The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 54 : PROTOCOL & SIGNS



Tubuhku merasakan kelelahan yang amat penat, sekujur tubuhku merasakan otot-otot pada setiap organnya serasa ingin pecah. Namun aku tetap memaksakan tubuh ini untuk bangun dari posisi tidurku yang sangat berantakan.


“Ahh … kesalahan … ini sebuah kesalahan, seharusnya aku tidak menganggap serius tidur di kandang kuda ini ….”


Tubuhku terselimuti oleh jerami kering, perlahan aku menggerakkan tubuh ini bagaikan robot yang kehabisan oli pada persendian mereka.


Namun tidak masalah, aku bisa membenarkan ini semua dengan satu mantra yang aku hafal. Perlahan ku Tarik tongkat sihirku dari dalam kantung baju, lalu ku bacakan mantra yang jarang ku gunakan.


“Lux Sanator~”


Muncul secercak cahaya pada ujung tongkat sihir ku, dengan lembut aku sentuhkan cahaya itu pada jidat kepala ini, seperti sebuah es yang merambah ke seluruh tubuh, badan ini merasakan revitalisasi yang cukup cepat.


Sedemikian cepat sampai-sampai tubuhku merasakan jika aku segar sehat seperti hari pertama aku dilahrikan di bumi ini, Hahaha sangat hyperbola, aku hanya bercanda, tapi aku benar-benar merasakan kebugaran pada tubuh ku saat ini juga.


“Sip, sekarang waktunya mencari sarapan!”


Mood ku sangat baik hari ini, misi pertama ku hari ini adalah menemukan sarapan roti yang nikmat, lalu menemukan Misa, namun jika sampai sore aku tidak menemukan Misa maka aku akan mencari Universitas Pendeta untuk memberikan surat undangan pada Uskup agung.


Yap, kegiatan hari ini ku mulai!!


***


“Kressh~” lembut di dalam dan krispi di bagian luar, itulah kesan pertamaku ketika memakan roti ber-aroma melon yang masih mengeluarkan asap dari dalam rongga rotinya, “Bismon”. Yap itu adalah nama roti yang sedang aku makan, roti Bismon, A.k.a “Biskuit Melon”, hahaha ada-ada saja penyebutan nama dari roti yang berwarna hijau ini.


Sambil menenteng kantung roti yang berisi roti Bismon, aku berjalan mengelilingi kota, tentunya aku hanya berkeliling saja, saat ini tidak ada minat dan hasrat untuk membelanjakan koin emas yang ada di kantung dimensi ku ini.


Saat berada di Gua Cahaya, aku dan Sofie membagi rata emas yang kami temukan di reruntuhan Kota Langit, padahal sudah ku katakana kepadanya bahwa Sofie lah yang lebih membutuhkan uang ini untuk membangun toko rotinya kelak, namun ia tetap bersikukuh untuk membagi dua harta karun ini.


Tapi setelah ku pikir-pikir lagi, aku merasa bersyukur memiliki pegangan uang sebanyak ini untuk memenuhi kebutuhan hidupku.


Terima kasih Sofie~ semoga latihan mu di sana sukses!


Menggunakan kedua kaki yang mungil ini, aku berjalan mengelilingi kota. Tepat di pusat keramaian, banyak sekali barang-barang yang di jual, mulai dari pedagang kaki lima sampai toko-toko souvenir yang bisa kita singgahi sembari menikmati suasana kota.


Hmmm, tapi aku merasa agak ling-lung di suasana kota yang sedemikian ramainya, namun suasana udaranya mengapa bisa begitu segar ya? Ah, kalau kita lihat ke langit, tampak ada sebuah parabola terbalik yang menutupi kota ini … kalau aku tidak memperhatikan langit dengan jeli, mungkin aku tidak akan menyadarinya, tapi kenapa jarin-jaring itu bisa terpasang di atas kota ini? Aneh ….


Langkah ini berjalan tanpa arah, mulai dari memasuki daerah perumahan, menaiki jembatan yang di bawahnya ada sungai seperti "venice" (Italy di bumi sebelumnya), juga memasuki gereja yang paling besar di negeri ini.


Aku berkeliling kota sampai akhirnya sore menjemput ku.


Dari atas tower gereja, aku menatap pundung ke seluruh sisi kota ini, sampai saat ini aku masih belum bisa menemukan Misa, mungkin hari ini aku belum beruntung.


“Kota ini ternyata di rancang dengan detail sedemikian rupa ya … dunia sihir memang sangat mengejutkan,” Embun dingin perlahan keluar dari mulutku, kemudian perlahan salju turun dari langit.


“!? ... apakah ini sudah memasuki musimnya …? Aku rasa saat ini masih musim hujan, mengapa bisa begini!?!”


Namun bukan sampai di situ saja, keriuhan juga terjadi di kerumunan masyarakat di pusat kota.


Kerumunan orang sedang berkumpul di sebuah patung pria yang tangan kanannya mengarah kelangit dan tangan kirinya memegang buah aple yang telah di makan, tingginya mencapai sepuluh meter.


Keriuhan ternyata tidak terjadi di sana saja. aku memantau, seisi kota sedang dalam kegemparan yang amat krodit, mereka semua menunjuk langit seperti melihat hal yang aneh dan langka.


Sontak aku juga kembali memperhatikan langit dengan tegang, ada apa sebenarnya di atas langit sana? Setelah aku fokuskan pandanganku pada pusat kota ini, tepat di atas patung pria tersebut ada sebuah logam penghubung antar besi jaring parabola yang berbentuk bulat mengelilingi kota ini, besi itu tertulis sesuatu di tengahnya, dan tulisan tersebut bercahaya sangat amat terang menyinari segala yang ada di bawahnya.


“Tulisan apa itu …? Pro…to…col…!!?! PROTOCOL!?!”


Benar sekali, tulisan itu adalah tulisan yang sama dengan buku kitab yang aku sering baca, tulisan itu bertuliskan [PROTOCOL] dengan beberapa ukiran alphabet yang ku rasa aku pernah melihatnya, sekali lagi dugaan kalian benar, alphabet itu sama persis dengan tulisan yang ada di paragraph terakhir buku [PROTOCOL] dan ukiran kuno yang ada di reruntuhan Kota Langit.


“ukhh!! Apa ini!?!”


Seketika aku baru menyadari, tepat di bagian tulang selangka sebelah kiri, aku merasakan rasa perih yang sangat amat dingin, sangking dinginnya rasa itu membuat sekeliling bagian yang terasa sakit ini menjadi kebas, aku memegangi pundak sebelah kiriku sembari mencari kaca yang bisa memantulkan cerminan ku, ketemu, kaca jendela yang berwarna biru ini bisa memantulkan cerminan ku, namun setelah aku teliti, ada sebuah bercak kecil seukuran kuku jari yang membentuk ukiran pada bagian cekungan tulang selangka ku.


Ini sangat aneh, seumur hidupku belum pernah aku melihat bercak ini berada di  bagian selangkaku sebelumnya!? Sejak kapan bercak ini berada di sana?


Perlahan aku dekatkan diri ke jendela, jika di perhatikan, ada sebuah tulisan yang bisa aku baca di dalam ukiran bulat yang bergerak-gerak menggeliat di sela tulang selangka ku itu.


“S… Signs?! SIGNS!?! I-ini … bukan kah aku pernah melihat ukiran ini sebelumnya … tapi di mana ya?!”


Kepalaku terasa pusing, lalu sejenak aku mengatur nafasku. setelah aku mulai merasa netral perlahan rasa perih itu memudar dan akhirnya menghilang, anehnya ketika rasa sakit ini menghilang, salju yang turun ikut berhenti jatuh dari atas langit, begitu juga dengan tulisan yang berada di tengah parabola itu, tulisan itu juga menghilang … aneh … benar-benar aneh ….


***


Walaupun keadaan sudah kembali normal, tetapi reaksi masyarakat masih riuh tak terkendali, melihat kejadian ini aku memilih untuk mencari Universitas Kependetaan yang ku rasa ada di bukit bagian barat dari pusat ibu kota ini.


Setelah aku turun dari tower gereja, aku menemukan peta kota yang berada di aula pusat kota yang berseberangan dengan patung sang pria. jika kita lihat lebih dekat, ada tulisan "Adam" di bagian bawah patung tersebut. Cukup mirip dengan kisah awal penciptaan manusia, yap aku sudah tahu kisahnya.


Didalam peta tersebut aku mencari lokasi Universitas Kependetaan, tak butuh waktu yang lama aku berhasil menemukan dimana letak Universitas tersebut. Aku pun langsung berjalan menuju lokasi tujuan.


Sembari aku berjalan menuju Universitas Kependetaan, aku melihat beberapa prajurit berkumpul menuju pusat pemerintahan negara ini, tepatnya di istana [Exandi], lokasi pastinya berada di bagian utara dari pusat Ibu kota. namun tampaknya tidak hanya prajurit negara yang pergi ke sana, tetapi seluruh penyihir dan perangkat pelindung negara seluruhnya bergerak menuju Istana Negara.


Diwaktu sore hari ini, dengan kaki mungil yang aku langkahkan setiap jengkalnya. kali ini aku berjalan dengan kepastian menuju lokasi yang aku sudah ketahui lokasinya.


Senyum di pipiku kembali menyengir gembira dengan perasaan yang plong, aku berjalan menuju Universitas Kependetaan di kota [Lebia] untuk mendaftarkan diri bersekolah di sana seperti yang Ibunda Terra inginkan.


Ya ... ini adalah cita-cita kami bersama ....


***