The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 188 : Pohon Kehidupan!



Not Edited!


Ratusan juta monster berjejer di sudut selatan horizon benua [Horus]. Sampai saat ini, tak ada yang mengira jika mereka bisa terselamatkan jika kondisi saat ini tak kunjung berubah.


Ketika seluruh mata tertuju melihat kehebohan di sudut selatan ibu kota, tiba-tiba tampak seorang wanita menunjuk ke posisi pusat ibu kota.


Pada bagian patung Adam yang terpahat di tengah ibu kota. Di bagian lantainya terdapat disain yang berbeda dengan motif batu yang tersusun pada sekitarannya.


Sekitar dua meter di sekeliling patung tersebut, batu yang tersusun tampak membentuk lingkaran yang mungkin jika di lihat kasat mata, hanya sebagai hiasan saja.


Namun, ketika gempa ini terjadi, tanah yang berada di sekitar batu tersebut terlihat amblas, dan padanya terdapat dedauan yang tumbuh secara liar. Uniknya lagi, hanya pada bagian yang melingkar di sekitaran patung Adam tersebut sajalah, yang tidak terdampak dari getaran gempa ekstrim ini.


“Apa yang sebenarnya akan terjadi dengan kota ini …,” gumam Amylia yang terlihat takjub dengan fenomena alam tak terduga ini.


Lantas, tanah yang ada di sekitaran Patung itu langsung terlihat naik, dan menjulang seacara instan. Warga kota yang melihat kejadian ini langsung melangkah mundur sebab terkejut dengan fenomena yang lagi berlangsung.


Muncul batang-batang pohon dari dalam tanah, berputar dan menghancurkan segala hal yang menghalangi laju pertumbuhannya.


Pada awalnya, hanya ranting dari pohon itu saja yang terlihat muncul di pemukaan bumi [Soros], beberapa saat kemudian, bagian batangnya pun mulai tumbuh dan menjulang tinggi membelah tanah di sekitarannya.


Timbul batang pohon yang begitu besar. Saking besarnya batang pohon tersebut, setengah bagian pada bagian tengah ibu kota, harus terangkat di dahan-dahan pohon tersebut dan ikut menjulang tinggi menghantam langit.


Ya, ketika pohon itu menjulang tinggi mencakar langit, sangkar besi yang menutupi lagit ibu kota pun ikut terbuka. Layaknya sebuah petanda bahwasannya masa dari kurungan umat manusia tentang segala hal yang segaja di tutup-tutupi, telah di angkat oleh yang maha kuasa.


Seluruh mata memandang tinggi ke atas langit. Pohon yang terus tumbuh bahkan sampai batas yang tak mampu di lihat mata, tiba-tiba menumbuhkan dedauannya, layaknya musim semi telah tiba.


Dengan begitu lebatnya dedaunan itu tumbuh, serta entah mengapa, seluruh tubuh masyarakat kota menjadi lebih ringan. Udara segar menyebar degan sendirinya, tampaknya pohon ini memberikan Oksigen kepada sekelilingnya.


Beberapa saat kemudian, pertumbuhan cepat pohon raksasa ini pun terhenti. Matahari yang perlahan naik ke ujung horizon, tampak menyinari permukaan bumi dengan indahnya.


Lalu, hal aneh kembali terjadi. Saat matahari naik ke atas langit, pohon ini menyerap cahaya padanya. Bersinarlah setiap dedaunan yang tumbuh pada pohon tersebut.


Kala itu, di saat orang-orang sedang tercengang-cengang melihat keindahan pohon raksasa itu, Amylia malah tersungkur meeganig punggung tangan kirinya yang tiba-tiba memancarkan cahaya.


“AAkkkh! P-Panaass!” pekik Amylia yang tak mampu menahan rasa panas padanya.


“Yang mulia?!” saut Perry dan ketiga temannya yang lain.


Di sisi lain, Tepatnya di ruanga bawah gorong-gorong. Rubius dan Eadwig juga menyaksikan hal yang serupa dengan apa yang Perry beserta teman-temannya lihat.


“M-Misa …?!” panggil Eadwig yang menatap bingung kondisi Misa.


“AAkkkh! Panas! Paanaaas!” pekik Misa yang memegangi tengkuk lehernya.


Kala itu, simbol tato yang telah tertanam pada tubuh Amylia, Misa, dan Arley. terlihat memancarkan percikan cahaya, bersamaan dengan munculnya cahaya dari setiap dedaunan pada pohon misterius ini.


Terbangunlah Arley dari pingsannya. Tapi, kali ini Arley tidak mendapatkan kesadarannya, hanya tubuhnya saja yang bertindak sendiri.


“תן לי ללכת …,” ucap Arley dengan bahasa yang tak di kenali.


“Eh? Kau telah bangun, Arley? Apakah kau tadi berkata sesuatu?” Sejenak Aurum mengira jika dirinya salah mendengar.


Lantas, Arley terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia berbicara dengan bahasa [Hubert].


“Turunkan aku, biarkan aku pergi …,” cakap Arley degan nada yang sangat datar. Bahkan terdengar seperti, yang berbicara kali ini bukanlah Arley.


Merinding mendengar suara aneh tersebut, Aurum secara spontan menurunkan tubuh sang remaja dengan sendirinya. Ia melakukan hal itu seperti dirinya sedang terhipnotis.


Setelah Arley berdiri pada kedua kakinya, lantas ia mendekatkan diri ke tempat Amylia. Tiba-tiba dari atas langit, jatuh sebuah daun yang berasal dari pohon raksasa tersebut. Ketika masih di atas udara, Arley langsung mengambil daun itu sebelum menyentuh tanah.


Lalu, Arley tampak membisikkan sesuatu pada daun tersebut, sebelum pada akhirnya, Arley menempelkan daun itu di punggung tangan kiri Misa.


Reda lah rasa sakit yang ada di tangan kiri Amylia secara bertahap.


“Pegang daun ini …,” tutur Arley kepada Amylia. Lantas, Amylia yang melihat wajah Arley, langsung terkejut saat ia melihat mata dari sang remaja. Warna dari mata Arley tidak lagi hijau, melainkan ungu ke merah-merahan.


“A-Arley …? Kau kah itu Arley …?” panggil Amylia kepada sang sahabat. Tetapi, panggilannya itu hanya di balas dengan senyuman manis.


Lantas, Arley kembali berdiri sembari ia menatap langit, lagi-lagi sebutir daun jatuh ke arahnya. Di ambillah daun itu sebelum pada akhinya ia merapalkan hal yang sama pada daun tersebut.


Kemudian, dalam sekali kejapan mata, Arley langsung memnghilang dari hadapan Amylia. Sontak melihat kejadian tersebut, Amylia langsung terbangung dari keterpurukannya, ia meraba lantai yang Arley jejaki sebelumnya, dan ia menepuk pipinya seperti orang yang baru saja melihat mimpi buruk.


“A-apakah kau melihat hal itu …?” tanya Amylia kepada Aurum yang berdiri di depannya.


Menganggukklah Aurum dan Sophie secara berbarengan.


Menggelenglah kepala Aurum sebab dirinya tak tahu harus menjawab apa.


Saat itu, Tubuh Arley telah tiba di ruangan bawah gorong-gorong. Rubius dan Eadwig langsung tersentak ketika melihat sahabat berambut merah merka, tiba-tiba bisa ada di hadapan merka berdua.


“A-Arley?!” teriak mereka berdua yang kala itu langsung bengkit dari duduknya.


Arley hanya tersenyum sembari ia menatap kedua pria itu. Tentu mereka berdua langsung terkejut ketika melihat warna mata Arly. Tampak tak seperti biasanya, mereka juga menyadari jika pupil mata Arley, kali ini juga berubah bentuk.


Terlihat seperti ada sebuah lambang terukir padanya.


Tak berlama-lama di lokasi itu, Arley langsung menghampiri Misa yang tergeletak kesakitan sembari memegangi tengkuknya.


Lantas, Arley menempelkan daun itu pada punuk sang wanita berambut hitam kebiruan itu.


“Jagan lepas daun ini …,” ucap Arley, demi memberi peringatan kepada Misa.


“H-He?!” Misa yang begitu terkejut ketika melihat ARley bisa berada di lokasi ini, dirinya langsung terlupa jika tubuhnya sedang merasakan perih akibat panas yang muncul di punuknya. Namun secara perlahan rasa panas itu mulai menghilang.


Sama seperti RUbius dan Eadwig, Misa juga terkejut ketika meliha bentuk mata Arley. Namun, kejadian yang sama terulang kembali. Dalam sekali kedipan mata, Mereka bertiga, secara spontan tak bisa melihat tubuh ARley membersamai merka kembali.


“A-Arley?!” pekik mereka bertiga serentak.


Lalu, kemanakah tubuh Arley pergi saat ini? Kala itu, Lenka sudah Hampir kehabisan tenaganya. Dirinya terduduk sembari menahan gigitan monster yang ada di hadapannya.


“Ahh … mungkinkah ini akhir dari hidupku?” ucap Lenka sembari ia melirik ke belakang. “Padahal anak itu sudah berhasil menumbuhkan, Pohon Kehidupan … tapi~ ini kah roda takdir?”


Tiba-tiba, dalam sekali kejapan mata, Arley langsung muncul di hadapan Lenka.


“A-Arley?!” ucap Lenka yang matanya terbelalak lebar.


Lagi-lagi Arley hanya tersenyum, Sebelum pada Akhinya, Arley menarik sesuatu dari dalam baju putihnya itu.


Tampak sebuah kain yang menutupi suatu benda, yang berbentuk ranting pohon. Dibukalah tutup kain itu oleh sang remaja. Tampak Sebuah tongkat yang terlihat begitu cantik dan apik. Pada tongkat itu, terukir inisal sang pembuatnya. Kalimat ‘Marlin’ terukir indah pada gagang tongkat itu.


Lantas, Arley langsung mengangkat tongkat sihirnya ke atas langit, dan saat itu juga, Arley merapalkan mantra sihir dengan tangannya yang masih telihat gosong.


“Ultimo Libro, Transferendum : The Last Book, of, The 7 Book's of God. Vol 6 : Protocol," ucap Arley dengan suara pelan.


"Adeptum Regio!”


Rapalnya, yang ketika itu, langsung bereaksi terhadap 'Pohon Kehidupan' di belakangnya.


Bersambung!


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter !


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -