The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 142 : Amarah Sang Putri.



Tubuh si wanita terasa kaku, tengkuknya mengeras akibat perasaan terkejut yang Dirinya alami. Tepat pada bagian belakang lehernya, Amylia tengah dicekik oleh Karif.


“Bagaimana kau bisa tahu tempat aku bersembunyi?!—” Amylia merasa kesakitan ketika tangan dingin Karif menekan tengkuknya dengan sangat keras. “Aaaagh!” pekik Amylia yang tak sanggup menahan sakit.


Menyeringailah bibir Karif dengan sangat lebar. Perlahan, kepala sang iblis mendekat, menuju ke arah telinga Amylia.


“Ahh ~ aku suka mendengarkan jeritan malangmu. Aku yakin pasti kau sangat pintar bernyanyi.” Selepas dirinya membisikkan kalimat itu. Karif semakin kencang mencekik leher Amylia.


“KAaaaaaAAaaa!” Terpekik suara lantang, sampai ke seluruh penjuru. Namun, karena yang lain juga lagi sibuk bertarung, mereka tak mendengarkan teriakan tersebut.


“Oh! Aku suka! Aku sangat suka suaramu!” Kali ini, Amylia benar-benar tengah dipermainkan oleh Karif.


Terjatuhlah tubuh Amylia. Sebab, faktor kelelahan mulai melanda tubuh sang Tuan Putri. “Hmm ~ jangan bilang kau sudah rusak? Aku tak suka mainan yang cepat rusak ....”


Setelah dirinya puas bermain dengan Amylia. Diangkatnyalah tubuh Amylia sampai menjulang tinggi ke atas langit. Lalu, Karif melempar tinggi Amylia ke udara, dan ketika tubuhnya kembali ke bumi, Karif langsung menendang Amylia dengan begitu kuatnya.


Terhempas. Tubuh Amylia menghantam sudut Utara lubang kawah. Sejenak, badannya menempel pada lubang yang dirinya tabrak tadi. Tak lama kemudian, tubuh Amylia tersungkur ke arah depan.


Karif melirik Amylia dengan perasaan kecewa. Tak ia sanga jika wanita berambut hitam tersebut akan cepat kalah.


“Sebaiknya aku melawan yang lain saja~” Berputarlah tubuh Karif menghadap Selatan. Namun, langkahnya terhenti ketika dirinya mendengar suara napas Amylia, yang kali ini kembali berdiri pada kedua kakinya.


Menolehlah wajah Karif, menatap Amylia dengan senyuman sadis. Secara tiba-tiba, Karif melompat kilat, demi menghempas tubuh ringkih sang Tuan Putri.


Dalam sekali kejapan mata, Karif telah berada di belakang Amylia. Tentu saja Amylia terkejut setengah mati. Dirinya bahkan belum siap untuk memasang kuda-kuda tempur. Dan lagi-lagi, Amylia harus menanggung sakit selepas dirinya disepak kencang oleh Elf tersebut.


“Menarik! Aku suka dirimu! Ayo hibur aku lagi!” pekik si Elf dengan sadisnya.


Setiap langkah yang Amylia pijak, hanya untuk menghindari serangan sang Elf. Akan tetapi, tunak saja dirinya— menerima serangan dahsyat dari sang iblis.


Berkali-kali Amylia terhempas, lalu menabrak dinding, kemudian bangkit berdiri kembali, dan diserang kembali oleh Karif. Hal ini terus berulang kali terjadi. Walaupun tubuhnya telah hancur lebur, Amylia tetap berdiri tegap, tak kenal menyerah.


Sampai pada Akhirnya, Karif melakukan hal yang sangat brutal.


Ia menendang tengkuk kepala Amylia, bahkan sampai terdengar suara retakan pada lehernya.


Seketika itu juga, tubuh Amylia kembali tercampak—menabrak batu raksasa yang tertanam di sisi Utara kawah.


Setelah hal tersebut, tubuh Amylia tak kunjung keluar dari dalam lubang, yang terbentuk akibat serangan terakhir Karif.


“Huuh … dirinya cukup tangguh,” gumam Karif memuji Amylia yang selalu bangkit dari keterpurukannya.


Kali ini, Karif benar-benar berniat pergi dari lokasi pertempuran. Dirinya sudah merasa puas menghabisi Amylia. Bahkan jika diperpanjang, dirinya akan merasa muak dengan pertarungannya barusan.


Namun—tiba-tiba saja terdengar suara batu terpecah, dari tempat Amylia terkubur tadi.


Matanya melotot, dirinya seperti tak percaya jika sang Tuan Putri, sanggup menahan segala serangan yang Dirinya berikan.


Dengan begitu terkejutnya, Karif menoleh kebelakang sambil menggeratkan gigi-giginya. Tentu saja dirinya berhasil menemukan tubuh Amylia yang telah babak belur—kembali berdiri sembari mengacungkan tongkat sihirnya kepada sang iblis.


Gemetarlah tangan sang Tuan Putri.


“Kenapa … KENAPA KAU BANGKIT KEMBALI!!” Pekik Karif terhadap Amylia.


Lantas, sang iblis melompat turun dengan begitu cepat, untuk segera menyerang sang Tuan Putri. Bertubi-tubi ia memberikan pukulan kepada sang gadis berambut hitam. Bahkan, dirinya memastikan secara jelas, untuk membunuh Amylia dengan mantra sihirnya.


Ditarik keluarlah tongkat sihir yang tersemat pada paha sebelah kanannya. Lalu sang iblis membidik Amylia, sembari ia terbang tinggi menuju udara.


“***Ventus Canite!***”


Pekiknya sembari merapalkan mantra sihir, dengan bahasa yang sama seperti sihir Arley.


Muncul gelombang angin yang cukup masif—menghujam deras tubuh Amylia. Sampai pada Akhirnya, tubuh Amylia tertanam cukup dalam menuju perut bumi.


“Haah ~ haah … hahahaha ... akhirnya mati juga putri biadab itu …,” cetus sang Elf dengan keringat yang bercucuran lebat pada wajahnya.


Merasa sudah menang, memutar baliklah dirinya menuju Selatan. Niatnya sudah bulat ingin membantu Ifrit.


Tetapi ... lagi-lagi kejadian itu terulang.


Terdengar suara batu terpecah dan berserakan, pada kawah yang baru saja Karif ciptakan. Kali ini dirinya terkejut bukan main. Matanya benar-benar melotot lebar, mulutnya menganga dengan tanda tanya besar pada benaknya.


Meliriklah dirinya menuju ke permukaan kawah. Dan kembali lagi, kala itu dirinya menemui tubuh Amylia, dengan kepala yang sudah miring enam puluh derajat. Seperti tulang lehernya telah patah.


“A!—apa-apaan wanita satu iniiii!?—” Karif benar-benar terkejut selepas melihat kejadian itu.


Amylia seperti zombi yang kembali bangkit dari kuburnya. Dirinya tak akan mati sebelum dendamnya terbalaskan. Semua hal itu terpancar dari tatapan matanya.


.


.


.


***


.


.


.


Kala itu ... kejadian Aneh terjadi pada diri Amylia.


Muncul Aura gelap dari dalam tubuhnya. Matanya menajam, layaknya tatapan dendam terhadap orang yang dirinya benci.


Amylia tak merasakan sakit pada luka-luka di tubuhnya. Bahkan ia hampir lupa siapa dirinya kala itu.


Dengan perasaan yang campur aduk, Amylia menunjukkan tongkat sihirnya ke arah sang iblis wanita. Lantas, pada jarak yang cukup jauh itu, Amylia merapalkan mantra sihir yang tak pernah ia pelajari, ataupun ia pernah dengar sebelumnya.


Ya, seperti apa yang sempat Arley terima. Namun, Amylia mampu menahan segala rasa sakit akibat terpintasnya kalimat tersebut pada benaknya.


Dentuman lonceng terdengar keras di dalam kepalanya. seketika itu juga, tubuh Amylia kembali sembuh secara instan.


Kala itu juga, ia langsung merapalkan Mantra yang terlintas pada benak pikirannya tadi.


“Glacialis Exitosus~”


Rapal Amylia dengan suara ganda. Mendadak, suhu udara berubah menjadi super dingin.


Pandangan Kalif berubah menjadi putih, ia merasakan suhu tubuhnya turun secara instan. Kala itu juga, Kalif terjun bebas, menuju kawah raksasa tersebut.


“K-kau ... apakan diriku …?!—” ucap Karif dengan suara pelan dan menggigil. Belum cukup sampai di situ saja. Sesaat kemudian, turun salju dari atas langit dan cuaca berubah secara drastis.


Yang tadinya hanya suhu udara berubah dingin. Kali ini, dalam radius lima puluh meter, terjadi badai dadakan sebab mantra sihir yang Amylia rapalkan.


Seluruh yang berada dalam jangkauan tersebut akan membeku. Bahkan batu yang terkena udara dingin, secara instan berubah menjadi kerupuk yang rapuh.


Tampak seperti Amylia bisa mengendalikan cuaca sekitarnya.


“Elf … ini semua karena dirimu telah menghancurkan tanah kelahiranku ….” Terdengar suara ganda dari dalam tenggorokan Amylia. “Aku akan membalaskan dendam kaumku yang telah engkau musnahkan!” pekik Amylia degan kilatan petir yang menyambar dari pancaran bola matanya.


Tak mau dipecundangi seperti ini, Karif juga melepaskan Aura hitam pada tubuhnya. Seketika itu juga, Tubuh Karif yang tadi sempat membeku, langsung mencair sebab api hitam tampak menyelimuti tubuh sang wanita Elf.


“BERANINYA KAU MELAWAN KEHENDAKKU!” Sang Elf, berteriak dengan penuh amarah dan dendam. Kemudian, dirinya melompat tinggi ke udara untuk melepaskan mantra sihir pamungkasnya.


Akan tetapi, belum sempat dirinya mencabut tongkat sihir dari dalam sarung. Tiba-tiba, keberadaan Amylia langsung lenyap, dan muncul tepat di belakang pundaknya.


“HUH!?—” Menolehlah sang iblis wanita dengan berjuta pertanyaan pada benaknya.


“Selamat tinggal. Wahai makhluk yang terlupakan,” ucap Amylia dengan wajah menyeramkan. Bibirnya menyengir lebar, bahkan hampir menyentuh telinga. Layaknya seorang iblis.


“K-k-k-k-kaAAaaau!? M-m-M-monstEeeErr!!” Terkejut bukan main. Karif yang sempat melihat perubahan wajah Amylia. Langsung terkaget-kaget, bahkan hampir terpingsan di tempat.


Kala itu, pukulan tangan Amylia menggeram begitu kencang. Seketika itu juga, Amylia memukul wajah sang iblis dengan begitu kuatnya.


Hantamannya membuat tulang rahang sang wanita sampai remuk. Bahkan bisa di pastikan, seketika itu juga sang iblis terpingsan di tempat.


Terpentallah tubuh sang Elf—berputar-putar dengan begitu kencang, sebelum akhirnya menghantam dataran bumi.


Beberapa saat kemudian, tubuh Karif membentur keras kawah yang sebelumnya sempat Arley ciptakan. Bahkan, kali ini sampai menimbulkan kehancuran yang amat dahsyat.


Tercipta kawah baru dari bekas hantaman tubuh Karif pada lubang kawah sebelumnya.


Akhirnya, sang Elf kehilangan kesadarannya. Secara instan, pertarungan Amylia melawan sang iblis, selesai dalam sekali pukulan maut.


Turunlah Amylia kedataran kawah. Lalu, dirinya langsung duduk di depan sebuah batu yang ukurannya cukup besar. Sembari ia menyenderkan tubuh ringkihnya itu, pada batu raksasa tersebut.


Seketika itu juga Amylia terpingsan tak sadarkan diri. Wajah penuh lebamnya itu, secara perlahan kembali sembuh akibat regenerasi yang di bantu oleh energi『Mana』.


Lantas, pada wajah jelitanya itu, tertumpahlah genangan air mata—menyiram kehaluan hati yang sempat singgah di dalam lubuk kalbu.


Hatinya merasa puas, tak ada lagi beban yang tersisa pada batinnya.


Ketika dirinya terpingsan. Tiba-tiba, tepat pada punggung tangan kanan Amylia, muncul sebuah tato berwarna hitam.


Tato itu tertulis dengan bahasa『Okto』yang sudah lama hilang. Dan pada tulisan tersebut, terukir dengan indah sebuah kalimat yang Arley tahu betul artinya.


Kalimat tersebut adalah:『Recuperare』yang berarti『Recuperation/Penyembuhan』.


Kalimat yang sama dengan judul kitab sang pahlawan kuno, 『Lebia』sempat terima.


Ada apa dengan takdir darah yang Amylia bawa? Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?


Bersambung ~


***


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!