
not edited !
Terpisah dari pusat kericuhan, lokasinya cukup jauh dari kawah raksasa yang Arley ciptakan beberapa waktu lampau.
Kala itu, empat orang tengah berlari dari kejaran iblis goblin bermata satu.
Goblin itu berbeda postur dari goblin yang tengah menyerang ibu kota, tubuhnya lebih tinggi dibandingkan mereka, bahkan tingginya menyerupai pria dewasa. Sektiar 170-175 CM.
Tubuhnya kekar, dan memiliki rambut panjang, di kepang kuda seperti seorang samurai jepang. Sedangkan mata yang tertutup satunya, memiliki bekas luka yang cukup dalam seperti terkena sabetan pedang.
Tersengal-sengal keempat orang itu berlari menjauhi sang iblis. Jubah hijau mereka menjuntai-juntai akibat terkena terpaan angin berlari mereka sendiri. Wajah mereka cukup pucat untuk bisa bertarung melawan sang iblis.
Dalam kepanikan yang mereka alami, sang iblis berkomentar mengenai sikap mereka ketika menghadapi musuh. Dengan wajah kecewa, sang goblin membuang ludah dari posisi ia terbang.
“Saya tak menyangka jika kalian adalah manusia yang pengecut. Sepertinya saya telah salah memilih penentang.” ucap sang goblin dengan intoasi suara yang begitu kuno. Tampak jika dirinya adalah orang yang berasal dari generasi tempo dulu. Demikian hal itu bisa di lihat dari cara ia berpakaian.
Kala itu, tersemat seragam tradisional pada tubuh sang iblis—dengan selempang adat tersingkap pada lehernya. Sebilah pedang rakasasa yang sang goblin gantung di punggung bagian belakang, terlihat cukup usang dan berkarat, layakya tak pernah ia rawat selama pemakaian pedang tersebut.
Demikian juga, tampak mutiara merah terbenam pada dahinya.
Dari mutiara merah itulah sumber kekuatan sihir sang goblin berasal. Pada dasarnya, makhluk goblin adalah makhluk yang tak memiliki kekuatan sihir. Hanya mereka yang menggunakan [Magic Item] sajalah yang mampu menggunakan kekuatan sihir.
Sang goblin yang mengejar keempat manusia itu, adalah ketua dari ribuan kepala suku ras goblin, yang saat ini tengan menghancurkan benua [horus], dan menyerang ibu kota [Lebia]. Sudah menjadi adat pada hukum tak tertulis bagi mereka, jika goblin terkuat adalah pemimpin para goblin lainnya.
Dalam kondisi terengah-engah, seseorang dari kelompok berbaju hijau itu akhirnya membuka pembicaraan. “Kenapa dia masih saja mengejar kita!?” ucapnya dengan penuh penyesalan. Terlintas pada benaknya jika seharusnya mereka tak mengikuti regu penyelamat ini.
“Bodoh! Ini bukan saatnya untuk memkirkan hal itu, bukankah kita sudah berjanji akan memulai seagalanya dari awal!?” Salah seorang dari mereka, yang memiliki rambut hitam legam dan perponi cukup panjang untuk menutupi sebelah matanya. Mencoba menenangkan ketiga rekannya yang lain.
Sedangkan kondisi kedua teman yang lainnya, mereka hanya diam dan berusaha sebisa mungkin untuk terus berlari, dan menjauh dari sang goblin.
Kembalilah sang goblin meludah dari ketinggian. Pada mulutnya yang tengah mengunyah sebatang daun hijau, ia lepehkan untuk memduahkan dirinya berbicara.
“Tampaknya, saya terlalu berharap banayak terhadap anda sekalian! Cukup! Saya sudah bosan dengan kejar-jekaran ini!” teriak sang goblin sembari ia melesat cepat menuju kedepan keempat orang tersebut.
Sontak, terlehtilah langkah mereka berempat, posisi mereka sudah tercegat dan tak bisa melarikan diri.
Merasa tak ada pilihan lain, lantas, mereka berempat langsung menarik tongka sihir mereka keluar, demi melawan goblin berwarna kulit hijau tua tersebut.
“Hoo ~ jadi anda sekalian akan menentang saya? Bagus, kenapa dari tadi tidak seperti ini saja …?” Usai dirinya berbicara, sang goblin menarik keluar pedang raksasa yang tersemat pada punggung belakangnya.
Ia menarik pedang itu hanya dengan satu tangan. Akan tetapi, setelah ia menarik pedang tersebut dan ia hujamkan ke dalam tanah, kondisi tanah pada sekeliling sang goblin langsung retak dan buyar, akibat beratnya pedang berwarna kuning karat itu.
Tentu saja keempat orang tersebut langsung ketakutan, wajah mereka beruabah menjadi pucat pasih. Namun ego dan harga diri mereka tak mau dikalahkan oleh rasa takut yang menusuk hati mereka saat ini.
“Semuanya, bersiap pada posisi tempur!” ucap rekan mereka yang berambut hitam dan berponi panjang.
“Laksanakan!” jawab mereka bertiga secara serempak.
Seusai mereka menyiapkan posisi tempur, keempat orang tersebut langsung berpindah posisi dan berpencar. Mereka berusaha sebisa mungkin untuk tidak berkumpul pada satu titik ketika melawan musuh yang mengenakan senjata tajam.
“Apa ini? Posisi bertrarung?” tanya sang iblis, yang kala itu alisnya naik sebelah, seperti ia tak percaya pada apa yang dirinya sedang lihat. “Kalian anggap ini adalah formasi pertempuran!? DASAR AMATIR!” Sang goblin tiba-tiba membentak mereka berempat dengan kesalnya.
Suaranya menggema begitu dahsyat. Namun, sesungguhnya suara bentakan itu adalah skill intimidasi dirinya, untuk membuat kendur semangat tempur si lawan.
Goblin adalah petarung yang licik, tak ada kata curang pada kamus bahasa mereka.
Tentu saja keempat orang tersebut merasa terintimidasi. Sontak, secara tergesa gesa, anggota tim Green Gorgon kala itu—merapalkan mantra sihir yang paling kuat dari daftar skill mereka.
Meluncur keluarlah berbagai macam elemen sihir dari ujung tongkat sihir mereka. Ada yang menyemburkan api, ada juga yang menyemprot air. Demikian ada yang menghujani sang goblin dengan butiran batu tajam. Dan salah seorang wanita di tim tersebut, ia merapalkan mantra sihir paling berbahaya dibandingkan mereka berempat.
Sang wanita tersebut, diriya merapalkan mantra sihir lava untuk menenggelamkan tubuh sang goblin, menggunakan lumpur Lava, yang dirinya ciptakan tepat di bawah kaki sang goblin.
Tetapi, semua itu ternyata hanya pembuangan energi[mana]secara sia-sia saja.
Seusai serangan simultan mereka berakhir, gumpalan asap membumbung tinggi ke atas langit. Diri mereka terdiam sejenak menatap gumpalan asap tersebut, sembari berharap, agar sang goblin sudah terkalahkan sebab serangan mereka barusan.
Tentu saja harapan yang mereka dapatkan hanyalah bualan semata.
Juga, dari hempasan angin yang tercipta, membuat bangunan yang berada di sekitar mereka runtuh sebab tebasan angin terlihat merambat, mengenai bangunan kota kala itu.
Terpukul melihat serangan mereka tak ber efek. Kaki mereka langsung melemas, sontak merubuh kan tubuh keempat orang tersebut dengan rasa takut yang berlebihan.
Tersenyum lebarlah sang goblin dengan gigi-gigi taringnya, terlihat begitu liar dan mengerikan. Ingin dirinya tertawa lepas menyaksikan kebodohan empat manusia yang berada di hadapannya kala itu.
Tetapi ia tetap menjaga postur wajahnya untuk menciptakan intimidasi yang lebih menyeramkan.
“Wahai manusia lemah, jika kalian anggap sihir kalian yang barusan adalah sebuah wujud penyerangan. Lalu, kalian anggap apa serangan yang akan aku lontarkan kepada kalian nanti?” Sembari dirinya mengeluarkan kaki dari dalam lava yang tercipta, dan kemudian berjalan mendekati si wanita yang paling meyakiti tubuh sang goblin kala itu.
Wajah sang iblis langsung berubah kejam, sambil mengeluarkan aura hitam dari dalam tubuhnya.
Ketakutanlah keempat orang tersebut, terutama sang wanita yang sedang berhadapan dengan dirinya.
“Wahai manusia angkuh! Kalian terlalu menganggap remeh sebuah pertempuran!” ujar sang iblis untuk menakut-nakuti mereka semua.
Sontak, iblis tersebut langsung meremas genggaman tangannya untuk merenggangkan sendi-sendi pada ruas jarinya.
Terdengar suara petikan sendi akibat perengganga yang ia lakukan.
“Rahul! Selamatkan Scylla!” teriak si pria berponi panjangn demi menyelamatkan rekan satu timnya.
Pria bernama Rahul, yang kala itu sempat bertarung dengan Rubius saat turnamen masih berjalan, tampak kaku menatap wajah sang iblis, sambil mengompol pada celananya.
Pria berponi itu masih belum menyerah, dirinya melirik ke arah rekannya yang lain, “Salsala! Apakah kau mendengarkan aku!?” pekiknya kepada sang wanita berambut pendek.
Akan tetapi sang wanita sama takutnya dengan ketiga orang yang lainnya.
Menyadari jika rekan satu timnya sedang dalam bahaya, seketika itu juga ia berlari menuju wanita bernama “Scylla Vorpol” tadi.
Seketika itu juga ia berusaha mendekat ke arah sang wanita. Tetapi, tiba-tiba saat dirinya berlari ke arah sang wanita berambut hitam panjang tersebut. Pria bernama “Hagrid Wheloy” tersebut, langsung di pukul kencang oleh sang goblin menggunakan punggung tangan kanannya.
Tubuh pria berponi panjang tersebut, langsung tertanam pada bangunan yang sebelumnya telah hancur. Kesadarannya masih terjaga, lamun dirinya tak bisa bergerak sebab luka yang dirinya derita.
Menyadari jika sang goblin semakin mendekat ke arah Scylla, Hagrid berusaha berontak dari kondisi kritisnya pada saat itu.
Namun semuanya sudah terlambat. Kepalan tangan sang monster sudah berada di atas lagit, siap menghujam kepala sang wanita.
Apakah yang akan terjadi dengan tim Green Gorgon selanjutnya?
Bersambung~
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!
Author akan merasa sangat berterima kasih!
dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!