
Seleksi tahap kedua pada babak pertama akan segera berakhir. Saat ini hanya tersisa dua pasang peserta saja yang belum meneylesaikan pertarungan mereka.
Sedangkan Eadwig sudah menyelesaikan bagiannya pada pertandingnan ke-66.
Entah takdir atau apa itu namanya. Namun Eadwig dipertemukan oleh salah seorang dari tim “The Blue Whale”.
Pada pertandingan tersebut, Eadwig menyelesaikan segalanya hanya dalam waktu kurang dari dua detik. Ketika peluit ditiupkan, Eadwig menghilang dari tempat ia berdiri, dan lawan tandingnya sudah terkapar di luar arena.
Sangat cepat dan instan. Walaupun demikian, aku tahu bahwa tindakan Eadwig barusan adalah perbuatan balas dendam atas apa yang Amy lakukan kepada temannya. Namun tentu saja Eadwig tidak bisa membalasnya langsung. Karena pada saat ini, mereka berdua sedang jatuh di dalam jeratan cinta yang sangat melilit hati.
Haah, sangat merepotkan saja ….
***
“Prittt!!~” Peluit ditiupkan. Menandakan bahwa pertandingan ke-148 telah usai.
Peserta selanjutnya lalu bersiap-siap turun ke arena pertandingan untuk segera memulai laga mereka.
Kali ini yang bertanding adalah salah seorang wakil dari negara『Akhekh』.
Ia bernama “Rubius Zu Vermithrax”, yap! nama seorang bangsawan yang sangat kuat dan bermartabat. Namun di balik nama bangsawannya tersebut, Rubius memiliki masa lalu yang cukup kelam.
Aku mendapatkan informasi ini dari beberapa berkas yang kudapatkan saat aku masih menjabat di lingkaran ke-uskupan.
Rubius Zu Vermithrax. Dia adalah anak angkat dari seorang bangsawan yang berasal dari negeri『Akhekh』. Sebuah informasi beredar bahwa, Rubius pada awalnya adalah seorang budak yang ibunya entah siapa. Namun karena kemampuan sihirnya yang sangat luar biasa, keluarga Vermithrax mengadopsinya ketika ia di tinggal pergi oleh ibundanya sendiri, yang juga pada saat itu, adalah seorang budak pelarian.
Sebuah rumor beredar. Mengatakan bahwasannya Rubius adalah anak dari seorang bangsawan, yang ia adalah anak hasil dari benih perselingkuhan dengan seorang budak. Dan menurut rumor yang beredar, Rubius adalah anak dari bangsawan yang memiliki pengaruh cukup besar di negeri『Akhekh』.
Demikianlah kisah kelam yang pernah Rubius alami beberapa waktu yang lampau.
Namun, paras Rubius saat ini tidak bisa dibilang menyisahkan jejak-jejak masa kelamnya itu lagi. Ia tampil begitu seronok layaknya seseorang yang memang benar-benar berasal dari keturunan seorang bangsawan. yah begitulah penampilannya saat ini ....
Peserta yang baru saja menyelesaikan pertandingannya tadi akhirnya telah sampai di Lobby kaca yang berada di atas arena ini. Demikian Rubius langsung turun ke bawah arena untuk menyelesaikan pertandingan yang harus ia selesaikan.
“Pluk!~” Tiba-tiba ada sebuah sampah yang terlempar ke kepala Rubius.
“Hahahaha~ lihat dia, menjijikkan. Semoga dia gagal dipertandingan ini.” tanpa disengaja aku mendengar pembicaraan beberapa orang yang mengenakan pakaian juba hijau, sama seperti jubah yang dikenakan oleh Rubius.
Mereka dengan piciknya mencerca Rubius dari belakang secara diam-diam. Kemudian Rubius memandang tajam ke-arah mereka. Wajahnya tampak marah kepada kelompok 4 orang tersebut. Namun entah mengapa, tampaknya Rubius tidak jadi memarahi mereka berempat , dan Rubius hanya langsung turun ke arena.
“Hahaha! dasar pengecut.” Cetus mereka ber-empat, yang saat ini terlihat begitu senang ketika menjahili Rubius.
***
Siap siaga. Rubius dan seorang kesatria lainnya, telah hadir di atas arena pertandingan, untuk saling mengadu kemampuan mereka pada pertandingan kali ini.
Dengan tenangnya, Rubius menyodorkan tongkat sihir miliknya, kepada sang wakil dari negeri『Reglaist』. Ia bernama “Aslan Basir”.
Aslan adalah seorang kesatria dari lima peserta yang mewakili negeri『Reglaist』, bisa di bilang Aslan adalah orang terkuat nomor dua dari wakil negara tersebut.
“Peserta bersedia! Priiitttt!!~” Ucap Michale sembari meniup peluitnya.
Pertandingan dimulai. Namun tidak ada seorang pun yang bergerak dari tempat mereka.
“Kau tidak mau menyerang?” ucap Rubius sambil menunggu. “Aku tidak akan bergerak sebelum kau bergerak~” melemaslah tangan Rubius yang ketika itu sedang memegang tongkat sihirnya.
“Kau tahu?, sesungguhnya aku tidak suka pertarungan. Haah, mengapa kita tidak bisa hidup didalam ketenangan saja?” terhembus nafas dari mulut Rubius. Tak terlihat sedikit pun semangat untuk bertarung dari dalam dirinya. Tubuh Rubius melempem, tampak ia seperti ingin menyerah.
“Cih!” Lalu Aslan melaju kencang untuk menyerang Rubius dengan palu raksasa yang ia genggam dengan kuat. “Tak pantas kau meremehkan aku!!” Aslan tampak marah dengan perbuatan yang Rubius berikan kepada dirinya.
“Brak!!”
“Wushh!!~”
“Ptch~” Tampak darah keluar bersamaan liur yang Rubius sempat ludahi ke lantai. Kemudian Rubius mengelap bibirnya sambil memicik kan mata sebelah kirinya. Ya, Rubius seperti sedang menahan sakit yang begitu kelu.
“Heh, ternyata seranganmu sakit juga~ “ celotehnya dengan nada arogan, namun penampilannya tidak demikian.
“Wahaha!! Rasakan itu Rubius!! Kenapa tidak mati saja sekalian!!” Ucap rekan satu tim Rubius yang berada di sebelah kananku. Mereka tampak begitu senang ketika melihat Rubius tersiksa. Cih, benar-benar membautku kesal.
Aslan dengan santainya mengangkat palu raksasanya itu dan ditopangkannya palu itu tepat di punggung kanannya. “Jadi, kau mau menyerah, atau melanjutkan pertandingan? Ingat, aku hanya akan mengatakan ini sekali. Jika kau memilih untuk melanjutkan pertandingan ini, maka serangan selanjutnya akan menjadi penutup dari pertarungan kita.” Aslan memberikan ancaman kepada Rubius. Tidak, lebih tepatnya memberi rasa kasihannya kepada sang lawan.
“Waw, lihat lah siapa yang sedang berbicara, seharusnya aku yang mengucapkan itu kepadamu wahai Aslan Basir~ “ dengan sangat tiba-tiba, wajah Rubius menyengirkan senyuman yang amat menyeramkan.
Saat itu juga tubuhku merinding secara tiba-tiba. Entah bagaimana, spontan muncul hawa membunuh yang dahsyat, muncul datang dari arah Rubius.
Ini benar-benar tidak baik! kalau dibiarkan begitu saja, Aslan akan mati di pertandingan ini!
“Michale! Hentikan pertandingan ini!!!” dengan sangat lantang aku berteriak untuk menghentikan suatu kejadian yang belum terjadi.
Sontak semua orang memandangku dengan wajah heran, begitu juga dengan Eadwig dan Michale. Mereka semua terdiam dan hanya menatapku bingung.
Namun semuanya telah terlambat! Rubius sudah mengangkat tangan kirinya yang saat itu tengah memegang tongkat sihir yang terlihat sangat unik. Tongkat itu tampak begitu menyeramkan! disekeling kayu yang melapisi tongkat tersebut, terlapisi oleh sekumpulan tulang hewan yang entah dari mana asal tulang tersebut.
Lalu muncul dari sekitar tubuh Rubius percikan-percikan listrik yang saling menyambar satu dengan yang lainnya. Perlahan rambut Rubius naik ke atas seperti ada aliran statis yang menyelimuti sekeliling tubuhnya.
“I-ini kan!!!?!” Sontak aku terkejut ketika melihat manifestasi elemen yang sangat mencengangkan itu.
Lalu terucaplah mantra sihir yang terdengar begitu spektakuler dari kedua bibir Rubius~.
“Thunder of Oz!~ “
Sekejap mata, tiba-tiba muncul bola-bola petir yang timbul entah dari mana! Jumlahnya sangat banyak. Puluhan?, tidak, bahkan sampai ratusan bola petir muncul di sekeliling Aslan yang saat itu tidak dapat bergerak satu jengkal pun!
“I-Ini kan!?! Ini adalah sihir『Elium!!?!』B-Bagaimana bisa!? bagai mana bisa ia menggunakan sihir ini?!” aku berteriak secara refleks, semua orang mendengar ucapanku dan mereka baru menyadari bahwa sihir ini bukanlah sembarang sihir.
“『E-Elium!?!』M-Mustahil!! tidak ada orang di dunia ini yang bisa menyatukan dua sihir dalam satu mantra!” Tegas Amy yang ketika itu sedang membersamai aku dan Eadwig.
Lalu beberapa saat kemudian terdengar Rubius membicarakan sesuatu hal kepada Aslan. “~Hei Aslan. Sekali serangan wahai kawanku … ingat, hanya sekali serangan~” ucap Rubius kepada Aslan dengan wajahnya yang menyeringai lebar.
Saat itu juga, Rubius mangayunkan tongkat sihrinya melandai kebawah. Demikian seluruh bola petir yang berada di udara, menumpuk menjadi satu dan menciptakan suatu fenomena sihir yang begitu fantastis!
“GAaaaarrrr!!!!!”
“Bzzzzzttttt!!! Bllllttaaarrr!!!!”
“Taaarrr!! Darr!!”
Bola-bola itu mengumpul, menyatu menjadi satu kesatuan! dan bola-bola itu berkumpul tepat mengarah ketubuh Aslan yang ketika itu sudah tak terlihat lagi akibat cahaya petir mengerubungi sekujur tubuhnya.
Namun saat itu, hanya satu hal yang dapat kami ketahui. Ya, saat itu hanya suara teriakan Aslan yang dapat kami dengar dengan sangat jelas!
“GGyaaaAAAaaaaaaaaaaarrrrgggghhh!!!!!” teriakannya memekik ke seluruh penjuru arena. Tidak, aku yakin bahwa teriakannya menggelegar sampai keluar dari dalam stadion『El-Colloseum』ini.
“-ASLLAAANNN!!!” Teriak seorang wanita yang mengenakan jubah kuning. Jubah itu sangat mirip dengan jubah yang dikenakan Aslan.
“Michale!! Peluit!!” Teriakku kuat kepada Michale yang tengah tertegun melihat ke lokasi perkara.
Dengan cepat Michale memandangku, sejenak ia tampak terkejut dengan kondisi yang membingungkan ini, namun setelah ia melihat wajah kesalku. Michale langsung meniup peluitnya “PRiiittt!!!” Peluit Michale mendengung kencang.
Demikian aku langsung lompat kebawah Arena untuk menghentikan kegilaan yang masih berlanjut sampai saat ini!
***