
Not Edited!
Terlihat begitu mengerikan … tubuh hitamnya, tampak mengkilap sebab sisik naga yang tumbuh padanya. Gigi taring yang menonjol keluar dari dalam mulut, serta mata yang menampilkan masa kematian.
Penampilannya benar-benar tak pernah terbayangkan pada imajinasi Rubius dan Eadwig, sepanjang umur mereka hiudp di dunia ini.
Akan tetapi, Eadwig dan Rubius tak mau menyerah begitu saja. Mereka berdua bangkit dari keterpurukannya untuk melawan kemustahilan tersebut.
“Jika kami tak mampu membunuhmu, maka itu sudah menjadi takdir kami harus mati di tanganmu, wahai naga hitam!” ucap Rubius dengan tenang. Seperti rasa cemasnya diangkat dari dunia ini.
“Tapi ingat wahai Naga hitam! Di atas langit! Masih ada langit!” Eawdig kembali tersenyum sembari ia menyiapkan kembali kuda-kuda tempurnya.
“…!?” Korfe yang mendengar kalimat Eadwig, menjadi teringat dengan ucapan seseorang yang dahulu pernah mengingatkannya hal yang sama. “Tidak … aku adalah langit di atas langit. Tidak ada makhluk yang bisa membunuhku saat ini, itu berarti aku adalah puncak dari kekuatan …!” bentak Korfe degan mode setengah naganya tersebut.
Kulit tubuhnya sudah sempurna tertutupi oleh sisik naga. Tanduknya memanjang lebih dari biasanya. Sedangkan bajunya sobek-sobek sebab tak mampu menahan perubahan bentuk yang Korfe lakukan, hanya bagian celananya saja yang berada di posisi normal.
Mata Korfe, kala itu berubah menjadi lebih merah dari biasaya. Benar-benar mata binatang buas yang begitu kelaparan.
“Tidak, kau bukanlah puncak dari langit,” bantah Eadwig, senyumannya semakin lebar bahkan gigi putihnya tampak lebih indah dari biasanya. “Kau bahkan belum bertemu anak kecil berumur empat belas tahun, berambut hijau dan bermata hijau, yang bahkan hijaunya lebih menakutkan dari matamu itu, wahai Korfe!”
Terkejut, Korfe mengingat sosok Arley yang sempat merubuhkan Ifrit saat pertarungan di antara sang jin dan si manusia itu sebelumya. Harapan Korfe kembali memuncak, tetapi rasa ingin mengakhiri pertandingannya dengan Rubius dan Eadwig semakin menggebu-gebu, sebab rasa penasarannya untuk megalahkan Arley muncul serta masuk ke dalam hatinya.
“Terima kasih atas rekomendasi yang kalian berikan. Sepertinya pertarukan kita bertiga, tidaklah sia-sia. Jika yang kau katakan itu benar, maka, kematian kalian bertiga tidak akan menjadi hal yang percuma.” Sembari ia mengucapkan kalimat tersebut, Korfe membuka kedua telapak tangannya lebarlebar, lalu ia menyaukannya di depan tubuhnya seperti ia ingin menembakkan sesuatu dari sela-sela keduanya.
Benar saja, muncul cahaya ungu dari gabungan antara kedua tangannya. Tangan korfe membentuk tempurung untuk menampung energi [Mana] diantara kedua telapak tangannya tersebut. Semakin lama cahaya itu semakin membesar. Sontak, ketika cahaya itu berubah menjad solid, kala itu juga Korfe ingin melepaskan manifestasi [mana-nya] itu, untuk membunuh Rubius dan Eadwig.
“Selamat tinggal kalian berdua …,” ucapnya dengan wajah puas.
“Mors Iaculat!”
Lalu, terlepaslah cahaya itu dari kedua telapak tangan Korfe, setelah dirinya merapalkan mantra sihir yang ia anggap sebagai serangan pamungkasnya itu.
Ledakan cahaya yang mengalir bagaikan siniar laser, merambah dan memotong udara di sekitarnya, terbang meluncur tubuh RUbiu dan Eadwig tanpa ada yang bisa menghalanginya.
“Ugh! Bisakah aku menangkisnya degan pedang ini?!” Sedikit panik, Eadwig ingin encoba menahan serangan tersebut dengan bilah pedang raksasanya tersebut.
Namun, kejutan yang kedua terjadi secara tiba-tiba. Bola laser yang tadinya hanya berukuran sedang, tiba-tiba meledak dan membentang lebar, mekar mencapai sepuluh meter memakan tanah di bawahnya dan memotong langi di atasnya.
“Apa!?” teriak Rubius dan Eadwig secara bersamaan. Sekilas, mereka berdua berpikir jika ini adalah akhir dari nyawa mereka berdua. Tidak mungkin mereka bisa menahan serangan yang super massive seperti ini.
Dengan begitu cepat, serangan Korfe langsung menghantam bilah pedang Eadwig yang sengaja ia arahkan menyamping untuk menahan ledakan cahaya itu. Seketika itu juga, dirinya langsung terdorong mundur. Seluruh kekuatan yang Eadwig miliki, langsung ia alihkan menjadi piosisi bertahan.
Demikian juga dengan Rubius, ia bangkit dari duduknya dan langsung berdiri di belakang Eawdig untuk menahan posisi tubuh Eawdig yang semakin lama semakin mundur.
“Bertahanlah Eadwig!” ucap Rubius untuk menyemangati rekannya itu.
“Tentu saja, kau kira aku ini siapa …!” Eawdig menggeramkan giginya sembari ia menaha rasa sakit pada seluruh tubuhnya, sebab radiasi cahaya yang mulai memakan segala yang menghalangi laju terbangnya.
Ketika itu, Eadwig kembali mengalihkan energi [mana] pada tubuhnya, mengalir menuju bilah pedang raksasa tersebut. Namun, karean energi [Mana] Eadwig yang tidak begitu banyak, bilah pedang raksasanya tersebut hanya mampu bercahaya sedikit.
Dilain pihak, Rubius yang menyaksihan hal itu, langsung membantu Eadwig dengan mengalirkan seluruh energi [Mana] yang ia kumpulkan terakhir tadi, untuk memperkuat kekuatan pedang yang sedang Eadwig genggam.
“Rubius …?! Kau …!?” cakap Eadwig yang menyadari perbuatan Rubius.
“Hehe! Jangan remehkan aku juga Eadwig, kau kira aku ini siapa!” Rubius mengembalikan kalima yang sama seperti apa yang Eadwig ucapkan sebelumnya.
Sontak, Eadwig kembali tersenyum lebar. Muncul gemilap cahaya dari dalam pedang yang sedang Eadwig genggam. Ketika itu, cahaya kuning, bercampur cahaya merah muda, langsung merubah warna pedang yang Eadwig genggam menjadi warna oranye. Bukan hanya aura pedangnya yang berubah, namun warna besi yang awalnya peraklah yang berubah menjadi oranye.
Secara bersama-sama RUbius dan Eadwig berteriak demi mengeluarkan kekuatan maksimal mereka berdua.
Akan tetapi, serangan kejutan yang ketika mulai berlangsung.
“A-apa …?!” ucap Eadwig dan Rubius secara berbarengan.
Ledakan cahaya kembali terjadi, kali ini ukuran cahaya ungu yang menyerang mereka berdua, bertambah besar menjadi dua puluh meter, mencangkul bumi dan memotong langit.
Seketika itu juga, tubuh Eadwig dan Rubius, lagsung terpental mundur dan terbang, bagaikan kapas yang terombang ambing ketika badai.
Tak ada pikiran lain yang terlintas di benak Eadwig dan Rubius selain kematian. Wajah tersenyum mereka langsung tampil sebagai rasa ikhlas mereka kepada nyawa yang mereka berdua berikan kepada Arley.
Akan tetapi, takdir tidak membiarkan mereka berdua lenyap dan hangus di dalam ledakan cahaya tersebut.
Tiba-tiba saja, seorang pria muncul di hadapan Rubius dan Eadwig, bagaikan kebatan bayangan yang muncul di malam hari.
“Ops! Maafkan aku karena datang terlambat, wahai para tamu sekalian!” ucap seorang pria berambut merah yang tinggi badannya mencapai 180 sentimeter. Kemudian, dengan haya tangan kirinya saja yang menahan serangan, ledakan cahaya ungu korfe, kepala sang pria memutar ke belakang untuk melihat kondisi Rubius dan Eadwig. “Kalian tidak apa-apa?” tanya sang pria dengan wajah polosnya.
Mata Rubius dan Eadwig terbelalak lebar, mereka langsung mengira jika orang tersebut adalah Arley. Mata hijaunya sama mengkilapnya dengan mata yang Arley miliki, juga rambut merahnya sama anehnya dengan yang Arley cirikan.
“A-Arley …?!” ucap mereka berdua secara serepak.
Lantas, siapakah pria berambut merah dan bermata Hijau tersebut? Apa hubungannya dia dengan Arley?
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------