The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 33 : Identitas



***


Membayangkan hal tersebut membuat wajah Nina pucat.


Beberapa saat terjadi keheningnan, kemudian Nina kembali melanjutkan kisahnya.


***


Sang istri mengutuk keras wanita selingkuhan yang merebut suaminya untuk mati saat itu juga. Tetapi hal unik terjadi.


Menurut kisah, wanita simpanan sang bangsawan adalah wanita yang sangat taat kepada Tuhan, ia tidak pernah sehari pun lepas dari beribadah dan berdoa kepada tuhan.


Bahkan isu yang beredar berkata setelah ia menikah pun, ia masih mendapat rahmat dari tuhan.


Sang wanita masih bisa menggunakan sihir penyembuhan kepada khalayak masyarakat


Tetapi semua itu berubah pada malam di mana suaminya di jadikan tumbal.


Malam itu, kebetulan sang wanita selingkuhan sedang berdoa di dalam gereja, di malam yang sunyi itu, datang sebuah suara yang ia tidak kenali.


Tanpa aba-aba kutukan itu datang dalam wujud asap berwarna hijau, kemudian Asap itu berusaha memasuki tubuh sang wanita dengan cara apapun.


Sang wanita yang ketakutan, langsung meminta pertolongan kepada tuhan, seperti sebuah mukjizat tiba kepadanya, Asap hijau itu tidak bisa memasuki tubuhnya.


Terbakar bagaikan gas yang di sulut api, Asap itu perlahan menghilang dari hadapan Sang wanita.


Alhasil kutukan itu tidak dapat mengenai dirinya, itu lah yang sang wanita fikirkan ketika semuanya telah usai, tetapi kutukan itu ternyata mengenai sang janin yang ada di perutnya.


***


Sontak Misa terkejut “… Eh!? mengenai sang janin!? Wanita itu sedang mengandung?"


Nina mengambil tangan kanan Misa, kemudian ia menggenggam tangan tersebut sambil melanjutkan kembali kisah tersebut.


***


Tidak hanya itu, Sang anak lahir dengan selamat, Tetapi, konsekuensi dari melahirkan anak yang terkena kutukan itu adalah, sang ibu harus melepaskan nyawanya.


***


“!!?” Misa lagi-lagi terkejut, air matanya mengalir hebat. wajahnya tak beraturan, bibirnya bergetar.


Saat itu Nina memahami jika Misa adalah orang yang sangat sensitif dan berperasaan, bagaimana mungkin hanya dari kisah ini saja ia bisa menangis seperti demikian.


“… M-misa ....!?”


Air mata dengan deras membanjiri wajah Misa, pipinya merah merona di iringi dengan kerutan di alis matanya.


“... Hiks … unn ... Aku tidak apa-apa Nina ... Lanjutkan, Lanjutkan kisahnya ….”


Misa memohon Nina untuk melanjutkan kisahnya.


“E-euh ... baiklah …."


Nina terpaksa melanjutkan kisah yang unik tersebut. tidak, lebih tepatnya ini adalah bergosip.


***


Lalu menurut isu yang beredar, Ketika sang anak terlahir ke dunia ini, Ia mendapat kutukan dengan tanda rambut berwarna merah darah.


menurut kabar burung, rambut itu terbentuk akibat darah sang ibu yang mengorbankan nyawanya untuk sang anak.


Sang anak akhirnya hidup sebatang Kara di dunia ini.


Selepas meninggal nya sang ibu, Isu tak jelas melebar dengan cepat bagaikan kobaran api, berita ini tersulut dengat cepat ke seluruh pejuru desa.


Dalam obrolan masyarakat banyak yang berspekulasi liar.


Diantaranya adalah masyarakat berasumsi sendiri, bahwa sang anak terkutuk menjadi monster yang menghisap darah ibunya sampai habis ketika berada di dalam kandungan.


Dengan kata lain kutukan sang istri bangsawan, tidak lah 100% meleset, hal itu semua terjadi karena dosa dari ibu sang anak yang mengambil suami orang lain.


Setidaknya inilah yang di sebarkan oleh pembuat isu tersebut. kalau di telusuri dengan saksama, Isu itu di sebarkan oleh para ibu-ibu yang membenci suaminya bermain wanita di belakang mereka.


Jadi aku yakin isu ini di gunakan untuk pembenaran diri bagi para ibu-ibu yang suaminya di perebutkan orang lain.


Semenjak itu, warga menghujat sang wanita yang telah wafat ... Ia di hujat dengan tuduhan tuhan tidak akan mau melindungi seorang istri simpanan.


***


Misa tertegun, tak sadar jari tengah nya menyentuh bibir nya sendiri, seperti ingin menutupi bibirnya yang agak terbuka sedikit.


"(-T-tunggu dulu ... Kisah ini, sepertinya aku pernah mendengarkan kisah seperti ini ... Tetapi di mana ya ...?)"


Penuh dengan pertanyaan, Misa memilih untuk tetap memperhatikan cerita yang di Kisah kan oleh Nina.


***


Tetapi hal itu bukanlah hal yang terburuk dalam realita yang sebenarnya.


Yang menjadi hal paling mengejutkan adalah, matanya. Mata dari anak itu menunjukkan Aib yang sangat memalukan untuk seluruh orang yang mengetahui rahasia umum ini.


Mata sang anak meninggalkan bekas jejak DNA yang bisa kita ketahui hanya dengan sekali lihat, Ya, Mata dari sang anak adalah merupakan peninggalan DNA dari sang ayah.


Dengan jelas genetik sang ayah benar-benar ada di dalam darah sang anak.


Mata itu memiliki retina berwarna Hijau Zambrud, sama persis dengan yang di miliki oleh Ayah nya.


***


Kedua kaki Misa terhentak ke bumi, ia terkejut dengan ucapak Nina.


Kemudian Misa berkecamuk dengan fikiran nya sendiri.


"(Tunggu-tunggu!! Tidak mungkin, ciri-ciri anak yang di jelaskan Nina ... Mengapa ciri-ciri itu sama dengan anak itu ....!!!?!)"


"E-eh??? M-Misa!?! Kamu kenapa Misa??!?"


"Lanjutkan!!"


"Eh!?!"


"Lanjutkan kisahnya!!" tegas Misa dengan lantang.


Jawab Nina dengan keras, kemudian Nina melanjutkan kisahnya.


***


Kita semua yang tinggal di kota ini, atau mereka yang mempunyai title dari kerajaan, pasti tahu akan hal ini.


Pria bermata hijau dan satu-satunya keluarga yang memiliki mata hijau, dia adalah anggota keluarga langsung dari kerajaan [eXandia].


lebih tepatnya, dia anak dari pangeran Hexza Gormik yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu."


***


Hening, suasana benar-benar menjadi hening. Kemudian keheningan itu terpecah oleh teriakan sadis Misa.


"-HEEEEEE!!!!?! "


Terlompat dari kursinya, Nina terkejut setengah mati akibat mendengarkan teriakan Misa.


" M-Misaaa!!! Ada apa sih dari tadi kamu bertingkah aneh!!"


"-N-Nina ... Seharusnya kau tidak menceritakan hal sepeting ini kepadaku, S-siapa, Siapa lagi yang pernah kau pernah ceritakan tentang kisah ini?"


"Haa? Maksudnya? Hal penting?"


“I-ini berita besar, Kau seharusnya ceritakan hal ini kepada pihak kerajaan!!!”


"H-Heee!? Kenapa?!? Ada apa memangnya??!?"


Misa memegang erat pundak Nina, kemudian ia mencoba untuk menjelaskannya.


"Nina! Dengarkan baik-baik ... Kejadian yang kau ceritakan itu pasti terjadi sekitar lima tahun yang lalu kan!?"


"-He ...!? K-kamu tahu dari mana Misa?! Sepertinya aku belum menceritakan hal itu!!"


Kemudian kali ini Misa mulai mengambil alih cerita yang Nina barusan sampaikan.


"Nina, pasti anak itu di rawat oleh seorang biarawati, dan beberapa minggu yang lalu, ada pegawai pemerintah yang datang untuk mengecek kebenaran itu kan?!"


Tak dapat berbicara, matanya melotot, mulutnya menganga.


Nina terkejut mengapa Misa bisa tahu akan hal itu.


Padahal kisah yang ia ceritakan adalah rahasia yang hanya keluarga kerajaan saja yang mengetahuinya.


"M-misa ... Kamu ...."


Matanya memandang dengan penuh kejujuran, Misa yakin ia tidak salah orang.


"Dengarkan Nina ... pasti orang yang pemerintah kirim adalah Uskup Agung Steven Benedict ...."


"!!!!?!"


"Nina ... Anak yang kamu maksud ... Aku rasa aku mengenal anak tersebut ...."


Misa dan Nina, kali ini mereka berdua sangat terkejut dengan fakta yang mereka dapatkan.


"Kau kenal anak itu!!?"


Mengangguk, Misa mencoba untuk menyambungkan teka-teki anak misterius ini.


"Anak kecil yang telah kehilangan kedua orang tuanya, terlahir dengan kondisi rambut berwarna merah darah, juga mata yang berwarna hijau zambrud ... Semua hal itu sangat cocok dengan penampilan anak ini."


Misa mengambil nafas nya, lalu ia melanjutkan analisis nya.


"Kemudian kedatangan Uskup Agung secara dadakan ke desa kami juga merupakan tindakan Abnormal yang sedari awalnya aku sudah curiga ... Alasan mereka datang ke desa [Durga] untuk mencari bakat anak-anak yang bertalenta, kemudian akan di sekolah kan di ibu kota. Hal itu hanyalah omong kosong belaka. dari awal aku tidak pernah percaya dengan alasan itu"


"M-misa ... Jika yang kau katakan benar ... Ini bisa menjadi kabar yang menggemparkan ...."


Misa kemudian mengeram tangannya, ia yakin sekali jawabannya kali ini pasti benar.


Kemudian dengan wajah serius, Misa mengungkapkan segalanya.


"Nina ... Kau tahu siapa nama anak itu ....?"


Tanya Misa kepada Nina untuk memastikan hal yang sangat krusial.


"GULP!" Nina menelan Ludahnya dalam-dalam, jantungnya berdegub kencang, seperti ia belum siap menerima kenyataan itu...


"-Namanya adalah .... -"


"~DAP!" Tiba-tiba kecakan kaki seorang wanita terdengar dengan jelas dari arah luar taman.


Semakin lama decakan kaki itu semakin keras.


Fokus Misa dan Nina pun teralihkan ke sumber decakan tersebut.


Dari kejauhan tampak wajah yang mereka berdua sangat kenal, tetapi ada hal yang berbeda dari wanita itu.


“MISA!!! NINA!!!” teriak Yufi dengan sangat lantang.


Ekspresinya begitu cemas, seperti ada suatu kejadian yang telah terjadi, Misa pun tertegun tegang.


“Y-yufi!! Kemana saja kamu-“


“MISA!! Ini kondisi darurat!!! cepatlah ikut denganku sekarang juga!! Ada sebuah kejadian yang berhubungan denganmu!! Informasi ini telah tersebar ke seluruh penjuru kota!!!”


Perasaan tidak enak mulai muncul perlahan dari lubuk hatinya.


Misa terdiam setelah memperhatikan dengan saksama wajah yang Yufi tunjukkan.


Kali ini ia yakin, Yufi sedang tidak bermain-main atau bercanda. seketika itu juga dada Misa terasa sesak dan sakit.


“A … apa maksudnya ….?”


“SUDAH!! CEPATLAH IKUT DENGAN KU!!!”


Misa saat itu tidak tahu apa-apa, ia hanya mengikuti perintah Yufi.


***