
***
Gemuruh suara yang cukup berat terdengar di gendang telinga ku. Sumbernya berasal dari pohon kacang ini.
Absurd, sangat rancu, entah apa penyebab pohon itu bisa tumbuh secara mendadak di lahan yang kosong seperti ini.
Sekitar delapan sampai sepuluh menit, pohon itu terus tumbuh dan mulai menjalar perlahan ke langit.
Kondisi awan sangat tidak mendukung. langit tampak berkabut. Kemudian gelombang awan berkumpul dan menjadi penyebab langit tampak semakin gelap.
Gemerlap bulan terhalang memasuki atmosphere bumi. Aku sama sekali tidak dapat melihat sampai mana pohon itu menjalar tinggi.
"(... Apa yang telah terjadi ...!?! pertumbuhan pohon ini sangat tidak normal, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi!?!)"
Aku kemudian melihat ke arah rumah yang tadi berada di tengah-tengah padang rumput.
Kondisinya normal, sepertinya tidak terjadi apa-apa dengan rumah itu.
Namun hal ini membuatku jadi sedikit curiga, jarak antara rumah itu dengan pohon ini, hanya sekitar lima meter dari pekarangan rumahnya.
Sudah beberapa menit tetapi tuan dari rumah itu tidak merespon apapun, apakah sang pemilik rumah tahu sesuatu mengenai hal ini ...? atau rumah itu sudah tidak di tempat lagi ...?
Pikiran ku sangat berkecamuk, kemudian aku memilih untuk langsung mengunjungi sumber masalah.
Aku terbang turun untuk mendatangi rumah kayu tersebut.
Tertetak sol sepatu ku di jalan setapak yang berlapis tanah.
Rerumputan yang lebih tinggi dari diriku membentuk jalan menuju bangunan ciptaan manusia yang berdiri sendiri di ladang rumput ini.
Tepat di sampingnya menjulang tinggi pohon kacang yang beberapa saat lalu tiba-tiba tumbuh.
Jika di lihat dari dekat, batangnya amat besar. tebalnya sekitar 70 meter, dan tingginya, entahlah, mungkin tidak terbatas.
***
Rumah kayu ini cukup lebar, jaraknya sekitar 10x10 meter persegi, dan konstruksi nya cukup layak untuk di tinggali.
Sepertinya ada beberapa ruangan di dalam rumah ini. dilihat dari lekuk dan jendela rumah, mungkin ada tiga atau empat kamar.
Gagang pintu ku pegang, kemudian ku putar tuas nya untuk membuka pintu "Clak! " mendecitkan bunyi yang khas, pintu ini tak di kunci oleh tuan rumahnya.
"Permisi~."
Ucap ku dengan intonasi yang keras, tetapi tidak ada response.
Pintu ku biarkan terbuka lebar, kemudian aku masuk kedalam rumah tersebut.
Ruangannya lumayan besar, tetapi isi dari rumah ini terbilang kosong, hampir tidak ada prabotan yang terpasang di dalamnya.
Hanya ada tikar dan meja kecil terpampang di sudut kanan pojok ruangan.
Ruangan ini terdapat empat pintu di dalamnya. dari pintu masuk, terlihat dua pintu tertanam di tembok sebelah kiri dan satu pintu berada di sudut depan pintu masuk. Alias saling berhadapan dengan pintu masuk.
Kemudian satu pintu lagi berada di samping kanan pintu Yang berhadapan dengan pintu masuk tadi, sepertinya pintu yang satu ini adalah pintu toilet, warnanya berbeda sendiri dengan pintu yang lain.
"Permisi!"
Triak ku sekali lagi untuk mengetahui apakah rumah ini ada tuan nya atau tidak.
"...."
"Grook~" Sesaat kemudian, didalam kondisi malam yang sunyi, terdengar dengkuran seseorang dari pintu sudut sebelah kiri.
"!!?!"
Suaranya seperi dengkuran **** hutan.
Perlahan aku mendekati sumber suara, dan benar saja, dari pintu kedua yang tertanam di tembok sudut ruangan sebelah kiri inilah sumber suara itu berasal.
Aku memberanikan diri. Kupegang tuas pintu tersebut, kemudian aku membuka pintu kamar itu dengan perlahan-lahan.
"... Permisi ...."
Ucap ku dengan nada rendah, ku intip kedalam ruangan tersebut, dan benar saja, ada seorang anak perempuan sedang tertidur lelap di atas ranjangnya.
"... A-ah ... Ini ..." Menyadari ada manusia di dalam rumah tersebut membuat aku sedikit terkejut, bagaimana mungkin dengan adanya gempa dan suara Gemuruh pohon yang begitu kencang, tidak juga membangunkan orang ini dari mimpinya.
Aku mengeplak wajahku sendiri dengan telapak tanganku. Menghilangkan penat gara-gara kerancuan yang diciptakan oleh anak gadis yang terlihat tidur sangat nyenyak ini.
Posisi tidurnya sangat berantakan. Kakinya menyilang ke luar dari ranjang, bajunya terbuka sampai pusar, mulutnya menganga dan bibirnya mengeluarkan air liur.
Terlebih, dengkurannya cukup keras sampai bisa terdengar ke luar ruangan.
***
Aku masuk kedalam ruangan tersebut, ku buka pintu kamar lebar-lebar. Kemudian ku lihat anak perempuan ini dengan seksama.
Kurasa umurnya sekitar 12 sampai 14 tahun.
Nafas ku tarik dalam-dalam, ku dekatkan bibir ini ke kuping nya, lalu kuteriakkan alarm pembangun mayat.
"BAANGUUNNN!!!!!!"
Sontak anak itu terperanjat dari tidur nya.
Dengan mata yang terbuka lebar, ia melompat dari kasur nya dan ikut berteriak memekik sekuat tenaganya sampai membuat suaranya membekir.
"KYAAAAAAA!!!!!!"
Suaranya cukup serak untuk anak seusianya. Lalu anak itu memperhatikan ruangan tidur sembari mengumpulkan nyawanya yang masih di awang-awang, dalam kondisi yang demikian ia dapatkan matanya melihat ke arahku.
"S-s-s-siapa kamu!!?! Mengapa kamu ada di dalam kamar tidurku!?! Kamu mau apa kan diriku!?!"
Wajah tidurnya sangat kacau, rambutnya berantakan, sepertinya orang ini bukan lah orang yang dapat bangun di pagi hari.
Setelah beberapa saat gadis itu baru tersadar.
"hmm..? Anak kecil...?"
ia mulai memperhatikan wajah ku dengan detail, tak terlalu terlihat karena kegelapan malam, ia mengkerip kan matanya untuk memfokuskan pandangannya.
Aku yang lagi bad mood, mempunyai ide untuk menjahili anak ini.
Dengan mataku yang sedang kelelahan, ku tatap wajah wanita itu seperti ingin membunuhnya.
Mata runcing, melirik dengan tajam, bagaikan binatang buas yang siap menerkam mangsa nya.
Berhasil, sang wanita kemudian berjalan mundur di atas kasurnya sampai ke pojok tembok.
Ku lanjutkan kejahilan di tengah malam ini.
Dari dalam kantung celana, ku tarik tongkat sihir lalu aku menyeringai seram ke anak gadis tersebut.
"G-GYAAAAAAA!!!!! AKU MOHON JANGAN SAKITI AKU!! AKU HANYA ANAK YATIM, DI RUMAH INI TIDAK ADA APA-APA,GYAAA KU MOHON ... BLa-bla-bla.... ~"
Aku terpelongok melihat celotehan nya yang tidak jelas, dia berbicara sangat cepat sampai-sampai aku tidak bisa menangkap apa yang akan ia sampaikan.
"pfftt!! AHAHAHAHA!!!"
Perutku sakit akibat tertawa terpingkal-pingkal. Baru kali ini aku melihat reaksi orang takut se kocak ini.
"Luminance~"
Mantra ku ucapkan, dan tercipta cahaya yang cukup terang tapi tak menyilaukan dari ujung tongkat sihir ku.
"... -Ha?"
Anak gadis itu baru tersadar bahwa aku hanyalah anak kecil biasa yang sedang menjahilinya.
"Ahahaha!! Reaksi kakak cukup menghibur, dari mana kakak belajar reaksi ketakutan seperti itu!? -Pfftt Aahahahaha!!!"
Tak bisa aku menahan pingkalan ku sendiri, mataku mulai mengeluarkan air mata akibat tertawa berlebihan.
Kemudian gadis itu menggelembungkan kedua pipinya dan ia mengeram tangannya.
Dengan tangannya yang ramping, iya menjitak kepala ku sekuat tenaganya.
"Plak!!" suara pukulannya nyaring terdengar, kepalaku langsung benjol seusai tulang tangannya terketuk di batok kepala ku.
"-Aduh!!" lumayan sakit, aku memegang batok kepalaku dan mengelus-elusnya dengan kedua tangan.
"Apa yang kau lakukan!! Lihat kepalaku jadi benjol!!"
Ucap ku marah kepada wanita tersebut.
"Itu seharusnya kalimatku!! Apa yang kau lakukan di tengah malam ini, apa tujuan mu menjahili wanita cantik seperti aku!!"
Sang wanita menunjuk ku dengan jari telunjuknya dari atas kasur.
Menyadari jika aku lah yang salah, kemudian aku meminta maaf kepadanya agar konflik ini tidak berkepanjangan.
" A-ah ... Kakak benar juga, Aku meminta maaf atas perbuatan ku."
Sambil merunduk sedikit aku ucapkan kalimat tersebut.
"hmm, bagus!~" Anak perempuan itu lalu melipat kedua tangannya, Kemudian ia duduk bersila di atas kasurnya.
"Hey, ngomong-ngomong kamu siapa ya? Kamu bukan berasal dari daerah sekitar sini kan? Lagi pula di sekitar sini tidak ada pemukiman, jadi, dari mana kamu berasal? Apakah kau tersesat?"
Sambil memiringkan kepalanya, wanita berambut karamel ini menanyakan asal usul ku.
"Oh iya, aku belum memperkenalkan diri, Namaku Arley, Arley Gormik, berusia lima tahun, berasal dari tempat yang sangat jauh dari rumah ini."
" Ha? Tempat yang jauh? Hey kau jangan bercanda di saat seperti ini! "
Wanita itu kembali menunjuk ku dengan jari telunjuknya.
"... Aku tidak bercanda kak ... Aku benar dari desa yang jauh ... Hey Lagi pula apa gunanya kakak mengetahui dari mana aku berasal, sebaiknya kakak mulai memperkenalkan diri kakak ...."
" H-hey! ... Haeh ... Ya ampun, anak jaman sekarang mulutnya ... Baiklah-baiklah! Nama ku Sofie!! Sofie Redhood!"
"(... Apanya yang anak jaman sekarang ... Kau sendiri berperilaku seperi anak zaman sekarang) "
Celoteh ku kepada gadis bernama Sofie ini di dalam hati.
Sofie bangkit dari kasurnya lalu ia berjalan menuju meja kaca yang ada di samping kasurnya, ia mencoba merapikan rambutnya yang kusut.
" Jadi ... Arley? Apa keperluan mu menggangu ku tengah malam begini?"
Sofie menyisir rambut nya yang panjang, sesekali ia melirik ku dan memperhatikan gerak gerikku.
"Kak Sofie ... Sebenarnya aku tidak ada urusan dengan mu ... Tetapi yang di luar itu lah yang ber urusan dengan kakak ...."
Aku menunjuk jendela kaca yang berada di samping meja kaca milik Sofie dengan tongkat sihir.
Seketika itu juga terdengar detupan jantung dari arah kak Sofie.
"!!!!?! H-HAAAAAA!!?!" Kali ini Sofie menunjukkan wajah yang sungguh unik, lagi-lagi ekspresinya sangat menarik.
Sofie terfokus ke jendela kamarnya. tepat di depan jendela kamar nya, terdapat pemandangan yang tak lazim menurutnya.
Bergegas ia berlari menuju pintu keluar.
Tentu saja aku mengekor di belakangnya untuk melihat reaksi lucu apa lagi yang ia akan tampilkan.
"HAAAAAAAA!!!!!?! AAAPPAAA IIINIIIIII!!!!!!"
Sekarang ia lebih terkejut, ketika kakinya melangkah keluar, badannya tersentak seperi seseorang yang di kagetkan secara diam-diam, orang ini sangat ekspresionis.
"Seharusnya aku yang terkejut kak Sofie, dengan gempa yang cukup dahsyat dan suara yang begitu keras, mengapa kau bisa tidur dengan nyenyak seperti itu ...."
Ku balas tindakannya tadi, ku tunjuk wajahnya dengan jari telunjuk ku yang mungil.
Memerah, wajahnya Memerah menahan malu.
Di waktu malam yang gulita, dengan lampu dari ujung tongkat sihir ku ini, aku bisa melihat pesona wajah seorang Sofie Redhood.
Entah mengapa, perasan ini lebih terbuka semenjak kejadian di desa [Green Vanor]. Aku bisa menjadi diri ku sendiri belakangan ini.
Sofie Redhood yang perasaannya sedang bercampur aduk, tampak sedang ngambek kepada aku yang senang menjahilinya.
Bibirnya yang merah merona menggerenyut menahan malu nya sendiri.
"Arley Jahaatt !!!!~"
Teriakan nya menggema. dengan wajah nya yang Memerah, ia mencoba melirik ke samping untuk menyembunyikan fakta tersebut.
Aku hanya bisa tertawa jahat karena berhasil menjahili Sofie sepuasnya.
***