The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 252 : Pertemuan Cipi & Loise (Part 3)



Duduk bersebelahan di dalam kolam pemandian air panas. Cipi kembali mendengar, mengenai kisah yang Loise sampaikan, mengenai masalalu Alan, juga identitas Cipi yang sebenarnya ....


“Pada saat itu ... Aku bersama Mamaku sedang dipermalukan di depan umum. Tentu saja rasa kemanusiaanku telah hilang, dan yang aku bisa rasakan hanyalah kenikmatan gelap juga kebutaan dunia.”


Kisah kembali bergulir ... demikian, tangan Loise yang berkulit putih salju, kembali bergetar dan terasa begitu dingin, walaupun sudah direndam dalam air panas.


“Walaupun begitu ... di saat itu jugalah aku mendapatkan jiwa kemanusiaanku lagi. Semua ini berkan Kak Alan yang berhasil membuat perjanjian itu,” ungkap Loise, yang kembali menggenggam erat tangan Cipi. “Verko dan Kak Alan membuat perjanjian ... jika Kak Alan bisa mengumpulkan 1.000.000.000 Miliar Gold, maka aku beserta Mamaku akan dibebaskan. Dari perbudakan ini.”


Cipi kembali terkejut, saat mendengar nominal tebusan yang Verko berikan kepada Alan.


“S-Satu Miliar Gold?! Itu mustahil! Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?!”


Tangan Cipi pun membalas genggaman tangan Loise, yang menggenggam erat tangannya.


“Pada awalnya aku juga berpikiran sama, bagaimana caranya Kak Alan mengumpulkan uang itu. Tapi, setelah ia menyetujui hal tersebut, pada malam harinya Kak Alan bertemu denganku secara diam-diam. Ia berkata, jika dirinya akan menjadi pencuri bagi para bangsawan, dan mengumpulkan uang tersebut untuk menebus diriku juga Mamaku.”


“Kau menyetujui hal itu?” Tanya Cipi.


Mengangguklah Loise, sambil tersenyum masam.


“Tidak ada cara lain ... hanya hal inilah yang kami bisa lakukan saat itu. Umur kami masih sangat muda, dan pola pikir kami masih begitu pendek. Kak Alan baru saja memasuki usia, dua puluh tahun. Dan aku baru saja memasuki usia lima belas tahun ... ini adalah hal terbaik yang bisa kami pikirkan saat itu.”


“L-Lima belas tahun?!” Cipi langsung mengubah posisi duduknya, dan berhadapan dengan wajah kiri Loise.


“Ya~ kejadian ini sekitar tujuh belas tahun yang lalu. Dan aku sekarang sudah menginjak usia, tiga puluh dua tahun ....”


“T-Tujuh belas tahun, harus melayani pria yang berbeda. Tentu saja Kakak Loise muak dengan pria mana pun ....”


Wajah Cipi berubah pundung. Di saat ini, Cipi tak sadar jika dirinya menjadi begitu dekat, dan juga perasaannya semakin terbuka terhadap Loise.


“Cipi~ Lihat.” Menanggapi sikap Cipi yang sangat perihatin terhadap dirinya, Loise pun menempelkan kedua telapa ktangannya di wajah Cipi, kemudian, ia memberikannya penjelasan dengan tegas. “Aku sampai saat ini baik-baik saja, kau tidak perlu cemas denganku. Walaupun aku terlihat seperti ini, aku adalah wanita nomor dua, yang Verko sangat sayangi. Jadi, siapa pun tidak akan berani melukai diriku, tanpa perintah dari Verko.”


Cipi pun kembali ke posisi awal duduknya tadi. Ia menyandarkan punggungnya di pinggiran kolam yang tak lebih tinggi dari setengah meter itu, dan mulai mendengarkan kisah Loise untuk selanjutnya.


“Memang awalnya aku hampir tak bersedia jika Kak Alan menjadi seorang pencuri. Selain pekerjaan itu sangat berbahaya, juga hasil yang didapatkan tidak sesuai. Namun, ia berkata, jika merampok para bangsawan korup itu adalah pilihan yang paling baik. Uang mereka sangat banyak dan membebaskan aku bersama Mamaku, bukanlah mimpi belaka.”


Lantas ... si wanita berambut hitam panjang ini pun kembali berdiri, untuk kembali pada pekerjaan malamnya. Ia juga menarik tangan Cipi untuk segera mengeringkan tubuh mereka.


“Tapi, tentu saja aku tak akan membiarkan Kak Alan bekerja sendiri. Dari pekerjaanku saat ini, aku bisa mendapatkan uang yang sangat banyak. Demikian ... aku juga sering memberikan uang simpananku kepada kak Alan, untuk menutupi kekurangan yang kami butuhkan.”


Badan telah Kering ... handuk putih yang terasa basah, kemudian dilipat menutupi badan. Cipi dan Loise pun keluar dari kamar mandi untuk bergegas mengenakan pakaian mekerka kembali.


“Saat ini, Kami sudah sangat dekat dengan target yang ingin dicapai. Mungkin, setelah Kak Alan kembali dari pekerjaan terakhirnya, ia bisa membebaskan aku dari rumah terkutuk ini!”


Cipi yang sedari tadi memperhatikan wajah cantik Loise, kali ini mendapatkan ekspresi yang sangat berbeda. Untuk sejenak, di saat Loise menjelaskan jika dirinya bisa bebas dari kutukan ini, ia menampilkan kegembiraan yang begitu murni dan tulus.


Sampai-sampai, Cipi sempat tersipu malu ketika melihat hal ini terjadi.


“Hey~ lekaslah kenakan bajumu, aku akan segera melayani pria selanjutnya.”


Loise telah usai mengenakan pakaian kerjanya. Ia terlihat begitu mempesona dan bahkan bisa menarik perhatian wanita yang melihat dirinya saat itu. Pakaian merah transparan, juga rumbai cantik yang terpasang pada tubuhnya.


Segalanya tampak sempurna ... dan Cipi sadar, jika bayaran yang Loise termia pasti sangatlah besar. Kualitas dirinya sangatlah tinggi, tentu saja tidak sembarangan pria bisa mencicipi dirinya.


Pintu kembali diketuk, menandakan jika pelanggan selanjutnya akan segera masuk. Cipi yang terkejut saat mendengar hal itu, dengan begitu cepat langsung mengenakan pakaiannya dan bersembunyi kembali di dalam Lemari.


“Nyonya, Loise~ Ada sedikit perubahan untuk antrian pelanggan selanjutnya,” ucap si wanita assisten, dengan nada lembutnya.


Loise yang juga sempat terkejut saat ia mendengar ketukan itu, dengan lekas dirinya mengunci pintu lemari, dan menyembunyikan Cipi di dalamnya.


“Perubahan?!” Lantas, setelah ia mengunci pintu lemari bajunya, Loise pun langsung duduk di atas kursi riasnya, untuk memperbaiki bedak yang telah hilang sebab mandinya tadi.


“Benar, Nyonya. Kedua pelanggan yang Nyonya akan layani saat ini, telah sepakat, jika mereka akan menggabungkan jam pelayanan mereka, untuk bersenang-senang di waktu yang sama.”


“E-eh?! S-seperti itu ya ... Emm ... I-Ini bukan yang pertama sih. T-Tapi, biayanya akan lebih mahal empat kali lipat dari harga normal. Apakah mereka mengetahui akan hal ini?” jelas Loise yang terdengar enggan.


“Mereka sudah mengethauinya, Nyona,” jawab si asisten dengan datar.


Suara Loise mulai meredup, seperti tidak ada jalan keluar lagi kecuali melakukannya.


“Beliau menyetujuinya, nyonya.”


Kali ini, Loise benar-benar terdiam ... dirinya bahkan meremas kain bajunya sambil menghela napas panjangnya.


“Baiklah ... bawa masuk mereka.”


Sontak, pintu kamar terbuka, dan dua orang pria masuk dengan leluasa. Seseorang terliaht begitu gempal dan wajahnya penuh jerawat, sedangkan yang satunya terlihat begitu tua dan sudah sangat sepuh.


Cipi yang mengintip dari dalam lemarinya, langsung menyadari ... jika kedua orang ini adalah ayah dan anak. Mereka adalah Public Figure di kota [Rapysta], dan satu-satunya bangsawan yang tinggal di kota ini.


“B-Baron Solum, dan anaknya Juyos?! S-Sial, mereka adalah bangsawan korup!”


Mengethui identitas kedua pria ini, Cipi merasa begitu geram dan tak rela jika Loise dipermainkan oleh mereka.


Namun, nasi telah menjadi bubur. Loise telah menerima permintaan mereka, mau tak mau, Loise harus menyelesaikan tugasnya, pada malam itu.


Selama enam jam, Loise harus melayani kedua orang itu dengan seluruh tenaganya. Permainan mereka begitu keras, bahkan Loise teriak begitu kencang sebab menahan perih.


Si wanita remaja tak bisa berbuat apa-apa ... dan pada malam itu, Cipi beru menyadari ... betapa lemahnya ia, sampai dirinya tak bisa menyelamatkan Loise yang berada di hadapannya kala itu.


Selama enam jam ia harus menyaksikan Loise tersiksa, setelah dirinya menyaksikan senyuman tulus pada wajahnya.


Sempat Cipi menutup kuping dan matanya, agar ia tak mendengarkan teriakan Loise yang tersiksa. Ia berharap untuk bisa tertidur dan bangun keesokan harinya.


Tetapi, jiwanya tak bisa membiarkan hal itu terjadi ... dan selama enam jam, ia harus mendengarkan derita yang Loise terima pada dini hari itu.


***


Pelayanan telah usai ... kedua pria itu keluar kamar dalam kondisi begitu puas.


Sedangkan Loise? dirinya hanya terbaring lesu ... tanpa jiwa kemanusiaan di dalam dirinya. Melihat hal ini, sang Assisten yang sedari tadi memberitahu jadwal kerja Loise pun masuk ke dalam kamar. Kemudian, ia membersihkan tubuh Loise dengan begitu profesional.


Cipi sempat kesal degan si wanita tua itu. Bagaimana bisa ia terlihat begitu tenang, sedangkan Loise tengah kesusahan di sana.


Namun, jika diperhatikan dengan saksama ... wanita itu sebenarnya sedang menahan tangis pada kedua kelopak matanya.


“Kak Anggy, bisakah kakak menutup pintunya?” Lantas, di dalam kondisi yang begitu kesusahan, Loise menggerakkan tubuhnya, dan duduk di pinggiran kasur sambil memegangi bagian bawahnya. Ia terlihat begitu kesakitan, bahkan tubuhnya bergetar hebat.


Setelah pintu di tutup, wanita bernama Anggy tadi kembali membersihkan tubuh Loise. Kala itu, Loise membisikkan sesuatu kepada Anggy, dan demikian, Anggu kembali ke pintu masuk, lalu mengunci pintu itu dengan kunci yang telah tertepel pada tuasnya.


Loise pun melirik ke tempat lokas lemari bajunya. Dengan kondisi jalan yang begitu kesusahan, Loise kemudian membuka pintu lemari, dan mengeluarkan Cipi dari dalamnya.


Si wanita berambut panjang itu terlihat sangat terkejut, saat dirinya melihat air mata Cipi tampak membasahi seluruh wajahnya.


“C-cipi?!”


Pada saat itu ... Loise menyadari, jika Cipi mendapatkan trauma, dari apa yang ia lihat terakhir kali. Seketika itu juga, Loise langsung memeluk Cipi dengan hangat, dan meminta maaf atas apa yang sudah terjadi sejauh ini.


“Maafkan aku ... seharusnya kamu tidak melihat semua hal ini.” Sambil menangis, Loise memohon kepada Cipi untuk memaafkan dirinya.


Mendengar ucapan maaf dari wanita yang ia segani, Cipi pun tak tahu harus berbuat apa. Dirinya tak mengerti mengapa ia menanis. Sebab itu, tubuh Cipi bereaksi terhadap perasaannya, Ia kembali membalas pelukan Loise, dan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan itu.


Dari kejauhan, Anggy pun ikut menangis, saat ia memperhatikan kondisi Loise dan juga Cipi. Kisah mereka terdengar begitu tragis ... dan sebagai seorang Assisten, tentu saja Anggy mengetahui seluruh seluk beluk permasalahan yang Loise hadapi.


Tentu juga dengan kisah hidup Cipi saat ini. Ketiganya menangis di dalam ruangan kedap suara itu. .. semua penderitaan ini ... hanya seorang wanita yang bisa merasakannya.


Pria ... bagi mereka, wanita hanyalah bahan pemuas nafsu saja ... tapi mereka tak mengetahui, jika wanita jugalah manusia. Ingin disayang, dimanja, juga diperlakukan selayaknya wanita, bukan sebagai barang pemuas nafsu belaka.


Mendapatkan tubuh seorang wanita memang memiliki jalur pintasan. Bisa saja mereka membayarnya, atau memaksakan kehendak dengan pemaksaan, tetapi ... jika seorang pria ingin mendapatkan hati seorang wanita ... maka, pahamilah isi hati seorang wanita.


Pahami, kasihi, dan hormati perasaan mereka ... jika seorang pria bisa melakukan hal itu, barulah mereka bisa mendapatkan keseluruhan jiwa, juga raga seorang wanita.