The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 208 : Rapat Tingkat Tinggi!



not edited !


Tiga minggu telah beralalu semenjak insiden kebakaran itu terjadi. Saat ini, Arley dan keluaraganya sedang melakukan perjalanan untuk mengumpulkan barang dagangan.


Akan tetapi, perjalanan kali ini cuku berbeda dari perjalanan sebelumnya, sebab keluarga Tomtom, saat ini di temani oleh salah satu sahabat baru Arley.


Ya, di perjalanan kali ini, Varra akan ikut mencari bahan dagangan bersama Arley.


Di lain sisi, sedang terjadi sebuah keributan pada istana kerajaan [Palanita]. Akan tetapi, keributan ini bukan berasal dari dalam negara, melainkan sumber utamanya dari luar negara.


Telah masuk sebuah informasi yang menyatakan bahwa, Kerajaan [Exandia] telah secara resmi mengalami pergantian tahta kerajaan. Hal ini akan membuat gejolak baru di dunia pemerintahan dunia.


Siang itu, sang pemimpin kerajaan [Palanita] yang di kepalai oleh seorang wanita, tengah membahas masalah ini dalam rapatnya.


“Wahai hadirin sekalian, bagaimana menurut kalian mengenai pergantian tahta kerajaan [Exandia]? Apakah hal ini akan menggoyangkan kekuatan militer mereka?” tanya sang Ratu, yang ketika itu tengah duduk di atas singasananya.


Tampak meja panjang terbentang di hadapan sang Ratu. Meja itu di penuhi dengan orang-orang yang  paham betul masalah politik dunia, mulai dari perdana mentri, sampai pemegang kas negara. Mereka semua hadir di rapat kali untuk memilih sebuah keputusan penting, yang akan menentukan nasib negara mereka.


“Yang mulia … aku rasa kita tetap tak bisa bekerja sama dengan negara [Exandia]. Di lihat dari pemimpin baru mereka saat ini … saya menyarankan untuk kita tidak berkecimpungan dengan mereka … sampai pemimpin yang satu ini turun dari tahtanya.” Jelas sang mentri pertahanan, yang ketika itu menaruh curiga dengan kepemimpinan sang raja baru.


“Apa yang membuatmu berpikir demikian, wahai mentri pertahananku?” tanya sang Ratu, demi mengambil keputusan yang tepat.


Suasana semakin memanas, kala itu … tak ada yang tak sepakat dengan keputusan sang mentri pertahanan.


“Yang mulia … dahulu aku pernah bertemu langsung dengan beliau … orang ini sangatlah licik, aku tak tahu apa yang akan dia lakukan pada negara kita, jika yang mulia memaksakan diri untuk bergabung dengan persekutuannya …,” ucap sang mentri pertahanan sambil ia menundukkan kepala.


Sang Ratu kali ini merasa cukup puas dengan jawaban sang mentri pertahanan, Tetapi ia ingin mendengar solusi yang lain dari pada mentrinya.


“Adakah yang mau memberikan saran mereka, selain mentri pertahananku?” tanya sang Ratu. “Bagaimana menurutmu, wahai perdana mentriku?”


Sontak sang perdana mentri langsung bangkit dari kursinya. “Saya pribadi, saya sangat setuju dengan pendapan, mentri pertahanan. Dahulu saya juga pernah  bertemu langsung dengan orang ini … dan saya tak pernah menang jika berdebat dengannya. Bukan karena saya lemah dalam berdebat, tetapi cara orang ini memulai dan mengakhiri debat sangatlah kotor, yang mulia, Allyzabeth.”


“Engakau dikalahkah olehnya? Dalam masalah debat? Betapa liciknya orang ini sampai bisa mengalahkan orang yang paling pandai di negeriku ini …,” cakap sang Ratu sembar ia merubah bentuk duduknya. “adakah yang ingin kalian sampaikan kembali, sebelum rapat ini di tutup?”


Ketika itu tak ada suara yang terdengar. Para mentri merasa sangat bersyukur karena mereka tak jadi berkoalisi dengan negara [Exandia], akan tetapi, sebelum palu di ketuk, tiba-tiba muncul dua orang gadis yang memotong diskusi didalam rapat.


“Tunggu yang Mulia!” ucap salah seorang wanita yang kala itu tiba-tiba membuka pintu ruang rapat secara tiba-tiba.


Merasa kesal dengan kedatangan orang yang tak layak di ajak berdebat, seluruh mentri di ruangan itu langsung berdiri dari kursi mereka untuk melihat, siapa wanita sok pemberani ini, sampai ia bisa-bisanya memecahkan fokus didalam rapat.


“Anda siapa …?” tanya sang Ratu, yang ketika itu terlihat terarik dengan apa yang akan wanita itu sampakan.


Berjalanlah kedua wanita itu tanpa menghormati para mentri yang duduk di kursi dewan, mereka berdua mendekat ke hadapan sang Ratu, sampai akhirnya mereka berdua melakukan duduk hormat, untuk memberi salam tertinggi kepada pemimpin kerajaan ini.


“Maafkan diri hamba atas kelancangan ini, yang mulia Ratu. Tapi hamba rasa … saran yang hamba akan sampaikan ini akan menarik perhatian yang mulia Ratu,” ucapnya sambil tersenyum tipis.


“Hoo … saran yang bisa menarik perhatiaku, kamu bilang?” tanya sang Ratu, yang ketika itu juga sedikit tertarik dengan pembahasan ini. “Baiklah … mari kita dengarkan saran darimu, wahai gadis cantik.”


“Terima kasih yang mulia!” tutur sang wanita sambil ia kembali memberikan penghormatan tertinggi kepada sag ratu. “Sebelumnya … hamba ingin memperkenalkan diri hamba, dan rekan hamba yang berada di sebelah kanan sini.” Kala itu, sang wanita berbaju penyihir tersebut kembali berdiri sembari ia membuka topi kerucutnya.


“Perkenalkan hamba yang mulia, Hamba adalah Yufia Klippa. Salah seorang anak keturunan bangsawan dari negeri [Exandia], dan merupakan pengajar tetap di, Vennsylvedenburg Imperial Magic School,” ujar Yufia, yang saat ini telah menjadi guru di sekolah penihir. “sedangkan teman hamba yang satu ini, yang mulia.” Ketika itu, Yufi mempersilahkan sahabatnya untuk memperkenalkan dirinya juga.


“Perkenalkan Hamba yang mulia … Hamba adalah, Nina Purples, dari keluarga bangsawan di negeri [Exandia].” Jelas Nina dengan suara pelannya.


Sontak, selepas keduanya memperkenalkan diri, seketika itu juga seluruh mentri yang duduk di kursi dewan langsung berdiri dari tempat mereka.


“Bangsawan dari kerajaan [Exandia]?! Bukankah kalian ini sama saja dengan mata-mata?! Apa yang VenBurg Pikirkan, bagai mana bisa mereka merekrut kedua orang ini!? benar-benar tidak beradab!” bentak perdana mentri yang tak suka dengan Yufi dan Nina.


Lantas, tiba-tiba sauara keributan itu langsung terpecah, akibat amarah sang Ratu .


“DIAM! Sejak kapan aku menyuruh kalian untuk berdiri, juga berbicara?! Kalianlah yang tidak beradab!” bentak sang Ratu sambil ia menunjuk seluruh mentrinya dengan tongkat sihir berwarna emas yang ia pegang dengan tangan kanan.


Tiba-tiba, seluruh mentri terdiam kaku, tak ada satu pun dari mereka yang berani menentang sang Ratu. “M-maafkan hamba, yang mulia Ratu …,” ucap sang perdana menteri, yang ketika itu langsung duduk di kursinya kembali. Demikian pula dengan para mentri yang lainnya, mereka tak mampu menentang perkaaan sang Ratu, sebab, nyawa mereka saat ini berada di tangan kanan sang pemimpin sidang.


Yufi dan Nina, yang ketika itu berdiri tegap sembari melirik ke arah para mentri kerejaan [Palanita] sejenak memeletkan lidah mereka, untuk mengejek orang-orang sok penting tersebut.


Para mentri yang melihat tingkah laku Yufi dan Nina pun merasa semakin kesal, mereka benar-benar merasa di lecehkan dan di hinakan oleh kedua wanita ini, tepat di depan orang yang mereka tak ingin memberikan pandangan jelek kepadanya.


“Baiklah … silahkan lanjutkan apa yang ingin kalian sampaikan kepada kami, wahai wanita-wanita cantik, dari kerajaan [Exandia], aku persilahkan ….” Sang Ratu mempersilahkan Yufi dan Nina memulai apa yang akan merkea berdua ceritakan.


“Baiklah yang mulia.” Sontak, raut wajah Yufi langsung berubah 180 derajat. “Sesungguhnya … saat ini kerajaan [Exandia], sedang dalam masa kehancurannya, Yang mulia Allyzabeth, dan jika kita melakukan penyerangan ke negara [Exandia] dalam waktu dekat, hamba yakin, kerjaan [Palanita] pasti akan memenangan pertempuran!”


Kalimat yang menarik itu pun terucap dari mulut Yufi. Wajahnya tersenyum lebar saat menyampaikan informasi rahasia tersebut.


“Apa?! Benarkah apa yang kau ucapkan itu, wahai penyihir muda?!” ucap sang Ratu, sembari ia memasangkan wajah terkejut yang sangat teramat mencekam.


Saat seluruh Mentri yang berada di dalam ruangan rapat mendengar apa yang Yufi katakan, dengan sendirinya mereka membuka lebar-lebar kedua mata mereka. Seperti, mereka baru saja melihat harta yang di bentangkan oleh seorang juragan emas, untuk di pungut dan bagikan kepada siapa saja yang menginginkannya. Lalu secara tiba-tiba, emas itu di sapu bersih oleh ombak laut yang menelan segalanya.


Apa yang Yufi dan Nina pikirkan, sampai mereka berniat menghancurkan tanah air tempat mereka di lahirkan?! Dan apakah tindakan yang Ratu Allyzabeth akan lakukan setelah ia mendengarkan berita ini?


Bersambung ! ~


.


.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


.


.


.


.


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


.


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


.


.


.


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


.


.


.


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


.


.


.


Baiklah!


.


.


.


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


.


.


.


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


.


.


.


Have a nice day, and Always be Happy!


.


.


.


See you on the next chapter !


.


.


.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


.


.


.


.


.