The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 136 : Alasan Untuk Berkumpul.



Jauh di belakang Arley. Dua puluh orang tengah berlari mengejar anak berambut merah itu, dengan kecepatan penuh.


Kaki mereka tak berhenti menjejak lantai, demi menghempas cepat, menuju lokasi Arley berada. Warna jubah yang beragam corak, menghiasi jalanan utama kota, seperti pawai di waktu yang tidak tepat.


“Rubius! Kau melihat Arley dari atas sana?!” tanya Eadwig, sambil ia berlari.


Dengan telitinya Rubius menatap jauh—tepat menuju sudut Selatan. Akan tetapi, dirinya tak menemukan posisi Arley dalam jangkauan matanya.


“Aku tak tahu! Tak ada yang bisa aku pantau dari atas sini. Hanya ledakan dari tembok Selatan saja yang aku bisa lihat!” jawab Rubius sembari ia terbang dengan sihir udara.


Rubius merasa cukup cemas ... demikian pula dengan Eadwig, Aurum, dan juga Amylia. Mereka tahu betul seberapa cerobohnya Arley jika dirinya; telah masuk dalam mode bertarung. Hal itu bisa dikaji dari pertempuran terakhir mereka, ketika melawan Monster Misa.


“Semoga dirinya baik-baik saja …,” gumam Aurum yang menunjukkan raut wajah khawatir.


Lantas, ketika mereka semua tengah berlari. Timbul pertanyaan dari seorang 'Darwin Menangle' yang dirinya adalah salah seorang anggota, dari tim, The Red Lion.


Itu artinya, Eadwig adalah ketua dari tim tersebut.


Dirinya bertanya di dalam keheningan yang terjadi. “Anu … Yang Mulia Eadwig, bolehkah hamba bertanya sesuatu?” Muncul Darwin dari arah belakang Eadwig—melaju menuju posisi samping kirinya.


“Darwin?” sahut Eadwig yang sedikit terkejut. Ia tak menyangka, jika orang yang sependiam Darwin, akan bertanya disaat genting seperti ini.


Sejenak Darwin melirik kesal, tepat ke arah pundak belakangnya. Ia mengecutkan wajah terhadap ketiga kawannya itu. Dirinya kesal karena ia terpaksa menanyakan hal tersebut.


Semua ini terjadi karena Darwin telah kalah suit dengan kawan-kawannya yang lain.


“Begini Yang Mulia,” cakap Darwin, “mengapa kalian berempat bisa begitu dekat dengan pemuda bernama Arley ini? sedangkan ... kalian baru kenal dirinya selama empat hari yang lalu ...,” cetus Darwin yang tak enak menanyakan hal tersebut.


Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang Aurum—yang juga memiliki pendapat kembar, dengan pertanyaan Darwin. “Aku juga sebenarnya ingin menanyakan hal tersebut!” tanya Cozkun Denis. Salah seorang anggota dari tim, Yellow Eagel.


Ternyata bukan hanya anggota Yellow Eagle dan The Red Lion saja yang ingin menanyakan hal tersebut. Seluruh anggota The Blue Whale dan Green Gorgon, juga memiliki pertanyaan sebanding, dengan pertanyaan Darwin.


Namun mereka segan, bertanya di waktu yang singkat ini.


Saling menataplah keempat orang tersebut. Rubius yang tadinya terbang tinggi, kali ini ia turun merendah demi membicarakan hal tersebut. Sedangkan Aurum dan Amylia, tertawa geli selepas mendengarkan pertanyaan seperti itu.


Keenam belas orang tersebut dibuat semakin pusing, mereka masih menunggu jawaban dari keempat Tim Leader mereka kala itu.


Lantas, Eadwig menjawab pertanyaan mereka dengan senyuman halus pada wajahnya. “Sejujurnya ... aku sendiri tak tahu sejak kapan aku berteman dengannya. Mungkinkah saat pertama kali kita bertarung melawan Arley?” jawab Eadwig, yang dirinya juga merasa bingung, “ tidak, aku rasa kami sudah menjadi teman saat kami pertama kali bertatap mata.”


Tiba-tiba Aurum masuk ke dalam percakapan Eadwig. “Eh? Kalian sempat bertatap mata? Sejak kapan!?” Aurum bertanya dengan nada curiga.


“Hmm, kalau tidak salah … saat hari pertama pertandingan, di ruang pentagon. Saat itu, Arley sedang terikat oleh tipu daya Maximus. Dirinya yang polos terlalu gampang menerima pertemanan yang tak kenal rentang umur. Ya, semenjak saat itu, aku cukup tertarik dengan dirinya!” jawab Eadwig sembari mereka berlari kencang.


“Tapi … aku rasa bukan hanya itu yang membuat aku ingin berteman dengannya …,” ucap Eadwig sembari termenung mengingat akan kejadian itu. “Ini hanya pendapatku saja ya, aku tidak tahu apa yang kalian bertiga pikirkan,” Sekilas Eadwig menatap ketiga sahabatnya itu.


“Arley Benedict … entah kekuatan apa yang bersemayam di tubuh anak itu … tapi aku rasa, kekuatan itulah yang membuatku cukup tertarik kepadanya,” ucap Eadwig sebelum ia terdiam sejenak.


“Kekuatan anehnya itu … seperti menarikku untuk ingin tetap berada di dekatnya, dan mendapatkan perlindungan dari dirinya …,” jawab Eadwig sembari ia tersenyum halus.


Seketika itu juga, keempat belas orang tersebut, cukup terkejut ketika mendengarkan penjelasan Eadwig. Mereka tak menyangka, Eadwig of Simbad, titisan manusia paling pemberani di muka bumi ini. Memiliki rasa respek begitu tinggi terhadap remaja yang baru saja memasuki masa puber.


“Aku juga sependapat dengan Eadwig,” ucap Rubius sembari ia melayang di udara, “aku merasa seperti ingin mengikuti kemana pun Arley pergi, bahkan jika nyawaku harus menjadi taruhan. Aku bersedia memberikannya kepada Arley.” Rubius dengan penuh keterbukaan, menunjukkan rasa loyalitasnya kepada sang sahabat.


Kemudian Amylia tertawa anggun menanggapi perasaan kedua sahabatnya kala itu. “Hey, sepertinya kita bertiga satu hati! Aku juga demikian!" jawabnya dengan lugu, "aku ingin melindungi Arley dengan segenap kekuatanku, entah mengapa … aku merasa jika Arley adalah seorang adik yang sangat aku sayang!”


Tiba-tiba, mencuat kalimat cemburu dari mulut Aurum, “Hey! tapi sayangku terhadapnya tak akan mampu kau lawan, Amylia!” cetus Aurum yang merasa tersaingi.


Sontak, keempat anggota tim Aurum, langsung terkejut dengan ungkapan hati sang ketua tim.


“EEEEEEEE!? KAU MENCINTAINYA?!” pekik keempat orang tersebut secara bersamaan, “SEJAK KAPAAN!?” Tampak mereka berusaha menyudutkan Aurum dengan serbuan ekspresi penasaran.


Seketika itu juga, wajah Aurum mulai memerah merona. “E-eum … s-semenjak … semenjak aku menatapnya pertama kali, s-saat, di ruang tunggu pentagon." gumamnya menahan malu, "kala itu, aku hanya sekilas menatap wajahnya. Namun, entah mengapa aku langsung jatuh hati dengan dirinya …,” jelas Aurum.


Wajahnya telah berubah warna menjadi merah jambu, bagaikan kulit udang yang telah direbus matang.


Keempat anggota tim Aurum pun terperangah tak percaya. Semua itu bagaikan sambaran petir yang menyetrum diri mereka berempat—setelah mereka mengalkulasikan pautan umur, antara Aurum dengan Arley.


Lantas, terkekeh gelak tawa seorang pria, yang nada suaranya cukup tebal. “Bahahaha! aku tak menyangka jika kau suka pria yang lebih muda, Aurum!” pekik Aslan Basir, yang merasa geli dengan sikap ketua timnya kala itu.


“Polisi! Tolong tangkap wanita satu ini!” Bamsi ikut menyiram racun pada keadaan yang tengah terjadi.


“Erhm … aku tak menyangka jika ketua adalah orang yang seperti itu …,” gumam Cozkun Deniz, yang memalingkan wajahnya dari sang ketua tim.


Tertekan, dirinya merasa malu dan wajahnya semakin memerah padam. Aurum menjadi sangat kesal dengan sikap ketiga anggota timnya kala itu.


“KALIAN SEMUA ...! BEEERIIISIIIK!” teriak Aurum yang kepalang kesal dengan sikap mereka bertiga. Lantas, Aurum merapalkan mantra sihirnya untuk membenamkan mereka bertiga, akibat kedongkolan yang meluap tak terbendung.


Tertinggallah mereka berempat dari rombongan yang tengah berlari. Namun, beberapa saat kemudian mereka berhasil kembali masuk ke dalam barisan yang Eadwig pimpin.


Tampak wajah Bamsi dan kawan-kawannya, sudah bonyok dan lebam.


Lanjut, kali ini; Elenara Sedar-lah, yang mengajukan pertanyaan kepada Aurum. “Apakah itu sebabnya dirimu melepas kacamata? dan menggantinya dengan lensa kontak?” tanya Elenara, yang dirinya adalah; satu-satunya anggota Perempuan pada tim, Yellow Eagley, selain Aurum.


“U-umm ~,” jawab Aurum sambil menganggukkan wajahnya yang kembali memerah.


Seketika itu juga, seluruh orang yang mendengarkan percakapan tersebut, langsung tersenyum lembut. Seperti ada bunga yang tengah mekar—persis di dalam hati mereka.


.


.


.


***


.


.


.


Mereka sudah berlari cukup lama. Mungkin sudah setengah jam lebih mereka berusaha mengejar Arley.


Sesekali mereka melihat ada bangungan yang terbelah rubuh, dengan bentuk yang cukup aneh. Juga, beberapa mayat monster tampak tergeletak, membisu tak berdaya.


Akan tetapi, yang membuat diri mereka begitu terkejut adalah, terciptanya jurang raksasa dengan panjang satu kilo meter, dan kedalaman empat puluh meter lebih.


“A-apakah … anak itu yang membuat lubang ini?!” gumam Bamsi yang terkejut hebat.


Namun, bukan hanya Bamsi merasakan hal tersebut. Keenam belas orang lainnya juga mempertanyakan hal yang serupa, di dalam benak mereka.


Tersenyumlah Eadwig, Rubius, Amylia, dan Aurum. Mereka sudah bisa memastikan—tidak ada orang lain yang mampu membuat lubang sebesar ini, selain Arley.


Malompatlah Rubius ke atas udara. Dirinya terbang menuju ketinggian lima belas meter. Sejenak ia berhenti pada ketinggian tersebut.


“Bagaimana Rubius! Apakah kau melihatnya?!” tanya Eadwig kepada Rubius.


Belum sampai satu detik Eadwig menanyakan hal tersebut. Tiba-tiba saja, sebuah ledakan maha dahsyat menghancurkan sekeliling kota, dalam sekali letupan yang begitu mengerikan.


Ledakannya sampai bergerak merambah—menuju pada tempat Eadwig dan rekan-reaknnya berdiri.


“SEMUANYA! MUNDUR KEBELAKANG!” teriak Eadwig dengan penuh kepanikan.


Melompatlah mereka semua secara refleks. Demikian ledakan itu menghancurkan tempat berdiri mereka sebelumya. Beruntungnya tak ada orang yang terluka akibat ledakan tersebut.


“Apakah Arley yang melancarkan serangan tersebut …?” tanya Eadwig sembari ia berusaha bangkit dari telungkupnya.


Tetapi, lagi-lagi mereka dibuat terkejur dengan kegilaan yang tercipta—tepat di depan mata kedua puluh orang tersebut. Melototlah mereka semua yang merasakan kejadian absurd ini.


Jurang yang sebelumnya terpapar di hadapan mereka. Sekarang telah berubah, menjadi kawah dengan kedalaman dua ratus meter, menjulang ke dasar bumi.


Demikian tepat di tengah kawah tersebut, berdiri seorang remaja tanggung, yang memiliki rambut merah dan jubah putih terpasang pada tubuhnya. Dirinya tengah menyodorkan tongkat sihir, pada segerombolan iblis yang terbang tak jauh dari hadapan sang remaja.


“ARLEY!” pekik Eadwig dan ketiga sahabatnya setelah melihat keberadaan orang yang mereka cari.


Untungnya, tak tampak luka pada tubuh Arley, walaupun bajunya terlihat sedikit lusuh dan rombeng. Namun, saat ini Arley terlihat dalam kondisi yang cukup sehat.


Apa yang Arley sedang lakukan? Dan apa yang akan dilakukan oleh regu penyelamat dalam kondisi seperti ini?!


Bersambung ….


***


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!