yang berbanding terbalik terjadi pada Eadwig, mentalnya bergejolak bagaikan kobaran api yang tertiup angin kencang. Terkadang api itu akan membara menjadi hebat, akan tetapi kobaran api itu akan menciut ketika kayu bakarnya tak di tambahkan.
Sang naga hitam yang ketika itu masih mengunyah bilah pedang yang Eadwig tebaskan padanya tadi. Merasa begitu terkesan dengan pertarungannya kali ini, berjalanlah Korfe menuju tempat Eawdig berdiri saat itu.
Setelah pedang yang ia kunyah berubah menjadi serpihan debu, Korfe kemudian menelan serpihan pedang tersebut bagaikan sebuah makanan.
“Siapa namamu wahai manusia muda?” tanya Korfe sembari ia berjalan. “kau memiliki potensial yang tidak semua makhlum di muka bumi[Soros] ini miliki. Kau adalah makhluk yang unik!” ucap Korfe dengan wajah gembira.
Eadwig tidak menjawab pertanyaan Korfe, ia hanya terlihat kesal sebab pedang yang ia gunakan sudah berubah menjadi bubuk pasir.
“Hey pak tua …,” panggil Eadwig terhadap Korfe. “tahukah kah engkau, jika apa yang sudah kau lakukan adalah sebuah kesalahan besar ….” Tatap Eadwig dengan pandangan dendam.
Korfe langsung terdiam seribu kata, demikian juga dengan langkahnya. Ia tak menyagka jika Eadwig bisa mengeluarkan wajah yang sampai sedemikian rupa.
Wajah Eadwig telah di penuhi dengan urat-urat yang menjijikkan. Air matanya mengalir tak terkendali. Namun tubuhnya tetap tenang bagaikan pasak yang tertancap dalam ke perut bumi.
Walaupun terpaan angin berniat merubuhkannya, ataupun Tsunami ingin menenggelamkannya, pasak itu akan tetap berdiri tegap tak gentar dengan apapun yang akan terjadi.
Korfe mengetahui hal ini … Eadwig bukanlah manusia biasa, ia memiliki kekuatan yang sangat spesial.
“Dahulu … aku memiliki saudara kembar. Ia adalah adik lelaki yang lahir berbeda jam saja dari saat aku hadir di dunia ini.” Eadwig mulai bercerita mengenai masa lalunya.
Tentu saja Korfe terheran-heran dengan hal ini. Demikian Rubius juga baru pertama kali mendengarkan cerita ini.
“Ketika kami dilahirkan di muka bumi [soros]. Ayahanda memberikan dua belah pedang untuk kami berdua. Satu untuk diriku, dan yang satunya untuk saudaraku,” terang Eadwig tak genah.
“Hey … apa yang ingin kau sampai kan—” Korfe sempat memotong pembicaraan Eawdig, tetapi tiba-tiba Eadwig kembali memotong pembicaraan Korfe.
“Aku sangat menyayangi dirinya!” bentak Eadwig dengan begitu emosi. “tetapi kenapa harus Edgar yang diangkat dahulu ke atas langit ….” Saat itu, selepas kalimat terakhir yang Eadwig lontarkan kepada Korfe telah usai, keheningan mulai terjadi.
“Sudah selesai kah kau berbica—” Lagi, pembicaraan Korfe di potong oleh Eadwig.
“Naga kurang ajar! Ini semua salahmu …! Pedang yang kau patahkan tadi adalah satu-satunya peninggala Edgar!” pekik Eadwig dengan emosi yang begitu membara.
Kuda-kuda Eawdig pun berubah. Kali ini ia menggenggam bilah pedang miliknya dengan kedua tangannya. Sedangkan pedang yang telah patah ia sematkan kembali di sarung pedang sebelah kanannya.
Kali ini Eawdig mempersiapkan dirinya untuk mengeluarkan jurus pamungkasnya. Terlihat di sekujur tubuh Eadwig mulai menampilkan urat tak biasa yang membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa jijik.
Selain itu, Masa otot Eadwig mengembang menjadi besar. Saking besarnya masa otot itu berkembang, ikatan kain pada baju besi yang Eadwig gunakan terputus dan mengakibatkan baju besi yang Eadwig guanakn terlepas dari tubuhnya.
Baju Eawdig terkoyak dan menampilkan tubuh sang pangeran dengan begitu besarnya.
“Ini tidak baik …! Eadwig! Hentikan hal ini sekarang juga! Kau bisa mati!” Menyadari jika apa yang Eawdig lakukan adalah sebuah jurus bermata dua, Rubius ingin menghentikan Eadwig saat itu juga.
Namun sudah terlambat, Tubuh Eadwig telah berubah warna menjadi Merah padam.
Muncul aura aneh dari dalam tubuh Eadwig. Aura kuning kemerah-merahan menyeliputi tubuh Eadwig dengan begitu intens.
Kemudian hal aneh pun mulai terjadi. Awan yang menutupi langit tampak terbuka lebar. Cahaya kuning menyinari tubuh Eadwig dengan agungnya
Ketika itu, tubuh Eadwig dihujani oleh cahaya yang aneh. Dengan sendirinya Eadwig membentangkan kedua tangan sembari ia memejamkan kedua matanya—dalam bentuk tubuh yang terlihat perkasa tersebut.
Korfe tampak begitu terkejut. Ia tahu jika hal ini akan membahayakan dirinya, tapi Korfe tak bisa bergerak karena dirinya ingin mengetahui, seberapa kuat Eadwig sekarang.
Dilain pihak, Rubius juga terkejut dengan kejadian ini. ia tak tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi, dan megapa hal ini bisa terjadi.
Lantas, ketika dirinya sudah siap, Eawdig membuka matanya sambil menatap kejam Korfe. Tubuh Eadwig sudah tampil sangat berbeda dari porsi normalnya.
Otot dada yang mekar, Punggung yang tegap, masa otot tangan yang besar. Tampak seperti seorang gladiator yang sudah hidup puluhan tahun dari kerjanya yang hanya bertarung.
Lagi-lagi Korfe tersenyum lebar akibat ekstasi yang ia rasakan. Naga hitam sang pecinta pertempuran ini sudah lama tak merasakan pertarungan yang sepadan. Hal kecil seperti ini mampu membuatnya tertarik walahpun bisa menghancurkan badannya.
Kala itu, pedang yang Eadwig genggam dengan kedua tangannya, kali ini ia hanya menggenggamnya dengan satu tangan kanan. Dalam kondisi yang terbuka lebar, saat itu juga Eawdig mengeluarkan jurus pamungkasnya.
“Seven Heaven.”
Ucapnya sambil menebaskan bilah pedang yang ia genggam dengan kuat menggunakan tangan kanan.
Tampak tebasan yang Eadwig lontarkan merambat melalui udara dengan begitu cepat.
Kala itu, Korfe dengan sangat terpaksa harus menahan serangan yang Eadwig luncurkan datang sangat mendadak, menggunakan kuku-kuku tajamnya.
Ukurannya begitu massive, tapi Korfe masih bisa menahannya dengan tenang.
Tentu saja hal ini belum berakhir. Dengan bertubi-tubi kemudian Eadwig menebaskan kembali bialh pedangnya.
“Apa!? Dia masih bisa menebaskan serangan dengan intensitas yang sama, sebanyak ini?!” gumam Korfe dalam hatinya.
Terkumpullah tujuh bilah serangan yang Eadwig tebaskan kepada Korfe pada ujung jari tangan sang naga hitam, yang saat ini sedang berubah menjadi manusia.
Akan tetapi, ternyata Korfe masih bisa menahannya. Ia hanya tersenyum sambil mengeluarkan sedikit keringat dingin pada wajahnya.
Namun, lagi-lagi serangan dadakan datang. Kali ini serangan secara langsung muncul dari belakang Korfe.
“Dari belakang?!” teriak Korfe secara mendadak. Ia tak menyangka jika Edwig akan muncul dari melakangnya.
“Tadi kau bertanya siapa namaku bukan …?” ucap Eadwig yang ketika itu sudah berada tepat di belakang punggung Korfe. “perkenalkan, aku adalah Eadwig of Simbad. Calon Raja yang akan menguasai negeri [SImbad]. Salam kenal,” jelasnya dengan nada datar.
Seketika itu juga, dengan beraninya Eadwig menebaskan biah pedang kembarnya, yang saat ini hanya tersisa satu.
Dengan bengisnya Eawdig menebaskan pedangnya, tepat mengenai pundak sang iblis naga.
“AAaggh!” teriaklah Korfe sembari ia menahan sakit. Tentu saja pertahanannya goyang, dan ketika itu seragan ‘Seven Heaven’ yang Eadwig lontarkan langsung masuk dan mengenai tubuh Korfe.
Tercabik-cabiklah badan Korfe sebab itu.
“Hm …?!” Akan tetapi, suatu hal yang ganjil kembali terjadi. Ketika itu, Eadwig tidak bisa menarik tebasannya yang sudah tertanam pada pundak sang Iblis.Dan betapa terkejutnya Eadwig ketika dirinya baru menyadari jika bilah pedangnya yang menancap sampai ke depan tubuh Korfe saat itu, dengan beraninya sang naga hitam menahan ujung bilah pedang Eadwig dengan jari telunjuk dan jempolnya, seperti ia sedang mencubit pedang tersebut.
Kembali Eadwig harus melihat senyuman angkuh Korfe.
“Eadwig ya …,” gumam Korfe dengan begitu tenang. “kau bialang tadi, jika pedangmu yang satunya adalah peninggalan saudaramu yang telah wafat bukan …?” tanya Korfe dengan dingin.
Ketika itu, Korfe memutarkan tubuhnya. Sontak, pedang yang Eadwig genggam dengan kuat—hanya dengan sedikit cubitan kecil dari Korfe, langsung patah dan remuk menjadi pasir. Sama seperti apa yang terjadi dengan pedang Eadwig yang satunya.
Wajah Eawdig langsung menunjukkan ekspresi terkejut yang sama seperti sebelumnya.
“Kalau begitu … kenapa kau tidak bertemu dengan saudaramu sekarang juga …?” Dengan bengisnya, Korfe langsung mencekik Eadwig menggunakan tangan kirinya.
Roda kembali berputar. Kali ini kondisi Eadwig sedang dalam masa yang darurat.
Bisakah Eadwig selamat dari perkara ini?
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------