The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 279 : Malam Kebahagiaan & Mister. [End]



Satu minggu setelah tersebarnya brosur pengumuman, akan datangnya tahun ajaran baru, bagi mereka, para calon peserta didik keprajuritan dan penyihir negara.


Saat ini, pawai sedang berlangsung di tengah keramaian kota [Dorstom]. Inti dari perayaan ini, adalah untuk merayakan atas datangnya tahun ajaran baru, dan menampilkan para peserta yang menjadi siswa teladan pada tahun ajaran sebelumnya.


Para siswa ini, di arak untuk memberikan pandangan, bahwa mereka inilah yang nantinya akan menjadi pengurus negara di masa yang akan datang.


Walaupun demikian, sesungguhnya, masyarakat kota [Dorstom], tidaklah merayakan datangnya hari tahun ajaran baru, melainkan, mereka hanya memanfaatkan hari itu sebagai hari libur nasional dan bersenang-senang.


Lain halnya dengan mereka yang berada di Ibukota [Palanita]. Seluruh masyarakat, sangat bersuka cita atas kehadiran para kesatria yang sedang di arak dengan begitu bangganya.


Peserta arakan dibagi menjadi dua kubu. Mereka yang di arak pada Ibukota [Palanita], adalah para kesatria yang bergaris darah keturunan para bangsawan.


Sedangkan mereka yang berada di kota [Dorstom], adalah para penyihir yang berprestasi di dunia kepenyihiran.


Pihak negara lebih mengagungkan para kesatria di bandingkan penyihir. Hal ini sudah menjadi rahasia umum bagi kalangan masyarakat kedua belah kota.


Dan pada sore har itu … tampak dengan cerianya, Arley beserta keluarga Tomtom, tengah merayakan hari yang penuh dengan pesta ria tersebut, dengan membeli makanan yang mereka inginkan.


Namun ada hal yang berbeda dengan penampilan Arley saat ini. Ya, saat ini, Arley tengah menggunakan sarung tangan pada kedua sisi tangannya.


“Emaly, jangan pergi jauh-jauh! Nanti kamu bisa tersasar, loh!” Dari kejauhan, Arley meneriaki Emaly, yang saat itu telah lepas kendali sebab ingin membeli segala manisan yang ada di depan wajahnya.


“Kesini, kak Arley! Aku mau manisan kapas ini!” balas Emaly, yang kala itu menunjuk sebuah toko gulali yang menampilkan berbagai macam jenis permen kapas.


Arley pun mendekati Emaly sambil berlai-lari kecil, dan seketika itu juga, Arley langsung menyambut tangan mungil Emaly, dan menggenggamnya agar tidak terlepas kembali.


Dari kejauhan, tampak ada tiga orang yang mengawasi kegembiraan sang gadis kecil, beserta kakak angkatnya. Mereka adalah paman Radits, Varra, dan Melliana.


“Hahaha, sepertinya Emaly sangat menyukai hari perayaan ini.” Sang paman pun mengomentari Emaly, yang terlihat lebih energetik dibandingkan hari biasanya.


“Benar, Paman. Aku tak menyangka jika hari yang sedamai ini akan tiba pada kita.” Melliana pun menyambung perkataan sang paman.


Lalu, Varra pun tertawa kecil, sambil memperhatikan Arley, yang tengah menjaga Emaly. Ketika dirinya tengah tersenyum lebar, Melliana pun menyikut Varra, sebab ia menyadari suatu hal yang sangat berbeda dengan raut wajah Varra, pada sore hari tersebut.


“Hey, ngapain kamu senyum-senyum sendiri,” ujar Melliana, sambil menggoda Varra.


“E-eh?! Aku tersenyum? Masak?!” Wajah Varra pun berubah menjadi merah, sambil ia menutupinya dengan kedua telapak tangannya. Dirinya pribadi tak menyangka jika ia sedang melamun memperhatikan Arley.


Melliana tahu mengapa Varra tersenyum sendiri seperti itu. Demikian, ia ingin menghibur Varra sedikit, sebab belakangan hari ini, Varra sangat sibuk mempelajari ilmu menyihirnya.


Tujuan utama mengapa Varra mati-matian kembali mempelajari ilmu menyihir, adalah karena ia sudah sangat berniat untuk memasuki sekolah menyihir, demi meraih cita-citanya sebagai penyihir yang bisa membantu orang lain.


“Varra~ Sarung tangan yang kamu belikan untuk Arley … itu terlihat sangat cocok dengannya.” Sehabis Melliana menyebutkan kalimat tersebut, dirinya langsung menggenggam tangan Varra, untuk membuat dirinya lebih nyaman dengan kondisi riuh saat ini.


Varra pun langsung memandang lembut ke wajah Melliana. Ia sangat terseuntuh dengan kalimat yang dirinya tak menyangka jika Melliana akan mengatakan hal tersebut.


“Ya~ Terima kasih, kak Mel.” Balas Varra, sambil tersenyum bahagia, menatap keriangan yang dirinya dapati saat ini.


Sarung tangan hitam milik Arley, menutupi seluruh kulit hitam pada tangannya, dan membuat Arley tampak seperti manusia biasa.


Namun tidak hanya itu saja. Penutup kepala yang dirinya kenakan hasil pemberian dari Melliana, juga merubah pandangan orang-orang, ketika melihat warna rambut Arley yang terbilang unik, dibandingkan orang-orang lain.


Kedua wanita yang memberikannya hadiah tersebut, akhirnya tersenyum dengan kembangan bibir yang terbuka dengan sangat ikhlas. Tidak pernah dalam hidup mereka berdua, membayangkan, jika diri mereka akan sebahagia seperti sekarang ini.


Dan sore hari pun, mulai berubah menjadi malam …


Puncak dari acar ini akan segera digelar. Yaitu, memamerkan kekuatan para penyihir yang telah bersekolah selama satu tahun, di sekolah penyihir negara.


Masyarakat berkumpul padat di pinggiran aula kota. Aula kota [Dorstom], berada di sisi Utara, dekat dengan gerbang pintu istana kerajaan [Palanita], yang juga merupakan pintu gerbang jika ingin memasuki Ibukota [Palanita].


Kursi-kursi penonton telah penuh, bahkan ada yang memanjat gedung-gedung tinggi untuk menyaksikan atraksi sihir, yang akan dipamerkan oleh para penyihir unggulan tersebut.


Emaly sudah duduk di samping Arley, dan keluarga Tomtom berada di sekitar mereka berdua. Posisi duduk yang diambil pun cukup strategis.


“Kak Arley! Lihat-lihat, para penyihir itu cantik-cantik ya!” ucap Emaly, sambil mengunyah permen kapasnya.


“Oh, ya~ Mereka terlihat sangat indah. Nanti, Kak Varra juga akan menggunakan pakaian sekolah yang sama seperti mereka. Jadi, kak Varra akan lebih cantik dibandingkan kakak-kakak penyihir yang ada di depan sana.” Arley menjelaskan hal tersebut, sambil mengelap pipi Emaly yang berlumuran sisa gula permen.


Varra yang menguping tentang hal itu pun langsung memerahkan wajahnya. Sedangkan Melliana, hanya bisa menggembungkan pipinya sambil merasa cemburu.


Tapi semua itu langsung larut dalam suasana, sebab acara yang di nanti-nanti telah berlangsung di depan mata mereka semua.


Ketiga penyihir wanita yang memperagakan ilmu sihir mereka, dengan anggunnya menari di tengah-tengah Aula, sambil mengayunkan tongkat sihir mereka.


Dengan elegannya, mereka bertiga saling melemparkan sihir yang amat cantik juga mempesona. Kembang api bertaburan di langit, air-air yang jernih, berterbangan di depan mata para penonton, dan panggung yang indah, mulai naik ke atas langit, sebab permainan sihir dari seorang penyihir elemen batu.


“Waaa!”


Gemuruh sorakan pun terlontar dari mulut para penonton, tidak terkecuali Emaly dan keluarga Tomtom. Mereka semua mengagumi kemahiran dari sihir yang ditampilkan oleh ketiga penyihir muda itu.


Tepuk tangan pun berhamburan ke seluruh penjuru kota, bahkan siulan para penonton pun menghiasi malam indah itu.


Namun, di balik kemeriahan yang amat ceria ini. dari dalam sebuah gang yang gelap, tampak tiga orang yang menggunakan jubah hitam, tengah mengawasi pergerakan Arley dari kejauhan.


Ketiga orang ini, sangat terkejut ketika melihat wajah seorang Arley, yang ketiganya, ternyata sangat mengenali dirinya semenjak beberapa bulan yang lampau.


“Itu?! Benarkah pria itu adalah Arley?!” ucap seorang pria, dengan warna rambut hitam, dan tongkat sihir yang penuh dengan tulang-belulang miliknya. Tongkat itu ia genggam sebagai penjagaan diri, jika mereka di identitas mereka di ketahui oleh orang lain.


“Tidak salah lagi, dia benar adalah Arley. Tapi bagaimana bisa?! Bukankah seharusnya dia sudah meninggal, semenjak kejadian lima bulan yang lalu?!” Kali ini, seorang wanita yang hanya tampak poni berambut coklatnya itu, mencoba mengomentari apa yang hadir di pandangan matanya.


Suasana yang meriah, ternyata tak menghiraukan kondisi ketia orang itu. Mereka tampil sangat pucat, dan terkejut dengan kenyataan yang aneh ini.


Lalu, seorang wanita lainnya … kala itu memberanikan diri untuk membuka tudung kepalanya.


“Misa!? Kau sudah gila ya! Bagaimana jika ada menyadari keberadaan kita?!” cegat sang pria berambut hitam itu, sambil menahan pergelangan tangan sang wanita berambut hitam legam tersebut.


“Lepaskan tangku … Rubius.” Lalu, si wanita menepis genggaman tangan si pria dengan kuatnya.


“Ah- maafkan aku.” Pria itu pun meminta maaf kepada Misa, dan ia kemudian terdiam sambil memandang rambut hitam Misa, yang terbelai oleh angin.


“Jika orang yang kita pantau saat ini, benar-benar Arley. Maka, tujuanku untuk hidup di kota ini adalah pilihan yang benar,” jelas Misa, sambil ia melihat ke tangan kanannya.


“Misa …,” wanita yang satunya pun membuka penutup kepalanya, lalu, dari balik jubah hitam itu, tampak sosok seorang Aurum, dengan kacamata minusnya.


“Takdir darah ini … tidak ada satupun makhluk yang mampu merubahnya. Ini adalah kutukan dari Tuhan, untuk kami, para pewaris kitab suci.” Misa pun kembali memandang tajam ke arah Arley. “Begitu pula dengan dirinya … Arley G. Benedict.”


Pada malam itu, dengan meledaknya kembang api yang terakhir. Arley pun tak sengaja melirik ke sisi gang yang kala itu tengah disinggahi oleh ketiga sahabat lamanya.


Namun, ketika dirinya melihat dengan fokus ke dalam gang tersebut, di sana sudah tidak ada orang yang menempatinya lagi.


“Apakah hanya imajinasiku saja?” gumam Arley dengan suara yang amat tipis.


Takdir … apa itu takdir? Sebuah rekayasa Tuhan terhadap para makhluk ciptaannya? Apakah tidak ada yang mampu merubah takdir dari hidup mereka sendiri?


The 7 Book’s of God, jika kalian mengumpulkan ketujuh kitab tuhan itu, maka seluruh tabir misteri di dunia ini akan terbuka. Asal mula kehidupan, mengapa manusia harus lahir di dunia yang penuh dengan berbagai ras ini. Dan alasan, sesungguhnya, mengapa tuhan menyembunyikan, keenam kunci dari tujuh buku yang sangat legendaris itu.


Semuanya akan terjawab, jika kalian berhasil mengumpulkan ketubuh buku itu.


Carilah! Dan ungkap rahasia dari, The 7 Books of God!


End~


Season 2, Book 5. On Process.