
Mataku terbuka lebar, tepat di depan pandanganku, tampak ada seorang wanita yang aku begitu kenal perawakannya.
Saat ini mungkin ia terlihat lebih dewasa dibandingkan saat terakhir kali aku menemui dirinya. Ya, orang itu adalah Misa Albertus, teman masa kecilku saat di desa『Durga』.
Serta, satu-satunya orang yang selamat dari malapetaka desa『Durga』, selain diriku ini.
"Mengapa ia bisa berada di sini?! tidak, mengapa ia mengikuti turnamen ini!?" ucapku dalam hati. Ini benar-benar di luar perkiraanku, sejenak aku melupakan segala kondisi yang tengah mengancam diriku ini.
Aku hanya terfokus dengan paras Misa, yang begitu sangat aku rindukan.
Bergegas aku berdiri dari posisi tertidur. Badanku gemetaran, namun adrenalin bertindak lain.
Jantungku berdetak begitu kencang, namun aku melupakan semua rasa sakit ini karena hanya ada rasa terkejut yang melimpah di hati kecilku saat ini.
"M-mustahil!? bagaimana bisa ia berdiri dalam kondisi seperti ini?!" sekilas aku mendengar perkataan Amy yang berada di sisi barat arena.
Namun mataku masih memandang lurus ke arah wanita yang sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Ingin aku berkata sesuatu kepada Misa, namun suaraku sangatlah serak karena tidak ada udara yang bisa masuk ke paru-paruku.
Dengan paksa aku mencoba untuk berteriak, tetapi hasilnya nihil. Seketika itu juga aku batuk darah dan kembali terjatuh pada kedua kakiku.
Aku tersujud ke tanah sembari berusaha menahan rasa sakit yang saat ini mulai kembali merebak ke seluruh tubuhku.
"Arley! menyerahlah! atau kau akan mati!" teriak Amy untuk memperingatkan aku, bahwa kondisiku saat ini tengan dalam situasi yang sangat berbahaya.
Jika aku ingat-ingat lagi kondisi Darwin beberapa saat yang lalu, aku rasa kondisiku saat ini bisa lebih parah lagi dibanding kondisi Darwin tadi.
Tetapi aku menolak untuk menyerah, sekilas aku melihat ke arah Amy. Lalu aku menggelengkan kepalaku, sambil beberapa kali aku memuntahkan darah dari mulutku.
"-Tch! aku peringatan sekali lagi Arley! menyerahlah sekarang atau kau akan tewas!" teriak Amy sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke arahku.
Bukannya mengikuti perintah Amy, aku malah berusaha berdiri sembari menatap langit yang pada saat itu, aku mencoba untuk sekali lagi melihat wajah Misa yang saat ini sudah tidak dapat aku temukan.
Tampaknya ia sudah berganti posisi, jadinya aku tidak dapat melihatnya lagi.
Sejenak aku memejamkan sebelah mataku untuk menahan raja sakit, juga kepala ini tertunduk menatap lantai dengan lemas. Keringat jagung mulai bercucuran membasahi sekujur tubuhku.
Sontak, secara tiba-tiba. Sebuah serangan meluncur tanpa peringatan.
"Blow Gun!"
Teriak Amy, yang pada saat itu melontarkan sihir airnya berupa gumpalan air yang melontar begitu cepat ke arahku.
Blar!~
Lantas tubuhku terpental ke udara, serangan yang dilemparkan Amy tepat mengenai tubuhku secara telak.
Rasanya begitu sakit. Seperti ada karung beras yang di hempas dengan kecepatan tinggi, dan menghantam dadaku secara brutal.
Badan ini terbang ke sudut Timur arena, dengan kecepatan tinggi aku hampir saja terhempas keluar dari arena. Namun untungnya aku berhasil mengais bilah pedangku yang saat itu tergeletak dilantai arena.
Saat aku tergeret di tanah, dengan sisa tenaga yang aku miliki, aku menghujam bilah pedangku ke lantai arena untuk menghentikan laju terbangku ke sisi luar arena.
"Whoaaaa!"
Aku berhasil menahan laju terbangku akibat serangan Amy. Demikian seluruh penonton berdecak kagum melihat pertarungan kami yang tampaknya paling lama dibandingkan pertarungan-pertarungan lainnya.
"Ahh! Haah-haah!? ~ ha?! aku bisa bernafas kembali!?" cukup bingung, namun tampaknya aku terbebas dari sihir Amy yang dapat mengunci perputaran oksigen di sekitar tempat aku berdiri.
Benar-benar sihir yang menyusahkan, jika aku terkena sihir itu sekali lagi, aku jamin aku akan secara otomatis kalah di pertandingan kali ini.
"Tch!" Amy lalu mendecitkan bibir merahnya karena gagal menghempaskan aku keluar dari arena ini. Terlebih sihir pengunci oksigennya sudah bisa aku tebak.
"Sihirmu memang benar-benar menyebalkan kak Amy. Tetapi, mulai saat ini aku tidak akan mengalah untuk menghancurkan segala mantra sihirmu yang menyebalkan itu," tantangku kepada Amy, dan tanda bahwa aku siap mengalahkanya beberapa saat lagi.
"Ssshhh! Fiuh! ~"
Dengan kondisi tubuh yang beberapa saat lalu tengah kehabisan oksigen. Lalu aku menghirup dalam-dalam seluruh oksigen yang bertebaran di sekelilingku saat ini.
Guna untuk mengembalikan energi『Mana』yang sempat hilang karena regenerasi tubuhku, juga untuk menambah stamina yang sempat hilang beberapa saat yang lalu.
"Baiklah, sekarang aku akan menghabisimu dalam tiga serangan terakhir, kak Amy!" sekali lagi aku memprovokasi Amy. Wajah Amy langsung cemberut dan ia tampak begitu kesal.
"Aku rasa kau terlalu banyak berbicara Arley. Selama ini aku berusaha untuk menahan serangan maksimalku, namun tampaknya kali ini kau benar-benar memaksaku untuk melukai dirimu lebih dari yang sebelumnya." Suara Amy lalu berubah menjadi lebih dalam, tampaknya ia benar-benar kesal setelah apa yang aku ucapkan kepadanya tadi.
Namun semua itu telah sesuai rencana, dengan demikian, pasti Amylia akan kehilangan postur tenangnya, dan ia akan menyerang dengan amarahnya.
Staminaku telah pulih, juga tubuhku sudah membaik. Saat itu juga, aku berlari dengan sangat cepat untuk menyerang Amy yang kondisinya hanya terdiam di sudut Barat arena.
Wush!~
Pedang aku ayunkan, namun lagi-lagi Amylia berhasil menghindari serangan jarak dekatku dengan refleksnya yang sangat lincah.
Tetapi belum berakhir, aku sengaja memojokkannya ke sisi barat arena.
Setelah ia melompat mundur kebelakang, saat itu juga aku mundur 3 langkah dan bergegas memasang kuda-kuda untuk mengeluarkan jurus pamungkasku.
Dengan menggunakan pedang perak yang ukurannya 1 meter lebih ini, lalu aku genggam dengan kencang gagang pedang yang tengah aku kepal ini, kemudian aku langsung mengenyampingkan bilah pedangku ini menuju arah kanan.
Dengan seluruh sisa energi『Mana』 yang aku miliki, perlahan aku alihkan sisa energi tersebut pada bilah pedang yang tengah aku genggam ini.
Namun tentu saja rencanaku tidak akan berjalan semulus kulit domba.
Ketika aku sedang berkonsentrasi untuk mengisi energi『Mana』pada bila pedangku ini. Amy langsung menembakka sihir airnya dengan sangat brutal.
"Turbulance!"
Ucap Amy sambil melempar gelombang air yang cukup besar dari arah belakangnya. Ia menggunakan sisa-sisa genangan air yang sebelumnya sempat berserakan hasil pertandingan aku melawan monster duyung tadi.
Lalu, air yang ia kendalikan itu melompat bagaikan ombak di tengah samudra. Seketika itu juga, tubuhku hampir terhanyut akibat derasnya terpaan ombak yang Amy kendalikan.
Tentu saja aku tak gentar, saat ini Adrenalin tengah merasuki diriku.
"Bertahanlah Arley! kau pasti bisa!" gumamku sendiri untuk menyemangati diriku yang saat ini, hampir saja kehilangan keseimbangan.
Benar saja. Beberapa saat kemudian, kuda-kuda bertarungku hampir terlepas saat aku mencoba menahan gempuran ombak yang tak ada habisnya ini.
Terpaan gelombang ini terus di putar Amy layaknya lingkaran kue donat.
"Hey diriku! tetaplah bertahan sedikit lagi!" sekali lagi aku mencoba untuk tetap bertahan. Namun sepertinya udahaku akan kembali sia-sia.
Namun pada saat inilah, tiba-tiba kemeriahan para penonton mengejutkan jantungku yang hampir saja melemahkan getarannya!
"AARRELLEEYYY! BERJUANGLAAHH!"
Teriak seluruh penonton yang saat itu tengah bersorak soraya untuk menyemangati diriku ini.
Sontak aku sangat terkejut! diriku ini?! yang biasanya selalu dikucilkan?! namun saat ini seluruh masyarakat tengah menyemangatiku dengan semua harapan mereka!?
"-Haha! mereka semua ini sudah gila! tapi ... TERIMA KASIH!" ucapku dengan penuh semangat.
Lalu entah mengapa aku merasakan sensasi yang tiada taranya! jantungku terpacu cepat, darahku mendidih tak berhenti. Kuda-kudaku kembali ke posisi normal, dan saat itu juga ....
Bajuku berubah menjadi warna merah tanpa perintah dari diriku sendiri.
BLAAR!~
Pssshhh!
Diiringi dengan bergantinya warna Bajuku, saat itu juga pedang yang aku genggam mengeluarkan gelombang api yang sangat panas!
Hal itu mengakibatkan gelombang air yang menghujani diriku, secara perlahan menguap dan terbang ke langit lepas.
"A-apa-apaan ini!? api berwarna hijau!? " ekspresi wajah Amy langsung berubah menjadi takjub.
Ketika ia melihat gelombang api yang berwarna hijau dari bilah pedangku. Saat itu juga senyuman manisnya terhapus dari wajah cantik sang putri.
Beberapa saat kemudian, air yang Amy kontrol telah habis dan seluruh lantai arena menjadi kering dan gersang.
"Mustahil! a-apakah aku salah lihat?!" saking terkejutnya Amy, ia tak menyadari bahwa ia saat ini sedang berjalan mundur.
Namun beberapa saat kemudian, langkahnya terhenti karena ia sudah di ambang batas bibir arena.
Kembali Amy menyodorkan tongkat sihirnya ke arahku. Dengan sisa-sisa harapan yang Amy miliki, lalu Amy melontarkan mantra sihir yang aku rasa menjadi kartu joker miliknya.
"Diadem Glacier!"
Ucap Amy dengan lantang! seketika itu juga, secara cepat timbul percikan-percikan es dari seluruh arena pertandingan.
Percikan itu muncul secara acak, dan dalam hitungan detik. Segala yang berada di atas arena membeku menjadi es, mulai itu lantai, sampai oksigen yang ada di sekitarku.
Namun tidak untuk diriku ini.
"Mustahil!? seharusnya api hijaunya itu mati karena tak ada oksigen yang tersisa!?" dengan sangat terpaksa, Amylia harus menelan kekecewaannya secara mentah-mentah.
"K~au, m~ung~kin mengun~ci ok~sigen di~sekit~arku! na~mun, ap~i ini, aku cip~takan da~ri en~ergi『Ma-na』ku sen~diri," dengan terucapnya kalimat itu, habis sudah nafas yang aku kumpulkan dari hisapan terakhirku tadi.
Lalu aku tersenyum lebar sembari berjalan tertatih-tatih ke arah Amy.
Wajah Amy begitu takut, seperti ia tengah berusaha untuk menolak semua kenyataan yang sedang terjadi.
Lalu dengan pergerakan mulutku ini, aku mengucapkan dua buah kata yang sebelumnya sempat di ucapkan Amy terhadapku.
"Bye-bye ~" ucapku dengan menggunakan gestur bibir, juga tanpa suara.
Aku yakin Amylia mengetahui apa yang ingin aku ucapkan kepada dirinya.
BLAAR!
Saat itu juga aku menyabet pedangku dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki. Lantas, saat itu juga api yang terkumpul di bilah pedangku terlepas dan menghujam dengan cepat ke arah tubuh Amy.
Tetapi karena tidak adanya oksigen yang beredar di atas arena ini, api yang aku lontarkan menghilang. Yang tersisa hanya gelombang energi yang tercipta dari sabetan pedangku saja.
"Gyaa!" sontak tubuh Amy terhempas keluar dari Arena pertandingan akibat tersebat gelombang energi yang aku lontarkan kearahnya.
"-Haaaah! Huuuuh!" selepas tubuh Amy terpental keluar dari atas arena dan menabrak dinding tribun penonton, saat itu juga oksigen di sekitarku kembali.
Dengan seluruh jiwaku ini, aku langsung menghirup oksiken yang sudah tersedia.
Prak!
Pecah semua es yang terbentuk dari sihir Amy. Hal ini menandakan bahwa, Amy telah terpingsan dan secara otomatis ia kalah dari pertandingan ini.
Namun tidak ada yang berbicara, seluruh penonton terbengong melihat apa yang barusan saja terjadi.
Beberapa saat kemudian, Tertiup suara lantang dari atas kaca monitor.
Priiit!~
Ya, Michale telah meniupkan pelutinya. Dan saat itu juga, seluruh penonton meneriakkan seluruh sisa-sisa suara mereka untuk momen yang begitu langka ini.
"WAaaaAaaAaaa!" menggelegar! seisi arena berteriak dengan sangat dahsyatnya!
Namun, entah mengapa tubuhku terasa begitu lemas, dan saat itu juga aku terjengkang rubuh, mungkin karena rasa lelah yang begitu penat.
"Arley! -hey Arley ...!? bertahan lah Arle ... -" sekilas aku bisa melihat Eadwig yang berlari dan berteriak ke arahku.
Namun karena aku sudah tak sanggup dengan kondisiku saat itu, akhirnya aku memilih untuk memasrahkan diri.
Ya, saat itu juga aku terpingsan dari atas arena pertandingan.
***