The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 159 : Kekalahan Amylia!?



Not editet!


 


 


Ada sebuah peraturan yang raja iblis sempat tuliskan. Yaitu seluruh wanita dari segala ras, adalah anak buah dari ratu Succubus, mau mereka adalah Petinggi di ras mereka, ataupun komandan utama pasukan raja iblis sekalipun. Mereka semua harus tunduk dengan sang ratu Succubus.


 


 


Sebabnya? Yang paling rasional adalah demi meningkatkan tingkat kelahiran dari setiap ras, untuk menambah pasukan tempur sang raja iblis.


 


 


Ya, militerlah jawaban yang paling rasionalnya. Sedangkan sebab lainnya, tidak di pahami pasti.


 


 


Akan tetapi, dari seluruh ras yang hidup di muka bumi[Soros], hanya bangsa Elf-lah yang memiliki tingkat kelahiran paling sedikit. Sebab utamanya adalah, reproduski mereka tidak setimpal dengan makhluk hidup lainnya.


 


 


Walaupun demikian, mereka di berkati dengan umur yang panjang. Bahkan umur mereka saat ini lebih panjang di bandingkan seharusnya.


 


 


***


 


 


Saat itu, seluruh perhatian tertuju kepada Amylia. Kemarahannya sudah sampai di puncak, urat wajah mulai tampil menutupi kecantikan yang seharusnya.


 


 


Cukup mengerikan untuk di bayangkan ….


 


 


“Apa yang kau lakukan manusia …?” Kala itu, Lubrica tak memiliki rasa takut sedikit pun. Wajar saja demikian, karena Lubrica saat ini tengah berada di versi kekuatan penuhnya. Hasil hadiah sang raja iblis sebab dirinya begitu patuh dan menuruti perintah sang penguasa kegelapan.


 


 


Namun begitu juga sebaliknya untuk AMylia. Dia sama sekali tak takut terhadap Lubrica, Amarhnya sudah memuncak sebab kematian yang begitu mengenaskan di hadapannya.


 


 


“Kau anggap apa nyawa anak buahmu wahai Iblis lucah!” bentak Amylia yang sudah di ambang batas.


 


 


Terdiam sejenak mendengar perkataan AMylia, sang iblis tak tahu betul apa maksud dari pertanyaannya. “Siapa pun akan membuang sampah yang tidak berguna bukan …?” dengan entengnya dia mengucapkan hal tersebut.


 


 


Semakin melunjaklah amarah si putri[atargatis]. Perkataan itu semakin menyulut amarah Amylia sampai batas di atas puncaknya.


 


 


Kali ini muncul aura hitam dari sekujur tubuh AMylia, persis seperti apa yang para iblis itu pernah lakukan.


 


 


Tersentak melihat kejadian tersebut, Aurum ingin menegur Amylia atas apa yang tengah terjadi. Akan tetapi belum sempat dirinya melangkahkan satu kaki untuk menggapai Amylia, dirinya malah terhempas jauh sebab dorongan energi yang keluar dari sekeliling Amylia.


 


 


“Kyaaa!” teriaklah Aurum sebab hempasan energi[Mana] yang berlebihan tersebut.


 


 


Materialisasi dari energi[Mana]Amylia membuat perubahan suhu di sekitar dirinya. Tiba-tiba saja hujan salju terjadi.


 


 


Hal ini sempat terjadi saat dirinya melawan Karif sebelumnya. Namun kali ini jangkauannya lebih besar dari sebelumnya.


 


 


Terdiamlah Lubrica melihat kejadian tersebut. Dirinya tiadak panik sebab apa yang AMylia lakukan.


 


 


“Ini adalah mantra, Glacialis Exitosus, Bukan?” ucap Lubrica sambil tersenyum licik.


 


 


Sedikit tersentak, Amylia tak menyangka jika Lubrica bisa mengetahui Mantra sihir yang ia sendiri tak ingat namanya itu.


 


 


“Dari mana kau tahu mantra sihir ini …?” tanya Amylai dengan raut wajah yang mengerikannya.


 


 


Kali ini gigi lubrika tampak jelas. Ia tersenyum bangga atas apa yang ia lakukan.


 


 


“Kau … pasti memiliki darah dari Tsovinar bukan …?” celetuk si iblis wanita sambil menunjuk Amylia dengan jari telunjuk kanannya.


 


 


Betapa terkejutnya Amylia ketika mendengar ucapan si Iblis. Hal itu bisa di lihat dari mulut AMylia yang terbuka lebar sebab kalimat si succubus itu.


 


 


Menatap tajamlah mata AMylia sembari memendam beribu pertanyaan kepada sang iblis Lucah.


 


 


“Kau tahu … berkat pengabdianku kepada raja iblis. Saat ini aku memiliki umur yang sangat panjang,” ucapnya sambil melipat kedua tangannya. “Hey anak manusia. Dahulu … dahulu sekali, aku pernah bertemu dengan kakek buyutmu loh.”


 


 


Mata Amylia melotot lebar, ia hampir tak percaya dengan ucapan sang iblis wanita. Akan tetapi dengan apa yang sudah pernah ia alami belakangan ini, Amylia tidak serta merta mangambil kesimpulan secara prematur.


 


 


“Ahh dia adalah Lelaki yang begitu tampan, bahkan aku tak mampu melawannya saat itu.” Mata Lubrica menatap langit sore sambil mengingat waktu yang begitu lampau tersebut. “Jika saja Lebia tidak bersama dirinya, mungkin ia sudah menjadi budakku kala itu ….”


 


 


“Lebia …?” ucap Amylia tak mengetahui apapun.


 


 


Menolehlah sang iblis kepada AMylia. “Kau tak tahu siapa nenek buyutmu?” ucapnya sambil menggoda. “Nenek buyutmu adalah Lebia wahai manusia bodoh. Dahulu Tsovinar menikahi Lebia selepas mereka mengobrak abrik kastil raja iblis … ahh pengalaman yang begitu buruk.”


 


 


Bagaikan tersambar puluhan ribu volt listrik. Tubuh Amylia sempat bergetar selepas dirinya mendengar informasi tersebut.


 


 


Begitu juga Aurum dan Helena, mereka memandang Amylia dengan tatapan tak percaya. Jangankan mereka berdua, Amylia sendiri bahkan tidak percaya dengan ucapan si wanita iblis.


 


 


Akan tetapi, apa yang wanita iblis itu katakan adalah sebuah kebenaran ….


 


 


Lagi, kali ini sang iblis menunjuk ke arah tangan kanan Amylia. “Kau bisa lihat tanda tato di tangan kananmu. Itu adalah lambang dari kitab yang Lebia bawa kemanapun dirinya pergi! Dia dengan seenaknya mengibarkan bendera dengan lambang tersebut.”


 


 


Amylia lantas langsung melihat tato yang tertera pada punggung tangan kanannya. Namun, ketika Amylia melihat kepunggung tangan kanannya, secara instan sang iblis sudah berada di belakang Amylia tanpa di duga-duga.


 


 


“Yaa~ tato ini yang aku maksud gadis cantik,” ucap Lubrica tepat di kuping kanan AMylia.


 


 


Lagi-lagi Amylia di buat terkejut oleh Lubrika, dengan cepatnya AMulia melompat jauh ke depan. Tubuhnya bereaksi sendiri selepas suara serak sang monster memasuki gendang telinganya.


 


 


 


 


Tak berlama-lama, Amylia langsung merapalkan mantra untuk membunuh sang monster aneh itu.


 


 


“Death Zon—”


 


 


Tetapi, secara tiba-tiba sang iblis wanita tak dapat di temukan kembali. Secara mendadak, Amylia kembali mendengarkan suara sang wanita di kuping sebelah kanannya.


 


 


“Kau mencari siapa wanita cantik?” ucap si iblis dengan menggodanya.


 


 


Bergetar terperanjat tubuh Amylia mendengar suara sang iblis wanita itu lagi. AMylia benar-benar hampir kehilangan akal sebab apa yang Lubrica lakukan pada dirinya.


 


 


Dengan wajah seramnya itu, Amyla mengkerutkan wajahnya dan sempat meneteskan sedikit keringat demi memikirkan jalan keluar dari permasalahan ini.


 


 


“Ohh~ jangan memasang raut wajah seperti itu cantikku.” Lagi. Kali ini Lubrica berbisik dari kuping sebelah kiri AMylia.


 


 


Melompat lah AMylia menuju ke sebelah kanannya. “A-Apa yang sebenarnya sedang terjadi!? mengapa wanita ini bisa selalu berada di belakangku?!” ujar AMylia dalam hatinya, yang kala itu tengah di buat begitu kebingungan dengan perbuatan Lubrica.


 


 


“Kenapa kau tidak menyerangku?” tantang Lubrica sambil membuka kedua tangannya.


 


 


“Cih …!” Amylia tak bisa membalas ucapan sang iblis wanita. Ia hanya melirik tajam sambil menyodorkan tongkat sihirnya kepada Lubrica.


 


 


Akan tetapi, Lagi-lagi lubrica bisa berdiri kembali di belakang tubuh AMylia. “Ah, apakah karena kau tidak bisa menghindar dari hal ini …?” ucapnya dengan suara menggoda namun menyeramkan sebab distorsi yang tengah terjadi.


 


 


Wajah Amylia langsung memucat, mentalnya langsung jatuh sebab perbuatan Lubrica yang tak masuk akal sehatnya.


 


 


Seketika itu juga ia lagsung merapalkan mantra sihirnya menuju langit lepas.


 


 


“Death Zone!”


 


 


Rapalnya dengan begitu panik. Sontak sercara mendadak sekeliling AMylia langsung membeku secara instan. Sekitar 10 meter dari tempat AMylia berdiri, selurunya membeku bagaikan batu es.


 


 


Tidak terkecuali dirinya sendiri dan sang Iblis wanita.


 


 


Aurum yang melihat kejadian itu sempat di buat panik. “A-amy!?” ujarnya secara spontanitas. Lantas, bergegas ia berlari menuju lingkaran tersebut.


 


 


Di ketuknya lah patung es berisi tubuh AMylia dan Lubrica terebut. Tak ada sahutan dari dalam patung es tersebut.


 


 


Pemikiran Aurum mulai berubah drastis, ia berpikir jika Amylia saat itu memang sengaja mengorbankan dirinya demi mengurung Lubrica dan dirinya.


 


 


“Amy! Ini tidak mungkin! Aku tidak terima ini amy! Jangan kau lakukan hal ini padaku!” teriaknya sambil memukul-mukil punggung batu sang penyihir wanita. “Apa yang aku harus katakan pada Eawdig jika kau seperti ini …,” gumam Aurum yang mulai mengucurkan air matanya.


 


 


Arkian, terdengar suara yang begitu familiar dari sebelah kanan kuping Aurum.


 


 


“Ara~ kau tinggal bilang saja jika putri jelek ini telah mati …!”


 


 


Jantung Aurum berdetak heboh! Ekspresi wajahnya langsung panik dengan suara yang ia dengar.


 


 


Ya, tepat di sampuing kanan Aurum, tengah berdiri lubrica degan begitu tanangnya. Tampil Wajah jahatnya seperti siap untuk menerkam Aurum kapan saja.


 


 


“B-bagaimana mungkin …!?” Saat itu Aurum melihat bongkahan es batu yang terukir tubuh Lubrica di sana. Walakin, mengapa suara sang iblis wanita bisa ada di belakang Aurum!?


 


 


Apakah ayang akan terjadi dengan Aurum?! Bagaimana nasib Helena dan Amylia?!


 


 


Bersambung!


 


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


 


 


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


 


 


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


 


 


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


 


 


Baiklah!


 


 


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


 


 


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


 


 


Have a nice day, and Always be Happy!


 


 


See you on the next chapter!


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -