
Malam larut dengan cepat.
Embun pagi masih tebal, tidak ada makhluk yang bisa melihat secara jelas jika mereka berada di luar saat ini.
Arley telah selesai membereskan barang bawaannya. Lagi-lagi Arley tidak dapat tertidur, sudah enam hari semenjak terakhir kali Arley bisa tidur dengan nyenyak.
ia kira ia dapat menikmati tidur pada malam hari ini setelah hatinya menjadi lebih terbuka. Namun kenyataan nya tidak demikian ....
“Cekrek~” Tuas pintu terputar, perlahan Arley keluar dari rumah kakek Rubert, sedangkan sang kakek masih tertidur pulas di atas kasurnya.
Arley berusaha semampunya untuk tidak membuat suara agar sang kakek tak terganggu dari tidurnya, akhirnya Arley berhasil keluar dari rumah itu, perlahan ia menutup kembali pintu rumah sang kakek.
Gumpalan embun mengepul, saat itu juga keluar embun pagi dari mulut Arley. perlahan matahari bangkit dari ufuknya.
“(sudah waktunya …)” Arley kemudian mengeluarkan tongkat sihir dari kantung celana yang sudah compang-camping.
“Gale Ventu-“
“-Kakak ...?” Tiba-tiba anak pirang yang pada waktu itu meminta bantuan kepada Arley, datang dan membatalkan mantra nya.
“… ah … kamu ….”
Terhenti dari melafazkan mantranya, Arley kemudian meladeni sang bocah berambut pirang, sekiranya ia berharap sang bocah tidak membuat keributan yang dapat menghambatnya pergi.
“kakak mau pergi …?” Tanya sang anak yang tak tahu apa-apa, tampaknya ia masih mengantuk, namun beberapa saat kemudian barulah ruhnya kembali kepada jasadnya. mengetahui Arley akan pergi, sang anak merasa sedikit kesepian, ia menampilkan wajah yang bermuram durja.
“… Ada hal yang harus aku selesaikan ….” Ucap Arley menjelaskan kondisi mengapa ia harus pergi dari desa ini.
Lalu sang anak terdiam di antara dua kakinya. “Kak … aku ….” belum selesai berbicara, kalimat anak itu tertahan di antara dua bibirnya.
“Slip~" Arley menjulurkan tangannya. “!?” Lalu sang anak menjabat tangan Arley dengan heran.
“… Namaku Arley, Arley Gormik ….”
“Ah, kita belum berkenalan ... Ekhem, namaku Erga, Cuma Erga … aku tidak punya nama belakang ….” Erga kemudian tersenyum paksa.
Sepertinya mereka yang tidak memiliki status kemanusiaan tidak di berikan nama belakang untuk menghargai jati diri mereka. Bagaikan sebuah penghujatan, mereka hanya mendapat sebuah nama panggilan bagaikan hewan peliharaan.
“… Erga … baiklah, aku akan ingat nama itu dengan baik~”
Ucap Arley sambil menggoyangkan tangannya, sesaat kemudian Eerga mulai tersenyum lebar.
“… Baiklah Erga . Ini mungkin pertemuan terakhir kita, tetapi jika suatu saat kau bertemu denganku, panggil aku dengan namaku, lagipula kita seumuran.”
“He!? Aku kira kau lebih tua dari ku Arley ….?!”
“… Aku baru memasuki umur 5 tahun seminggu yang lalu ….”
“-Ah! Aku tahun ini akan masuk ke umur 7 tahun ….”
“… ah …” Lalu mereka berdua terdiam, dan tiba-tiba mereka tertawa terbahak-bahak.
“-Pfft! Gahahaha!!!” serempak mereka tertawa. “…haah … baiklah kakak Erga ....” Ucap Arley untuk menghargai perbedaan antar usia.
“Erga saja cukup, panggil aku dengan nama Erga!”
“… Baiklah, ekhem! Erga, aku titip salam dengan mereka semua ya ….”
Terlepas senyuman manis dari wajah Arley, kemudian ia melepas jabat tangannya dengan Erga, sahabat pirang pertama Arley selama ia berada di dunia ini.
“Ah! ... I-iya ... Baiklah~ Hehe ….”
Saat itu Erga tersentuh, ia baru menyadari bahwa untuk pertama kalinya Arley tersenyum lebar tepat di hadapannya.
Lalu kembali Arley mengangkat tongkat sihirnya, lalu ia menguncapkan sihirnya dengan lantang.
“Gale Ventum!”
Angin berhembus kencang, berubah dari porosnya menjadi objek solid, dengan cepat Arley pergi meninggalkan desa [Green Vanor] Tanpa meninggalkan sesal sedikitpun.
Walaupun tidak untuk di lain pihak.
Saat itu,Erga yang terdiam di antara kedua kakinya, mengeluarkan air mata dari kedua bola matanya yang berwarna biru muda.
“… Hmm … dia sudah pergi …?” ucap sang kakek dengan nada bergetar.
“… umm! Hiks …” Erga mengangguk
Sang kakek lalu memeluk Erga untuk menenangkannya, tetapi tangisan Erga malah semakin pecah dan membangunkan warga desa yang lainnya. sang kakek ikut menangis.
“Haah ... Dia datang bagaikan angin, lalu pergi bagaikan angin ….” Kakek Rubert memeluk Erga dengan erat.
“… Hiks … Unnm! ... Hiks!!!!” Erga masih menahan emosinya agar tidak tumoah sehingga membangunkan mereka yang masih beristirahat.
“Hey anak muda … Menangislah jika kau ingin menangis ... Tidak ada salahnya untuk mengeluarkan emosi yang terpendam ….”
“Huaaaa!!!!!! HAAAA!!!!!” Seketika, warga desa mengumpul di depan kediaman kakek Rubert, sang kakek menceritakan tenatang kepergian Arley dengan air mata yang berserakan.
Alhasil, seluruh warga desa ikut meneteskan air mata seperti yang di lakukan Erga.
Mereka sangat berterimakasih kepada Arley, karena berkat ialah masyarakat desa bisa kembali bebas menjadi seorang manusia yang selayaknya di peruntuk kan.
Semenjak saat itu, mereka mengenang dan memberi penghormatan ter-tinggi kepada seorang anak muda bernama Arley Gormik ....
***
Angin berhembus kencang. Arley terbang dengan kecepatan tinggi, ia berharap bisa ke ibukota secepatnya.
Tetapi langit mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa matahari akan terbenam. saat itu fenomena Sun Set terjadi tepat di depan wajah Arley. tentu saja ia tidak memperdulikan hal itu.
***
Beberapa saat kemudian, langit menghitam, kemudian bintik-bintik di langit mulai bergelimpangan bagaikan lautan bintang yang indah.
“Buuzzzz!!!” Arley tetap menghempas udara di malam hari yang amat dingin.
Kali ini dia tidak mempedulikan kondisinya, dia berfikir jika ia memilih untuk istirahat tetap saja ia tidak akan bisa tertidur. Dengan demikian ia tetap melanjutkan perjalanannya.
Tetapi rencananya itu tidak seuai dengan takdir yang ada di hadapannya.
***
Saat itu, Arley terhentik sejenak di udara, ada hal yang menarik perhatiannya.
“(Itu ... Rumah …? Tetapi mengapa rumah itu ada di tengah hamparan rumput?)."
Yap, tepat di depan pandangan Arley, ia melihat sebuah lahan luas yang kosong. Lahan itu hanya di isi oleh rerumputan dan sebuah rumah.
Kondisi rumah itu tidak lah terlalu besar, ia berdiri tepat di tengah hamparan padang rumput yang tampak sudah lama tidak di bersihkan tersebut.
Rerumputan di hamparan hijau itu bisa mencapai satu meter, tetapi ada jalan setapak berukuran dua meter yang di tarik lurus dari arah rumah itu menuju ke arah hutan.
Kemudian Arley memilih untuk tidak memperdulikan rumah itu. ia memulai kembali perjalanannya
***
“Gggrrrrrrrtt!!!Grrrtttt~!!” Tetapi tiba-tiba Arley di kejutkan oleh sebuah fenomena yang sangat tidak masuk di Akal fikirannya.
“!!!?” Tiba-tiba terjadi gempa bumi. ia tidak merasakannya tetapi ia bisa melihatnya dan mendengarnya.
Arley terdiam sejenak di udara, fenomena ini baru pertama kali ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. tanah bergerak bagaikan air kolam yang di lempar batu.
“I-Ini!!?!”
Semakin di buat bingung, tepat di depan rumah tersebut, muncul sebuah pohon kacang yang amat besar.
Pohon itu dengan cepat nan hebat menembus langit bagaikan peluru yang di tolakkan dari selongsong pistol. tinggi dan terus menjalar, bahkan Arley tidak dapat melihat sampai kemana pohon itu tumbuh keatas.
“A-A-APAA INI!!!!!!????” Terpelongo. terkejut bukan main, Arley langsung terdiam di tempatnya, ia bahkan mendongak ke atas langit untuk melihat seberapa tingginya pohon itu terus tumbuh.
Di malam hari yang amat dingin ini, Arley hanya bisa memandang sebuah pohon kacang yang mencakar langit dengan kokoh nya.
*****