
Tampak gemilang bintang pada langit malam. Bulan yang tampak begitu besar, memantulkan sahaya birunya, kembali ke permukaan bumi.
Saat ini, Arley dan teman-temannya sedang berada di dalam bunker. Sedangkan Lenka tengah memberantas seluruh monster yang ingin masuk ke dalam ibu kota [Lebia], seorang diri.
Di malam yang larut ini, tak ada sepatah katapun yang keluar untuk mencairkan suasana. Mereka semua di rundung pilu, sebab masa depan mereka yang tampak abu-abu. Apakah mereka bisa selamat dari kejadian ini? atau ini semua adalah akhir dari segalanya?
Terus dan terus, pertanyaan itu berkecamuk di benak seluruh masyarakat kota.
“Ibu … aku takut,” ucap seorang anak kepada ibunya.
“Tenang saja, nak. Ibu yakin jika Tuhan tidak mungkin meninggalkan mereka.” Sedangkan sang ibu, mencoba menenangkan anaknya agar tidak membuat kepanikan.
Posisi Arley saat ini, sedang di tangani oleh dokter Hisyam. Setelah sebelumnya Arley sempat di obati olehnya, saat kejadian di arena [El-Colloseum] berlangsung.
“Dokter, bisakah tangannya kembali normal …?” tanya Sophie kepada sang dokter.
Ketika itu, seluruh sahabat Arley tengah berada bersamanya, demi mengetahui kondisi sang remaja saat ini. Mulai dari Eadwig, Rubius … Aurum, Sophie … Amylia, juga Misa … mereka semua berada di sisi Arley, kecuali Lily.
Saat ini, Lily berhasil di culik oleh Ifrit dan Lubrica. Sedangkan para iblis yang lain, tubuh mereka telah di angkut oleh Zorman, setelah ledakan maha dahsyat Arley, menghancurkan seperempat pasukan Raja Iblis, hangus dari peta benua [Horus].
Saat Arley sedang di periksa, tiba-tiba muncul seorang pixie yang tak ikut kabur bersama dengan iblis yang lainnya.
“Aurum nanon!” panggil si Pixie kepada sang sahabat.
“Helena …,” sapa Aurum dengan lembut, sebari ia membuka telapak tangannya untuk Helena beristirahat di atasnya. “Bagaimana kondisi di luar?”
“Orang itu sangat luar biasa nanaon! Kekuatannya mungkin setara dengan kedua kakek berjenggot putih itu nanon! Pokoknya luar biasa nanon!” jelas Helena dengan mata bersinar-sinar.
“Syukurlah,” Aurum menghela napas leganya sembari ia kembali duduk di sudut ruangan bunker.
Ketika itu, Eadwig dan Rubius menatap tak nyaman, memandang Helena dengan penuh curiga.
“E-ehm … Aurum … bukankah dia itu iblis …?” tanya Eadwig, takut-takut.
“Hey! Bekas iblis! Sekarang dia adalah teman kita,” tegas Aurum, yang memberikan penjelasan kongkrit kepada Eadwig.
“Laki-laki memang selalu berpikiran pendek, mereka tak bisa membaca situasi … inilah mengapa lelaki tak pernah peka dengan perasaan wanita.” ujar Amylia yang membantu pernyataan Aurum.
“Aaa … hahaha … baiklah kalau kalian berpikir demikian.” Tak lagi-lagi ingin mengganggu para wanita di situasi gentin seperti ini, Edwig memilih duduk di posisi yang paling jauh memantau situasi di dalam bunker, bersama dengan Rubius.
Beberapa saat kemudian, Dokter Hasyim telah usai memeriksa tubuh Arley. Tampak beberapakali ia menggelengkan kepalanya.
“Untuk saat ini, nyawa Arley tidak dalam kondisi berbahaya. Ia hanya kekurangan darah, maka dari itu, istirahat dan makan yang banyak adalah pilihat satu-satunya untuk mengembalikan kekuatan tubuhnya,” ucap sang dokter, lalu ia terdiam sejenak sebelum Dokter Hasyim melanjutkan statementnya. “Tetapi … yang menjadi permasalahan kali ini adalah, tangan tuan muda Arley ….”
Terkejut mendengarkan ucapan sang dokter, saat itu juga Amylia, Sophie, Aurum, dan Misa langsung bangkit dari duduk mereka, untuk mendengarkan lebih jelas perkara yang menjadi halangan untuk kesehatan tangan Arley.
“Ada apa dengan tangannya Arley, Dokter?” tanya Sophie dengan kecemasan yang sangat tinggi.
Dokter Hasyim kembali terdiam, ia melihat ke arah perawat Kardi, dan perawat Lody, untuk memastikan jika dirinya tak salah. Lantas, Kardi dan Lody menganggukkan kepala mereka, untuk membenarkan pernyataan sang dokter jika mereka tidak salah analisis.
“Untuk saat ini … tangan Arley tidak dapat bergerak seperti biasanya. Terlebih, kemungkinan besar Arley tidak akan pernah bisa menggunakan Sihir lagi, sebab aliran [Mana] pada telapak tangannya sudah terputus ….”
“APA?!” teriak Amylia, Sophie, Aurum dan Helena selepas mereka mendengarkan kabar buruk tersebut. Sedangkan Misa, dirinya hanya terdiam tak tahu harus berbuat apa.
Mendengar teriakan para wanita, Edwig dan Rubius langsung merapatkan barisan kepada kerumunan wanita.
“Hey, kenapa kalian berteriak?!” tanya Edwig yang tak tahu kabar terbaru tentang Arley.
Dokter Hasyim menelan ludahnya, sebelum dirinya mulai menjelaskan kembali mengenai kondisi tubuh Arley. Dirinya berpikir keras, mencari harapan untuk menyembuhkan tangan Arley.
“Jangan berkata bodoh!” Rubius membentak sang dokter, sebab ia tahu itu akan menghancurkan Aset Arley yang paling berharga.
Lalu, Eadwig menggerakkan tangannya untuk menutup mulut Rubius. “Lanjutkan, aku tahu ada hal yang ingin kau ungkapkan, wahai Dokter Hasyim.”
Sekali lagi, dokter Hasyim menelan ludahnya dalam-dalam. “Ya … aku tahu ada metode khusus yang bisa menyembuhkan tangan, tuan muda Arley … tetapi …,” gumam sang dokter sendirian.
“Tetapi …?” tanya Eadwig yang tak sabaran.
Dengan tatapannya yang tumpul, sang dokter seperti kehilangan jejak untuk memberikan saran yang cukup ambigu. “Tetapi … aku rasa di dunia ini tidak ada orang selain tuan muda Arley yang bisa menyembuhkan tangannya sendiri. kalian ingat, bagaimana cara tuan muda Arley menyembuhkan, nona Misa yang ada di sana?” tunjuk dokter Hasyim mengarah ke tempat Misa berdiri.
Seketika itu juga, mereka semua menatap Misa dengan bingung.
“Ketika itu … punggung nona Misa, dalam kondisi luka yang tak bisa di sembuhkan. Namun tuan muda Arley mampu meregenerasi sel-sel kulitnya dengan sebuah mantra yang aku tak tahu apa itu ….”
“AH!” secara serempak, mereka semua menyadari sebuah fakta yang begitu jelas.
Arley memiliki kemampuan penyembuhan diri yang sangat luar biasa, namun untuk bisa menyembuhkan dirinya sendiri, ini adalah kasus yang mereka semua tak tahu harus bertindak bagai mana.
“Aku tahu jika Arley bisa menyembuhkan orang lain dengan mantra sihirnya … tetapi … kembali lagi, ini adalah kasus yang sangat rumin, Arley tidak bisa mengalirkan energi [Mana-nya] untuk menyembuhak lukanya sendiri …,” cakap Rubius dengan analisa yang lumayan kasar.
Kondis sunyi kembali datang, tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menunggu Arley tersadar dari tidurnya.
Malam itu, Lenka setengah mati menahan gempuran musuh. Bulan yang biru, saat ini tampak begitu merah di mata Lenka. Darah yang menempel di wajahnya, mengharuskan Lenka terus bertarng walaupun lelah merambah pada dirinya
Lantas, apakah Arley bisa sembuh dari penderitaannya? Bisakah Lenka menghabisi seluruh monster yang ingin menghancurkan benua [Horus]?
Bersambung! ~
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------