The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 108 : Penjelasan Secara Rinci.



not edited!


Mari kita kembali ke lokasi dimana Arley sedang menjelaskan informasi penting kepada teman-temannya.


 


 


Kondisi hari itu sudah sangatlah larut, namun tensi pembicaraan semakin panas. Tak ada satu orangpun didalam ruangan kamar Arley yang merasa kantuk, mereka semua dibuat merinding dengan kisah yang Arley sampaikan.


 


 


“Pernah kah kalian mendengar nubuat, The 7 Books of God?” tanya Arley kepada teman-temannya tersebut.


 


 


Kala itu, tiba-tiba saja wajah Lily tampak terkejut seusai Arley menyebutkan nama dari nubuat tersebut.


 


 


Namun teman-teman Arley yang lainnya hanya terdiam dan emrasa janggal.


 


 


“Maksudmu mengenai kisah rakyat itu? kisah mengenai raja Exandia yang berperang untuk membebaskan umat manusia dari gangguan raja iblis?” jelas Amylia kepada mereka yang berada di ruangan tersebut.


 


 


Kemudian Arley merubah pertanyaannya, “Pernahkah kalian membaca buku karangan Merlin S.J. secara serius?” kali ini wajah mereka terkejut selepas Arley menyebutkan nama yang begitu familiar.


 


 


“Hahaha, jangan katakan kau mempercayai isi dari buku-buku yang ia karang Arley?” ucap Eadwig dengan remehnya.


 


 


Begitu juga dengan teman-temannya yang lain, tampak dari wajah mereka ekspresi yang memberi tahu Arley bahwa mereka tidak mempercayai kisah yang Merlin S. J. terangkan.


 


 


“Jadi kalian tidak percaya jika ras selain manusia pernah hidup di benua kita ini?” nada Arley berubah menjadi berat, tampak sekali jika Arley ingin menyampaikan suatu hal.


 


 


“Maksudmu Arley? aku rasa kau kau menganggap semua itu terlalu serius, heyy bayangkan jika di dunia ini hidup manusa berkepala kucing, atau dwarf yang bertubuh kecil. Bukankah haltersebut tampak begitu absurd?” sangkal Amylia yang dia memang tidak mempercayai semua hal itu.


 


 


Meliriklah Arley kearah Lily, tampak dari kasurya jika Lily tertunduk takut. Wajahnya memucat dan keringat dingin mengalir deras.


 


 


Demikian juga dengan Sofie, selain aku, Sofie juga mengetahui rahasia yang Lily sembunyikan.


 


 


Akhirnya Arley menggelengkan kepalanya sembari menatap kecewa kepada keempat sahabatnya tersebut.


 


 


“Baiklah jika demikian,” Pandangan Arley berubah menuju kearah Rubius, “Ruby, bisakah aku meminjam tongkat sihirmu?” utas Arley kepada RUbius yang kala itu hanya terdiam kaku di belakag Amylia.


 


 


“A-ah! tentu saja …,” kemudian Rubius memberikan Arley tongkat sihirnya, selepas ia memberikan Arley tongkat sihir yang ia buat sendiri itu, Rubius kembali ke tempad dimana ia berdiri tadi.


 


 


“Aku rasa kalian semua sudah mengetahui kisah tentang turunnya Adam kebumi? Jika ada yang belum mengetahuinya kalian bisa mengangkat tangan,” jelas Arley sembari mencoba menjelaskan sesuatu.


 


 


“Adakah diantara kalian yang tidak mengetahui kisah hidup dari Iris, Zue, Horus, Lebia, dan Exandia?” tanya Arley secara sponan, namun Eadwig, Rubius, Amylia, dan Aurum, mereka tak menjawab pertanyaan Arley.


 


 


Mereka hanya diam dan saling memandang satu dengan yang lainnya.


 


 


“Okay, aku anggap kalian sudah mengetahui kisah hidup mereka, kurasa tidak ada orang di muka bumi ini yang tidak mengetahui siapa mereka berlima.”


 


 


“Tunggu Arley, tentu saja kami mengetahui kisah hidup para kaki tangan tuhan tersebut, namun mengapa kau malah membawa kisah hidup mereka ke dalam pembicaraan kita ini? apa hubungannya mereka dengan penyerangan laut selatan?” tegas Amylia kepada Arley


 


 


Sejenak Arley terdiam dan memikirkan suatu hal.


 


 


“Kalau demikian, apa yang kalian ketahui tentang ksiah mereka?”


 


 


“Ehm, kehidupan manusia di masa lampau, yang terus berulang bagaikan lingkaran takdir? Dimana mansuia melakukan kesalahan dan tuhan memberikan pemaafan, lalu terulang lagi dan tuhan memaafkannay lagi? Bukankah demikian?” Eawdig memberikan penjelasan yang ia pahami mengenai kisah kelima kaki kaki tangan tuhan.


 


 


“Ya, itu adalah kisah yang umum di masyarakat, namun, pernahkah kalian membaca versi dari Melrin S. J?” lagi-lagi Arley membawa nama Merlin dalam percakapan ini.


 


 


“Arley! mengapa kau selalu membawa nama itu dalam percakapan ini? apa yang ingin kau sampaikan?!” tegas Amylia yang terlihat sedikit marah, karena semua percakapan ini tampak berputar-putar.


 


 


Arley terdiam, lalu ia mulai mengangkat tongkat sihirnya.


 


 


“Aku rasa berbicara saja tak akan membuahkan hasil, kalian pasti pernah mengetahui kisah tentang raja iblis yang dikalahkan Lebia, dan menurut kisah yang beredar di masyarakat, Buku dan cincin yang ia dapat dari tuhan, hilag entah kemana,” terang Arley sembari ia mulai mengelus-elus pedang unik Rubius.


 


 


“Namun menurut penjelasan Merlin S.J., ia pernah membaca buku tersebut, dan menuliskan beberapa Mantra sihir yang berasal dari kitab buku “Recuperation” yang nama buku tersebut adalah translasi dari bahasa [Okto], yang sudah lama hilang,” sejenak Arley terdiam, lalu ia melanjutkan statement nya,” Atau sengaja di hiangkan.”


 


 


Mereka semua tak menggubris Arley, mereka hanya memperhatikan Arley dengan fokus.


 


 


“kalian mungkin tidak pernah melihat cetakan asli dari [Cara menjadi penyihir yang hebat] bukan? Aku rasa demikian, karena semua buku yang tercetak di negeri ini, tidak ada bahasa [Okto] didalam buku cetakan terbarunya, namun, aku pernah membaca cetakan aslinya di tempat aku dilahirkan dahulu,” seketika itu juga seluruh orang yang berada di dalam ruangan tersebut terkejut.


 


 


 


 


“Tahukah kalian mengenai bahasa [Okto?]” tanya Arley kepada semua orang yang ada di ruangan tersebut, kala itu, hanya Lily yang mengangkat tangannya, “Ya, wajar kalau kau mengetahuinya.”


 


 


Seketika itu juga Arley membidik tongkat sihir yang ia pinjam dari Rubius, menuju ke arah Lily.


 


 


Lalu ia melantunkan mantra sihir yang terdengar asing di telinga Eadwig, Rubius, Amylia, dan Aurum.


 


 


“Luminance~”


 


 


Rapalnya dengan tenang, lalu muncullah cahaya kecil yang cukup terang, bahkan agak menyilaukan didalam ruangan yang berlampu terang seperti ini.


 


 


“AH!?” sontak keempat teman Arley terkejut akan hal tersebut.


 


 


Setelah Arley menunjukkan Mantra sihirnya tersebut, ia menggoyangkan dua kali tongkat sihir RUbius untuk mematikan mantra sirihnya.


 


 


Tercengang mereka semua, mereka menatap Arley dengan perasaan yang cukup aneh, tak pernah mereka hal semacam ini seumur hidup mereka.


 


 


“Ah! itu sihir yang pernah kau lantunkan dahulu kala!” ucap Sofie memecahkan kondisi aneh yang tercipta sebelumnya.


 


 


“Wah, kau masih mengingat kejadian tersebut kak Sofie?! Menakjubkan, jika kau masih ingat, syukurlah akan hal tersebut.”


 


 


Lalu aku kembali menatap tajam kearah mereka berempat, “Tahukah kalian mantra apa yang aku rapalkan tadi?” tanya Arley kepada mereka berempat, sembari Arley menjulurkan tangan kanannya untuk mengembalikan tongkat sihir yang ia pinjam dari RUbius.


 


 


Secara serempak mereka berempat menggelengkan kepalanya.


 


 


“Kau! Mantra apa yang barusan?! Bahasa apa itu?!” Amylia dengan bingungnya langsung tampak tercengan selepas aku mengembalikan tongkat sihir RUbius.


 


 


“Itulah bahasa [Okto],” jelasku kepada mereka, “Tahukah kalian artinya?”  Arley menantang Amylia mengenai hal iitu.


 


 


Tentu saja Amylia hanya menelan ludahnya sembari merundukkan kepala.


 


 


“kak Lily? Kau tahu artinya?” Arley bertanya sembari memiringkan kepalanya kearah Lily untuk melihat wajah Lily agar bisa terlihat lebih jelas.


 


 


Meliriklah Lily kearah Arley sembari ia menjawab pertanyaannya, “Artiny adalah : Pancaran Cahaya” jelasnya sambil merundukkan kepala.


 


 


Terkejutlah Mereka berempat seperti orang yang melihat hantu.


 


 


“K-kenapa ia bisa tahu!?” tanya Rubius yang tampak terkejut hebat.


 


 


Saat itu juga, Aurum, Eadwig, Rubius dan Amylia, menatap kejut kembali kepada Arley.


 


 


Dengan tenang, Arley menjelaskan eksistensi Lily yang sesungguhnya.


 


 


“Sebenarnya,” ucap Arley,” Kak Lily adalah manusia dari bangsa Elf, dengan kata lain ia adalah, Half-Elf,” ujar Arley dengan serius.


 


 


Bagaikan dunia akan kiamat esok hari, dan tampaknya memang demikian. Jantung Edwig, Aurum, Rubius dan Aurum berdetak begitu cepat.


 


 


Seketika itu juga mereka langsung kembali menatap tajam Lily bagaikan barang yang sangat langka dan hanya ada satu didunia.


 


 


Wajah Lily pun memucat dan keringat dinginnya mengalir deras.


***


----------------------------------------------


 


 


Hai semua sahabat pembaca dimanapun kamu berada! Jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, comment, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan memberikan sedikit pointnya, Author akan sangat senang sekali dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter demi chapternya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah! Demikian salam penutup dari Atuhor untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia! dan selalu berpikiran positif!


Always be Happy


And Happy Reading Guys!