
***
"AAAaaaaaa!!!!!!!"
Terpekik kencang. aku tidak tahan dengan rasa sakit yang menyelimuti tubuh ini, darah mengucur dengan deras, celana ku langsung basah dengan darah yang merembes keluar.
Sekujur tubuhku langsung terlemas. tidak kuat menahan beban tubuh, aku langsung terduduk di tempat aku berdiri. Tangan ku mengeram kencang pada bagian kaki ku yang kesakitan.
kondisi ini tidak baik, aku tidak bisa berfikir dengan jernih, di tambah lagi para Algojo itu hanya tinggal beberapa meter saja dari posisi aku terjatuh.
***
"[ZAP !] "
Pada momment itu, segalanya tiba-tiba bergerak dengan momentum yang melamban, semakin lama semakin melambat, sampai akhirnya waktu seakan-akan berhenti seketika.
"(Huh...? apa yang terjadi?)"
Pandangan ku menghitam, lalu terdengar suara yang samar "(...Hey, Bagaimana keadaan mu...?)" sumber suara itu berasal dari dalam kepalaku. terdengar suara wanita yang aku rasa aku mengenalinya.
Ketika itu, aku baru menyadari bahwa waktu tidak lah berhenti, tetapi waktu hanya terasa berhenti.
Setelah sekian lama, Akhirnya aku menyadari bahwa waktu seperti berhenti sejenak, aku menyadari bahwa aku sedang dalam mode berfikir.
"(...Tubuhku tidak dapat bergerak, tetapi aku bisa berfikir dengan jernih.)"
Kemudian Aku mencoba mencerna segala sesuatu yang ada di pandangan ku saat ini.
"(... Baiklah, bagaimana aku bisa keluar dari masalah ini ....)"
Sesaat aku terfikir kan hal yang di luar nalar manusia pada umumnya. Aku mengambil resiko pada pilihan ku kali ini.
"(... ayo kita coba cara itu...) "
Sebelumnya, aku sudah mencoba ke lima elemen pokok yang seluruhnya pernah aku latih saat di mata air [Shefa]. Namun ada satu elemen yang belum pernah aku coba, yap, kalian tahu elemen apa itu ....
Yakin dengan pilihan ini, lalu aku mencoba kembali kepada kesadaran yang sebelumnya.
"[ZIP !]"
***
Momentum nya terlepas, bagaikan kebatan tali yang di gunting dengan cepat, segalanya kembali berjalan seperti sedia kala.
Rasa sakit di kaki ini kembali merasuki tubuh, aku menggeram kan seluruh gigi ini demi berusaha menghiraukan rasa sakit.
Tanpa ragu Aku mengangkat tongkat sihir ke udara, lalu dengan seluruh kekuatan yang tersisa, aku mengumpukan [Mana] yang ada di sekitar.
"SssSsssshhh, Fuuuhhhh!!!"
Dalam hembusan terakhir itu, tiba-tiba warna baju ku berubah menjadi hitam.
Berhasil. Perjudian yang kali ini ku lakukan ternyata sukses di laksanakan!, Aku mencoba untuk mengendalikan [Elementium] Kegelapan, dan tidak disangka ternyata aku mampu melakukannya!
“-!!?!” Saat itu juga seluruh langkah Algojo yang ingin menyerang ku berhenti mendadak. Detakan jantung menciut kan Adrenalin mereka, tampaknya mereka secara bersamaan merasakan ada Aura negative yang mengerikan keluar dari tubuh ku.
Namun aku sendiri sebenarnya tidak mengetahui akan hal ini.
"H-hey ... A-Anak itu, ada apa dengan tubuh anak itu ...?!?"
Gumpalan ludah tertelan secara paksa. rasa takut membuat kerongkongan mereka terasa kering.
Keringat dingin kembali keluar dari pori-pori tubuh mereka, mata mereka bergetar, dan entah kenapa mereka tidak dapat melihat ke arah mata ku, seperti ada rasa takut di hati mereka saat mereka ingin melihat ke arah ku.
Seperti ada yang akan hilang ketika mereka melihat ke wajah ini.
Dari kejauhan. Pilak yang tidak mengerti situasi dan kondisi yang sedang terjadi di lokasi pertarungan, merasa gelisah dengan pertarungan yang tak kunjung usai.
Entah apa yang terjadi pada ku, ia tidak mengetahuinya sama sekali. hal ini di akibat kan karena pemandangannya tertutup oleh para Algojonya sendiri.
Dengan lantang, ia meneriakkan amarahnya karena mereka telah menghabiskan waktu yang sudah cukup lama hanya untuk membunuh seorang anak kecil.
“Hey!! Apa yang kalian lakukan, Cepat bunuh anak itu!!!”
Tetapi tiba-tiba bulu kuduknya merinding. tepat dari kejauhan itu, Pilak melihat ada Aura gelap yang perlahan naik ke langit seperti sebuah kain sutra yang di tarik perlahan menuju awan.
“… mulut mu kotor sekali ….”
Terdengan sangat dekat, seperti Aku berbicara tepat di samping kuping Pilak.
Aku menatap sinis kearah Pilak, seperti Emosi ini telah terlepas dari jiwanya. saat itu juga Aku merasaakan ada sebuah Hawa dingin yang tertempel di tulang selangka sebelah kiri dekat pundak ku.
Kemudian, tak sengaja Pilak melihat sedikit bayangan dari sela-sela para Algojonya, ya, ia melihat si kecil Arley, sedang berselimut kabut hitam yang tampak cukup aneh, entah mengapa diri ku ini merasakan ada kekuatan yang cukup besar, mengalir hebat di pembuluh darah ku.
*****
Dari sudut pandang Pilak, ia tampak melihat sebuah monster bertubuh kecil dari arah kerumunan Algojonya.
Tiba-tiba Jantung nya Pilak berdegub dengan hebat. pompanya mengalirkan sel-sel darah ke seluruh tubuh dengan cepat, mendingin, tubuh Pilak menjadi semakin dingin
Pilak saat itu baru menyadarii, bahwa orang yang ia hadapi bukanlah Anak kecil biasa. ia hanya bisa terdiam kaku, tubuhnya membeku bagaikan batu.
“H-Hiiiiiii!!!!!”
Tangannya gemetar, kakinya terlemas. Pilak tersungkur ke tanah efek halusinasi yang ia ciptakan sendiri. badannya tidak bisa di gerakkan.
*****
Geram, amarah, kesal, semua perasaan negative menyatu di dalam hati ini, rasanya ingin sekali aku membunuh mereka semua dengan cara yang sadis.
“… kalian semua membuat ku muak … Selalu saja melakukan segala hal yang bisa menyakiti orang lain ….”
Di luar kendali, dari dalam tubuh ini, terhempas sapuan angin yang merambah ke seluruh penjuru dataran.
Bahkan aku sendiri tidak menyadari akan hal ini, entah mengapa sihir ini aktif sendiri, bahkan tanpa mantra. Ketika Angin berwarna hitam itu mengenai kulit seseorang maka akan ada gejala yang timbul. Setiap orang yang terkena angin itu serentak mereka semua menjadi tidak bisa bergrak.
“Aghk!! Aku tidak bisa bergerak!!”
“E-eh!! Mengapa ini, Aku tidak bia bergerak!!”
Aku menyadari akan situasi yang aneh ini, tentunya aku terkejut dengan diri ku sendiri, aku melihat ke telapak tangan ini seakan aku sedang mengalami kebingungan yang amat hebat, namun aku menyadari akan satu hal, saat ini tubuh ku bergerak tanpa perintah dari otak ku, walaupun kesadaran tubuh ini masih sepenuhnya aku yang mengendalikan.
"(...!? apa yang baru saja aku lakukan ...??)"
Hal ini pernah terjadi sebelumnya, walaupun metodenya berbeda, yap, hal ini terjadi pada saat malam di mana Aku berubah menjadi mahkluk yang membinasahkan segerombolan bandit gunung.
Tapi saat itu aku tidak dapat menggerakkan tubuh ini ... Sungguh ... Ada apa dengan diri ku, lama kelamaan aku menjadi takut dengan kekuatan yang meluap-luap ini.
***
"-H-Hey ...."
“… H-Hey ... Anak muda, K-Kau memiliki kekuatan yang luar biasa, B-Bekerjalah untukku, aku akan memberikan segalanya untukmu, Uang? Rumah? Wanita? Ah, M-mungkin wanita terlalu muda untukmu, ah!? keluarga!! Kau pasti anak yatim kan!! Itu sebabnya kau bisa berada di sini ... Aku akan memberikanmu keluarga!! Apapun ...!! Aku akan berikan kau apapun!!! ”
Kali ini Aku benar-benar marah dengan perkataan Pilak. Amarah ini tidak dapat di tampung, muncul perlahan urat di leher Aku.
“… Perkataanmu … benar-benar kotor seperti Tikus sawah ….”
Lagi dan lagi, di luar kontrol tubuh ku, keluar Aura hitam dari tubuh ini. tidak lain dan tidak bukan Aura ini adalah manifestasi [Mana] milik ku yang termaterialisasi dan berubah bentuk menjadi Aura hitam nan gelap.
Tetapi saat ini Aku tidak mengetahui akan hal itu, aku hanya tergerak oleh amarah dan hawa nafsu.
"A-apa itu!!?! M-Monster!! Kita sedang melawan monster!!"
Mereka yang berada di sekelilin ku baru menyadari akan satu hal, makhluk yang ada di depan mereka bukanlah seorang manusia biasa, ya, dia adalah Monster. itu yang sekiranya mereka fikirkan saat ini juga
"L-L-L-Lari!! S-S-S-Selamatkan diri kalian masing-masing!!!"
"A-Aaakh!! Tidak bisa, T-t-tubuhku tidak bisa bergerak!!"
Para Algojo menjadi panik setelah melihat gumpalan [Mana] yang keluar dari tubuh ku.
Terlihat dengan kasat mata, Gumpalan [Mana] yang berkobar bagaikan api, perlahan membumbung naik tinggi keatas langit.
“Whip!” Aku mengarahkan tongkat sihir ini ke arah Pilak. Ekspresi wajah yang aku tampilkan saat ini hanyalah ekspresi datar. Kemudian ku ucapkan mantra yang belum pernah aku uji coba sebelumnya.
"[—VENTO FORTI !!!]"
Tepat dari ujung mata tongkat sihir ku, Secara tiba-tiba muncul tekanan Angin seperti di tarik dan di kumpulkan secara paksa, semua yang berjarak 10 meter di samping ku tertarik ke arah ujung tongkat sihir ini, mereka semua tertarik bagaikan vacuum penghisap.
Bertahan pada otot kaki, mereka para Algojo tidak mau melepaskan dirinya dari hisapan Vortex tersebut. Namun gelombang hisapan angin itu akhirnya berhenti.
Tentu saja hal ini tidak berakhir di sini aja, kemudian Aku mengangkat tangan ini ke langit dan pada saat itu juga seluruh yang berada di jarak 50 meter dari posisi ku saat ini, akan mendapatkan petaka.
" Kalian semua ... Sampai berjumpa kembali di alam sana ...."
Wajah mereka langsung tertegun kejang, seperti sudah6tahu apa yang akan terjadi selanjutnya mereka tampak pasrah dengan apa yang akan terjadi pada tubuh mereka.
Seluruh yang berada dalam titik jangkauan, Seluruhnya Meledak terbang di hempas oleh tekanan angin yang membawa mereka melayang ke atas Angkasa luas.
Terasa seperti dari dalam pori-pori bumi, menghembus kan angin yang amat kencang sampai bisa menghempaskan setiap makhluk hidup yang berada di atas tanah.
Tidak ada satu makhluk pun yang tidak terangkat dari pijakan bumi, semua terangkat seperti tertiup turbin pesawat jet dalam jarak nol meter.
Kalian pernah melihat orang yang terhempas dsri dalam pesawat saat pintu pesawat dibuka saat di udara? Yes, seperti itulah penampakan nya.
Mereka yang terhempas ke langit, tidak hanya terombang ambing, namun mereka juga terhempas dengan kekuatan super kencang, naik ke atas langit yang luas tanpa ada batas.
Hempasannya tidak memberikan tanda bahwa mereka akan di jatuhkan lagi ke tempat yang sama dan jika mereka kembali ke bumi, maka mereka tidak akan dalam kondisi bernyawa.
Seluruh yang terkena serangan itu lenyap dari permukaan bumi. rumput, air, hewan, manusia, bebatuan. semuanya lenyap terhempas ke atas, dibawa oleh angin. yang tersisa hanya tanah dan Aku seorang.
... Hening … Tidak ada satu pun suara yang terdengar.
Tepat di lokasi pertempuran, hanya Aku seorang yang berdiri tegak tak ter geser. tercipta lingkaran selebar 50 meter yang Aku berada di tengahnya.
Luka di kaki ini pun sembuh tanpa sebab, entah kapan pisau yang ada di kaki ku terlepas dan entah kapan kaki ini sembuh sendiri.
"(... Bagaimana Keadaan mu...?)" Lagi, terdengar suara seorang wanita tepat di dalam kepala ku ini, ya, suara wanita ini adalah suara orang yang aku kenal.
"Zap!" Lalu baju ku berubah kembali menjadi warna dasar baju yang biasa aku kenakan.
***
Aku menatap ke langit, aku masih bingung dengan apa yang telah terjadi, ada banyak pertanyaan terbentang luas di angan-angan ku.
keheningan ini terjadi cukup lama, masih di rundung kebingungan, Aku hanya melamun menatap langit yang menggelap dan terlihat akan menurunkan hujan.
Terdengar perlahan memasuki telinga ku. perlahan tapi pasti, terdengar suara yang cukup riuh dari kejauhan. benar saja, para budak yang di bebaskan oleh anak berambut pirang melihat ke arah ku dengan kekaguman.
Aku yang tersadar akan posisi tempat bersembunyi mereka, mengintip tipis ke arah para budak tersebut, Kemudian aku berjalan menuju tempat para budak itu bersembunyi.
Mereka bersembunyi pada sebuah kereta kuda yang posisi ya sekitar 500 meter dari lokasi Aku bertempur.
Saat itu ketika para budak itu melihat aku berjalan menuju lokasi persembunyian mereka, serentak mereka langsung w 6keluar dan berlari menuju tempat dimana aku berada.
“Tuan muda, Kau tidak apa-apa!!?!” terdengar teriakan suara para budak itu merambah terdengar sampai tempat ku.
“...T-Tuan muda … kalian memanggil siapa?“ ucap ku malu dan tidak terima dengan panggilan yang terlalu membesarkan tersebut.
Sekejap kemudian, Aku di kerumuni oleh para budak yang jumlahnya ratusan orang, mereka datang mengerubungi ku dengan penuh pertanyaan. Namun aku yang masih terbawa suasana hati ini, hanya melamun melihat kerumunan manusia yang melimpah.
Kemudian awan hitam yang terkumpul akibat sihir ku beberapa saat yang lalu, perlahan menyebar dan larut kembali terbawa oleh angin alam yang sesunguhnya.
Terpancar sinah matahari sedikit demi sedikit mengintip ke bumi. lalu salah satu pancaran cahaya itu mengenai mata hijau ku dan akhirnya aku tersadar dari mimpi siang bolong yang cukup panjang.
Aku tersenyum kecil sambil tertunduk lemas. lalu aku menyadari bahwa tujuan ku datang ke lembah ini adalah untuk membantu sahabat ku, si rambut pirang.
Aku melihat ke sekeliling ku bagaikan orang yang baru sadar akan sesuatu, para budak itu masih menghujani ku dengan berbagai pertanyaan.
“(… hahaha ... Sepertinya mereka baik-baik saja … syukurlah ….)"
Dengan wajah yang memerah, Aku bergumam di dalam hati kecil ini.
Cahaya matahari semakin lama semakin melebar masuk ke bumi, cahaya ini bagaikan pertanda untuk memberi tahu ku bahwa saat ini hari yang tenang akan kembali tiba.
Ya hari itu telah kembali kepada ku.
"—Gruuuug~ " Tiba-tiba terdengan suara gemuruh perut yang sangat amat keras, sumber suara itu adalah dari perut milik karakter utama kita, yap itu adalah suara gemuruh perut ku yang tengah kelaparan hebat.
"-Ah..!" ucap ku yang baru teringat bahwa dsri tadi pagi aku sedang menahan lapar
"-Ahh...." serempak ucap para budak menyadari jika Aku tengah kelaparan.
"-Ahahahaha~" Kelaparan ini membuat mereka yang ada di sekitar ku merasa lebih tenang dan netral, karena mereka tahu bahwa Aku juga manusia biasa yang juga bisa lapar, sama seperti mereka.
Yap, mereka mengakui ku bahwasanya aku juga adalah seorang manusia biasa seperti mereka ....
"(Hm.. sepertinya ada suatu yang terlupakan...? tapi apa ya?)"
Ucap ku dalam hati, namun saat itu hal yang Aku lupakan adalah suara siapakah yang selama ini berdengung di kepalaku?
Tetapi sesungguhnya aku tahu dan yakin betul siapa pemilik dari suara tersebut ...
~Ya suara itu adalah milik Misa Albertus ....
Mungkin suatu hari aku akan teringat akan hal ini~
***