
Not Edited ! ~
Sehari setalah Arley dan Paman Radits ditahan di sel bawah tanah. Diri meraka pada akhirnya dibebaskan dari rutan, setelah salah seorang tim investigasi, menyelidiki akar permasalahan yang sempat terjadi.
Berkat informasi yang Arley lakukan, oknum prajurit yang menahan Arley dan Paman Radits di depan pintu masuk, langsung di pecat dari pekerjaannya. Dan saat ini, tim anti korupsi dan nepotisme, dikerahkah khusus, untuk menetralisir para prajurit dan penjaga yang sering melakukan keonaran atau penindasan terhadap masyarakat sekitar.
Langkah kaki, tampak saling bertukar di sisi selatan kota [Dorstom]. Berbagai macam transaksi, saat ini sedang berlangsung.
Sisi selatan kota [Dorstom] memang terkenal dengan pasarnya yang selalu ramai, walaupun hari libur sekalipun tiba, tetap saja pasar ini ramai karena barang yang dijual sering sekali tak ada di kota lain.
Namun, fokus Arley dan Paman Radits kali ini, bukanlah untuk berbelanja di pasar [Dorstom], melainkan untuk menjemput Emaly, yang sempat paman Radits titipkan di sebuah rumah, yang jaraknya tak terlalu jauh dari pintu masuk bagian Selatan.
Setelah beberapa menit mereka berjalan menempu padatnya pasar, akhirnya Paman Radits dan Arley berhasil sampai pada lokasi yang di tuju.
“Apakah di sini tempatnya, Paman?” tanya Arley, sembari ia menatap papan reklame, yang termpang jelas di atas toko tersebut.
Tertulis dengan bahasa [Huber] kalimat : ‘Welcome to My Atelier’ yang juga tampil dengan gambar seorang wanita, terlihat mengaduk tungku raksasanya.
Tanpa Ragu-ragu, Arley dan Paman Radits segera masuk ke dalam toko tersebut, sembari mereka melihat sekitaran isi toko juga mencari sang pemiliknya.
“Permsi …,” ucap sang paman sembari ia berjalan ke sebelah kiri toko, sedangkan Arley mulai melangkahkan kakinya di jalur yang terpisah dari sang paman.
Berjalanlah mereka, berpisah mencari hal unik yang dijual di toko itu. Namun, saat Arley sedang melihat-lihat etalase yang berisi mata-mata hewan dan beberapa organ tubuh lainnya. Tiba-tiba, dari arah belakang, muncul seorang wanita yang menggunakan topi penyihir, berusaha mengangetkan Arley dengan sedikit tepukan pada pundanknya.
Akan tetapi … sebab insting Arley yang cukup kuat, Arley sudah tahu jika punggungnya akan ditepuk oleh sang wanita. Saat sang wanita melaksanakan aksinya, Arley malah tak berlaku apapun. Ia hanya menatap kebelakang sebari tersenyum manis di depan sang wanita.
Sontak, terdengar suara teriakan yang begitu nyaring.
“Ada apa?!” Paman Radits yang mendengar suara teriakan wanita, dirinya langsung berlari dan mengejar ke seumber suara. “Eh?” tetapi, yang ia dapatkan adalah pemandangan yang sangat aneh.
“Aaaaa! Kamu lucu sekali! Heey, mau kah kamu bekerja saama kakak? Nanti kakak sering kasih permen! AAAAAaaaa!” sambil memeluk Arley dan lompat-lompat kecil pada tempatnya, sang wanita terlihat kegirangan, dan malah memaksa Arley untuk bekerja di Ateliernya.
Arley hanya terdiam, lalu ia menunjuk si wanita bertopi penyihir tersebut, sambil menatap paman Radits, dan berkata. “Apakah wanita ini yang paman cari?”
Lantas, sang paman menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Arley, sembari ia melotot lebar, melihat dua gunung kembar yang saling beradu kekuatan.
***
Sesi penjelasan telah berakhir … paman Radits bekerja sangat keras untuk mempertahankan Arley agar tetap berada bersama keluarganya.
Arley yang ketika itu mendukung ucapan paman Radits pun sempat di sudutkan, karena ucapan sang wanita yang cukup berbelit dan sedikit beracun bagaikan bisa ular.
Ini adalah pelajaran berharga bagi keduanya … sebuah kesalahan besar untuk berunding dan bertransaksi dengan seorang Alchemist. Dan moto keluarga tomtom adalah, jangan ulangi kesalahan yang sama dua kali!
Kala itu, Arley berada di luar ruangan, ia di perintahkan paman Radits untuk menanti dirinya dan Emaly di luar sana, agar suasana hati sang Alchemist tidak bimbang dengan pembicaraan yang akan sang paman obrolkan nanti.
Sedangkan sang paman menunggu di dalam toko, sembari ia duduk di kursi kayu yang berjejer tepat di depan meja kasir.
“Ayaah!” Dari pintu yang menghubungkan ruangan toko dengan ruangan pribadi si pemilik kedai. Terdengar suara anak wanita yang Arley dan paman Radits kenal pasti, siapa yang kala itu sedang berteriak.
“Emaly!” ucap Paman Radits, yang kala itu langsung memeluk Emaly dan mengangkatnya tinggi ke udara. “Kamu baik-baik saja kan, Eamaly?” saat itu, Paman Radits menempelkan dahinya ke dahi Emaly, untuk mengetahui suhu tubuh sang anak.
Terdiamlah Emaly saat sang ayah melakukan itu, Emaly tampak memejamkan mata untuk menuruti apa yang sang ayah pertanyakan.
“Tampaknya kondisimu sudah membaik … Sykurlah,” cakap si paman yang menghelakan napasnya.
Beberapa saat kemudian, sang wanita pemilik toko keluar dari ruangan sebelah. Dirinya tampak menghembuskan asap tembakau, yang habis ia isap dari pipa rokoknya.
“Terima kasih Tante— …,” ucap paman Radits tak sengaja.
Tiba-tiba wajah sang pemilik toko langsung mengkerut kan alisnya. “Hey! Jangan panggil aku Tante! Aku masih muda loh! Panggil aku Kakak!” tegasnya sambil menatap tajam, mata paman Radits. “Oh iya! Aku belum memperkenalkan diri. Maafkan ketidak sopananku.” Tiba-tiba sikapnya langsung berubah 180 derajat.
“Perkenalkan, namaku adalah Charol Litta Holmes, teman-temanku memanggilku dengan sebutan Litta. Salam kenal,” ucap kak Litta sembari ia sedikit membungkuk.
“Ah, baiklah, salam kenal Litta,” ucap sang paman, yang juga baru teringat jika dirinya belum memperkenalkan diri. “Namaku adalah Radits Tomtom, panggil saja Radits!” ucapnya sambil membungkuk. “dan anak ini, Emaly Tomtom.”
Lantas, Litta melangkah mendekat ke tempat Emaly berdiri. Duduklah Litta di depan Emaly. “Kalau anak ini, aku sudah tahu. Bukankah semalam kita sudah berbicara panjang lebar? Iya kan, Emaly?” ujar Litta, sembari ia mengusap rambut Emaly.
Mengangguklah Emaly, sambil ia tersenyum lebar kepada wanita berambut hitam tersebut.
“Litta, kalau begitu … kami ijin pamit dahulu. Ada kepentingang yang harus kami urus setelah ini.”
“Ya! Tentu saja. Jika ada hal yang kalian butuhkan, mampir saja ke toko ini, aku akan membantu kalian, asalkan upahnya pas!” ucap Litta, sambil membuat gestur uang dengan membulatkan jari telunjuk dan jempolnya.
Tertawalah Paman Radits, sembari ia membungkukkan badan, dan lekas pergi dari lokasi itu. Saat dirinya membuka pintu masuk toko, terdengar suara lonceng yang berdering.
“Eh? Apakah tadi lonceng ini ada di sana?” cakap si paman, sembari ia melihat ke atas pintu.
Arley yang sedari tadi berdiri di samping pintu, lalu melihat ke arah Paman Radits dan Emaly. “Apakah urusannya sudah selesai?” tanya Arley sembari ia mengunyah permen.
“Arley, apakah tadi ada lonceng di pintu ini?” Tunjuk sang paman ke atas pintu, namun, tiba-tiba lonceng yang ia maksud sudah tiada.
“Lonceng apa paman …?” Arley bertanya sambil ia menggigit permen batang tersebut.
“Eh …? Apakah itu hanya imajinasiku saja … kau benar-benar tidak mendengar suara lonceng saat kami kelaur tadi?”
Ketika itu, Arley hanya terdiam sambil memandang wajah paman Radits dengan wajah yang datar, sejenak ia memiringkan kepalanya sebab terheran-heran. Seketika itu juga sang paman menyadari, jika Arley memang benar-benar tak tahu dengan segala yang berhubungan dengan lonceng.
“Tidak, maafkan aku Arley, sepertinya aku hanya kelelahan,” ucap sang paman, yang kemudian ia melangkah keluar dari tempat tersebut.
Tiba-tiba, saat mereka semua telah turun dari tangga halaman rumah kayu tersebut, seketika itu juga ketikanya merasakan suatu perasaan aneh.
Saat Paman Radits membalikkan badannya, benar saja, rumah yang tadinya berdiri kokoh di belakang mereka, saat ini telah berubah menjadi rumah kosong yang tak berpenghuni.
“Aa-“ Seketika itu juga, ketiga orang tersebut mengucapkan kata yang sama. Namun, di sisi Arley … ia menjatuhkan tangkai permen merahnya, yang manisannya sudah ia telan semua.
Apakah ini sebuah mimpi? Atau hanya sebuah ilusi? Jawabannya ada di permen yang Arley makan ….
Bersambung ! ~
.
.
.
.
.
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
.
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
.
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
.
.
.
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
.
.
.
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
.
.
.
Baiklah!
.
.
.
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
.
.
.
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
.
.
.
Have a nice day, and Always be Happy!
.
.
.
See you on the next chapter !
.
.
.
.
.
.