
Berdengung. Kencangnya suara angin, menderu berisik—tepat di telinga Arley. Ia melesat cepat menuju pintu gerbang bagian Selatan. Walaupun kondisi benteng sudah hancur, dan semakin lama semakin membesar, akibat hantaman pentungan『Orc』. Namun perlawanan masih tampak terjadi.
Dari kejauhan, Arley mampu melihat Kakek Marlin dan Uskup Steven—tengah melawan para monster dengan mantra-mantra sihir yang tak pernah Arley lihat sebelumnya.
Mereka berdua saling melindungi pundak masing-masing, dari serangan monster yang ingin berontak masuk ke dalam tembok pertahanan kota.
Menyadari jika dirinya masih sangat jauh dari sudut Selatan, Arley menambah kecepatan terbangnya. Akan tetapi, perjalannya untuk membantu Kakek Marlin dan Uskup Steven, tak semudah yang ia pikirkan.
Tiba-tiba dari sebelah kirinya, Arley diserang oleh『Incubus』yang melesatkan anak panah, dari atas sebuah rumah bertingkat dua.
“Owh!” gumamnya sambil menghindari serangan tersebut.
Terhentilah pergerakan Arley. Ia langsung menghadap ke arah Timur untuk menghabisi lawannya tersebut. Mengarahlah tongkat sihir yang ia pinjam dari Rubius, tepat menuju ke posisi Incubus tersebut berdiri.
“Ventum Vulnus!”
Terucap mantra yang tak pernah ia gunakan. Terciptalah tebasan angin dari ujung tongkat sihir Arley. Ukurannya cukup masif. Bahkan mampu membelah rumah yang dijejaki oleh sang『Incubus』.
Sempat sang monster tampak ingin melarikan diri. Namun jarak tebasannya terpaut besar. Dirinya tak mampu melepaskan jangkauan dari lesatan mantra sihir yang Arley rapalkan. Saat itu juga, sang monster kalah berduel melawan Arley.
Runtuhlah rumah yang terkena serangan Arley. Akan tetapi, Arley tidak terlalu mempedulikannya, ia langsung saja beranjak pergi dari lokasi perselisihan.
Beberapa saat kemudian, kembalilah Arley dicegat oleh kerumunan monster. Kali ini jumlahnya lebih banyak. Sekitar dua puluh lebih prajurit monster menyerbu dari arah depannya.
Baik itu monster darat, ataupun monster terbang seperti『Harpy』atau『Humanoid Falcon』.
“Mengapa mereka selalu muncul!? Ini sangat mengesalkan!” ujar Arley dengan perasaan dongkol.
Turunlah sang remaja bermata hijau dari terbangnya. Lalu ia menjulurkan kembali tongkat sihirnya—mengarah ke tempat para monster itu tengah menyerbu.
Lalu, Arley merapalkan mantra sihir yang ingin ia uji coba kembali. Banyak mantra sihir yang tak pernah ia coba, sebab itu, ia merasa ingin merapalkan berbagai macam mantra, juga untuk mengetes kemampuannya.
“Terraemotus Maximus!”
Rapalnya sambil menunjuk ke arah bawah tanah. Tiba-tiba gempa bumi terjadi, lalu sekitar satu kilo meter ke depan, tanah di atas bumi langsung anjlok merosot ke dalam perutnya.
Merontalah seluruh monster yang berlari menuju Arley. Sang remaja pun tak menyangka jika sihirnya akan menimbulkan kerusakan yang begitu parah. Sejenak ia merasa bersalah karena merusak properti warga.
Akan tetapi, melihat masifnya penyerangan monster. Arley memantapkan hati, untuk terus melontarkan serangan-serangan, yang rasio kekuatannya sama dengan mantra sihir barusan.
Belum selesai. monster yang menyerang dari atas langit, tiba-tiba meluncurkan serangannya terhadap Arley.
Sontak, secara refleks Arley menghindari serangan mereka dengan melompat ke sana dan kemari. Sedikit tertekan, serangan yang menyerbu Arley semakin bertambah banyak. Lantas Arely mencoba untuk merapalkan mantra yang ingin ia uji coba kembali.
Ia ayunkan tongkat sihirnya melingkar ke depan sebanyak dua kali, lalu ia rapalkan mantra sihir yang mampu melindungi dirinya.
“Ventum Protectio!”
Rapalnya seketika itu juga. Lantas, berputarlah pusaran angin yang cukup padat. Namun, cukup transparan untuk bisa melihat daerah luar pertahanan. Putaran angin itu bagaikan bola yang melindungi Arley dari porosnya, sedangkan Arley terlindungi pada bagian dalamnya.
Setiap serangan yang melesat ke arah Arley, langsung tertahan bagaikan riak air yang tertimpa batu. Mau itu bulu besi yang di lontarkan oleh『Harpy』, atau pun sihir batu yang『Humanoid Falcon』muntahkan dari tenggorokannya. Semuanya terpental akibat mantra sihir berukuran cukup masif tersebut.
“Sihir yang satu ini cukup bermanfaat. Aku harus mengingat mantra yang satu ini,” gumam Arley sambil ia melirik ke sekitar poros putaran, bola angin tersebut.
Melangkahlah Arley maju menuju tebing jurang yang ia ciptakan. Kemudian, ia kembali merapalkan matra sihir, yang mampu membuatnya terbang tinggi.
“Gale Ventum~”
Terbanglah ia sembari diserang oleh berbagai hujan senjata. Namun ia tak mempedulikan hal tersebut, dirinya hanya melesat cepat—menuju ke tempat orang yang ia anggap sebagai keluarganya itu.
“Aku berharap mereka masih dalam kondisi yang baik-baik saja …,” bisiknya dalam hati. Melonjaklah Arley terbang tinggi ke atas langit kota.
Lalu ia melesat cepat bagaikan peluru, yang melompat kilat—menuju ke tembok bagian Selatan perbatasan kota.
Akan tetapi, secara brutal Arley dihempas dari atas langit, oleh seorang monster—yang penampilannya sangat berbeda dengan monster-monster lainnya.
Penampilannya lebih mahal dibandingkan dengan monster yang sempat menyerang Arley sebelumnya. Ia mengenakan jubah berwarna hitam dengan list berwarna merah. Lalu terdapat『Magic Item』yang tertempel pada pakaiannya.
Dengan liciknya ia tersenyum kejam, sembari menimpa tubuh Arley—sampai meluncur tajam, tepat ke dalam jurang yang Arley ciptakan sebelumnya.
Arley berteriak perih setelah menerima terjangan kaki sang monster. Badannya tertanam pada jurang yang memiliki kedalaman empat puluh meter lebih.
“Kyakyakyakyaaaa!” Terpekik tawa bahagia dari monster berparas setengah manusia itu, dengan sayap tertanam pada bahunya. Dan kedua tanduk pada kepala si pria. Yap, monster ini adalah sejenis『Incubus』tingkat tinggi.
Setelah ia menginjak Arley masuk ke dalam bumi.『Incubus』tersebut, langsung melompat dan menjauh dari atas Arley. Ia kembali terbang dan memosisikan jarak, dari; si anak berambut merah.
Bangkitlah Arley dari keterpurukannya, tubuhnya berlumur tepung pasir sebab kejadian yang menimpanya.
Tampak kepalanya sedikit bocor sebab hantaman yang terakhir.
“Ahh … padahal aku baru saja mengobati diriku sendiri …,” celoteh Arley dengan ekspresi datar.
Melihat ekspresi datar Arley, sang monster menyadari jika anak yang satu ini bukanlah manusia biasa. Dengan cepat ia kembali menyerang arley dengan lesatan terbangnya.
Kepalan tangan siap menghantam tempurung kepala Arely. Untungnya pukulan tersebut meleset setelah Arley membungkuk condong ke arah depan. Arley sudah tahu jika si monster ingin menyerangnya.
Memutarlah tubuh sang monster, dan ia menatap kesal sang remaja berambut merah.
“Sialan! Kenapa kau bisa membaca gerakanku!” rengek si iblis sambil menunjuk Arley dengan jari telunjuknya.
“Eh? Mana aku tahu, pergerakanmu saja yang lamban ….”
Terpicu dengan kalimat polos Arley, sang iblis menggeramkan seluruh tubuhnya akibat kekesalan yang ia pendam. Badannya menggeletar seperti ingin melampiaskan murkanya saat itu juga.
“GaaaAaaAAAaa!” pekiknya sambil mengeluarkan aura hitam dari dalam tubuh.
Kemudian, sang iblis menjulurkan telapak tangan kanannya, tepat ke arah tubuh Arley. Demikian tangan kirinya menggenggam pergelangan tangan kanannya. Sebab, serangan yang ia akan lancarkan berdampak hebat bagi tubuhnya.
“Demonic Pulse!”
Pekik sang monster sembari meluncurkan bola berwarna hitam, yang melontar ke arah Arley. Bola tersebut melesat begitu cepat, bagaikan peluru yang terlepas dari selongsong pistol.
Tersenyum gembiralah sang monster, sebab ia berhasil meluncurkan jurus kelas kakapnya.
Namun, Arley hanya menunjuk bola hitam tersebut degan tongkat sihirnya, dan ia menepisnya, sepeti bola pimpong yang terhempas akibat tepukan raket.
Bola tersebut melanting ke belakang tubuh Arley, lalu ledakan hebat terjadi dengan begitu masifnya. Bahkan sempat menimbulkan lubang sebesar seratus meter, sebab ledakan bola hitam tersebut.
Tercenganglah sang iblis dengan ingus yang sedikit keluar dari hidungnya. Dengan begitu terperangahnya, sang monster terbungkuk bodoh akibat ke frontalan yang terjadi tepat di depan matanya.
“Hmm ... kalo serangan sihir, sepertinya aku bisa menepisnya dengan sedikit luapan『Mana』,” gumam Arley sembari ia menatap ujung tongkat sihirnya.
“Apa yang kau lakukan pada serangan pamungkasku!?” jerit si iblis yang tampak kesal.
Arley lalu melirik ke arah wajah si iblis. Dengan santainya ia menunjuk lubang raksasa di belakangnya sambil berlagak polos. “Emm, ya, haha … aku juga tidak tahu. Tapi ... gitu deh,” gumam Arley tak jelas.
Sang iblis berkulit biru itu, lalu membanting jubah hitamnya saking kesalnya ia dengan jawaban si Remaja Sialan, “Aku gak paham penjelasanmu!” jeritnya lagi dengan wajah keringatan.
Sontak, datang gelombang angin besar dari arah belakang Arley. Muncullah sebelas monster yang mengenakan jubah—mirip dengan si iblis『Incubus』. Dan tampaknya, mereka lebih kuat dari sang iblis berwarna biru itu.
“Apa yang kau lakukan di sini, Zorman …?” tanya iblis berwarna merah. Wajahnya berjanggut dan tanduknya melingkar seperti kambing.
Lantas, wajah iblis bernama Zorman itu langsung terlihat kesal, selepas iblis berwarna merah itu datang.
Meludahlah si iblis biru sebelum ia bercakap. “Ifrit … itu bukan urusanmu, pergi dari sini ... anak ini adalah mangsaku!” cetusnya kepada iblis bernama Ifrit.
Kemudian, Arley menoleh sedikit ke arah belakangnya, untuk melihat sosok kesebelas iblis tersebut. “Siapa kalian …?” tanya Arley dengan nada datar.
Tersenyumlah sang iblis bernama Ifrit, sembari ia melipat kedua tagannya di dada.
“Kami adalah: Dua Belas Komandan Utama, Pasukan Raja Iblis! Yang akan menghancurkan seluruh permukaan bumi『Soros!』” jawab si iblis merah, dengan senyuman arogan pada wajahnya, dan membentangkan lebar kedua tangannya.
Mendengar kalimat Ifrit—mata Arley melotot. Tiba-tiba saja bibirnya tersenyum lebar, tampak seperti ia menikmati situasinya pada saat ini.
Karena dirinya sadar akan hal tersebut, Arley langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, “Opss! Aku tak seharusnya tertawa,” ucapnya dengan adrenalin yang berpacu hebat.
Demikianlah pertemuan pertama Arley dengan kedua belas Komandan Utama, Pasukan Raja Iblis. Bisakah Arley membasmi mereka semua secara bersamaan? Bagaimana nasib Arley selanjutnya?
***
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!
Author akan merasa sangat berterima kasih!
dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!