
Keluarlah Arley dari dalam ruangan tersebut. Dan tampaknya, pertempuran masih terjadi, di antara paman Radits dengan pria Butler tadi.
Arley masih tampak kesal, sebab apa yang Verko lakukan sudah terbilang tak bisa di maafkan. Selain itu, Arley juga merasa sangat bersalah, karena ia membuat obat tersebut, dan malah di salah gunakan pada orang terdekatnya sendiri.
Karena hal inilah, Arley sangat marah pada dirinya sendiri, juga terutama kepada Verko.
“Arley!? Kau sudah mendapatkan Varra?!” Sesaat, paman Radits menghentikan pertempurannya.
Namun, si pria Butler tersebut masih saja menyerang sang paman untuk mengalihkan perhatiannya.
Arley tampak begitu dingin, dan ia tak memiliki nafsu untuk menjawab pertanyaan sang paman, selain itu, Berlinton juga terdengar sangat berisik dengan teriakan psikopatnya.
Maka dari itu, Arley langsung saja mencabut bilah pedangnya, keluar dari sarung pedang, dan ia menebaskan pedangnya tersebut ke arah Berlinton tanpa berpikir lebih panjang.
Tebasan angin itu pun merambat menyerang Berlinton, dan sesuai dengan perkiraan Arley, kala itu, berlinton langsung terkena telak serangan itu, dan dirinya kembali terjatuh sembari menghantam kuat tanah yang berada di dasar gedung ini.
“Sudah paman, ayo segera kita temui Walikota itu.”
Namun, entah mengapa, bukannya Arley memilih untuk pulang, pada sore menjelang malam hari tersebut, Arley memilih untuk menghampiri rumah sang walikota.
“Walikota?! Kenapa kita tidak pulang saja!?”
“Paman, urusan kita dengan Verko belum selesai. Ia berhasil kabur, dan jika kita biarkan begini saja, maka, suatu hari nanti dia akan berbuat hal yang serupa lagi.”
Berlarilah sang paman menghampiri Arley, lalu mereka mulai berbicara lebih banyak.
“Apa yang terjadi di dalam sana …?” paman Radits pun ingin mengetahui, apa yang sebenarnya membuat Arley berubah menjadi seperti ini, seceara tiba-tiba.
Sejenak ia tak menjawab, namun ketika mereka sudah melintasi pintu masuk menuju ruangan lantai empat, barulah Arley menceritakan apa yang ia lihat di ruangan itu.
“Banyak wanita tergeletak di lantai kamar itu … mereka semua hampir tak berbusana. Saat itu, Kak Melliana berada di atas kasur tidur tersebut. Aku kira, kak Melliana sudah dikotori oleh Verko, tetapi, salah satu kakak cantik yang sempat tersadar ketika aku ingin mengangkut kak Melliana, ia berkata, jika Verko belum sempat mengotori kak Mell, namun, hati kak Mell sudah di kotori olehnya.”
Sejenak, langkah Arley terdiam. Begitu juga dengan langkah kaki paman Radits.
“Tapi bukan itu saja yang membuatku kesal …,” ujar Arley, yang kemudian, ia menggenggam telapak tangan kanannya, untuk berusaha menekan rasa jengkelnya terhadap dirinya sendiri. “paman … obat yang kita jual kepada Verko, saat itu sudah habis. Dan yang terburuknya, sepertinya Verko menggunakan obat itu kepada Kak Melliana.”
Lantas, ketika paman Radits mendengarkan ucapan itu, mata sang paman langsung terbuka lebar. Dirinya hampir tak percaya, jika senjata yang mereka siapkan untuk memancing Verko, malah akan menyerang kembali ke arah mereka.
“Ini semua adalah kesalahanku, paman … jika saja aku tidak menyarankamu untuk menggunakan obat ini, kondisi kak Melliana pasti tidak akan seperti saat ini.”
Sang paman pada awalnya juga terdiam membisu, tetapi, pengalaman hidupnya selama hampir empat puluh tahun, membuat mental dirinya bisa menanggapi kejadian ini secara rasional.
Ditepuklah punggung Arley oleh sang paman. lalu, sang paman mulai menasihati Arley tentang makna kehidupan.
“Tidak ada yang bisa disalahkan di sini, Arley, kalau kau mau menyalahkan seseorang, maka salahkan Verko. Jika ia tidak berada di kota ini, maka semua ini tidak akan terjadi,” jelas sang paman, yang memandang dari sisi positif mengenai kejadian ini.
Arley pun kembali tersenyum, namun, jauh di lubuk hatinya, ia masih belum bisa memaafkan dirinya juga sang bangsawan korup, Verko Jianno.
“Terima kasih paman.” Kemudian, mereka bertiga akhirnya memilih untuk turun ke lantai satu.
Dan ketika mereka menghampiri lantai tiga, ternyata, pertempuran masih terjadi.
Alan dan Cipi sudah babak belur, namun, setengah dari pasukan musuh juga telah ditumbangkan.
Arley pun datang di waktu yang tepat, saat itu, Alan dan Cipi sudah menyentuh batas maksimalnya. Sesaat setelah mereka berdua melihat Arley, ketika itu juga mereka berdua langsung pingsan di tempat.
“He? Pingsan?!” tanya sang pama, yang kemudian serangan lanjutan malah menuju ke arah mereka bertiga.
Betapa malangnya orang-orang yang menyerang Arley kala itu. Mood Arley yang sedang tidak baik, saat itu langsung saja ia tuangkan kepada seluruh orang yang menentangnya kali ini.
Arley kembali mengeluarkan bilah pedangnya, dan pada saat itu, dengan satu kali tebasan tunggal, semen biru yang berada di lantai tiga ini, langsung hancur akibat tebasan yang Arley lakukan tadi.
“Paman, gendong Alan~”
Sontak, Arley pun menendang Alan, dan meminta sang paman untuk menggendongnya, sedangkan Arley, dirinya membawa Cipi di tangan kanan, dan juga ia menggendong Melliana di tangan kirinya.
Dan saat pijakan yang mereka injak rubuh, ketika itu juga Arley berusaha jatuh dalam kondisi yang aman untuk mendarat.
“AAAAaa!
Seluruh orang yang jatuh dari ketinggian lima puluh meter itu pun berteriak kencang saat kejadian ini terjadi.
Dalam waktu yang sangat singkat, mereka semua suadah tiba di lantai satu dari Kasino milik Verko tersebut.
Latnas, untuk tidak berlama-lama lagi, Arley dan paman Radit langsung saja pergi meninggalkan Kasino itu, dan bergegas untuk menuju rumah milik Walikota Wales.
Ketika mereka keluar dari Kasino tersebut, Masyarkat sudah bergerombol mengelilingi Kasnio yang setengah hancur itu.
Sejenak, Arley menoleh ke arah atasm dan di sana, ia melihat si wanita, yang tadi sempat memberi petunju kepada Arley, jika Verko berhasil kabur dari kota tersebut melewati jalur rahasia.
Mereka pun saling bertatap mata, bahkan, wanita itu melambaikan tangannya. Tetapi Arley tidak membalas sapaan sang wanita, ia lebih memilih untuk bergegas menuju rumah Walikota dan meninggalkan keramaian itu.
.
.
.
***
.
.
.
Tak butuh waktu yang lama, saat ini, mereka berlima sudah tiba di ke kediaman Walikota, Walse.
Memang sempat terjadi sedikit kerusuhan lagi, ketika Arley dan paman Radits bergegas untuk pergi menigngalkan kasino tersbut. Akan tetapi, seluruh masyarkat yang hadir di lokasi perkara, etnah mengama langsung melindungi Arley dan pamanya, saat prajurit kota ingin menangkap mereka berlima.
Maka dari itu, mereka berlima akhirnya berhasil kabur menuju rumah milik Walse ini.
“Terima kasih … karena kalian telah meruntuhkan kekuasaan orang itu.” ucap si Walikota, sambil ia merundukkan kepalanya.
“Tidak … kami belum menyelesaikan apa-apa. Orang itu berhasil kabur, dan kami tak tahu harus berbuat apa,” jelas paman Radits, yang kemudian ikut merundukkan kepalanya untuk membalas rasa terimakasih sang walikota.
Lalu, Arley yang saat itu tengah melamun menatapi gedung Kasino mili Verko, lagsung menyambung percalapan paman Radits bersama sang walikota Walse.
“Tidak, malam ini ia kana kembali,” ungak Arley, sambil ia memalingkan wajahnya menuju sang paman.
Tentu saja sang paman sangat terkejut, bagaimana mungkin ARley bisa mendapatkan informasin ini.
“Benarkah!?” tanya sang paman, sambil ia berdiri dari duduknya. “Siapa yang memberitahumu informasi ini?”
“Tak ada, aku hanya berpikir demikian.” Lalu, Arley menjawab sang paman dengan dingin.
“Hee? Menggunakan perasaanmu saja?” Lagi, sang paman bertanya.
Mengangguklah Arley, dan ia kembali berjalan, menuju tempat duduk, yang berada tepat di samping kanan pamannya.
Dan tiba-tiba, Alan masuk kedalam ruangan itu dalam kondisi jalan yang susah. Dirinya melangkah terpincang-pincang hanya untuk bisa mengikuti perdebatan ini.
“Verko … tidak akan memberiakan Kasino-nya hancur begitu saja. Malam ini, ia akan datang dan menghancurkan seisi kota.” Kalimat itu, tiba-tiba dilontarkan Alan kepada sang walikota, sebagai peringatan kepada seluruh masyarakatnya.
Sang walikota pun gemetaran ketika ia mendengarkan ucapan Alan. “B-Benarkah apa yang kau ucapakan itu?!” imbu sang walikota.
“Aku mempercayai kalimat, Alan. Apa yang aku rasakan, sangat sesuai dengan kalimatnya,” tambah Arley, untuk meyakinkan kalimat Alan tadi.
Paman Radits pun termenung, menatap Arley. Dirinya tak memungkiri, jika skill firasat Arley, saat ini sudah lebih hebat dibandingkan dirinya.
“Baiklah, jika itu yang kau ucapkan, Arley … sekarang juga, kita harus memperingatkan seluruh warga kota untuk mengungsi dari kota ini!” Setelah ia mengucapkan kalimat itu, paman Radits langsung berdiri, dan ia kemudian mendekati si Walikota, agar dirinya bisa meyakinkan seluruh masyarakatnya.
“Nah, pak Wales … sekarang adalah giliranmu untuk menyelamatkan seluruh warga masyarakat kotamu ini.” Demikian, paman Radits pada saat itu menepuk punggung sang walikota, dan dengan satu kali tepukan itu, semangat yang tergambarkan pada raut wajah sang walikota langsung berubah.
Ada tekad kuat yang terbangung di dalam jiwanya, dirinya sangat ingin, untk bisa menyelematakn sebanyak mungkin warga kota yang sudah tinggal di kota ini semenjak kecil.
“Baiklah … tapi untuk itu, aku butuh bantuan kalian semua!” Lantas, pada saat itu, mereka semua berpindah ruangan, menuju sebuah ruangan yang penuh dengan batu [Orb] yang biasanya digunakan untuk pekerjaan penting.
Apakah yang akan terjadi dengan kota ini!?