The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 254 : Sumpah Cipi Pada Masa Depan!



Pada malam hari setelah Alan kembali pulang kerumah ….


Saat itu, Cipi tak mengerti, mengapa Alan tampak sangat sedih dan menjadi seperti itu. Demikian, di saat Alan pergi keluar dari penginapan mereka, Cipi pun membuntuti dirinya sampai ke lokasi di mana Loise tinggal.


Ya, tempat yang Alan tuju pada saat itu, adalah Rumah Mewah yang Verko miliki.


Alan memasuki rumah itu melalui jalan rahasia. Ia sempat memutar jauh menuju tembok gerbang bagian belakang dari rumah mewah ini.


Lantas, tentu saja Cipi mengikuti langkah kaki Alan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


“Mungkinkah kak Alah ingin bertemu dengan Loise?” gumam Cipi dalam hatinya.


Dengan mengendap-endap, Alan mendorong sebuah kotak kayu yang menutupi lubang pada tembok tersebut. Setelah itu, dirinya masuk ke dalam kawasan rumah mewah ini, dan bergegas untuk bertemu dengan Loise.


Dan tanpa diketahui oleh Alan, Cipi pun membuntutinya dari belakang.


Setelah berbagai rintangan telah dilalui. Akhirnya, Alan berhasil masuk ke kamar Loise yang pada saat itu masih bersiap-siap untuk mempercantik diri.


Namun, dirinya masih belum bisa masuk, sebab banyaknya orang yang berlalu lalang di depat pintu kamar Loise.


Di lain sisi, tanpa sengaja, CIpi bertemu degan Anggy, dan saat itu, dengan bantuan Anggy, Cipi berhasil memasuki kamar Loise terlebih dahulu.


Menanggapi kedatangan Cipi untuk yang kedua kalinya, tentu saja Loise sangat senang, tetapi dirinya juga bimbang, sebab ia tak ingin Cipi mendapatkan trauma yang sama seperti beberapa waktu yang lalu.


“Cipi?! Kenapa kau kembali ke tempat ini?!” Lantas, Saat ia melihat cipi memasuki kamarnya, Loise pun langsung menghentikan rutinitasnya, dan menarik CIpi untuk duduk di atas Kasur tidurnya, sambil ia kembali merias diri.


“Kak Alan telah kembali, jadi aku mengikuti dirinya. Mungkin sebentar lagi ia akan mampir ke ruangan kak Loise.” Dan setelah Cipi mengucapkan kalimat tersebut, benar saja, tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang suarany seperti sebuah ritme musik.


Loise menyadari, jika ritme itu adalah sandi yang Alan persiapkan untuk dirinya.


“Cipi?! Cepat bersembunyi di balik lemari!” Sontak, Loise yang merasa jika kehadiran Cipi di sini akan menyulitkan percakapannya bersama Alan, meminta Cipi untuk segera bersembunyi.


Dengan ligat, Cipi langsung berlari dan mengunci dirinya sendiri di dalam lemari baju.


Setelah itu, Loise pun mebuka pintu kamarnya, dan mempersilahkan Alan untuk masuk ke dalam ruang kamarnya.


“Kak Alan! Selamat Datang!” Dengan penuh rasa gembira, Loise kemudian menarik kakaknya untuk segera duduk di atas meja riasnya, dan untuk Loise, ia mempersilahkan dirinya untuk duduk di atas lantasi sambil menghadap ke arah kakaknya.


“Bagaimana informasi terbarunya Kak Alan?!” Pertanyaan itu pun terlontar dari bibir Loise.


Dan seketika itu juga, wajah muram Alan yang sedari tadi telah di tahannya, langsung berubah menjadi tangisan yang tak berbentuk.


Wajah ini, tak seharusnya ditunjukkan oleh seorang pria kepada siapapun. Namun untuk yang kali ini, Alan benar-benar tak bisa menyembunyikannya lagi.


“Maafkan aku … maafkan aku, Loise … aku telah gagal mengumpulkan uang itu ….” Tangisan yang amat sedu pun terdengar ke seluruh isi ruangan.


Betapa terkejutnya Loise ketika ia mendengarkan perkataan sang kakak. Matanya melotot lebar, dan tubuhnya bergetar tak karuan.


“E-eh …?” Saat itu, hanya satu kata saja yang keluar dari mulunya, lalu, ia terdiam cukup lama, dan pada akhinya ia menguatkan diri untuk menanyakan apa sebabnya. “a-apa yang kakak maksudkan?”


Tak ada jawaban langsung dari Alan, dirinya yang sudah tua, hanya Menangis lara menahan segala perih dalam hatinya.


Tangan kanan Alan pun langsung menggenggam posisi jantungnya, ia merasa benar-benar bersalah atas apa yang dirinya lakukan selama ini.


“Aku telah gagal … dan ini semua sudah di rencanakan oleh Verko sedari dulu … ia mengetahui rencana kita semenjak lima belas tahun yang lampau ….”


Dengan nada yang penuh getaran, Alan berusaha menjelaskan apa yang terajadi.


Loise tak bisa berkata-kata, dirinya hanya mendengarkan apa yang sang kakak ucapkan, di lain sisi, Anggy juga merasakan hal yang sama dengan Loise, begitu juga dengan Cipi. Mereka bertiga, hanya bisa terdiam di tempat, tanpa tahu harus berbuat apa.


“Sa … saat ini … uang senilah, 999.897.100 Gold, telah di rampok oleh Verko, melalui mata-mata anak buah mereka.” Alan pun menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dan ia menangis begitu geru sampai suaranya serak. “Aku sudah mendatangi Verko, tetapi ia berpura-pura bodoh di hadapanku … aku … aku sudah tak tahu harus berkata apa lagi.”


Mendengar hal tersebut, Loise pun akhirnya berhasil mengeluarkan suaranya dengan sangat terpaksa.


“Hanya kurang satu juga Gold lagi …?!” ujar Loise.


Kemudian, Alan menggelengkan kepalanya. “Tidak … seharusnya kau sudah bebas hari ini.” Tiba-tiba, Alan merogoh kantungnya, dan mengeluarkan sekantung besar koin emas dari dalamnya. “Aku berhasil mengumpulkan uang, dua juta Gold, pada misi terakhir … tapi ini semua sudah berakhir.”


“Tidak … t-tidak mungkin … Aa … AAA … AAAAAA!” Lantas, dengan histerisnya Loise berteriak sekencang-kencangnya.


Namun, mau sekencang apa pun Loise berteriak, ruangan ini adalah ruangan kedap suara, tak ada satu orang pun yang bisa mendengarkan suaranya.


Mereka bertiga menangis sejadi-jadinya. Tak ada yang menghentikan mereka … ya, taka ada satu pun insan yang berani menghentikan keterpurukan ini.


Ruangan yang penuh warna merah ini … tiba-tibat terasa begitu gelap di mana Alan beserta Loise. Lantas, dari dalam jubah hitamnya tersebut, Alan menarik sebuah pisau yang dirinya akan berikan kepada Loise.


“Maafkan aku Loise … mungkin, pilihan yang Mama ambil adalah jalan terbaik … apakah kau ingin bergabung bersamanya?” ucap Alan, yang tiba-tiba memberikan pisau itu kepada Loise.


Menyaksikan kejadian ini, betapa terkejutnya Anggy beserta Cipi. Tetapi mereka memahami, penderitaan yang Loise alami memang tak bisa di bendung kecuali dengan kematian.


Tak ada pilhan baginya, selain keluar dari rumah ini seara resmi, atau mati dengan bunuh diri. Jika tidak … Verko akan terus mengikuti dirinya sampai seluruh tempat di muka bumi [Soros] ini rata dengan tanah.


Kekuasaan Verko sangatlah luar biasa, dia memilik uang, juga memiliki tahta. Tak ada yang bisa mengalahkan jaringannya, kecuali kematian menjemput nyawa orang keji itu.


Waktu itu, Loise tampak sedikit ragu untuk mengambil pisau yang Alan berikan kepadanya. Namun, pada akhinya, Loise berhasil mengambil piasu itu dan menggenggamnya dengan tubuh yang bergetar hebat.


Bilah telah di angkat tinggi ke atas langit, mata telah di pejamkan, hanya tinggal menggeram sekuat tenaga saja, maka nyawa Loise akan terlepas dari jasadnya. Tetapi, dirinya terdiam sejenak, sembari memikirkan semua kenangan buruk yang tertinggal dalam pikirannya.


“Jika kau mati, aku akan menyusulmu … Loise. Dan Anggy, aku mohon rawat Cipi seperti anak mu sendiri. Segala yang kami tinggalkan, akan menjadi milikmu,” cakap Alan, yang tak tahu harus berbuat apa lagi.


“Tuan Alan! Aku tidak bisa menerima semua itu! Setidaknya, biarkan aku ikuti jejak kalian bertiga!” Namun Anggy memberontak dan tak mau menuruti perintah Alan.


“Tidak, Anggy … masa depan Cipi masih sangat panjang, siapa yang akan merawatnya jika kami tidak ada?”


Dan ketika Alan baru saja menyelesaikan kalimatnya itu. Tiba-tiba Cipi keluar dari dalam lemari serta berteriak sekuat tenaganya.


“Kalau begitu, Kak Alan dan Kak Loise-lah, yang harus menjaga diriku ini ...!” Dengan teriakan yang sengat menggelegar, Alan dan Loise pun langsung terkejut setengah mati, ketika mereka mendengarkan pekikan suara Cipi, yang penuh ketulusan dan cinta.


“Aku tidak mau dibesarkan oleh siapapun kecuali Kak Alan, atau Kak Loise!” ucapnya sambil menangis dan dengan suara bergetar.


“Didiklah aku sampai tumbuh dewasa! Semua yang kalian derita selama ini, tanamlah bibit kebencian itu pada diriku ini! Dan biarkan aku berjanji kepada kalian, suatu hari nanti … dengan kedua tanganku sendiri! Aku akan membunuh Ayah kandungku itu degan cara apa pun!" cetus CIpi dengan penuh berapi-api.


"Jika aku harus menyerahkan tubuhku ini pada seseorang, maka aku akan memberikannya degan suka rela! Dan jika aku harus menyerahkan jiwaku ini pada iblis sekalipun! Aku pasti akan memberikannya untuk kemenangan!” Sejenak Cipi terdiam, karena suaranya mulai kehabisan napas.


“Maka dari itu …! HIDUPLAH UNTUK MELIHAT MOMENT ITU TERJADI! AYAH! IBUUU!”


Saat itu … hati kedua saudara tiri ini, langsung meledak-ledak bagaikan bom waktu yang telah berdetik sekian lama. Hati Alan dan Loise yang telah lama membeku dalam kegelapan, saat itu juga meleberukan seluruh zat padat padanya.


Mereka tak menyangka, jika ada orang yang akan mengaggap diri mereka sebagai keluarga lagi. Hal ini lah yang membuka pintu hati pasangan saudara Lapis ini, untuk meleburkan hatinya.


Wajah Alan memerah di dalam tangisannya, begitu juga dengan Loise. Seketika itu juga, pisau yang sudah berada di depat lehernya, langsung terjatuh ketanah sambil menimbulkan suara, besi beradu lantai.


Demikian, Loise dan Alan langsung memeluk Cipi dengan begitu hangat dan mereka berdua menangis di dalam pelukan yang penuh penderitaan.


Pada ruangan merah itu … sebuah ikrar yang penuh kebencian dan di saksikan, langsung didengarkan oleh Tuhan semesta alam.


Hal ini, membuat yang maha Kuasa, murka atas prilaku Verko yang sudah terlampau diluar batas. Dan saat ini … hari pengukuman pun tiba.


Sebaik-baiknya rencana, adalah renana dari Yang Maha Pencipta telah turunkan ke pada utusannya. Lantas … pengeksekusi yang Tuhan perintahkan saat ini, tidak lain dan tidak bukan, telah berada di atas tangan sang anak berambut merah.


.


.


.


***


.


.


.


Malam Hari ….


Saat di mana Cipi telah menceritakan segala hal, yang membuat dirinya ingin membunuh Verko secepat mungkin.


Kala itu … Arley telah memahami segalanya … ya, ia sudah memahami segalanya … segala hal yang harus ia lakukan terhadap Verko, sang bangsawan korup.