
Not Edited!
Kepalan tangan sang monster sudah berada di atas lagit, siap menghujam kepala sang wanita.
Hagrid yang menatap kejadian tersebut, dirinya merasa putus asa walaupun tubuhnya masih berusaha untuk berotak keluar dari dalam reruntuhan tersebut. Gigi-giginya ia keratkan untuk menahan rasa sakit, walakin tetap saja tubuh sang pria berponi panjang tak kunjung bergerak.
Lantas, bergeraklah pukulan sang goblin, melesat kuat ke kepala sang wanita. Mata Hagrid melotot lebar, dan mulutnya terbuka lebar sembari ia meneriakkan satu-satunya kalimat, yang kala itu terlintas pada benak pikirannya.
“RUBIUUS!!!” pekiknya membelah langit.
Demikain, bagaikan sebuah takdir, tiba-tiba saja sebuah jasad monster terjatuh dari langit dengan begitu kencangnya, dan menghantam tubuh sang goblin, sebelum kepalan tangannya mengenai kepala Scylla.
Wajah Hagrid yang sudah bercucuran air mata, menatap langit yang sudah mulai memerah sebab kondisi alam yang akan menjemput malam. Tepat di atas kepalanya, dirinya melihat Rubius tengah terbang sembari menyodorkan tongkat sihirnya pada iblis yang berasal dari ras [Golem].
“R-rubius …?!” gumam Hagrid seperti dirinya tak percaya.
Rubius yang masih terbang di atas langit, hanya melihat rendah ke arah teman-temannya kala itu. wajahnya tampak tak segan untuk menolong keempat rekan setimnya.
Seketika itu juga, Rubius membalikkan tubuhnya untuk pergi ketempat lain.
Sedangkan sang goblin yang tengah mereka lawan kala itu, dirinya mulai bangkit untuk membalaskan dendamnya terhadap tim Green Gorgon.
“Gormamu …?” gumam si gobin yang menggeser tubuh rekan raksasanya dari atas tubuh hijaunya.
Bangkitlah dirnya untuk melihat kondisi terbaru. Dan setelah dirinya menyadari jika salah satu iblis telah tewas di tangan manusia. Seketika itu juga wajah sang goblin berubah menjadi kejam dan jahat.
Aura hitam semakin tebal keluar dari dalam tubuhnya. Secepat kilat ia berpindah dari posisi reruntuhan gedung yang menanam diriya, menuju bilah pedang raksasa yang diriya tanam beberapa saat yang lalu.
“MANUSIA KURANG AJAAR!” teriaknya dengan begitu kencang. Lantas, ia mencabut pedangnya yang tertanam di perut bumi, dan seketika itu juga bumi seperti gemap untuk sejenak.
“Aku! Ketua dari seratus ribu suku goblin yang mendiami bumi soros! YATEF! Adalah nama yang akan memecah lautan! Tengah marah atas apa yang manusia perlakukan! Terhadap salah satu Komandan Utama Pasukan Raja Iblis!” Keluarlah gelombang aura memecah seluruh perputaran udara pada sekeliling sang iblis.
Seketika itu juga, dalam jarak lima puluh meter, gumpalan asap hitam mulai timbul sebab aura hitam yang sang goblin keluarkan.
Melihat kejadian tersebut, Hagrid merasa ketakutan. Dirinya hanya mampu menatap Rubius untuk meminta pertolongan. Namun harga dirnya tak memperbolehkan hal tersebut.
Dari atas langit, Rubius masih tampak melirik ke arah sang iblis dan tubuh sadar Hagir. Sedangkan ketiga rekannya yang lain sudah terpingsan di tempat mereka duduk.
“R … Rubius! Kau tak mau bantu kami!?” pekik Hagrid yang masih berdiam tumpu pada harga dirinya.
Akan tetapi Rubius hanya terdiam sembari melihat wajah Hagrid yang tersenyum tapi tak mengenakkan. Bibirnya ingin mengerenyit senyum, namun wajahnya tak berpenampilan demikian.
Seketika itu juga Rubius mulai menggeserkan tubuhnya menjauh dari Hagrid. Hagrid yang ketakutan, lagsung saja memekik untuk menghentikan perbuatan sang ketu tim.
“H-Hey! Tunggu! Kau benar-benar akan meninggalkan kami di sini!?” pekiknya dengan saura serak dan gemetaran.
Perlahan tubuh Hagrid bisa kembali digerakkan, keluarlah dirinya dari dalam puing-puing bangunan. Saat itu juga ia berlari menuju ketengah jalan demi berbicara dengan Rubius.
Namun Rubius tetap terbang perlahan meninggalkan dirinya.
“Kau benar-benar akan meninggalkan kami!?” teriak Hagrid yang kala itu melihat secercah harapan, namun, lamat laun cahaya itu ulai pudar.
“T-tunggu! Kau pasti bercanda kan …? RUbius!? HEY! RUBIUS!?” kali ini Hagrid mulai panik, sebab sang goblin mulai berjalan menuju ke arahnya, sedangkan Rubius tampak tak mempedulikannya.
“Woy! Sialan! Ini perintah! Kembali ke sini sekarang juga!” ego Hagrid mulai merajai hatinya, karena kepanikan yang dirinya mulai rasakan, harga dirinya melonjak tinggi tak karuan.
Tapi waktu terus berjalan, begitu juga dengan langkah kaki sang goblin yang bergerak mulai cepat.
Cahaya harapannya mulai pudar dan yang tampak hanya kegelapan dan gulita pada kedua mata nya. Ya mata hatinya yang mulai membuta, dan mata fisiknya yang terselimuti kabut pun mulai menghitam.
“Eh!? HEH!? Apakah aku akan benar-benar mati di sini!? Rubius!? Hey Rubius!? KAU MENDENGARKU KAN RUBIUS!? KAU MASIH DI SANA KAN RUBIUS!?” jantungnya berdetak begitu kencang, pikirannya mulai kalut, tak ada hal lain yang Hagrid bisa pikirkan selain Rubius, si anak budak, dari keturunan sampah.
Namun, di dalam masa kondisi dirinya saat ini, tak ada yang namanya anak si siapa dan si siapa. Hanya dirinya dan kematianlah yang menemani sunyinya gelap kabut.
Demikian, terdengar dengan jelas jika lagkah kaki sang goblin sudah berada di hadapan tubuh Hagrid, yang tak mampu melihat sekelilingnya walaupun itu hanya berjarak satu ceti meter di depan matanya.
Setelah rasa ketakutannya telah memasuki puncak perasaan, saat itu juga harga diri sang bangsawan hancur layaknya gelas yang di banting kencang.
Wajahnya memucat, air mata berlinang kencang, ingus mulai mengalir deras. Seketika itu juga Hagrid berteriak kencang meneriakkan isi hatinya yang paling terdalam.
“AKU MINTA MAAF ATAS APA YANG PERNAH AKU LAKUKAN PADA DIRIMU!! RUUUBIIIUUUUUUSSSSS!” teriaknya dengan kencang, tapi masih tak ada pertolongan yang datang. Seketika itu juga, Hagrid meneriakkan satu kalimat yang belum pernah dirinya ucapkan.
“T-TOOoloooOOng!!! TOLONG! TOLONG …! TOLONG AKKUUU …! SIAPAPUN ITU! AKU MOHON PERTOLONGAN …!!!” Merengek tak karuan, Hagrid terduduk pada kedua kakinya akibat terlemas seusai berteriak kencang.
Secara instan, bagaikan mimpi yang tak akan terulang kembali. Tiba-tiba langit menjadi cerah bagaikan badai baru saja beralih.
Sebuah cahaya dari langit pada waktu sore hari, datang menyinari tubuh Hagrid yang dari atas sumber cahaya tersebut, ada RUbius tengah menyodorkan tongkat sihirnya ke arah Hagrid.
Lantas, tepat di sebelas Hagrid, tubuh sang goblin telah hangus terbakar, dan tampak sambaran petir dari tubuh goblin bernama, Yatef tadi, masih meningglankan sedikit statis pada kulitnya.
Sontak, pedang yang berada tepat di atas kepala Hagrid langsung terjatuh kesamping kirinya sebelum sampai menancak ke tempurung kepala sang pria berponi panjang.
Seketika itu juga, tubuh sang goblin terbanting ke kanan dan pasir di sekitar sang goblin, membumbung tinggi ke atas langit.
Melihat kejadian tersebut, Rubius langsung melambaikan tangannya kepada Hagrid sembari pergi pamit untuk membantu rekanya yang lain.
Hagrid hanya mampu membalas labaian tangan RUbius sembari dirinya ikut terpingsan di tepat ia terduduk kala itu.
Lalu, bagaimana kondisi rekan-rekan Arley yang lainnya?
Bersambung ~
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!
Author akan merasa sangat berterima kasih!
dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!