The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 103 : Permohonan Khusus.



    Aurum telah kalah telak, tubuhnya tertanam di dalam batu es, sebab Mantra Paroki yang begitu dahsyat.


    Berdenginglah kepala Arley, tubuhnya mendingin, perlahan kesadarannya menghilang—dan ketika itu juga, tubuh Arley terbanting ke tanah akibat kesadarannya hilang dari dalam tubuhnya sendiri.


    "Arley!?" panggil Eadwig dan Rubius serempak, secepatnya mereka melakukan pertolongan pertama dengan berbagai macam cara.


    Pingsannya Arley, disebabkan karena ia sangatlah kelelahan.


    Kala itu tubuhnya diperparah juga dengan shock yang ia terima ketika sahabatnya tak lolos ke babak selanjutnya.


    Hal itu membuat jantungnya berdegub kencang, sedangkan tubuh Arley sudah tak sanggup untuk menerima beban fisik maupun batin lagi.


.


.


.


***


.


.


.


    Malam pun larut dengan cepat.


    Kala itu, tiba-tiba saja kesadaran Arley kembali pada tubuhnya yang tengah terbaring pada kasur yang empuk, terbangunlah ia dari pingsannya.


    "-Arley?!" dari kejauhan, Arley dapat mendengar suara Sofie yang memanggil dirinya.


    Meliriklah Arley ke sudut kanan ruangan tersebut, disana terdapat enam orang yang Arley sangat mengenali mereka.


    Saat itu, Eadwig, Amylia, Rubius, Aurum, Sofie dan Lily. Mereka berenam duduk di atas kursi sofa yang berada di dalam ruangan kamar Arley.


    "Aku ... dimana?" tanya Arley kepada Sofie yang saat ini sudah berada di samping kasurnya.


    "Kau berada di rumah Arley, rumah keduamu setelah Universitas Kependetaan," jelas Sofie kepada Arley.


    "-Aku ... apa yang terjadi dengan diriku? "Saat itu, Arley memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit pusing, "Yang terakhir aku ingat adalah ...," menolehlah Arley menghadap Aurum yang kala itu tengah duduk di atas kursi sofa.


    Pandangan mereka saling bertemu, sejenak Aurum tersenyum, namun tampak matanya lebam seperti baru saja selesai menangis.


    Tiba-tiba, Sofie menggeser kepalanya untuk menutupi pandangan Arley.


    "-Sudah, jangan pikirkan hal yang lain dulu, yang terpenting adalah kesehatanmu!" bentak Sofie dengan wajahnya yang mulai menampilkan kesedihan di dalam hatinya.


    "M-maafkan aku kak Sofie ...," jawab Arley sambil ia memandang cemas ke arah wajah Sofie.


    Bangkitlah keempat sahabat Arley dari duduk mereka, kemudian mereka berjalan menuju kasur yang Arley berbaring padanya.


    "Bagaimana sisa pertandingannya? "Mengerutlah alis Arley, "Apakah aku gagal melanjut ke babak selanjutnya?" tanya Arley dengan penuh kepasrahan.


    "Kau anak yang sangat beruntung Arley, mereka semua menunda babak kelima karena hari sudah terlalu malam," ucap Eadwig sembari ia menggerakkan tangannya untuk menjelaskan hal tersebut kepada Arley, "Pertandingan usai pada saat jam 1 subuh tadi, dan sekarang ini sudah masuk jam 3 subuh,"


    Seketika itu juga, Arley tampak begitu lega. Namun setelah kecemasannya lepas, saat itu juga wajah Arley langsung menoleh ke arah Aurum.


    Sontak Aurum menyadari jika Arley melihat ke arahnya


    "Arley ... aku tak apa-apa, berkat Amy—aku sudah lebih tenang," jelas Aurum kepada Arley.


    Lanjut Arley menatap Amylia yang tampaknya ia sudah memaafkan Arley sebab pertarungan mereka yang terakhir.


    Mereka saling bertatapan mata, dan kemudian Amylia memulai percakapan.


    "Huuh... mungkin di pertandingan itu aku terlalu meremehkanmu, tapi selanjutnya aku tidak akan kalah!" jawab Amylia dengan tegas, lalu, muncullah senyuman manis nan menawan dari wajahnya.


    Arley pun tersenyum hangat ke arah Amylia, sembari ia mulai kembali mengumpulkan energi di dalam tubuhnya untuk membicarakan hal yang ia telah janjikan kepada teman-temannya tersebut, pada waktu siang hari tadi.


    "Teman-teman sekalian," panggil Arley kepada keempat sahabatnya tersebut, "Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua." seluruh orang yang berada di ruangan tersebut langsung menjadi sedikit canggung.


    "Eadwig," panggil Arley, "Ruby, kak Amy, Kak Aurum," lanjutnya. Sejenak Arley menghela nafasnya, kemudian ia melanjutkan statement yang ia ingin lantunkan.


    "Sejujurnya ... aku sangat membutuhkan bantuan kalian bertempat ...," mengkerutlah alis Arley menjadi runcing. Tampak kecemasan yang amat mendalam dari ekspresinya itu.


    Sejenak Eadwig harus menelan ludahnya untuk bisa berkonsentrasi dari apa yang akan ia terima, sedangkan ketiga temannya yang lain, hanya mampu mengeluarkan keringat dingin dari pori-pori wajah mereka.


    Dimulai lah penjelasan Arley kepada keempat sahabatnya tersebut, "Aku tidak tahu apa yang kalian pikirkan tentang diriku ini, namun," ucap Arley sebagai pembukaan.


    "Namun, sejujurnya aku menganggap kalian semua sebagai sahabat sejati, maka dari itu aku ingin sekali kalian bisa membantuku dalam hal ini," terpancar dari tatapan Arley pada keempat sahabatnya tersebut, sebuah harapan yang cukup besar.


    Sejenak Arley mengatur nafasnya, lalu ia melanjutkan percakapan


    "Permohonanku ini, ada hubungannya dengan kekuatan tempur kalian semua," tatap Arley, tajam ke arah empat sahabatnya tersebut. "Dengarkan informasi ini dengan baik, apapun yang aku ucapkan, adalah sebuah kebenaran, dan dalam waktu dekat, kebenaran itu akan terjadi!" Arley mencoba memberi penekanan dari apa yang akan ia jelaskan.


    Semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut secara bersambutan menganggukkan kepala mereka.


    "Esok malam, negara ini—tidak ...," sejenak Arley merubah kalimat penyampaiannya," Esok malam, ibu kota『Lebia』, akan hancur oleh suatu kekuatan yang maha dahsyat, " terucaplah kalimat yang Arley ingin sampaikan kepada teman-temannya tersebut.


    Sontak, jantung seluruh orang yang berada di ruangan tersebut langsung berdebar kencang.


    Kala itu, ingin Eadwig menyambar percakapan yang Arley tengah jelaskan, namun Arley langsung menghentikan Eadwig dengan tangan kanannya, tampak Arley menjulurkan tangannya tersebut ke arah wajah Eadwig.


    Saat itu, Arley memberi tanda bahwa ia belum selesai berbicara.


    "Dari orang yang memberi tahu aku tentang informasi ini—sumber kekuatan tersebut akan datang dari pantai bagian selatan benua Horus."


    Kemudian Arley menurunkan tangannya selepas Eadwig mengetahui apa maksud dari tanda tersebut.


    Lalu berlanjutlah narasi Arley untuk menjelaskan situasi dan kondisi saat ini.


    "Jika aku gabungkan antara informasi tersebut dengan arah dimana pertikaian akan terjadi ... tampaknya sumber kekuatan yang di sebut tersebut, berasal dari benua『Aglis』" jelas Arley dengan serius.


    Lalu, Amy menyangkal perkataan Arley.


    "Tunggu dulu! benua『Aglis?』, -hahaha, kau pasti bercanda kan?" tampaknya Amylia tidak mempercayai penyampaian informasi yang Arley berikan kepada dirinya.


    "Ada," tegas Arley demi menjawab pertanyaan Amylia, "Benua『Aglis』benar-benar ada di bagian utara『Soros』" ketika ia menyampaikan hal tersebut, wajah Arley tak berubah sedikitpun, ia benar-benar serius akan hal ini.


    Seketika itu juga, Amy tak dapat berkata-kata.


    Dengan cara penyampaian yang Arley tunjukkan kepada mereka berempat, mau tak mau mereka harus mempercayai apa yang di terangkan oleh arley.


    Lalu, Arley mulai menanyakan hal yang sangat penting untuk dipahami.


    "Pernahkan kalian mendengarkan nubuat tentang, 7 Kitab Tuhan/The 7 Books of God?" cetus Arley sembari ia mengangkat jari telunjukknya, bagaikan guru yang tengah mengajari murid-muridnya.


    Saat itu juga, suasana di dalam ruangan tersebut, berubah menjadi semakin berat.


***


----------------------------------------------


Hai semua sahabat pembaca dimanapun kamu berada! Jangan lupa untuh support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, comment, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian lakukan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan membagikan sedikit pointnya, Author akan sangat senang sekali dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter demi chapternya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah! Demikian salam penutup dari Atuhot untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia! dan selalu berpikiran positif!


Always be Happy


And Happy Reading Guys!