The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 116 :Sebabnya.



not edited!


Terdiam dan tercengang, tak ada yang bersuara ketika kejadian itu terjadi.


Para penonton, Michale, dan peserta yang berada di atas arena. Tidak ada satupun dari mereka yang melontarkan sepatah kata.


 


 


Hanya suara gemuruh erupsi sehabis ledakanlah yang bisa didengarkan.


 


 


Wajah Arley yang pucat, tampak mengucurkan keringat dingin dari dalam pori-porinya.


 


 


Tak lama kemudian, mucul dua buah objek yang keluar dari dalam gumpalan asap diatas langit selepas serangan Misa mengenai Rubius dan Eadwig.


 


 


Tampak sebuah batu berukuran 3 meter terhempas keluar atas langit dan menghantam bumi dengan sangat kerasnya.


 


 


“Apa itu!?” teriak orang-orang melihat kelokasi dimana batu itu terjatuh.


 


 


Terbelahlah batu tersebut setelah menghantam dataran, dan dari dalam batu tersebut, tampak dua buah tubuh yang terbujur lemah.


 


 


“Rubius! Eadwig!” sontak Arley lagsung bangkit dari jatuhnya, saat itu juga ia berlari menuju pinggir arena demi melihat kondisi kedua temannya tersbut.


 


 


Misa yang kala itu melihat kejadian tersebut, wajahnya kembali cemberut dan tampak jika ia tidak puas.


 


 


Tim medis pun secara masal keluar dari ruang tunggu mereka, dan secepat mungkin ia mengecek kedua kondisi RUbius dan Eadwig.


 


 


Kala itu Arley ingin saja rasanya keluar dari atas arena pertempuran, bahkan ia sudah berada di pinggir arena lalu tinggal lompat ke sampingnya.


 


 


Namun tiba-tiba terdengar suara RUbius meggelegar demi mencegah Arley.


 


 


“Hentika! Kau harus memenangkan pertarungan itu, Arley!” teriak rubius yang kala itu tampak merangkak keluar dari dalam bola batu yang ia ciptakan.


 


 


Ya, sebelum mantra sihir Misa mengenai RUbius dan Eadwig, saa itu juga rubius merapalkan mantra sihir yang sama dengan yang Perry lantunkan sebelumnya. Ia merapalkan mantra “Water Barrier” dengan sempurna, bahkan ia sampai bisa menciptakan bola air dari sihir tersebut.


 


 


Langkah Arley seketika terhenti, lalu ia kembali melangkah mudur setelah memastikan ekdua temannya baik-baiksaja.


 


 


“Kami tak apa-apa! Kau harus menyelesaikan urusanmu degannya Arley!” kali ini terdengar suara Eadwig yang telah sadar dari pingsannya.


 


 


“Ah! Eadwig!” gumam Arley dengan gembira setelah ia mengetahui jika sahabatnya itu baik-baiksaja.


 


 


Lalu, berubah lah wajah Arley menjadi marah, tampak urat kesalnya muncul di kening juga batang lehernya.


 


 


“MIISSAAA!” dengan begitu lantang, Arley memandnag kesal Misa yang terilah puas degan reaksi arley kali ini.


 


 


Dari kejauhan Perry hanya bisa terdiam, tubuhnya bergetar ketika melihat insiden tersebut. Perlahan ia melangkah mundur untuk keluar dari lapangan arena, ia merasa jika ia tidak akan sanggup melawan kedua monster yang ada di hadapannya tersebut.


 


 


“Berhenti! Kau tetap di sana Perry!” kali ini Arley mengingatkan Perry untuk tidak menjalankan niatannya, Arley tahu jika Perry akan menyerah dari pertandingan tersebut. Maka dari itu Arley mencoba menghentikan Perry agar pertandingan ini tetap berlangsung.


 


 


Sistem pertandingan di babak ini adalah, jika ada dua orang yang tersisa di atas lapangan Arena, itu berarti mereka adalah pemenang dari turnament tersebut.


 


 


Penyebabnya sistem turnamen kali ini sedikit berbeda dari tahun lalu adalah karena hadiah turnamen tahun ini adalah dua puasaka yang didapatkan oleh kelima negara utama.


 


 


Arley tidak menginginkan pertarunganny dengan Misa berakhir dengan kehampaan seperti ini, dia ingin sekali melampiaskan amarahnya terhadap Misa yang belakangan ini selalu saja semena-mena dengan dirinya.


 


 


Perry yang taksengaja berkecimpung didalam kondisi ini, ia hnay bisa berdiri terdiam setelah Arley memperingatinya.


 


 


“Perry! Kau hanya butuh diam untuk memenangkan pertandingan ini!, biarkan yang menyelesaikan pertandingan ini melawan Orang satu ini,” Arley menunjuk Misa dengan bilah pedangnya.


 


 


Seketika itu juga, untuk pertama kalinya Arley membuka tudung kepalanya yang sampai saat ini selalu menutupi wajah sang remaja.


 


 


Saat itu juga seluruh masyarakat terpukau dengan wajah Arley yang unik tersebut.


 


 


Kulit pucat, Rambut merah darah, serta retina mata yang terlihat hijau bagaikan batu zambrud.


 


 


“Arley~ akhirnya kau melepaskan tudungmu juga,” saat itu pula Misa mulai berbicara dengan Arley.


 


 


Misa yang biasanya diam, setelah melihat Arley melepaskan tudungnya, saat itu juga ia tampak kegirangan.


 


 


“Diam! Saat ini aku tak ingin berbicara denganmu!” tampak emosi Arley sedang menggebu-gebu untuk dilapiaskannya kepada Misa.


 


 


“Ara, aku kira kau ingin berbicara denganku,” sejenak Misa terlihat seperti memperhatikan tubuh arley secara keseluruhan, “Sekarang kau sudah sangat besar ya Arley,” ucap misa sembar ia berjalan mendekat kearah Arley.


 


 


 


 


“Kenapa kau bisa berubah seperti ini …,” tanya Arley sembari menyodorkan togakt sihirnya.


 


 


“itu bukan urusanmu, tapi jika kau ingin tahu sebabnya …,” sejenak misa berhenti pada langkahnya, lalu ia menunjuk arley dengan gemulai,” kau lah yang membuat aku seperti ini Arley,” pertegas misa dengan senyuman kejam tampil pada wajahnya.


 


 


Sontak Arley terkejut setelah mendengar hal tersebut, Ia tidak tahu menahu mengenai hal yang Misa sebutkan.


 


 


“Aku?” tanya Arley kepada Misa, “Bagaimana bisa?! Kita bahkan tak pernah berbicara secara lepas semenjak kau pergi dari desa [Durga]!” bentak arley yang sudah tersulut emosi.


 


 


Wajah misa akhirnya berubah kembali, kali ini wajah misa tampak datar.


 


 


 


 


“Ahh, kau benar juga,” ujar Misa sembari memirinkan kepalanya sedikit ke sebelah kanan, “aku tak pernah menceritakan hal ini kepadamu, namun aku sudah memperhatikanmu bahkan sebelum pertemuan kita di gereja saat 8 tahun yang lalu,” dengan senyumannya yang mengerikan, misa merundukkan sedikit kepalanya. Poni rambutnya pun menjuntai sedikit kebawah dan menutupi setengah wajahnya.


 


 


Mendengar hal itu, ia merasa sedikit merinding. Arley tak tahu apa maksud Misa, namun ia bermaksud untuk menggali informasi lebih dalam.


 


 


“Maksudnya? Mengapa kau melakaukan hal itu?” tanya arley dengan penuh kebingungan.


 


 


“Entahlah, tetapi sejak awal aku tertarik saja dengan kau, entah ada apa dengan dirimu itu, namun aku ingin mengenalmu lebih dekat.”


 


 


Kali ini pembicaraan mereka mulai bertolak belakang dengan apa yang seharusnya.


 


 


“Kau sudah gila …,” cetus Arley yang tak mengerti lagi pola pikir Misa.


 


 


“Ara, kau lah yag membuatku gila, Arley …,” kali ini Misa berjalan kembali untuk mendekat kearahnya.


 


 


Arley mulai mencoba untuk menjabarkan apa yang Msia sebutkan, mengapa Misa berlaku demikian terhadapnya, dan mengapa hal ini harus terjadi.


 


 


“Jika kau tertarik kepadaku, lalu mengapa kau menaruh dendam pada diriku ini?!” terlontar lah pertanyaan yang sensitif untuk misa.


 


 


“Dendam?” ucapnya sembari ia kembali berhenti dalam langkahnya, “Aku tak pernah menaruh dendam padamu, hanya saja …,” kembali Misa terdiam sembari ia menatap langit.


 


 


“Hanya saja … aku merasa begitu kesal kepadamu selepas hancurnya desa kita … entahlah, aku sendiri tak mengerti perasaanku ini. Namun aku merasa sangat ingin menghancurkamu akibat apa yang terjadi di desa [Durga].” Terucapkah sebab mengapa misa begitu ingin menghancurkan Arley.


 


 


Keika itu juga, Alis Arley meruncing kebawah, ia semakin kesal dengan prilaku msia yang semena-mena seperti ini.


 


 


“Kau benar-benar sudah tidak waras,  kau menyalahkan aku akibat apa yang para bandit itu lakukan pada masyarakat desa?”


 


 


“Hmm, entahlah,” saat itu, kepala Misa tertunduk melihat ke tanah, “yang aku pertanyakan adalah, mengapa aku masih hidup sedangkan desa dimana aku dilahirkan sudah tidak ada. Lalu untuk apa aku belajar ilmu sihir jika tujuanku hidup sudah musnah?” selepas itu, wajah misa mulai terangkat sedikit keatas, lalu ia menatap tajam kearah Arley.


 


 


“Dengan demikian, aku ingin menghancurkanmu juga Arley, karena kau sama seperti aku,” tersenyumlah Misa dengan wajah yang begitu aneh, lalu ia menunjuk arley dengan tongkat sihirnya, “setelah kau hancur, maka aku akan menghancurkan diriku sendiri.”


 


 


Selesai sudah pembicaraan mereka berdua, Arley sudah mengerti mengapa Misa bisa sangat nekat seperti ini.


 


 


Ya, dahulu, cita-cita misa adalah ingin menjadi seorang yang mampu memajukan desa durga, ia sangat bangga dengan ayahnya, keluarganya hidup harmonis.


 


 


Namun semenjak kejadian hancurnya desa durga, pupus sudah cita-cita mulianya itu.


 


 


Ingin rasanya ia mati meninggalkan dunia ini, namun, tampa ia sadari dihari saat ia ingin melakukan bunuh diri, kala itu juga tanpa sengaja ia melihat Arley tampak bahagia saat bertabrakan dengannya 8 tahun yang lalu.


 


 


Muncullah hal-hal aneh dalam hati Misa. mengapa ia yang begitu menderita ini sampai ingin mati tidak bisa seperti Arley, dan mengapa arley yang sebenarnya lebih menderita dari dia bias menikmati kehidupannya.


 


 


Dengan demikian Misa mengambil sebuah kesimpulan, “Ahh~ jika Arley mati, maka tidak ada lagi hal yang bisa menyakitinya, dan selepas Arley mati, Misa akan melakukan bunuh diri agar seluruh tujuan hidupnya sterselesaikan.”


 


 


Ya, demikianlah penyebab mengapa Misa bisa melakukan hal keji seperti itu.


 


 


***


 


----------------------------------------------


 


 


Hai semua sahabat pembaca dimanapun kamu berada! Jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, comment, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan memberikan sedikit pointnya, Author akan sangat senang sekali dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter demi chapternya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah! Demikian salam penutup dari Atuhor untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia! dan selalu berpikiran positif!


Always be Happy


And Happy Reading Guys!