The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 185 : Batu Berbentuk Telur.



Not Edited!


Berbondong-bondong berbagai macam jenis monster dan iblis masuk ke dalam ruangan sebesar ratusan meter persegi tersebut.


Berdiri dengan tegap pada barisan pertama, bangsa ‘Orc’ dan ‘Pigman’ yang lagi memegang pentungan serta lembing besi demi membasmi para manusia.


Pada barisan belakangnya, terlihat ‘Mushroom Boy’ tengah memegang obor api beserta trisula yang biasa digunakan untuk memisahkan jerami. Lalu, tampak ‘Cobolt Wolf’ juga ‘Walking Cactus’ berdiri bersamaan dengan rombongan ‘Gnome,’ yang tampak menggenggam batu pada kedua tangannya.


Berdiri di depan seluruh monster tersebut, sesosok Iblis yang tidak asing di mata Arley, juga merupakan salah satu dari tiga komandan utama pasukan raja iblis yang tersisa saat penyarangan ini terjadi.


Iblis bertubuh biru, bertanduk panjang, juga bersayap hitam layaknya kelelawar. Berpijak dengan tegap, menatap jutaan orang yang berlari ketakutan—masuk ke dalam pintu pelarian yang telah Arley buka lebar.


Saat kepanikan sedang terjadi, Eadwig dan Rubius berdiri di posisi paling terdepan untuk menahan persekusi yang para monster itu akan lakukan kepada pihak manusia.


Ruangan yang tadinya penuh terisi manusia, kali ini seluruhnya dengan cepat, berlari memasuki ruangan, menuju sisi selatan ibu kota. Sedangkan Rubius dan Eadwig berusaha menjaga mereka semua agar bisa melarikan diri dengan selamat.


Tergenggam erat pedang raksasa Eadwig, menjulang tajam menuju ke arah kubu Iblis demi memberikan intimidasi keras kepada mereka semua. Sedangka Rubius telah membidikkan tongkat sihirnya mengarah ke kepala Zorman, jika tiba-tiba saja suatu hal yang tak diinginkan terjadi secara cepat.


“Hey, kalian berdua. Aku datang kemari hanya untuk mencari anak lelaki dengan ciri-ciri berambut merah dan bermata hijau. Berikan ia kepadaku, dan nyawa kalian semua akan aku selamatkan dari petaka!” teriak Zorman dengan nada peringatan.


“Maksudmu Arley? Hahaha … kau tidak pantas melawan dirinya … jika kau bisa melewati mayat kami berdua, barulah aku percaya jika kau lawan yang sepadan dengan anak itu!” kecam Rubius, membalas kalimat sarkas Zorman.


Eadwig yang mendengar ucapan sahabatnya kala itu, hanya tersenyum puas, berbalut geli, sebab ia tak menyangka jika seorang Rubius yang terkenal kaku, bisa berkata-kata sok keren, layaknya seorang kesatria tulen.


Tentu saja Zorman tak suka dengan perkataan Rubius. Emosinya ia tampakkan dengan nada suaranya yang mulai melengking tinggi.


“Kurang ajar! Kalian pikir aku ini siapa?! Aku adalah Zorman! Pemimpin dari Pasukan Agung Penumpas Manusia, yang Raja Iblis telah mandatkan tugas mulia itu, kepada diriku, Raja dari ras Incubus, kaum yang lebih superior dibandingkan kalian!” bentak Zorman dengan angkuhnya.


Mendengar bentakan Zorman yang terdengar sombong, lantas, Rubius dan Eadawig saling menatap bingung. “Apakah kau menanyakan itu kepadanya?” ucap Rubius.


“Tidak ... aku rasa ia hanya ingin pamer saja,” jawab Eadwig sambil mengerenyutkan dahi


Semakin kesal dengan sikap Rubius dan Eadwig yang tak acuh, Zorman sudah tak tahan lagi untuk segera menghabisi mereka berdua.


“Sudah! Lupakan saja seluruh formalitas ini!” teriak Zorman sambil mengibaskan tangan kanannya. “kalian semua! Serang!” kala itu, dengan teriakan yang panjang, Zorman memerintahkan pasukan monsternya untuk menghabisi Eadawig dan Rubius.


Situasi langsung berubah menjadi keruh. Rubius dan Eadwig berusha keras menahan pergerakan musuh yang akan menerobos batas tengah ruangan, untuk melindungi warga kota yang masih belum sempat kabur melalui pintu selatan.


“Apakah kau bisa menahan penyerangan pada bagian kiri, seorang diri, Rubius?” tanya Eadwig dengan senyuman lebar akibat terpacu Adrenalin.


“Jangan memberikan pertanyaan yang konyol, Eawdig. Kau kira aku ini siapa! Tentu saja itu adalah hal yang mudah!” jawab Rubius sembari ia melesat cepat ke sisi kiri.


“Kalau begitu! Tolong jangan mati ya! Rubius!” Lantas, Eadwig juga berlari ke sebelah kanannya untuk menghabisi seluruh monster pada bagian tersebut.


Monster yang ingin menyerang umat manusia, pada saat itu langsung terpecah menjadi dua kubu. Mereka secara insting memilih untuk mengejar Rubius dan Eadwig.


Nalar binatang mereka berkata: kedua orang ini adalah manusia yang harus pertama kali di musnahkan, sebab Rubis dan Eadwig, adalah manusia yang paling berbahaya dibandingkan manusia yang lainnya, pada ruangan ini.


Sedangkan di bagian tengah, tanpa perintah dari Rubius dan Eadwig, dengan suka rela Misa mengayunkan tongkat sihirnya sembari menghancurkan penyerangan pada sisi tengah ruangan.


***


Satu persatu, para monster itu mulai bergelimpangan—terkena serangan yang fatal. Rubius dan Eadwig berhasil menahan gempuran para monster dan memberikan ruang kepada umat manusia untuk bergegas lari dari ruangan itu.


Saat ini, kondisi ruangan di bawah gorong-gorong tersebut, telah kosong dari warga kota. Yang tersisa hanya Rubius, Eadwig, Misa, dan tim Green Gorgon, yang memilih membersamai Rubius dalam pertarungan kali ini.


Sisa dari regu penyelamat yang lainnya, memilih untuk membantu Arley mengungsikan warga kota ke tempat yang Arley tuju.


Ketika itu, dengan susah payah Arley berlari pada bagian paling depan rombongan—memimpin serta menelurusi koridor yang amat panjang tersebut.


Dirinya sendiri tak mengetahui sebenarnya ia akan di bawa ke tempat apa, tetapi, Arley hanya mengikuti instruksi Lenka, yang instruksi itu sebenarnya datang dari Malrin.


“Marlin … ini adalah jalan yang terbaik bukan …? Ini akan menyelamatkan umat manusia kan?” gumam Arley dalam hati, dengan perasaan gelisah yang memakan sukma.


Tanpa mempedulikan lelah, Arley terus menggerakkan kedua kakinya demi membimbing seluruh warga. Walaupun tubuh Arley sudah melewati batas kewajaran, akan tetapi, kesadaran Arley masih tetap terjaga, sebab keinginan dirinya untuk menyelamatkan warga kota sangatlah berapi-api.


Terhenti langkah Arley di depan pintu itu. Jantungnya memompa kencang tak terkendali, juga napasnya tersendat-sendat akibat stamina yang telah lama habis.


Tangannya gemetaran ketika dirinya mengampai tuas pintu berdaun dua tersebut.


“Arley …? Apakah kau baik-baik saja …?” tanya Sophie yang cemas dengan kondisi sang remaja berambut merah.


Menenggaklah air liur yang terkumpul pada mulut Arley. Dirinya berharap, dengan tertelannya jelijih yang sengaja ia kumpulkan, bisa mengurangi dahaga pada tenggorokannya.


“Ya … aku baik-baik saja,” Dengan suara yang parau, Arley menjawab pertanyaan Sopie dengan hanya lima buah kalimat.


Lantas, tanpa memperlambat waktu yang terus berputar, seketika itu juga Arley mendorong tuas pintu kayu tersebut, ke sisi seberangnya, menggunakan seluruh tenaga yang tersisia.


Badan Arley langsung condong ke depan, tubuhnya tersungkur cepat menjulang ke depan. Tidak ia sangka jika kedua kakinya suadah tak menurut lagi dengan perintah otak.


Saat itu juga, tubuh Arley tergeletak ke depan ruangan yang sangat amat luas—mencium lantai semen, dengan suhu dingin bagaikan es.


“Arley!” pekik Sopihie dan Aurum yang menyaksikan kejadian itu.


Bergegas mereka berdua menopang tubuh Arley dengan kedua tangan mereka, perasaan cemas kembali merebak dalam hati kedua wanita itu.


Perlahan tubuh Arley diangkat kembali ke posisi duduk. Namun, kala itu pandangan Arley hanya tertuju pada satu titik, matanya hanya melihat ke sisi tengah ruangan, yang saat itu, tampak sebuah batu besar layaknya telur, berdiri dengan kokoh di tengah ruangan hampa ini.


Mata Arley secara otomatis memandang lurus tertuju ke arah batu tersebut. Pikirannya menjadi kosong, pandangannya menjadi sempit. Tak ada yang dapat ia pandang kecuali batu berbentuk telur itu saja.


“Kemarilah …,” Tiba-tiba, di dalam benaknya, Arley mendengar suara yang ia tak kenal, memanggil dirinya untuk melakukan suatu hal yang ia sendiri tak ketahui.


Tangan Arley berusaha untuk menggapai batu raksasa itu …


Tetapi … Sophie dan Aurum menahan tubuh sang remaja, agar dirinya tidak bertindak ceroboh lagi.


Apakah yang ingin Arley lakukan? Dan mengapa batu itu bisa berada di tengah ruangan?


Bersambung!


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter !


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -