
Deruan Air saling menghantam, antara air yang jatuh dari tebing, menuju telaga air yang menampung volume air yang menderu kencang tersebut.
Perlahan aku melewati bebatuan yang licin, sesekali aku melihat kebelakang untuk memastikan apakah Sofie mengikuti ku atau tidak.
"Arley!! Tunggu aku!! Kau berjalan terlalu cepat!!"
Teriak Sofie yang mungkin sudah kelelahan akan semua hal ini, tetapi rasa penasaran ku yang amat besar, membuat aku ingin mengetahui apa yang ada di balik air terjun ini.
Karena aku kasihan dengan Sofie, aku memilih menunggu nya tepat di samping lokasi jatuhnya Air terjun.
"Sini kak, raih tanganku, awas bebatuan di sekitar sini agak sedikit licin"
Tangan aku julurkan untuk menggapai Sofie, aku berusaha agar keamanan kami tetap terjaga, jangan sampai karena rasa penasaran ini bisa merugikan kami berdua.
"Tap!" tangan kami telah terkunci kuat, lalu aku membimbing Sofie sampai akhirnya kami sampai di bibir gua.
Aku mungkin sedikit egois di sini, tetapi entah mengapa batin ini mengatakan bahwa aku harus mendatangi gua ini dan melihat ada apa di baliknya.
Maksudku, coba lihat apa yang ada di balik gua ini, sebuah cahaya yang amat sangat terang, bahkan sejenak kedua bola mataku merasakan radiasi cahaya yang menyilaukan. Beberapa saat aku harus menyesuaikan mata ini dengan pencerahan yang ada di ruangan ini.
"Whoaa!! INI..!?!"
Kami berdua tidak dapat menyembunyikan ekspresi wajah kami. Mulut kami terbuka lebar dan mata kami berbinar-binar, lagi-lagi, di malam yang sudah larut ini, kami menemukan mutiara di gumpalan lumpur.
"Ini... Bagaimana mungkin semua ini bisa seperti ini..?"
Unik juga aneh, tepat di dalam gua, seperti ada portal ke dimensi lain. bagaimana bisa di dalam gua yang seharusnya tertutup, bisa ada cahaya yang menandingi cerah nya matahari?
Dari bibir gua saja sudah banyak rerumputan untuk mengundang siapapun yang akan memasuki gua tersebut.
Berjalan lah kedua kaki ini masuk kedalam gua cahaya, Sofie dari belakang mengikuti langkahku sambil tangannya mencubit kain baju ku agar ia tidak ketinggalan.
Sekitar lima meter ketika kami berjalan memasuki gua, kami di sambut dengan pemandangan yang amat eksotis.
Sebuah ruangan yang amat besar, sekelilingnya di penuhi dengan berbagai macam tumbuhan yang ber aroma manis.
Langit dari gua ini seluruhnya di lapisi dengan batu kristal yang bercahaya sangat terang, jadi ini yang menyebabkan mengapa ruangan ini bisa bercahaya? Aku hampir tidak percaya dengan apa yang mata ku ini tangkap.
"Gruu~" mulai, perut kami yang sedari tadinya memang tidak terlalu penuh terisi, kali ini di buat menjadi lapar kembali sehabis mencium aroma manis dari rerumputan juga bunga-bunga yang mekar dengan indahnya.
Tapi ada yang aneh di sini, aku kemudian mencoba untuk mendekati beberapa tangkai bunga yang tampak berkilau.
"bunga ini.... Seperti kaca..."
Pada tangkai bunga itu, aku petik tangkainya, kemudian aku mencoba untuk menjilat kelopak bunga yang berwarna merah jambu ini.
"!!?! Manis!! Ini bukan bunga!! Ini permen strawberry!!“
Lantas aku langsung mengigit bunga tersebut dan mengunyah nya dengan lahap. Baru kali ini selama aku hidup di dunia yang unik dan aneh, baru kali ini lah aku memakan dan mencicipi manisnya permen yang rasanya sama persis dengan yang ada di bumi ku terdahulu.
"Kak Sofie!! Coba kakak cicipi permen ini!!"
Ku petik seutas tangkai bunga yang ada di dekat ku, lalu ku berikan bunga tersebut kepada Sofie, dari raut wajahnya ia tampak tak percaya dengan statement ku barusan, namun setelah ia mencicipi sedikit pucuk dari tangkai bunga tersebut, barulah ia merasakan nikmatnya permen strawberry.
"Arley!!?! Manis!! Bunga ini terasa sangat manis, bagaimana bisa setangkai bunga bisa terasa sangat memuaskan begini?!"
Mata Sofie berbinar-binar, sesekali air matanya mengalir sangking bahagianya ia bisa memakan permen ini.
"Ah.. Apakah ini pertama kalinya kakak memakan permen?"
"pe.. Permain? Ohh jadi itu nama dari bunga ini..."
Sepertinya di dunia ini, permen bukankah jenis cemilan yang sering di makan oleh anak-anak seusai kami.
"Hahaha, bukan kak, permen itu adalah jenis cemilan yang terasa sangat manis dan biasanya di gemari oleh anak-anak"
Jelas ku kepana Sofie. Ia hanya mengangguk-angguk kan kepalanya sambil mengunyah cemilan yang melimpah di tangannya.
"Oh iya kak, kalau kakak makan kebanyakan permen, nanti gigi kakak bisa sakit dan berat badan kakak bisa bertambah loh!"
Seketika itu juga Sofie terdiam, lalu cemilan yang ada di tangannya terjatuh sangking shock nya ia mendengarkan Penjelasan ku barusan.
"A... Arley... Kau jahat... Mengapa kau baru katakan itu setelah aku makan sebanyak ini...."
"Kalau kakak makannya masih sebanyak itu, ku rasa tidak akan ada yang berubah dengan berat badan kakak, tapi mungkin gigi kakak akan mulai terasa ngilu jika tidak segera di bersihkan."
"Arrleeeyyy!!!! Jangan menakut-nakuti ku seperti itu!!"
Sofie tampak ketakutan dengan penjelasan ku barusan, tapi aku mengatakan hal yang sejujurnya, walaupun itu agak membuatku senang karena bisa menajahili Sofie.
Sesaat kemudian, aku menghayati sekitar ruangan yang sangat amat massive ini, mungkin lebarnya bisa 1 km dan tingginya beberapa ratus meter.
Jika di perhatikan sebelum memasuki gua ini, tampaknya air terjun yang ada di luar tadi tertempel dengan tebing pegunungan yang sangat amat besar.
Jadi tidak salah jika isi ruangan ini bisa sangat besar. Yang jadi pertanyaan adalah, siapa yang bisa menciptakan atau membuat ruangan se-mahakarya ini?
Sebuah jalan setapak terhempas lurus menuju rumah tersebut, di bagian kiri kanannya terdapat jutaan cemilan yang siap santap, tetapi jika kita melihat rumah tersebut, nafsu untuk memakan cemilan yang ada di sekeliling jalan setapak ini akan menghilang.
Yap, rumah itu bukan rumah sembarang rumah, rumah itu adalah rumah yang terbuat dari kue dan coklat yang sangat menggugah selera.
"A-Arley... Apa kau berfikiran mengenai hal yang sama dengan ku...?"
"Kakak jangan ngomong ngelantur, bagaimana mungkin aku bisa memikirkan hal yang sama dengan kakak, aku tidak punya telepati atau jiwa yang menyatu dengan diri kakak"
"Hoi!! Kau ini tidak sopan sekali dengan wanita yaa!! Terlebih aku ini lebih tua loh dari diri mu!!"
Kemudian mata kami terfokus kembali pada rumah tersebut. Amarah Sofie mulai surut seiring dengan mata kami yang tertuju fokus pada rumah itu.
".. Nnn, aku ingin memakannyaa!!"
Jelas Sofie, yang bibirnya mulai berair, dan matanya di penuhi nafsu untuk memakan rumah tersebut.
Aku tidak bisa menghentikan dia, aku juga merasakan hal yang sama, lalu kami berjalan di jalan setapak ini menuju rumah kue yang menggugah selera itu.
Kaki ini melangkah setapak demi setapak, wajah kami hanya tertuju pada satu objek, walaupun sebenarnya jika kami mau, kami bisa kenyang dengan hanya memakan rerumputan dan bunga yang ada di sekitar kami, namun tekad kami telah bulat.
Beberapa saat kemudian kami sampai, tepat di depan rumah tersebut, sangat menakjubkan, siapapun yang membuat ini, harus di beri apresiasi yang setimpal dengan maha karyanya.
Pintu terbuat dari Wafer, jendela terlapisi dengan permen bening, tembok yang terbuat dari coklat, serta atap rumah yang lumer dengan karamel dan beberapa bahan kue lainnya.
Lagi dan lagi, "Gruuullll~" Perut kami menderu hebat akibat aroma manis yang timbul dari arah rumah ini.
Tanpa aku sadari, ternyata Sofie tidak bisa menahan lebih lama nafsu makannya, dia mulai menjilati tembok rumah tersebut dan mengakibatkan coklat yang keras tadi menjadi mulai mencari.
" Ahh!! Kak Sofie!?! Apa yang kakak lakukan?! Kita harus ijin terlebih dahulu... Haah.. Sudah terlambat.."
Dengan lahap, kemudian Sofie mencolek tembok rumah tersebut, kemudian ia mencongkel keluar roti yang memiliki tekstur lembut bagaikan kue brownies, aku mulai sedikit tergugah, tetapi aku masih bisa menahan rasa lapar di perutku ini.
Kemudian aku mencoba masuk ke rumah coklat tersebut melalui pintu Wafer nya.
Ku ketuk pintu rumah itu tiga kali, namun tidak ada reaksi sama sekali dari sang pemilik rumah, aku curiga bahwa tempat ini tidak memiliki tuanya lagi.
Kemudian aku membuka pintu tersebut, ternyata memang tidak terkunci, kemudian ku buka perlahan pintu tersebut, daun pintu menimbulkan decitan yang aneh, lalu aku menjulurkan kepala ku kedalam rumah tersebut.
"... Permisi...."
Tiba-tiba, sebuah garpu menancap di pintu Wafer yang aku barusan saja buka, he? Deja vu? Sepertinya kejadian ini pernah terjadi sebelumnya.
"Siapa kamu!! Berani sekali kamu memasuki rumah ku tanpa ijin!!"
Mata ku terpaku ke ujung kanan bangunan, seorang wanita yang sepertinya sangat ketakutan memegang selusin garpu yang siap ia lempar ke arahku, saat itu aku masih terheran-heran dengan kondisi saat ini.
".. He...? "
Aku memiringkan kepala, lalu tiba-tiba tembok rumah tepat di samping pintu wafer ini tembus menjadi lobang yang besar, lalu muncul wajah Sofie dengan jelas.
"He?!"
Sebut Sofie yang ikut memiringkan kepalanya.
"... HE!?!"
Ucap sang wanita yang juga ikut memiringkan kepalanya.
"Ah! Selamat malam! Maafkan kami kak, aku tidak sengaja memakan tembok rumah kakak! Habisnya tembok ini terasa Sangat manis dan nikmat!!"
Ucap Sofie dengan wajah tak bersalah, aku sudah khawatir setengah mati, namun respon sang wanita pemilik rumah sungguh di luar dugaan ku.
"A-Aahh.. Jadi itu sebab kalian memasuki kawasan ini... Kalau begitu silahkan masuk ke dalam rumah, aku akan menyiapkan teh dan roti untuk makan malam hari ini."
Terdiam seribu bahasa, mataku bagaikan ikan yang telah mati berbulan-bulan, bukan kah semua ini seperti pernah terjadi sebelumnya? Entah di mana tapi aku yakin hal ini pernah terjadi sebelumnya!
Lalu hanya satu kalimat yang keluar dari mukutku.
"... He...!?!"
Aku terdiam seribu kata, sedangkan Sofie masuk dengan santai nya kedalam rumah lewat pintu Wafer yang garpu sang wanita tadi masih tertancap di pintu tersebut.
"hm..? Kok bisa ada garpu di sini?"
Tanpa mengetahui apa-apa, Sofie mencabut garpu tersebut dan ia memasuki rumah bagaikan tak ada permasalahan yang terjadi.
lagi dan lagi, sambil memiringkan kepala, aku mengeluarkan satu kalimat
"... HE?!"
***