
***
Tidak memakan waktu yang lama, dalam hitungan detik kami langsung sampai di lokasi yang di bicarakan.
Lembah ini sangat besar. di apit oleh dua bukit, terdapat padang rumput yang membentang luas diantara nya.
Tepat di tengah-tengah lembah, tampak ada telaga air yang tercipta secara alami.
Mereka para rombongan Caravan memarkirkan kafilah mereka di sekeliling telaga air tersebut.
Seketika kami berhenti mendadak, deraan angin berkibar tercipta akibat kami berhenti mendadak tepat di atas langit.
Anak berambut pirang itu tidak menyadari jika kita telah sampai di tempat tujuan.
Beberapa kali ia mendesah dengan cukup kuat. mungkin akibat kelelahan atau rasa takut yang masih menyelimuti dirinya, ia terus memegang dadanya sambil gemeteran. aku sedikit cemas dengan hal tersebut.
“… Sstt ... Jangan berisik, Mereka bisa mendengar kita dari bawah sana ….”
Sang anak baru tersadar jika ia berada di atas lembah. kondisi saat ini sangat tidak baik, seorang budak wanita sedang di siksa dengan kejam dan sadis. aku dan bocah pirang itu hanya bisa memantau keadaan dari atas langit secara diam-diam.
“Pats!!Pats!!” deruan cambuk dengan kencang di pecutkan ke arah sang wanita.
“-Khaaa!!! Hentikan!!! Sakit!!!” dengan seluruh kekuatannya ia menahan rasa sakit, tubuhnya sudah penuh dengan luka dan goresan cambuk.
“Dasar sialan!! Ini semua gara-gara kalian!! Kenapa bisa-bisanya bocah tengik itu melarikan diri!! Sudah dua hari loh, Dua hari!!! Kau tahu dia bisa di jual dengan harga berapa, ha!?!”
Lambaian cambuk berlipat di atas udara, seketika itu, tali cambuk berjalan lurus menuju sasarannya, terhempas sakit mengenai kulit sang wanita sampai menyisahkan bekas memar luka, bahkan sampai mengeluarkan darah segar dari hasil sabetannya.
“-Khhaaak!!! Aku minta maaf, Tuan Aku minta maaf!!!!”
Dari langit, kami hanya bisa memantau tindakan yang sangat tidak etis itu. seorang pria berbadan ceking yang mengenakan ikat kepala aneh, dengan geramnya ia mencambuk seorang budak wanita yang sudah tidak berdaya.
Pria itu berpakaian layaknya orang kaya, jubahnya yang menjuntai ke tanah dengan beberapa jahitan benang emas tersemat di bajunya, tetapi ikat kepalanya yang absurd membuat penampilannya tampak aneh, ikat kepala itu berbentuk seperti kuping tikus. entah apa fungsinya.
Aku mengambil kesimpulan. pria itu adalah Boss yang menguasai seluruh Caravan ini, dengan kata lain, dia adalah sang Pengepul Budak.
Ngilu, dengan melihatnya saja sekujur tubuh ini bisa merasakan betapa perih dan sakitnya pecutan yang mengenai tubuh wanita tersebut, beberapa kali sang wanita menahan nafas ketika terkena pecutan, bahkan tubuhnya terkadang kejang akibat menahan rasa sakit.
"Hehehe ... Hajar saja boss!!"
Tepat di belakang pria Arogan tersebut, ada puluhan lebih Algojo yang siap mem back-up nya. Tak dapat menahan geram, tiba-tiba bocah berambut pirang itu bersiap menjatuhkan diri untuk menyerang sang pengepul budak.
Terkejut, aku langsung memegang erat punggung sang anak, jangan sampai anak ini melakukan hal konyol yang dapat merenggut nyawanya.
Jangan sampai bocah pirang ini menambah beban tugasku lagi.
"(... Hey bocah pirang! Apa yang mau kau lakukan!?)"
Kami berbicara dengan intonasi nada yang rendah, setidaknya aku berharap mereka yang berada di bawah tidak mendengar percakapan.
"(I-Ini salah ku ... seharusnya aku-)"
"(... Jangan berfikir pendek ... bisa apa kau di sana?)"
"Lalu aku harus bagaimana!? Kan sudah ku katakan, kita harus mencari orang dewasa-"
Aku terperanjat. dengan bodohnya bocah ini menaikkan intonasi suaranya. spontan aku menutup mulut bocah pirang ini dengan telapak tanganku. keringat dingin mulai berkujur dari pori-pori tubuh ku.
"(... Diam, dan tunggu aba-abaku!)"
Sang anak memandang ke wajah ku, tingkah gegabahnya hampir saja membuat ku sakit jantung, walaupun demikian aku harus dengan cepat membuat rencana serangan balik kepada pria ceking tersebut.
Lalu sang anak mulai kembali tenang selepas memandang raut wajahku, entah apa yang anak ini pikirkan, aku benar-benar tidak memahami nya.
***
Hentakan kaki mulai terdengar dari kejauhan, debu berserakan dan membumbung kan gumpalan pasir yang berterbangan.
“-hm ...?!” aku melihat ke arah barat, dari sana lah sumber deburan debu tersebut.
tampak seorang pria berlari dengan kencang menuju lokasi tempat penyiksaan.
Pria tersebut memiliki badan yang tegap, juga rambut yang cukup aneh, ya, cukup aneh, Seperti ... Terdapat dua buah kuping kucing tertanam di kulit kepalanya. Apa itu hanya perasaanku saja? Eugh ... entah lah ....
***
Teriak sang pria sembari menghentikan penyiksaan yang sedang terjadi
Dengan ligat sang pria berhasil menepis pecutan yang hampir mengenai budak wanita itu untuk sekian kalinya.
Raut wajah sang pria menunjukkan amarah besar, tetapi walupun demikian, ia terlihat seperti berusaha menahan amarahnya.
“Kau …! Kau lancang kepadaku!?! Gaaaahhhh!!!!”
Marah besar. pengepul budak itu menggeram seluruh tubuhnya dan bersikap seperti anak kecil, ia menginjak-injak tanah dengan cepat seperti balita yang sedang tantrum.
“Tuan. ampunilah dia, Ampuni istriku, Sebagai gantinya aku akan menggantikannya. hukum saja aku sesuka yang tuan mau!!"
“-Hei Budak!!!!! Lancang sekali kau, Kau kira kau siapa?! Aku yang berkuasa di sini, Semua perkataan ku adalah hukum untuk kalian semua!! Hey... (menunjuk para algojonya) Bereskan budak ini ….!!!!”
"Siap boss!!"
Pria yang merupakan suami dari wanita yang sedang di siksa langsung terkejut, ia tidak menyangka jika tindakannya akan membawanya dalam petaka yang sama dengan istrinya.
Walaupun demikian, ia masih bersyukur, karena setidaknya ia bisa menggantikan sang istri.
Pria itu di seret secara paksa tanpa rasa maaf. Kemudian para Algojo yang bertubuh kekar layaknya binaragawan, mereka menghantam juga menyiksa sang pria secara semena-mena seraya menikmati perbuatan mereka yang keji dan tak bermoral.
Sesakit apapun itu sang pria bisa menahan rasa perih yang menimpa derita nya, setidaknya rasa sakit ini tidak akan di rasakan kembali oleh istrinya, ya, setidaknya itu yang ia bayangkan.
Tetapi realita berkata lain…
Tidak puas dengan hanya memukuli budak pria tadi, Boss pengepul ini datang dan menjambak keras rambut sang budak wanita. “Aaaakh!!!! Ampun!!!” ia di seret dengan sadisnya sampai kulitnya tergores dan menjadi luka akibat gesekan dengan bebatuan yang tajam.
Sang wanita mencoba menahan rasa sakit ketika rambutnya di jambak. kerasnya jambakan, membuat rambut wanita itu rontok, wanita itu sangat shock ketika rambutnya berserakan di tanah.
Sambil menangis, ia mencoba menahan sakit, sang wanita akhirnya putus asa dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.
“Hehehe … Kau bilang tadi wanita ini adalah istrimu kan ….? ” sang pengepul budak tampak bahagia dengan idenya.
“Hentikan ….!”
Sang wanita berusaha mendorong tuannya dengan putus asa, tetapi tidak ada kekuatan yang tersisa sedikitpun dari dalam tubuhnya.
“Ga Hahahaha!!! Bagus!! Kualitas wanita ini sangat bagus!!!”
Dengan semangatnya pria itu mulai menggoda sang wanita
“LURI !??!! HENTIKAN!!!!”
Sang suami mencoba untuk memberontak, tetapi para algojo menahan tangan dan kakinya bahkan ia malah mendapat pukulan yang lebih bertubi-tubi.
Terlemas, akhirnya sang suami tidak dapat bergerak, tubuhnya bagaikan paku yang tertancap di bumi, ia hanya bisa memandang istrinya dari kejauhan.
Deritan besi perlahan terbuka, suaranya terdengar menderik di kuping, Sang pengepul budak langsung membuka penutup saji nya dengan penuh semangat, niat nya sudah bulat, ia akan bermain dengan sang budak wanita tepat di hadapan sang suami.
“Ngahahaha!!! lihat ini cecunguk sialani!!”
“JANGAN!!! JANGAN MELIHAT KE ARAHKU!!! KUMOHON JANGAN LIHAATT!!!”
Bercucuran, limpasan air keluar dari kelopak mata sang budak wanita. dengan sisa tenaganya, wanita itu berusaha melindungi sang suami, dia berusaha agar sang suami tidak melihat moment ketika ia akan ternodai, setidaknya ia berharap ia tidak menghancurkan harga diri sang suami.
“TIDAK, LURII!!! TIDAAKKK!!!"
Keluar seluruh air mata sang pria, hatinya sangat hancur. Seketika terpintas di memorinya ketika mereka bersama melewati masa-masa indah. dengan mudah moment itu hancur bagaikan kaca yang di lempar batu.
Kakinya semakin terlemas, badannya tak dapat bergerak, lepas sudah semangat hidupnya. saat itu hanya kematian yang ia inginkan.
Pria ceking itu semakin menjadi.
Tetapi tiba-tiba angin kencang datang dan menghentikan itu semua.
Huntaian angin melambai kulit sang Pengepul Budak, saat itu dia baru menyadari akan suatu hal yang amat fatal.
“Ha ....?!?”
***