
Not Edited!
Kabut pasir berterbangan menutupi pandangan sang iblis wanita. Angin berhembus kencang mencegah Lubrica untuk melihat pasti siapa orang yang menolong sang Pixie.
Lambat laun kabut debu itu mulai menurunkan intensitas mengepulnya. Perlahan pandangan si ratu iblis succubus bisa melihat apa yang sebenarnya menghalangi dirnya dari membunuh Helena beberapa saat yang lalu.
“Wahai Pixie malang, kau bisa tenang sekarang …,” ucap orang tersebut sambil dirinya mengeluarkan tongkat berwarna hitam pekat.
Di arahkannyalah tongakt itu menuju tubuh sang pixie. Lalu orang tersebut merapalkan mantra sihir yang bisa menyembuhkan setiap makhluk yang dirinya ingin sembuhkan.
“Cure~”
Rapalya dengan suara lembut. Lantas, tercipta cahaya hijau menyinari sekujur tubuh Helena secara instan.
Dalam waktu yang cukup cepat tubuh Helena mengalami regenerasi. Ya, keadaan tubuh Helena mulai membaik.
Beberapa detik kemudian, tak ada bekas luka sedikit pun pada badan Helena.
Perlahan kelopak mata Helena yang sepat memejam beberapa waktu yang lampau, dirinya buka untuk mengetahui siapa orang yang berhasil menyembuhkan dirinya kala itu.
“K-kamu siapa nanon …,” ucapnya setelah matanya menangkap raut wajah si wanita berambut hitam kebiru-biruan itu.
Tersenyumlah wanita itu dengan senyuman yang begitu manis. “Tenang saja wahai makhluk lucu, aku akan menghukum wanita itu dengan segala macam cara.”
Sontak meliriklah sang wanita menatap Lubrica dengan kejamnya.
“Ohho~ menakutkan-menakutkan,” cakap Lubrica yang tak takut dengan tatapan mata sang wanita.
Ketika itu juga Lubrica merasa sangat bahagia ketika dirinya mengetahui siapa sebenarnya sang wanita yang berani menghadapi dirinya saat itu.
“Tak aku sangka jika dirimu hadir di dalam medan pertarungan ini juga!” pekiknya dengan kencang. “Wahai putri kegelapan, Misa Albertus!”
Tiba-tiba, angin kencang menyapu segala hal yang menghalangi pandangan sang iblis, terhadap anak manusia yang ternyata dirinya adalah Misa.
Ya, orang itu adalah Misa Albertus dari desa Durga. Teman masa kecil Arley, dan sempat berubah menjadi monster yang ingin membunuh seluruh orang yang berada di ibu kota [lebia].
“Lubrica … kita bertemu kembali setelah sekian lama …,” cakap Misa kepada sang succubus. Dirinya menjulurkan tangan kirinya sembari menandakan bahwa dirinya bukanlah teman dari sang iblis wanita.
“Wah-wah~ lihat apa yang engkau lakukan saat ini, tidak kah engkau merasa rindu denganku dan ingin memeluk tubuh cantikku ini?” goda si ratu succubus kepada Misa.
Misa tak menjawab sepatah kata pun dari apa yang Lubrica ucapkan. Lantas sikapnya itu membuat raut wajah Lubrica berubah menjadi datar kembali.
“Hey, ucapkanlah sesuatu, aku merasa tersinggung di sini …,” tegurnya sembari melirik datar.
Sejenak, masih tak ada jawaban dari Misa. Lantas, Misa malah menolehkan pandangannya mengarah ke tempat Aurum tergeletak. Seketika itu juga Misa berjalan dan berniat menyelamatkan Aurum.
Kali ini Lubrica benar-benar marah terhadap perilaku Misa. Ketika Misa tengah berhasil duduk di samping Aurum, seketika itu juga Lubrica datang degan lompatan cepatnya untuk menendang wajah Misa.
Dengan begitu ganasnya, tempurung kaki Lubrica meluncur cepat mengarah ke kepala Misa.
Namun, Misa mampu menangkal serangan tersebut, bahkan tanpa harus melihat dari mana serangan itu akan datang.
“Air Barrier~”
Saat itu Misa menggoyangkan tongkat sihirnya ke arah sebelah kirinya, lalu ia merapalkan mantra sihir yang tampak dirinya hapal di luar kepala.
Dengan suara yang begitu kencang, tempurung kaki sang iblis wanita menghantam kuat benteng angin yang Misa rapalkan.
Lantas, pergerakan Lubrica langsung terdiam seketika itu juga.
“GgggyaaaaaaaaAaaa!” berteriaklah sang iblis untuk pertama kalinya. Tempurung kakinya tampak aneh dan keluar dari tempat yang seharusnya.
Tepat, tempurung kaki Lubrica pecah selepas apa yang dirinya berniat menyerang Misa.
“Beraninya! Beraninya kau melakukan ini padaku!” pekik Lubrica dengan begitu marahnya. Muncul urat-urat tak normal di wajah jelek sang ratu succubus. Sungguh, sang iblis bentina ini sekarang telah menaruh dendam yang begitu dalam kepada Misa.
Namun, tampak jika Misa tidak menghiraukan hal tersebut. Malahan dirinya menjulurkan tongkat sihirnya menyentuh tubuh Aurum, dan seketika itu juga ia merapalkan mantra yang sama dengan saat dirinya menyembuhkan Helena.
“Cure~”
Rapal Misa dengan suara pelannya. Kembali cahaya hijau menyelimuti tubuh Aurum yang ketika itu tengah terbaring lemas.
Dengan begitu cepatnya setip luka yang terbeset, atauapun setiap bagian tubuh yang terpotong, langsung tersambung kembali seperti semula.
Ya, saat itu juga Aurum langsung sembuh seperti sedia kala.
“Terima kasih nanon!” ketika itu Helena keluar dari dalam kantung baju Misa yang saat ini sudah berganti busana.
Lalu, Misa langsung mengangkat tubuh Aurum degan kedua tangannya. Tampak jika Misa mengangkat Aurum dengan begitu mudah. Saat tubuh Aurum sudah terangkat, seketika itu juga Misa melompat kuat menuju keluar kawah.
Secara instan tubuh Amylia telah berada di pinggir kawah. Bahkan Lubrica tidak mampu melihat pergerakannya. Setelah Amylia menaruh tubuh Aurum di luar kawah, secepat kilat juga dirinya kembali ketempat dimana ia berdiri sebelumnya.
Wajah Lubrica menampakkan segalanya. Raut wajahnya menunjukkan jika dirinya tengah terkejut dan sedikit bingung dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi. tapi egonya melarang mulutnya menanyakan hal tersebut kepada sang lawan.
Setelah Misa selesai mengamankan Aurum dan Helena, barulah dirinya berjalan pelan menuju Lubrica.
“Hei succubus … kau ingat apa yang sudah kau lakukan pada tubuhku waktu itu kan …?” tanya Misa sambil dirinya menjulurkan tangan kirinya menuju ke arah sang iblis wanita.
Secara refleks tubuh Lubrica mundur dengan sendirinya, keringatnya bercucuran menahan perasaan aneh yang ia rasakan.
“A-apa yang aku lakukan?! Kenapa diriku bergerak sendiri secara insiting!?” gumamay dalam hati sambil mengamati telapak tangannya yang getaran. Lantas, dengan cemas Lubrica kembali melihat kemana Misa bercajal tadi.
Namun tiba-tiba diri Misa menghilang dari hadapannya. “Kemana dia pergi!?” bergeraklah kepala Lubrica dengan intens.
Dia menoleh kekiri dan kekanan, tapi dirinya tak menemukan sang wanita penyihir.
Sampai akhirnya Lubrica menoleh ke belakang, di mana tepat di balik tubuhnya itu terdarpat patung Amylia yang sebelumnya Lubrica sempat sakiti.
Terpatoklah kepala Lubrica tak bisa bergerak ketika dirinya melihat Misa tengah berbuat sesuatu kepada tubuh Amylia yang tengah membeku.
Perlahan Misa menyentuh bagian dada sebelah kiri Amylia yang tampak berwarna merah akibat darahnya yang sudah membeku.
“Kau … sempat membunuhnya ya …?” tanya Misa dengan nada datarnya. Sejauh ini Misa masih dapat mengkontrol wajahnya.
“Hehehe! Apapun yang kau lakukan sekarang kau tidak akan bisa menyembuhkan wanita itu, Misa Albertus!”
Akan tetapi di luar dugaan, Misa langsung menunjukkan ekspresi kesalnya terhadap iblis bertubuh aneh itu.
“Jangan kau sebut namaku lagi wahai tante lacuh!” seketika itu juga Misa menjulurkan tongkat sihir nnya menuju sang iblis wanita.
Tepat pada pandangan Lubrica, tiba-tiba meledak sebuah aura yang begitu mengerikan dari dalam tubuh Misa. Ya, aura berwarna putih. Putih seputih salju.
Dengan begitu paniknya sang iblis kembali terdiam cabar. Ekspresi wajahnya menunjukkan betapa gemangnya lubrica selepas Misa melepaskan amarah yang mengerikannya itu.
Berjalanlah Misa mendekat ke arah Lubrica. Akan tetapi, saking takutnya Lubrica ketika melihat perawakan sang penyihir wanita, secara refleks tubuhnya mundur demi menghindari kontak dengan Misa.
“A-apa yang aku takutkan!? Kenapa manusia ini bisa melakukan hal ini kepadaku?!” beribu pertanyaan timbul di benak Lubrica, tetapi mau apapun itu alasannya, tubuhnya tak bisa mengikuti perintah otak sang pemilik jasad.
“Hentikan! Jauhkan dirimu dariku!” pekik Lubrica yang mencoba untuk menenangkan diri.
Lantas efek yang di terima lubrica malah sebaliknya. Aura itu malah semakin membesar, bahkan menutupi segala pemandangan yang ada di depan matanya.
“Gyaaa!! Hentikaaaan!” pekiknya ketakutan. Seluruh pandangannya tak dapat meliha hal lain, kecuali latar belakang putih, dan diri Misa yang mendekat ke arah dirinya sambil menjulurkan tongkat sihirnya.
Sontak, saat itu juga Misa melantunkan matra sihir yang dirinya pernah rapalkan untuk menyerang musuh-musuhnya saat di atas lapangan pertandingan turnamen.
“Ice Age~”
Bersambung!~
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!
Author akan merasa sangat berterima kasih!
dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -