The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 68 : Delapan Tahun Telah Berlalu~



*****


Apa yang kalian ketahui mengenai "Masa?"


Apakah masa itu adalah Matahari yang timbul dan terbenam mengikuti perputaran dunia pada porosnya …?


Atau pepohonan yang menumbuhkan daunnya kemudian dedaunan itu rontok akibat musim yang berganti …?


Atau kalian punya pemahaman yang lainnya?


Menurut ku, Jawaban yang bisa ku utarakan adalah ... Aku tak tahu.


Tetapi yang pasti ... musim akan terus berganti tanpa ada yang bisa menghentikanya … ya, itu lah yang aku pahaimi ....


.


.


.


***


.


.


.


semenjak saat itu … 8 Tahun telah Berlalu ~


.


.


.


***


.


.


.


Tahu kah kalian mengenai kerajaan [eXandia?]


Sebuah kerajaan terbesar di benua [Horus], dan tepat di kerajaan tersebut, berdiri sebuah ibu kota dengan nama [Lebia].


Hari ini berbeda dengan hari-hari biasanya, seluruh masyarakat bergerombol dan tumpah-ruah di pusat kota.


Tak ada satu toko pun yang buka pada pagi hari ini, karena hari ini merupakan hari spesial dan berbeda dengan hari-hari yang lainnya.


Kereta-kereta kuda ber-iringan memasuki pintu gerbang kota dan berjalan lurus langsung menuju istana kerajaan yang posisinya tepat berada di ujung utara kerajaan ini.


Kereta-kereta itu berjalan memasuki kota dengan membawa bendera yang sangat beragam.


Jarak dari satu rombongan dengan rombongan yang lain dipisah oleh bendera-bendera tersebut.


Pada rombongan bagian paling depan mereka membawa bendera merah dengan logo harimau, lalu di belakangnya ada bendera biru dengan logo putri duyung, di susul pada bagian belakangnya dengan bendera warna hijau yang memiliki logo naga, lalu di belakang nya lagi terdapat bendera kuning yang memiliki logo rajawali, dan yang paling terakhir adalah bendera putih dengan logo buku, pedang, dan tongkat sihir yang saling menyilang.


Bendera berwarna putih itu adalah bendera dari lambang negara kerajaan [eXandia], dimana pedang melambangkan kesatria, buku melambangkan pendeta dan tongkat sihir melambangkan penyihir.


Ketiga unsur yang berbeda tersebut di silangkan dalam logo tersebut sebagai philosopi perastuan antara bangsa-bangsa, yang berarti kerajaan [eXandia] adalah negara yang menjunjung tinggi persahabatan dengan negara-negara tetangganya.


Lalu festival ini di tutup dengan masuknya ke-lima raja dari lima negara yang saat ini sedang berkuasa di muka bumi [Soros].


Para raja itu duduk berjajar pada sebuah kereta besar yang di Tarik oleh kuda bersayap empat.


dengan wibawanya mereka menatap serius ke-arah istana.


Tidak ada satupun dari mereka yang memberikan wajah riang kecuali raja dari kerajaan [eXandia] yang tersenyum lebar sambil menyapa masyarakatnya.


*****


Kondisi aula kota mulai kembali netral, walupun demikian, berbagai pertunjukan bergelora di pusat kota ini, ada yang melakukan atraksi api, ada pula yang menunjukkan atraksi badut, dan ada juga yang bersenandung menggunakan gitar nya.


Itu saja? Tentu tidak, masih banyak atraksi-atraksi lainnya yang bertebaran di seluruh penjuru ibukota [Lebia] ini.


Begitu juga dengan toko cemilan, selepas rombongan raja memasuki kastil, para pedagang bergegas membuka kedai-kedai mereka dengan memasang tenda di sekeliling aula kota serta beberapa tempat strategis lainnya.


Dalam hiruk-pikuknya kemeriahan festival ini, tampak seorang remaja pria, tengah mengenakan jubah putih yang kainnya tidak begitu lebar bahkan terbilang kecil.


Sang remaja berjalan sambil memeluk buku kitab yang sudah terlihat usang namun masih layak untuk dibaca, buku itu ia dekap dengan tangan kiri dan ia tempel kan di dadanya.


Sekilas terlihat pada kain jubah sang remaja, membentang hanya sampai setengah lengan dan terdapat tudung kepala yang saat ini sedang ia kenakan untuk menutupi wajahnya yang terbilang cukup unik jika di bandingkan dengan manusia pada umumnya.


Ia berjalan melintasi pinggir aula kota untuk membeli beberpa cemilan dan mencoba untuk menikmati festival yang di selenggarakan setiap tahunnya ini.


“Pak, tolong roti 'Bismon ' nya tiga~”


Ucap sang remaja pada penjaga tenda roti Bismon.


“Ini dek! Terima kasih telah membeli roti kami!”


Jawab sang penjaga tenda sambil memberikan kantung kertas berwarna coklat pada remaja tersebut.


Sekilas terlihat warna mata yang berkilau hijau akibat pantulan cahaya matahari pada matanya, dan juga rambut merahnya yang menjuntai panjang pada bagian poni remaja tersebut.


Seusai mengambil belanjaannya, ia pergi meninggalkan tenda tersebut sambil memakan sepotong roti “Bismon” yang memiliki rasa melon tersebut.


Riuh dan berisik, sesekali sang remaja menonton pertunjukan yang tergelar di setiap sisi kota, kadang ia terkejut, juga kadang ia terkesan.


Sampai akhirnya langkah kaki sang remaja terhenti didepan sebuah panggung yang di atasnya terdapat seorang penyair yang sedang memainkan gitarnya di sana.


Sang remaja tersenyum kecil, lalu ia duduk pada sebuah kursi kayu yang berada tepat di depan panggung tersebut, jaraknya mungkin sekitar 20 meter dari depan panggung.


Sang remaja memilih duduk di kursi tersebut karena di depan panggung terkumpul banyak orang yang ingin mendengarkan dendangan syair yang ingin di utarakan oleh sang penyair.


Lalu bergetarlah senar gitar yang saling mengharmonisasi notasi lagu pada lantunan nada yang membuat pendengarnya merasa tenang dan damai.


Seketika suasana riuh berubah menjadi hening ... Saat ini titik fokus semua orang sedang teralihkan ke arah panggung tersebut.


***


Dengarkan lah pujian yang akan memuji orang yang di puji ~


Pujian ini di lantunkan untuk orang yang sangat di segani di muka bumi ini ~


Dengarkanlah syair ini untuk mengingat masa-masa jaya sang pahlawan ~


Pahlawan yang abadi pada ingatan kawan ~


Ingatlah dan dengarkanlah ~


Ingatkah kalian tentang masalalu yang pilu? ~


Yang pada masa itu semua nya menjadi rancu? ~


Soros di telan kegelapan bagai buntalan keledai ~


Tertelan kehampaan dalam gundagulanai ~


Namun hidup secerah harapan pada jiwa manusia~


Manusia yang dermawan dan bersajaha ~


Ialah pahlawan kita di masa kekelaman ~


Pahlawan semua umat yang menjadi saudara di dalam kesuraman. ~


Ialah Exandi yang bersua pada tuhan. ~


Tuhan yang maha esa dan perkasa dalam memberi kekuatan. ~


Sedari itu semua menjadi tenang tak bertentang~


Lantunan Syair ini ku dendang untuk kerajanaan matahari dan bulan yang bersinar terang. ~


Demikian begitu lah kisah sang pahlawan ~


Yang akan kita kenang dalam angan abadi bersama kawan ~


***


Lalu syair itu usai dengan hujan tepuk tangan dari setiap penjuru … begitu juga dengan sang remaja yang ikut bertepuk tangan sembari menggigit roti yang ia kunyah perlahan.


“Woho… tahun ini penyairnya sangat berbakat ~ menakjubkan.” Ucap sang remaja dengan mulut yang penuh dengan roti.


Berjalannya waktu, sang remaja tinggal menyisakan satu roti yang belum ia sentuh, namun ketika ia ingin memakannya, datang suara seseorang yang memanggilnya dari kejauhan.


“Arleeyy!! Heyy Arleyy!!”


terdengar suara seruan seorang wanita yang memiliki rambut coklat dengan senyum manis di wajahnya.


Ucap remaja tersebut dengan nada datar.


“Uhh, seperti biasa … sekarang kau susah untuk tersenyum semenjak terakhir kali kita berpisah Arley, senyumlah sedikit jika kau bertemu dengan kakak mu ini!”


Wanita bernama Sofie itu kemudian mencubit pipi remaja bernama Arley menggunakan kedua tangannya dengan paksa.


Demikian pipi sang remaja tertarik dan memberikan senyuman aneh yang membuat Sofie tertawa sampai ia tak dapat berdiri dengan sempurna.


“PPPffftttt!!! Bahahaha!!! Wajah apa ini Arley!! Bahahahahah!!!” Sofie terduduk jongkok sambil memegang perutnya yang keram.


“Heyy! Ini kan ulahmu! heh ... sudah lah, ngomong-ngomong dimana kakak Lily? apa dia masih menjaga kedai?”


Arley kemudian mengambil roti yang ada di dalam kantung kertas berwarna coklat itu, setelah ia ambil rotinya, lalu ia remuk kantung tersebut dan ia menggenggamnya untuk di buang saat ia menemukan tong sampah nanti.


“Ahh!! Arleyy!! Kau memakan roti Bismon lagi!! kan sudah ku bilang! datang saja ke kedai kami dan kami akan memberikan mu roti gratis!”


Sofie kemudian memasang muka marah sambil menaruh kedua tangannya di pinggang serta  memundur kan pinggulnya ke belakang dan memajukan kepalanya ke arah Arley.


“Meh … aku lebih suka roti Bismon ….” Ucap Arley sambil memalingkan wajahnya.


Namun dengan kesal kemudian Sofie membuka tudung yang di kenakan Arley dan seketika itu juga ia menjambak Arley dengan sangat kuat.


“Apanya yang lebih suka roti Bismon!! Bilang saja kalau roti kami enggak enak!! Iya kan!! Cepat katakan!! Katakana bahwa roti kami tidak enak!! KAtakaaann!!!”


“Aaaaa!!! K-kak soife!! SAkit kak!! Sakitt!!!”


Dalam keriuhan itu, wajah Sofie perlahan membendung air mata, Arley kemudian berusaha untuk menenangkan Sofie yang saat itu dengan kencang meremas kepala Arley sampai hampir mencopot setiap akar rambutnya.


“Enak kok!! Enak kaak!! Enak banget roti kalian!! SUmpah aku tidak bohong!! Aku bisa memakannya setiap hari!! Tidak-tidak!! Aku berjanji akan memakannya setiap hari!!”


Lalu keriuhan itu berhenti dan Sofie tampak kembali mendapatkan ketenangannya.


“Benarkah demikian …? Roti buatan ku enak .…?” cakap sofie dengan wajah memelas.


“Iya kak! Sumpah roti buatan kakak enak banget! Besok pasti aku mampir ke toko!”


Ucap Arley yang gemetaran sehabis di jambak rambutnya.


“Kau berjanji?” lagi Tanya Sofie kapada Arley.


“Tentu saja kak aku berjanji! Besok aku datang!!” Jelas Arley dengan keringat yang mengucur deras.


“Kalau begitu baiklah! Besok aku akan membuka toko dari jam 4 subuh sampai 12 malam! Kau wajib datang Arley, aku akan menunggumu di sana.”


“Giku!”


Sejenak ia tercekug, wajah Arley berubah pucat, ia berfikir apakah ia akan memakan se-gunung roti lagi seperti kejadian beberapa waktu yang lalu?.


“Ah iya, tadi kau menanyakan kak Lily ya? Saat ini kak Lily masih menjaga kedai, entah mengapa setelah kami berganti jam kerja, tiba-tiba kedai menjadi sangat ramai sampai-sampai antriannya membeludak tak karuan.”


“(-E-err … aku sepertinya tahu mengapa bisa demikian ….)”


Gumam Arley dengan perlahan sambil memalingkan wajahnya. Sekilas ia memikirkan kecantikan Lily yang umurnya sudah 1000 kali lipat dari umur dirinya saat ini.


Kemudian dengan lahap Arley menghabiskan sisa rotinya yang terakhir dengan sekali gigitan.


“Baiklah kak Sofie, aku harus pulang. Jam istirahatku sudah habis, ini saatnya aku kembali ke ruang kerja ku~"


Cakap Arley dengan wajah riang sambil menarik kembali tudung kepalanya yang sebelumnya terbuka akibat perilaku Sofie.


“Ehh … secapat itu kah …? Padahal aku masih ingin berbicara panjang lebar dengan mu, emm bagaimana jika kita berbicara sambil berjalan ke Universitas ?”


Wajah Sofie berubah cemberut seperti ia masih belum puas pada suatu hal.


“Hmm jika demikian baiklah! Aku rasa masih ada waktu jika kita berbicara sambil berjalan. ”


Akhirnya Sofie dan Arley berjalan bersama menuju universitas kependetaan [Quostienta] sambil bercakap-cakap ringan.


***


Pada saat itu, tampak seorang remaja pria dan seorang wanita dewasa yang terlihat hubungan mereka sangat begitu dekat, sedang berjalan menyusuri pemukiman warga yang mengarah ke universitas kependetaan.


Ya, mereka berdua adalah Sofie dan Arley yang pada saat ini sedang bercanda riang menikmati suasana siang hari yang cukup hangat.


“… -ehh jadi sebenarnya mereka ingin memberikan mu jabatan sepenting itu setelah kau memberikan thesis terakhirmu?! Menakjubkan … seperti yang ku duga dari seorang Arley~”


Wajah Sofie bersinar-sinar, ia semakin respek dengan sosok Arley yang saat ini.


“Lalu kenapa kau tidak menerimanya saja? Bukankah itu adalah  suatu kesempatan yang besar? Jika kau menerimanya maka kau bisa hidup tenang tak perlu memikirkan dunia ini lagi bukan? Erm gajimu akan besar dan kau bisa jadi seorang bangsawan~”


“Meh … aku tidak suka dengan perkataan mu yang barusan kak Sofie, kau tahu aku kan? Kebebasan adalah segalanya bagiku. Untuk hidup di kekang dengan segala hal? Eugh … memikirkannya saja sudah membuatku kesal.”


Wajah Arley berubah kecut bersamaan dengan ucapannya tadi.


“Lalu bagaimana dengan pendapat Uskup Steven? Apakah ia setuju dengan pilihan mu itu?”


Sofie kemudian mengacungkan jari telunjuk seperti seorang murid yang ingin menanyakan sesuatu pada gurunya.


“hmmm, semenjak ulang tahun ku yang ke 13, ia tidak terlalu menekan ku dengan berbagai hal yang aku inginkan atau tidak ku inginkan, demikian aku jadi sedikit bingung dengan pilihan ku sendiri ….”


Arley kemudian tertunduk, ia berjalan melintasi jembatan penyambung antara kota dalam dan kota luar sambil menjatuhkan pandangannya.


“heeh … jadi jika aku tanya apa yang kau inginkan saat ini? Kau akan menjawab apa Arley?”


“Hmm … aku ingin … berpetualang?”


Lalu tiba-tiba langkah Sofie terhenti dan wajahnya sangat terkejut.


“Jangan katakana hal yang bodoh seperti itu Arley!! Kau pikir dunia di luar sana senyaman di dalam kota ini?! Tidak-tidak!! Aku tidak akan membiarkan mu berpetualang di luar sana!!”


Lalu Arley dengan senyuman yang terpaksa menggaruk pipinya dengan jari telunjuk sembari melanjutkan perjalanan menuju universitas [Quostienta]


“Hahaha … jangan di ambil serius kak Sofie, aku hanya bercanda kok, lagian mana mungkin aku berpetualang tanpa lisensi ~”


“Huuuhh ~ wajah mu tidak berkata demikian Arley, entah lah aku tidak bisa mempercayai kalimat mu yang terakhir, tapi aku mempercayai mu walaupun kau tidak bisa di percaya!”


Ucap sofie dengan penuh arogansi.


“Pfftt!! Ahahaha!! Kalimat apa itu!! Aku tidak mengerti ucapan mu sama sekali kak Sofie!! Bahahaha!!”


“Hei!! Jangan membuat lelucon pada perkataan orang dewasa!!”


Wajah sofie berubah menjadi merah akibat tingkat Arley yang mengejeknya. Dengan kesal ia mengejar Arley yang berusaha lari akibat ia membuat malu Sofie.


Demikian percakapan mereka selesai setelah mereka sampai di depan universitas kependetaan [Quostienta].


***


Langkah kaki mereka telah terhenti, Arley perlahan masuk kedalam pintu gerbang dan ia mengucapkan salam perpisahan kepada Sofie.


“baiklah sampai jumpa kembali kak sofie~ jangan suka menyusahkan kak Lily ya!”


Arley mengayunkan tangannya sembari menutup pintu gerbang kampus.


“Tunggu Arley, aku masih punya satu pertanyaan lagi!”


Sofie kemudian merapat ke pintu gerbang yang berbahan besi itu. Wajahnya tampak serius.


“Hm? Apa itu kak Sofie?”


Ucap Arley sambil kembali membenarkan posisi dekapan buku kitab nya pada dadanya.


“Jadi … seusai kau menyelesaikan tugasmu yang terakhir ini … apa yang akan kau lakukan …? Kalau kau tidak memiliki tujuan, aku bersedia mempekerjakan mu di toko roti kami!”


Sofie mengatakan kalimat itu dengan penuh harapan.


“Hahaha~ apa yang kau katakana kak Sofie, hmmm baiklah, tugas ku ini akan selesai nanti malam, berarti mulai besok aku tidak akan memiliki pekerjaan lagi ....”


Cakap Arley sambil mendongak kan kepala ke atas seperti sedang berfikir.


“Jadi kau akan bekerja dengan kami bukan!?!”


Tersirat dari wajah Sofie senyuman lebar yang menunjukkan kebahagiaannya.


Namun Arley tidak demikian, ia hanya tersenyum lembut.


Sekilas alisnya mengkerut seperti menolak tawaran dari Sofie. Lalu ia mulai berjalan masuk ke dalam kampus sambil membelakangi Sofie.


Sejenak Sofie menjulurkan tangannya dan ia ingin mengatakan sesuatu, namun Arley mendahuluinya dengan pernyataan yang sangat mencengangkan.


“Besok ... aku akan mengikuti seleksi penerimaan kesatria dan penyihir tingkat tinggi yang di selenggarakan oleh pemerintah pada tahun ini, kak Sofie ….”


Lirik Arley kepada Sofie, namun Arley tidak menghentikan langkahnya malah ia terus berjalan meninggalkan Sofie agar pembicaraan ini tidak berlanjut.


Wajah Sofie tersentak, ia sangat terperanjat dengan kalimat Arley.


“T-tunggu!! Hey Arley kau bercanda kan!! Hey tunggu Arley!! AARRLEEYY!!!”


Kemudian pembicaraan mereka berakhir begitu saja.


*****