
Suhu udara mendingin tubuhku tampak menggigil di kondisi pertempuran ini. namun anehnya bibirku tidak dapat berhenti untuk menyeringai bahagia.
Apakah aku telah mati? Jawabannya adalah tidak. Aku masih hidup karena aku berhasil menghindari serangan sang paman.
“Bocah … kenapa kau mempersulit kematianmu sendiri, jika kau cepat mati maka segala kesulitanmu di dunia ini akan menghilang dalam damai.”
“Hei paman, ku kira kau orang yang pintar, tampaknya kau tidak sepintar yang aku bayangkan…”
kalimat itu terlontar dari bibir yang gemetar ini. gemetar takut? Bukan, aku gemetar karena kedinginan.
“Bagaimana aku bisa merasa kesulitan jika aku tidak pernah merasa sulit sebelumnya, aku ini masih kecil paman, aku tidak tahu jika di dunia ini ada hal yang bisa menyulitkan anak kecil yang kerjanya hanya main dan tidur!”
Wajah Pastel tersulut amarah, harga dirinya tampak terluka akibat kalimatnya di permainkan oleh anak kecil seperti ku, pedang yang tertancap di batu sebelah kiri ku kemudian ia cabut secara perlahan.
Ya aku berhasil menghindari serangannya dengan cara menolehkan kepala ku ke arah kanan, syukurnya rencana dadakan ini bisa aku laksanakan dengan keberuntungan.
Tidak berlama-lama, Pastel kemudian kembali menghunuskan pedangnya ke leherku, kali ini pasti serangannya tidak akan meleset, karena ia menyerang secara lebar. tentu aku tidak bisa menghindar.
Tetapi pernah kah kalian mendengar pepatah tentang pertahanan yang terbaik adalah penyerangan yang kuat?
Tampaknya pepatah itu ada benarnya juga.
Entah bagaimana, sekilas saja ketika aku mengedipkan mataku, aku merasakan waktu berjalan cukup lamban dan saat mata ku tertutup, tampak ada sebuah lingkaran sihir yang belum pernah aku lihat sebelumnya, lingkaran sihir tersebut tersirat dan membeku di benakku.
Lalu terdengar bunyi lonceng di dalam pikiran ini, suaranya begitu kencang sampai membuat sekujur tubuh ini tak sanggup menahan dentuman suara lonceng tersebut, moment ini terjadi hanya sepersekian detik, namun aku merasakanannya seperti bermenit-menit.
Tubuh ku gemetar tak karuan, badanku menggigil, sungguh aku sebenarnya sudah tak sanggup untuk menahan rasa sakit yang amat ngilu dan perih ini. Kedua rasa itu bercampur menjadi satu kesatuan dan menyerang seluruh organ di tubuh ku yang sudah tak berdaya ini.
Hentikan! Tolong siapapun hentikan! aku sudah tidak sanggup lagi! Hentikaan!!!
Seklias mata ku terbuka kembali, keheningan terjadi, perasaan itu hanya terngiang bagaikan mimpi sesa'at, namun waktu yang berada di sekitarku masih terasa berputar begitu lamban.
Pedang sang paman tinggal beberapa centimeter lagi dari leherku ini, entah mengapa refleks tangan ku mengarahkan tongkat sihir ke tubuh sang paman yang letaknya sangat dekat dari posisiku, aku bergerak juga dalam keadaan lamban, walaupun demikian aku berusaha untuk melawan waktu yang bergerak sangat lamban.
Tanpa perhitungan matang aku ucapkan mantra sihir yang aku merasa aku sangat familiar dengan mantra tersebut, namun realitanya aku tidak pernah menggunakan nya atau membaca soal mantra sihir yang satu ini.
Ya mantra ini adalah mantra yang sekilas terlihat di dalam mimpi sesa'at ku tadi.
Bukan kah hal ini seperti sebuah kebodohan? Merapal kan sihir yang belum jelas apa isi dan fungsi nya begitu saja.
Bagaimana jika saat sihir ini di rapalkan malah tidak muncul sihir apa pun?
Aku tahu jika resiko nya sangat tinggi, namun aku tetap akan mengucapkan mantra itu saat ini juga dengan bibir ku yang telah kering.
Aku yakin dan aku percaya
Ya, ku ucapkan lah kalimat itu dengan fasih dan percaya diri.
“Agros Glacies~”
Seketika itu juga wajahku merenung dan meneteskan air mata ….
***
Hening, seluruh yang ada di dataran ini tak ada yang bergerak satu pun. “BWWaaaasssshhh!!” hawa dingin kemudian langsung terhempas, berhembus kencang terbawa angin keseluruh penjuru sisi bagaikan badai salju di musim dingin.
Bilah pedang tinggal berjarak 1cm lagi dari leherku, namun sekujur tubuh sang paman telah membeku diselimuti oleh batu es.
Kondisi pekarangan rumah mewah ini telah berganti menjadi lapangan es, mulai dari lantai sampai rumahnya sekalipun telah terbalut dengan lapisan es.
Tetapi entah mengapa orang-orang yang ada di lokasi ini tidak berubah menjadi es kecuali Pastel seorang.
Tampaknya aku secara tidak sengaja mengeluarkan sihirku dan menargetkannya hanya ke musuh yang aku ingin lumpuhkan saja. Dan mungkin sihir ini tidak akan menyerang mereka yang bukan targetku … menarik, aku menyukai mantra sihir ku yang baru ini.
Namun perasaan sedih apa ini … mengapa aku merasakan rasa pilu di hati ini, apa penyebabnya ….?
Sesaat kemudian bajuku berubah warna kembali menjadi warna aslinya, dan perasaan pilu itu hilang bagaikan debu yang tertiup angin.
Kemudian aku baru menyadari akan suatu hal yang baru. Ahh, perasaan seseorang untuk mengendalikan [Elium] Es adalah perasaan sedih, aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.
Hmmm hari ini aku mendapatkan materi pembelajaran yang baru. menarik, ini sangat menarik!
***
Beberapa saat kemudian polisi datang dan mengintrogasi kami semua. Pastel yang sedang dalam keadaan membeku tidak bisa membuat statementnya untuk melindungi dirinya sendiri, maka dari itu aku dan Vanilla bisa berkata jujur dan memberi laporan yang sebenarnya.
Akhirnya terbongkarlah segala rahasia Pastel, pihak kepolisian menerima laporan kami sepenuhnya Namun karena adanya keterlibatan seorang bangsawan dalam berbagai macam tindak kriminal, maka kepala kepolisian lah yang akan langsung menangani kasus ini untuk mencegah terjadinya tindak pidana yang menyebabkan reaksi berantai. Seperti menyogok aparat untuk di bebaskan dll.
Demikian lah nasib Pastel yang mulai saat ini ia akan hidup didalam Rutan yang gelap dan menyeramkan.
Yap, Pastel akhirnya di jerumuskan ke sel tahanan.
Kemudian pria “Boss” yang bernama Trimol, saat ini masih menjadi buronan polisi. tampaknya polisi memang sudah lama mengejar pria bernama Trimol ini semenjak kasus penculikan wanita menjadi marak dilakukan beberapa pekan terakhir.
Malam itu aku dan Vanilla dibawa ke kantor polisi untuk dijadikan saksi dan menjelaskan runutan masalah dari kasus yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu. alhasil aku harus tinggal di kantor polisi malam ini, yahh walaupun demikian, ini lebih baik daripada aku harus tidur lagi di kandang kuda seperti malam kemarin.
Nasib bagus untuk Vanilla, karena orang tuanya langsung menjemput dia di tempat ini. Tampaknya mereka adalah keluarga yang bahagia, aku bersyukur mereka bisa bersama kembali ….
Sebelum Vanilla keluar dari pintu masuk kantor polisi, tampak ia melirik ke arahku, terlihat dari ekspresi wajahnya jika ia sedang bersedih akan suatu hal, namun aku tidak paham mengenai hal tersebut, yahh akhirnya aku tinggalkan saja urusan Vanilla bersama keluarganya dan aku tidur di kursi tamu kantor polisi ini sampai pagi menjemput ku kembali.
***
Matahari pagi telah naik ke atas langit, tampaknya aku bangun kesiangan hari ini. Tidak ada yang tega membangunkan ku terlebih aku malah di berikan selimut yang cukup tebal untuk tidur di kursi tamu yang sangat empuk ini, yaah lebih empuk daripada tidur di kandang kuda … hahaha!
Setelah aku bangkit dari tidurku, aku memutuskan untuk membeli sarapan pagi, err lebih tepatnya sarapan siang, karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
Keluar aku dari kantor polisi, kondisi kota sudah sangat ramai, hiruk pikuk masyarakat telah menyatu menjadi keseharian yang dapat di maklumi oleh masyarakat kota ini.
Aku melihat ke deretan toko yang sedang beroperasi di depan kompleks kantor polisi ini, dan beruntungnya aku, disini ternyata ada cabang toko roti kesukaan ku.
Ya!! Roti “Bismon!”.
Bergegas aku menyebrangi jalanan yang ramai oleh khalayak masyarakat, lalu aku segera memesan dua buah potong roti yang sangat lumer untuk di makan ini. Setelah aku membelinya aku langsung menyantap salah satu roti yang memiliki rasa melon tersebut.
Dari setiap kunyahannya membuat bulu kudukku merinding, aahh!! Betapa nikmatnya rasa roti ini!!
Aku memakan roti ini sambil berjalan mencari peta kota agar aku bisa ke universitas Kependetaan ....
****
Roti telah habis aku makan, ku jilat setiap sisa roti yang menempel di jari-jari tangan ku.
Saat ini aku masih berjalan di sekitaran komplek kantor polisi untuk menemukan peta kota, beruntungnya aku karena ternyata peta kota ada tepat di depan kantor polisi, bergegas aku berlari menuju lokasi papan peta tersebut lalu aku membaca peta dengan saksama.
Tak butuh waktu yang lama untuk membaca arah kota, dalam waktu singkat aku sudah menemukan koordinat lokasi tempat yang akan aku tuju.
Dengan riang aku berjalan menuju Universitas Kependetaan [Quostienta]. Aku merasa tidak akan ada masalah yang tidak dapat aku tuntas kan pada hari ini setelah apa yang terjadi padaku di hari kemarin.
Sembari aku berjalan riang ,tak sengaja aku menabrak pinggang seseorang dan membuat kami berdua terjatuh.
“A-ahh!! Maafkan aku kak!-“
“Tidak apa-apa, aku yang seharusnya minta maaf!?!-“
Terkejut bukan main … orang yang selama ini aku cari-cari akhirnya ku temukan, gadis bermata biru muda dan memiliki rambut biru tua! Aku berhasil menemukannya!
Yaa!! Setelah sekian lama akhirnya aku berhasil menemukan "Misa Albertus!"
Dengan gembira aku tersenyum legah, aku sangat ingin memberitahu Misa tentang apa yang terjadi di desa dan apa yang aku lakukan untuk desa. aku juga sangat ingin sekali berbincang-bincang dan saling berbagi gundagulanai di hati ini dengan Misa!! Akhirnya!! Akhirnya aku menemukan mu Misa!!
“Kak Misa-!?!”
Namun tanpa sebab dan secara mendadak. tiba-tiba aku di cekik kencang menggunakan kedua tangan Misa dengan sangat kuat dan hampir membuatku tidak bisa bernafas. Perlahan liur ku pun ikut keluar akibat kesakitan.
“SSIIIAAALLLAAAANNNN!!!! ANAAK TERKURUK!!! BERANINYA!! BERANINYA KAU MENUNJUKKAN WAJAH MU DI HADAPANKU!!! ARRLLEEEYYYY!!!!!!”
Bagaikan cuaca cerah sebelum badai … kepalaku berkecamuk tak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba air mata ku mengalir begitu saja, entah mengapa jantung ini berdebar kencang, dan entah mengapa dada ini sesak seperti ingin meledak ….
Aku hanya bisa memandang wajah Misa yang menunjukkan amarahnya yang tak dapat terbendung.
Kenapa ...? kenapa dia marah …? Kenapa wajahnya seperti dia ingin membunuh ku …? Apakah aku ada salah dengannya sampai ia berbuat demikian …? Mengapa Misa malah bertindak seperti ini .…?
Saat itu, hanya satu kalimat yang dapat keluar dari mulutku yang telah di basahi oleh air mata dan liur yang keluar tak terkendali ….
“ … He ….? ”
***