
~PoV 3rd~
Sunyi senyap, hanya deruan angin yang dapat terdengar di kuping setiap orang. Pada moment ini, Maximus dan Eadwig tengah bersitegang untuk menentukan siapa yang lebih hebat di antara mereka berdua.
Walaupun sebenarnya peristiwa ini tidak di pertontonkan secara sengaja, namun orang yang melihat pertarungan ini sangat bersemangat untuk melihat hasil dari pertarungan antara kedua negara.
Maximus anak Adipati Maxwell dan Eadwig anak dari raja kerajaan『Simbad』. Siapa di antara mereka berdua yang lebih hebat? Dan hasil dari pertandingan ini akan menjadi hasil kasar siapa di antara kedua negara yang memiliki kekuatan lebih dominan.
Saat ini, Maximus berjalan menuju Eadwig dengan menyodorkan tongkat sihirnya, ia berjalan ke tengah Arena untuk memprovokasi Eadwig agar ia lengah dari serangan yang Maximus akan segera di keluarkan dari ujung tongkat sihirnya.
Sesampainya di tengah Arena, Maximus langsung mengeluarkan sihir apinya dan saat itu juga Eadwig Bergerak dengan insting petarung yang sudah lama ia pelajari.
“Fire Ball!!”
Teriak Maximus sambil berlari berputar mengelilingi Eadwig. Namun serangan Maximus berhasil di tangkal oleh Eadwig dengan menebaskan pedangnya pada bola api yang terbang menuju tubuh Eadwig.
Tentu saja Eadwig tidak tinggal diam, ia juga berlari mendekat ke-arah Maximus dan sesegera mungkin ia menyerang Maximus dari jarak yang sekiranya cukup dekat untuk mengeluarkan jurus andalan miliknya.
“Wind Slash!”
Dengan kedua pedangnya yang disilangkan, Eadwik menebas angin yang seketika itu juga merambat dengan cepat menuju Maximus yang tengah berlari tanpa melihat sekitarnya.
Angin itu berderu kencang dan menimbulkan suara yang cukup nyaring, sontak Maximus tertegun setelah mendengar suara itu, ia mundur tiga langkah dengan cepat, namun walaupun ia sudah berusaha menghindar, Jurus “Wind Slash” yang dilancarkan oleh Eadwig ternyata lebih kuat dari yang ia duga.
Semua orang yang berada di bagian selatan, melakukan tiarap agar tidak diterpa oleh angin yang Eadwig ciptakan.
Sedangkan Maximmus, ia bersiap-siap untuk melakukan serangan balik agar serangan Eadwig bisa terpatahkan.
Dengan putus aja ia mengucapkan mantra sihir seraya meneriakkannya nada yang cukup lantang.
“Earth Wall!!”
Rapal Macimus sambil menggerakkan tongkat sihir yang diarahkan ke tanah. Saat itu juga muncul tembok berukuran 1 meter dan lebar 50 cm tepat di hadapan Maximus, demikian Maximus bersembunyi di belakang tembok yang ia ciptakan dari sihrinya tadi.
“Eugh! Sialan!! Dasar cecunguk!! Tenang! Tenang diriku sendiri … huft … baiklah, Eadwig bukanlah sembarangan orang, aku tahu itu, Jika demikian ….~” Bisik Maximus sambil melirik sedikit keluar untuk melihat kondisi Eadwig, demikian ia merencanakan sebuah rencana yang cukup licik.
Sesaat kemudian Maximus tertawa sendiri dengan senyuman yang tak enak untuk di pandang itu.
Angin sudah berhenti menderu. Ketika moment ini datang, Maximus langsung berlari menuju Eadwig dan ia langsung membidik tongkat sihirnya tepat ke dada sebelah kiri Eadwig.
“Fire Spear!”
Teriaknya sambil merapalkan mantra! Dengan cepat, muncul api yang cukup lancip menyambar kearah Eadwig.
Namun kecepatan api itu tentu saja bisa di lihat oleh Eadwig, dengan lincah Eadwig menghindari serangan yang di lancarkan Maximus.
Tentu saja seranga Maximus hanya terlontar ke bagian utara Arena pertandingan. Tapi ada hal yang cukup Aneh, saat itu, Eadwig tanpa sengaja melihat wajah Maximus yang tersenyum bagaikan wajah ular.
Sontak Eadwig melirik ke belakangnya, dan ia menemukan kedua temannya yang sedang dalam kondisi tidak siap, mereka berdua yang tengah lengah, dalam waktu dua detik ke depan akan tersambar serangan api yang di lancarkan oleh Maximus.
“Trevor!! Jack!! Awass!!!” Teriak Eadwig memperingati kedua rekannya. Namun waktunya tidaklah cukup. “Tch!! Licik!” sambil mendecikkan bibir, Eadwig langsung berlari bagaikan sambaran petir untuk menangkis serangan yang hampir mengenai kedua temannya.
“BLaaAAAarrrRRRrrrr!!” suara ledakan yang cukup keras terdengar dari sudut utara Arena pertandingan.
Dalam sekejap mata, sihir “Fire Spear” yang di lontarkan Maximus menabrak benda keras yang menghalangi terkenanya kedua teman Eadwig yang tengah lengah saat itu.
Benar, benda keras itu adalah tubuh Eadwig sendiri. Saat itu juga pundak Eadwig terkena serangan yang dapat membunuhnya.
Namun beruntungnya, pakaian zirah Eadwig memlindungi nyawanya dari ancaman kematian. Walaupun demikian ia terkena luka dalam yang cukup parah.
Baju Zirahnya bolong dan terdapat luka luar yang cukup parah terlihat dari luka tersebut.
Kemudian tertumpah lah darah dari mulut Eadwig yang saat ini masih berdiri melindungi kedua temannya. Darah itu tumpah ke tanah dan membuat kedua rekan Eadwig terkejut setelah melihat kejadian itu.
“Yang Muliaaaa!!!!” Teriak Trevor dan Jack sembari berlari memeluk tuannya yang hampir terkapar di tanah.
Mereka berdua langsung memeluk hangat sembari berusaha merawat tuannya yang ketika itu sedang mengumpulkan tenaganya yang tersisa.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara yang cukup menggangu perasaan mereka berdua saat mereka tengah merawat Eadwig.
“GyAahahahAhhaahhAHa!!! Ohh Yang mulia Eadwig!! Betapa lucunya dirimu ini!! beberapa saat yang lalu kau berkata akan melawanku dan sekarang kau terkapar di pelukan budak mu!!”
Diluar perkiraan semua orang, ternyata Maximus adalah sosok yang cukup kuat untuk bisa di kalahan dengan kekuatan mentah.
Kekuatan berfikirnya ternyata luar biasa hebat sampai-sampai ia mampu merubuhkan sosok Eadwig yang tak pernah terkalahkan sebelumnya!
Eadwig ketika itu hanya bisa menahan perasaan kesalnya terhadap Maximus sambil ia berusaha mengumpulkan kekuatannya yang tersisa. Demikian kedua teman Eadwig lah yang mewakili Eadwig untuk mencerca balik kalimat Maximus.
“Bedebah kau Maximus!! Dasar pecundang!! Cara bertarungmu kotor!! Kau tidak layak menjadi wakil dari negara『eXandia』!! Kau merusak martabat negaramu sendiri!! Dasar pecundang sialan!!” Teriak Trevor dengan kesalnya
“Ohoho~ Lihat ini, kita baru saja menyaksikan ****** yang menggonggong dengan galaknya, hey budak! Ayo kesini bila kau mau bertarung dengan ku~” dengan piciknya Maximus menantang maju Trevor untuk berduel dengannya.
Tentu saja tanpa pikir panjang Trevor melesat maju dan mengeluarkan bilah pedang dari sarung pedang yang tersemat pada pinggang kirinya.
“Tre … vor! JA … ngan!!” Eadwig memanggil Trevor untuk menghentikannya, namun sudah terlambat.
Trevor melesat cepat bagaikan peluru untuk menyerang balik Maximus yang saat ini tengah tertawa cekikikan.
“Mati kau Maximus!!! Heeeyyyaaaa!!!!!” Teriak Trevor sambil mengayunkan bilah pedangnya di kepala Maximus.
Tetapi saat ini Trevor sudah masuk ke perangkap busuk yang Maximus sudah rancang sebelumnya.
“Gehe~!” Maximus mencoba menahan tawanya.
Terlambat, ketika Trevor menyadari jika dari samping kanannya ada sebuah serangan yang masuk, ia tidak dapat menghindari serangan tersebut!
Secepat kilat dari sebelah kanan, masuk sebuah serangan berupa batu yang menghantam kepalanya sampai-sampai pada saat itu juga Trevor terhempas ke bagian barat Arena.
Serangan itu berasal dari sihir yang di keluarkan oleh Morlia, ya, teman dari Maximus yang sudah dari awal menunggu moment ini untuk terjadi.
Trevor terkapar di sudut barat Arena pertandingan, namun ia masih dalam keadaan sadar. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa semua korban Maximus masih dalam kondisi sadar dan tidak pingsan?
Semua ini adalah rencana dari Maximus yang memang ia sengaja, di dalam Arena ini tidak boleh ada yang keluar dari Arena ini sebelum Arley mati terlebih dahulu. Begitulah pola pikirnya untuk saat ini
“Treevorr!!!” Teriak Jack dari sebelah Utara sembari memeluk Eadwig yang tengah terbaring lemas.
Seketika itu juga, Eadwig bangun dari tidurnya, tampaknya kondisi Eadwig sudah mulai kembali pulih walaupun dia masih susah untuk bernapas akibat luka dalam yang ia derita.
“Eugh!! …. Haah …. Hahh… haah… Jack, apapun yang terjadi, kau tidak boleh bergerak dari tempat ini, pasanglah tameng mu dan tetaplah bertahan.” Perintah Eadwig dengan nada yang tersengah-sengah.
“T-tapi yang mulia! Aku tidak bisa-“ terpotong kalimat Jack oleh teriakan Eadwig.
“Ini perintah langsung dari pimpinan mu!! Turuti atau kau akan menerima sanksinya!”
Kemudian Eadwig mengambil kedua pedangnya yang tergeletak di tanah, dan ia berjalan menuju tengah Arena dengan keadaan tertopang oleh kedua pedangnya itu.
“Heii-heii Eadwig! Kau tidak berniat unutk melawanku dalam kondisi seperti itu bukan!?” Cerca Maximus kepada Eadwig yang sedang dalam kondisi tidak sehat
“Tutup mulutmu Maximus, Ayo kita selesaikan ini semua.” Demikian Eadwig menarik nafasnya dalam-dalam dan ia menyimpannya di paru-paru miliknya.
Lalu di angkat kedua pedangnya ke langit, dan saat itu juga, Eadwig berfikir untuk mengakhiri ini semua sebelum ia terpingsan akibat kehabisan darah.
Dengan kecepatan penuh ia berlari menuju ke-arah Eadwig dan menyodorkan tongkat sihirnya. Dalam hitungan detik, Maximus merapalkan mantra sihirnya ke-arah Eadwig.
“Fire Dart!!”
Namun ketika sihir nya keluar dari ujung tongkat, Eadwig telah hilang dari hadapanannya. Sihirnya pun hanya mampu menabrak dinding tribun penonton.
“-Eh ….!?” Maximus terheran-heran dengan kondisi yang terjadi, ia melihat ke sekeliling, namun tidak ada tanda-tanda jika Eadwig bergerak dengan kecepatan penuh.
Sampai akhirnya ia terkejut jika bayangan di bawahnya melebar dengan cepat, saat itu juga Maximus melihat ke atas dan ketika ia menyadarinya, segalanya telah terlambat.
Tepat di atas kepala Maximus, Eadwig menghunuskan pedang tumpulnya dengan sangat kuat tepat ke kepala Maximus. Demikian saat itu juga Maximus terguncang dan ia tidak dapat bergerak.
“GYaaaaAAaAaaA!!!!” Teriak Maximus sambil mencoba menahan serangan yang akan mengenai dirinya.
Namun sekali lagi entah mengapa Maximus terselamatkan. Dari sudut timur, ketiga teman Maximus merapalkan sihir tanah dan saat itu juga bebatuan krikil menyerang Eadwig dengan brutalnya.
Eadwig tidak menyerah begitu saja, ia mengeramkan tangan kirinya dan ia menghempaskan seluruh kekuatannya untuk memukul kepala Maximus yang tengah dalam kondisi tidak terlindungi.
Akan tetapi serangan Eadwig tidak samapai ke kepala Maximus akibat sihir batu yang menyerangnya dengan brutal, hanya angin kencang yang menerpa wajah Maximus dan menyebabkan terapan angin itu menghantam kepala Maximus dengan sangat kencang!.
Saat itu juga Maximus terpental ke sisi Timur dan dengan cepatnya ia menabrak ketiga temannya yang sedari awal menunggu akan moment ini untuk terjadi.
Hal serupa juga dengan Eadwig, ia terpental ke sudut timur dalam kondisi terjatuh kelantai, serta tubuhnya terseret di lantai sembari terhenti di sudut Arena. Hampir saja Eadwig keluar dari pertandingan karena hal tersebut!.
Kondisi Eadwig cukup parah dan kejadian tadi cukup untuk membuatnya terpingsan saat itu juga, namun ia berusaha untuk terus sadar dalam kondisi yang cukup parah ini.
Dilain pihak kondisi Maximus masih dalam keadaan prima, ia hanya memar sedikit di bagian pipi kirinya. Serangan yang di lancarkan Eadwig hanya dapat menamparnya dengan kencang saja.
Perlahan Maximus bangkit dari tidurnya, lalu ia melihat sekeliling Arena. Di sudut utara ia melihat teman Eadwig (si Jack) yang masih dalam kondisi bertahan, sedangkan Trevor tergeletak lemas sambil melihat ke-arah tuannya.
Kemudian Maximus tersenyum lebar ketika melihat kondisi Eadwig yang menatap wajah Maximus dengan sangat jengkel karena ia tidak bisa melakukan apa-apa.
Rencana licik Maximus berhasil, ada rasa legah di hatinya setelah melihat Eadwig terkapar tak dapat melakukan apapun saat berhadapan dengannya.
Saat itu juga ia berjalan ke tengah Arena untuk merayakan kemenangannya, ia berjalan dengan suara cekikikan yang sangat absurd dan membuat orang yang mendengarnya meinding.
“Kikikikiki!!! Kiyakakakaka!!! KAaKkakakakakaA!!!” sebuah pertunjukan yang tidak biasa. Dengan terdengar nya suara tertawa dari Maximus, seluruh penonton yang ada di pinggir Arena menyorakinya dengan perasaan jengkel.
“Booooo!!! Dasar manusia iblis!! Keluar kau dari sana!!” terdengar teriakan seorang pria yang entah dari mana.
Saat itu juga, Maximus terdiam dan terperanjat ketika mendengar suara orang itu. Dengan lincahnya, mata Maximus melirik ke sana kemari mencari sumber suara.
“HEEYY!! Siapa yang mengatakan itu!!” Teriaknya untuk mengintimidasi sang penonton.
Namun tidak hanya satu orang, kali ini suara cercaan juga masuk ke telinga Maximus dan menusuk ke hatinya yang paling dalam.
“Dasar anak ******!! Kau tidak pantas berada di atas sana!! Cepat turun dari sana sekarang juga!!” Lagi, terdengar suara yang entah dari mana.
“HaAAA!? Apa yang kau katakana!?” Maximus langsung melirik ke-arah utara, namun ia tidak dapat menemukan siapa yang mencercanya.
“Pergi kau Iblis!! Kau tidak berhak mengikuti kompetisi ini!!” kali ini terdengar suara wanita dari arah timiur.
Maximus terdiam, suara cercaan lalu bergema di dalam Arena dengan kencangnya, perlahan beberapa orang mencerca dirinya dan akhirnya seluruh orang ikut mencerca perbuatan lick Maximus.
Tidak hanya cercaan, kali ini para penonton itu melempari Maximus dengan berbagai macam sampah kepada dirinya untuk menghinakan Maximus.
Mulai dari botol, kertas sampah, batu, ranting, dan berbagai hal lainnya. Merek mencerca Maximus dengan sejelek-jeleknya cercaan.
Ketika itu tubuh Maximus bergetar, tampak di kepala dan lehernya urat biru menonjol dengan hebat, giginya menggerutu dan terdengar keras.
Demikian Morlia, Krippa dan Karel, mencoba untuk mendekati Maximus dan mencoba menenangkannya.
“K-Ketua … k-kau tidak apa-apa …? “ Utas Morlia sambil melirik sedikit melihat wajah sang ketua tim.
“H-Hiii!!” namun yang ia lihat bukan lah lagi Maximus yang mereka kenal, wajahnya benar-benar berubah, demikian kedua temannya yang lain, mereka melihat Maximus bukanlah seperti orang yang sama.
Sontak Morlia, Krippa dan Karel langsung berlari ke-arah Timur dan mematung di sana akibat ketakutan melihat wajah dari ketua tim mereka.
“Bedebah … ini semua karena ulah mu, oooooh ini semua ulahmu cecunguk sialan~” Maximus bergumam dengan suara yang sangat bergetar.
Perlahan ia berjalan ke-arah Arley sambil menyodorkan tongkat sihirnya ke-arah Arley.
“Ini semua gara-gara kau Arley!! Jika kau tidak bersama Uskup Agung, pasti aku akan lebih di butuhkan darimu saat ini juga!!” tidak diduga-duga, ternyata kali ini Maximus menangis dengan wajah seramnya itu.
“ARRLLEEYY!!! AKU MEMBENCIMU !!!!” Teriak Maximus sekuat tenaga, sampai-sampai membuat semua orang terkejut dengan suaranya yang bergetar ini.
Wajahnya tampak jelas jika Maximus sedang menangis, demikian dia bergumam tidak jelas dan tampak begitu kesal terhadap Arley.
“Jika kau tidak ada! Aku akan menjadi seorang pendeta saat ini juga!! Namun kenapa kau datang di waktu yang tidak tepat!! Jika di hari itu kau tidak datang, maka aku akan hidup bersama Uskup Steven detik ini juga!! Aku membenci mu Arley!!!!”
Teriak Maximus dengan seluruh perasaannya. Dan ketika ia sampai di depan Arley, Maximus langsung mengeluarkan sihir yang dapat membunuh orang.
“… ku mohon, matilah kau saat ini juga oh Arley Benedict …” beberapa saat kemudian, kondisi berubah menjadi hening dan mencekam.
Paramedis juga tidak dapat bertindak, mereka hanya dapat melihat Arley dengan mata yang melotot dan mulut yang terbuka lebar.
“Fire of Death~”
Rapal Maximus tepat di kepala Arley ….
“BLarr!! DUUAaaaarrRRRr!!!!” Dengan suara yang amat sangat kencang, seluruh stadion menggema dengan suara ledakan yang menderu sangat dahsyat.
Suaranya sangat nyaring dan mendengung di telinga setiap orang yang mendengarnya.
Api berkecamuk hebat dan tiba-tiba menghilang bagaikan bom yang tengah meledak.
“SShhhh~ Ahhh … Selesai sudah …” Ucap Maximus sambil merundukkan kepalanya, wajahnya masih terbalut dengan air mata namun ia tampak puas dengan apa yang ia lakukan.
Tubuh Arley sudah tak terlihat lagi di hadapannya, Maximus berfikir jika Arley telah menjadi debu.
Namun tiba-tiba terdengar suara Eadwig yang terdengar sangat terkejut.
“Huh!? HAaAaa!!!” Teriak Eadwig dengan nada yang gemetaran. Ya, untuk pertama kalinya, pada moment ini Eadwig merasakan apa yang dinamakan ketakutan.
Tepat di hadapan Eadwig, ada tubuh Arley yang terlihat cukup aneh. Untuk pertama kalinya ia melihat wajah Arley yang sedemikian rupa.
Tudungnya terbuka lebar, warna rambutnya yang merah memantulkan cahaya matahari dan terlihat bagaikan api yang berkobar.
Kulitnya yang pucat bagaikan susu terbias dengan indah pada pori-porinya, demikian ada sedikit distorsi pada wajah Arley.
Terdapat tattoo aneh terukir pada wajah sebelah kanan nya, tattoo itu merambat sampai ke dalam dadanya.
Demikian pula dengan mata Arley. Ketika Maximus melihat mata Arley, tubuhnya tidak dapat bergerak.
“HA!? A-Arley?!! M-Mengapa kau masih hidup!!?? EH?! Aku … KEnapa tubuhku tidak dapat bergekar!??” Maximus tampak ketakutan setelah melihat wajah Arley yang terlihat sangat aneh, terutama Matanya.
Ya, warna mata Arely sangatlah hitam, dan pada bagian retinanya saja lah yang tampak hijau terang!! Namun bentuknya seperti mata hewan buas yang sedang kelaparan ....
***