
~PoV Arley~
“Ting!! Ting!! Ting!!” terdengar dengan jelas suara dentuman palu menghantam besi dengan kerasnya.
Saat ini aku tengah menunggu reparasi pedang yang akan aku beli. Sudah 50 menit terlewati semenjak sang pemilik toko membenahi pedang tersebut.
Sedangkan aku hanya terduduk diam pada sebuah kursi yang berhadapan dengan meja kasir ini.
Membosankan bukan? Yap, sangat membosankan!
***
Tanpa disadari, 10 menit telah berlalu begitu saja. Sekilas tak terdengar lagi dentuman besi yang menghiasi suasana toko ini seperti beberapa saat yang lalu.
Apakah reparasinya sudah selesai?
Demikian aku masih menunggu sang paman pemilik toko untuk keluar dari dalam ruangan yang tepat berada di hadapanku ini.
Namun beberapa saat kemudian terdengar suara langkah berdecak dari dalam ruangan tersebut.
“Terima kasih telah menunggu~” Perlahan gorden yang menutupi ruangan tersebut tersingkap lebar sembari sang paman keluar dari dalamnya.
Tepat ditangan kanan sang paman terdapat bilah pedang yang begitu mengkilau, aku sampai pangling ketika melihat pedang tersebut.
Betapa indahnya bilah pedang ini. jauh berbeda dengan yang sebelumnya, bahkan aku hampir tidak mengenali pedang ini jika gagangnya tidaklah sama dengan yang sedari awalnya.
“SIlahkan~” ucap sang paman sembari memberikanku pedang yang sudah ditempah ulang tersebut.
“Paman!! Apa yang kau lakukan pada pedang ini?! bukankah pedang ini hanyalah pedang rongsokan biasa??!” tanyaku kepada sang paman dengan nada yang begitu penasaran.
Ketika itu, aku langsung mengambil pedang tersebut dan mengecek setiap sisi pedang yang sekarang tampak indah ini.
“Meh~ aku hanya membakarnya dan memukul seluruh karat yang menumpuk dipedang tersebut.” Jawab sang paman sambil mengelap wajahnya yang berkeringat lebat.
Ini benar-benar menakjubkan! Bagaimana bisa hal ini terjadi?! Tangan sang paman sungguhlah ajaib!!
“Paman, jika kau bisa merapihkan pedang ini sampai sedemikan indah, mengapa kau tidak menempah semua pedang yang ada di dalam kotak sana?” benar, mengapa sang paman tidak menempah indah semua peralatan yang ada di tempat ini ….
“Hmm … aku punya prinsip yang sedikit berbeda dibandingkan para penjual senjata lainnya. Biasanya orang-orang akan membeli senjata karena bentuknya yang keren dan kualitasnya sempurna bukan? Namun aku tidak sependapat dengan hal tersebut.” Sejenak sang paman terduduk dikursi kasirnya dan membasuh tubuhnya yang penuh dengan keringat.
“Sebagai seorang penjual dan penempah senjata, aku memiliki prinsip yang harus aku pegang teguh. Menurutku, bagus tidaknya suatu senjata, semuanya tergantung dari jiwa senjata itu sendiri. mau itu senjata murahan seperti sampah, atau senjata mahal dengan kualitas super, jika jiwa senjata itu tidak baik, maka senjata itu tidak memiliki harga dihadapanku.” Jelas sang paman kepadaku.
“Erhm … aku tak paham maksudmu paman. menilai jiwa? Bagaimana bisa paman menilai kualitas senjata hanya dengan melihat jiwanya, tidak, lebih tepatnya bukankah semua senjata adalah benda mati?!” Aku masih bingung dengan kalimat ambigu sang paman.
“Tidak, Setiap senjata punya jiwa kok, bahkan bukan hanya senjata yang memiliki jiwa. Seluruh benda di dunia ini memiliki jiwa, hanya saja baik buruknya jiwa tersebut tidak dapat dinilai hanya dengan mata kasat.” Sang paman mulai mengambil sebatang rokok dan menghidupkannya, lalu ia menghisap rokok tersebut.
“Jadi paman mengatakan kepadaku bahwa paman bisa melihat jiwa benda mati …? Err, paman sedang tidak berbohong kepadaku bukan …?” aku menjadi curiga dengan omongan paman ini, apakah yang dikatakannya ini benar dan masuk di akal? Aku tidak pernah mendengar hal ini sebelumnya.
“Hey-hey~ aku ini bukan penipu, yah tapi kau ada benarnya. Aku tidak bisa melihat jiwa sebuah benda, namun aku bisa menempa jiwa pada sebuah senjata.” Ucap sang paman dengan statementnya yang mencolok.
Kali ini aku tak dapat berkata-kata. Yang diucapkan oleh paman ini sama sekali tidak dapat masuk dibenakku, benda mati memiliki jiwa? Sang paman bisa menempah jiwa pada benda mati? Semua pertanyaan ini tergambarkan dengan jelas diraut wajahku yang mengkerut curiga.
“Ergh … tampaknya kau masih tak mempercayai ucapanku. Haah, bagaimana lagi aku akan menjelaskannya. Hmmm baiklah, sekarang coba kau lihat semua pedang yang ada didalam kotak sana.” Sang paman menunjuk kotak kayu yang berisi pedang berkarat yang tadi aku sempat obrak-abrik.
“Semua pedang di sana adalah pedang yang tak memiliki jiwa, atau sudah mati. Demikian pedang yang kau genggam itu sebelumnya adalah pedang yang sudah mati, namun aku menempahnya dengan jiwamu, lihat lah pedang itu, sangat cantik bukan? Gagagaga!.” Jelas sang paman kepadaku. sambil tertawa dengan tertawaan yang cukup aneh.
“HA!? Jiwaku dalam pedang ini?! hey paman, bagaimana mungkin jiwaku berada didalam pedang ini sedangkan aku masih hidup?!” Tanyaku kembali kepada sang paman. semakin lama pembicaraan ini berlanjut, semakin tersesat aku jadinya.
“Kau tidak salah, namun yang kumaksud bukan demikian. Lihatlah bilah pedangmu, bukankah gemilangnya berbeda dengan pedang biasa yang aku jual di etalase sana?” Sang paman menunjuk ke etalase tengah ruangan ini, disana terdapat pedang yang tampak siap pakai.
Sejenak aku memperhatikan dan membandingkan antara pedang yang tergeletak di etalase tersebut dengan pedang yang aku genggam.
Ah, benar kata sang paman, ada perbedaan pada bilah pedang tersebut dengan bilah pedang ini … namun apa yang membuat kedua pedang ini tampak begitu berbeda? Materialnya kah?
“Tampak beda bukan? Nah, mungkin kau berfikir bahwa materialnyalah yang membuat kedua pedang ini tampak berbeda, namun kau salah besar. Kedua pedang ini memiliki material yang sama pada bilah pedangnya. Nah aku akan bertanya kepadamu wahai anak muda~ apa yang membuat kedua pedang ini tampak berbeda?” Tanya sang paman sambil tersenyum jahil.
“E-erm … cara menempahnya?” Jawabku dengan jawaban yang liar.
“Gayagagagaga!! Salah besar anak muda!!” sambil cekikikan sang paman menertawaiku dengan girangnya.
Demikian aku hanya bisa menatapnya tertawa sapai ia kembali menjelaskan berbagai hal kepadaku.
“Heeh …~ Ekehm, dengarkan hal ini baik-baik wahai anak muda. Yang membedakannya adalah peruntukan siapa pedang itu di tempah.” Tiba-tiba raut wajah sang paman berubah menjadi serius.
Aku langsung menelan ludahku ketika situasi ruangan berubah menjadi panas.
“Pedang yang ada di etalase sana, aku tempah untuk seorang prajurid yang kesehariannya biasa-biasa saja. Ia berangkat kerja, lalu bekerja seperti biasa, pada malam harinya ia mabuk-mabukan, lalu berselingkuh dengan wanita lain, dan sesampainya ia di rumah, ia dimarahi istrinya. Yaah layaknya orang biasa pada kehidupan biasa.” Jelas sang paman dengan rinci.
“Demikian pedang tersebut tertempa sesuai dengan jiwa sang pemilik yang terlihat biasa-biasa saja. Dengan kata lain, aku menduplikasi jiwa sang pemilik pedang ketika aku menempa pedang tersebut. Namun kasusnya lain dengan dirimu anak muda~ kau memiliki sesuatu yang tak dimiliki oleh orang lain, ada suatu hal yang aneh pada jiwamu.” Sang paman menatapku dengan serius sambil tersenyum tajam.
“Entah apa yang menghinggap di dalam sana, namun kau memiliki sesuatu yang cukup spesial sampai-sampai pedang yang aku temba bisa berubah sedemikian indah menjadi seperti itu.” Paman sang pemilik toko menunjukku sambil menghisap rokoknya.
“A-aku sedikit mengerti, tetapi bagaimana bisa kau menduplikasi jiwa seseorang paman?” pertanyaan itu aku utaskan dengan perasaan bingung.
“Gampang saja~ senjata yang membuatmu tertarik adalah senjata yang memiliki kesesuaian jiwa dengan orang yang memilihnya. Lalu aku akan menempanya sambil mengingat karakter sang calon pemilik senjata, sampai akhirnya karakter sang pemilik bisa merasuk kedalam senjata itu sendiri. Demikian aku sangat terkejut ketika kau memilih pedang itu untuk menjadi milikmu.” Sembari ia menjelaskan hal tersebut, tapaknya sang paman merasa cukup gembira ketika ia menjelask hal ini.
“Eh? Maksud paman? Kenapa paman begitu gembira aku mengambil pedang ini?!” Aku sedikit tersanjung dengan kalimat sang paman. Ucapannya seperti mengatakan bahwa aku adalah orang yang terpilih untuk memiliki pedang ini.
“Yaa! Aku sangat senang akhirnya ada orang yang mengambil pedang itu pergi dari toko ini! Gyagagaga!! sudah berapa lama ya semenjak pemilik terakhir pedang ini menjualnya kepadaku? Hmmm 15 tahun? Ahh entahlah aku lupa, tapi selamat yaa sudah memilih pedang itu dan membawanya pergi dari toko ini!” kali ini sang paman terlihat seperti ada beban yang terlepas pada dirinya.
“E-eh? Kenapa paman begitu senang pedang ini aku bawa pergi?” aku menjadi kembali curiga dengan rekasi paman ini yang tampaknya menyembunyikan sesuatu padaku.
“Ahh, ada satu hal yang aku harus jelaskan kepadamu … mulai hari ini, berhati-hatilah ketika malam tiba.” Dengan senyumannya yang menyeremkan, tampaknya sang paman mencoba untuk menakut-nakutiku.
“A … haahaha … p-paman, pedang ini bukan pedang terkutuk bukan …?” kecurigaanku semakin meningkat seusai aku melihat senyuman mencurigakan dari wajah paman yang satu ini.
“Mmmm, tenang saja pedang ini bukan pedang terkutuk kok! Tapi pedang pembawa sial.” Utas sang paman dengan mudahnya sambil ia mengerutkan kedua alisnya.
“Aaaaa!!!! Itu sama saja!!! Mohon maaf paman, aku tidak jadi membeli pedang ini!! ini ambil saja pedang mengerikan ini!!!” langsung aku melempar pedang itu ke atas meja kasirnya.
“Hoi!! Kau tidak bisa melakukan hal itu, didalam pedang ini sudah melekat jiwamu! Lihat tulisan di sampaing sana.” Tunjuk sang paman pada tembok di belakangnya.
Ditembok tersebut ada sebuah poster promosi, lalu di bagian bawahnya ada sebuah kalimat yang tertulis. “senjata yang sudah melekat jiwa tuannya pada senjata tersebut, tidak dapat di kembalikan. “ tulisan tersebut sangatlah kecil dan hampir tak bisa terbaca.
“H-he?! Heeeeee!!!” setelah membaca tulisan itu, aku langsung terperanjat dan keringat dingin mulai kerluar dari pori-pori pucatku ini. “Pamaan!! Ini namanya penipuan! Tidak bisa! Aku pokoknya tidak mau bayar sepeser perak pun kepadamu!!” tegas ku sambil menunjuk paman sanking kesalnya aku terhadap peraturan tak masuk akalnya itu.
“He? Mehh~ aku tidak membutuhkan uangmu, ambil saja pedang ini dan pergi sana berlatih sebelum pertandingan dimulai.” Sang paman mengayunkan tangannya seperti mengusirku dari sini.
“!?!” tentu saja aku terkejut, aku kira paman ini sedang memeras uangku untuk memperbaiki bobroknya toko ini.
“K-kau bercanda kan paman?” tentu saja aku tidak bisa menerima tawaran sang paman, pedang ini seharusnya memiliki kualitas sekitar 1000 Gold, dilihat dari kualitas tempahannya dan bahan yang digunakan.
Tentu saja aku tidak bisa menerima barang mahal ini secara cuma-cuma …. Sejenak aku terdiam sambil menatap wajah sang paman yang tengah menatap ke-arah barat dari posisiku sekarang.
“-Ngh? Kau masih ada di sini? Pergi sana~ ini ambil pedang mu.” Cetusnya sambil mengusirku setelah melempar pedang yang baru saja ia tempah tadi.
Tentu saja aku langsung menangkap pedang tersebut, setelah aku lihat sisi bilahnya, pedang ini sama sekali tidak tajam.
Sebentar ... Eh?! t-tunggu! Tadi paman ini berkata aku harus berlatih sebelum ikut pertandingan selanjutnya? Jangan-jangan! Paman ini sebenarnya sudah mengetahui siapa diriku ini!?
Lalu beberapa saat kemudian sang paman melirik ke-arahku sambil menghembuskan asap rokoknya.
“Semoga kau menang di babak selanjutnya ya~ Arley Benedict!” Tampak bibir sang paman tersenyum lebar sehabis ia memberi semangat kepadaku.
Sontak aku menjadi merasa malu setelah apa yang aku perbuat kepada paman ini. sambil merundukkan kepala dan menarik tudung yang menutupi wajahku ini, aku membalikkan badan sambil mendekap pedang yang baru saja aku dapatkan secara gratis ini.
“T-terima kasih paman … aku akan mengingat jasa baikmu sampai kapan pun …” Ucapku sambil merasa terharu.
“Ah tunggu!” sang paman kemudian masuk ke dalam ruangan kerjanya yang berada d balik gorden tersebut. Lalu beberapa saat kemudian ia keluar sambil membawa sarung pedang yang tampaknya terbuat dari kayu dan dilapisi kulit hewan.
“Ini! pakailah sarung pedang ini. Jika kau mebawa pedang secara terbuka seperti itu, bisa-bisa kau akan di tangkap polisi.” Lalu paman itu melempar sarung tersebut kepadaku.
Sontak aku kembali membalikkan badanku kearah sang paman, dan secara refleks aku menangkap sarung pedang tersebut dengan tangan kiriku. Lalu sejenak aku perhatikan sarung pedang yang terlapisi kulit hewan ini.
Kulitnya keras dan kuat, bentuknya sangat pas untuk melapisi pedang baruku ini. lalu aku langsung memasukkan bilah pedangku kedalam sarungnya. Terdengar suara aduan antara besi dengan kayu nyaring masuk ke dalam kupingku.
Sangat pas sekali! Bentuknya terlihat begitu elegan dan mewah! Aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku mendapatkan pedang mewah ini secara Cuma-Cuma!
“Hey anak muda! Kau harus memenangkan pertandingan itu untuk mempromosikan hasil karya tanganku okey! Jika tidak, aku akan mengutukmu sampai 7 turunan! Camkan itu !!” ucap sang paman dengan candaan yang hangat.
“Hahaha! Baiklah paman!! Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenangkan pertandingan ini!” jawabku dengan suka cita.
Lalu aku keluar dari toko itu dengan hati yang puas dan lepas. ya! Dengan pedang ini aku akan memenangkan pertarungan yang selanjutnya!!
Demikianlah pola pikirku sudah terbentuk. Bergegas aku berlari menuju Arena Stadion untuk mulai berlatih menggunakan bilah pedang ini.
.
.
.
***
.
.
.
~PoV 3rd~
Arley sudah lama pergi keluar dari toko senjata milik sang paman, namun hawa keberadaannya masih terasa kental di hadapan sang paman pemilik toko senjata tersebut.
Sang paman sambil menatap kosong pintu tokonya yang sepi, akhirnya ia bergerak sambil membereskan tokonya untuk segera bergegas pergi menuju stadion pertandingan.
“Baiklah~ saat nya aku pergi ke stadion …” Ucapnya untuk mengisi kehampaan.
Namun beberapa saat kemudian terdengar suara yang begitu familiar.
“Albion, kutitipkan pedang ini kepadamu, carilah penerusku selanjutnya!”
Sang paman langsung membalikkan badannya, namun ia tidak menemukan siapaun disana ...
Jasadnya terlemas, lalu ia teringat akan suatu hal ... Ya ... ia tahu milik siapa suara tadi ….
Tiba-tiba butiran air mengucur deras dari kedua kelopak matanya itu ....
Sang paman lalu bergumam dengan dirinya sendiri tanpa kejelasan yang pasti.
“-Hexa … aku sudah menemukan siapa penenerusmu wahai sahabatku …” Kemudian sang paman membalikkan tubuhnya dan didalam benaknya ia melihat bayangan seorang pria dengan warna mata hijau terang, mirip dengan warna mata milik Arley.
Sang paman pun menatap sedih kearah sahabatnya yang telah tiada tersebut.
“Wahai sahabatku, tugasku sudah selesai. Pedang yang kau berikan kepadaku ... sudah aku serahkan kepada penerusmu. tidak lain dan tidak bukan adalah anakmu sendiri wahai sahabatku… apakah kau senang sekarang?” Ucap sang paman sambil menghadap ke pria yang memakai jubah hitam serta tudung yang menutupi wajahnya.
“Sekarang pergilah dari benakku wahai anak Raja sialan! Gyagaagaga!! “ sang paman kemudian menghisap rokoknya, lalu menipu asapnya ke udara.
Tiba-tiba saja seperti sebuah mimpi, sang paman bisa mendengarkan suara sahabatnya yang sudah lama pergi tersebut.
“Sekali lagi … Terima kasih Albion wahai sahabat karibku.”
Sontak wajah sang paman melotot tak jelas, ia seperti tidak mempercayai apa yang ia lihat. Beberapa kali ia mengusap matanya untuk mengetahui apakah ini sebuah kenyataan atau bukan. Namun bayangan itu tidak juga menghilang.
“H-hexa?! Kau kah itu wahai sahabatku?!” ucap sang paman bernama Albion kepada bayangan sahabatnya itu. Sanking terkejutnya ia, sampai-sampai rokok di bibirnya terjatuh ketanah.
Namun sang bayangan tidak menjawab pertanyaan Albion. Bayangan itu lalu membalikkan tubuhnya dan tampak seperti akan pergi.
“Albion, wahai sahabat karibku … aku titip keselamatan anakku kepadamu. Latih lah dia sampai ia bisa bertahan melindungi dirinya sendiri .…”
Setelah kalimat itu terdengar jelas, bayangan itu menghilang bagaikan debu yang tertiup angin. Tubuh Albion terdiam kaku. beberapa saat kemudian ia terjatuh pada kedua kakinya seperti ia baru saja melihat hantu.
Albion terdiam lemas. sambil bersandar pada meja kasirnya yang terbuat dari kayu itu. ia lalu mengambil kembali rokoknya yang terjatuh beberapa saat yang lalu. dan kembalilah rokok itu ia hisap dengan nikmatnya.
“... Perintah … diterima wahai sahabatku. Tidak, Misi akan saya laksanakan wahai Jendral langit biru (Azure Sky), Hexa Gormik …!” lalu sang paman menaruh tangannya dikepalanya bagaikan orang yang tengah memberikan hormat kepada atasannya.
Demikian sang paman akhirnya bangkit dari duduknya dan ia bersiap-siap untuk pergi menuju Arena Pertandingan.
***